Mahasiswa Unesa Ubah Minyak Jelantah Jadi Bahan Baku Pelumas Berkualitas Tinggi dan Bernilai Ekonomi

Mahasiswa Unesa Ubah Minyak Jelantah Jadi Bahan Baku Pelumas Berkualitas Tinggi dan Bernilai Ekonomi

Limbah minyak jelantah masih menjadi masalah serius di Indonesia. Limbah minyak jelantah sebagian besar masih dibuang langsung ke lingkungan atau dijual untuk dikonsumsi kembali. Padahal, kedua cara tersebut dapat berdampak buruk bagi kesehatan dan lingkungan.

Di Indonesia, jutaan liter minyak jelantah dibuang setiap tahun oleh rumah tangga dan industri kuliner tanpa pengelolaan yang tepat. Padahal, dengan pengelolahan yang tepat, minyak jelantah dapat menjadi produk yang bermanfaat dan bernilai ekonomi, seperti biograse ramah lingkungan.

Inovasi itupun diangkat menjadi penelitian oleh tim PKM-RE mahasiswa Unesa dengan judul Pemanfaatan Minyak Jelantah sebagai Prekursor Biogrease dengan Graphene-Based Nanofluids dan Curcumin untuk Aditif Penguat dalam Optimalisasi Kinerja Pelumas Mesin. PKM yang terdiri atas Rizal Bagus Satria, Ilham Tahta Gumilang, Arya Eka Syahputra, Diva Amalia Pradani, dan Tiyas Nur Arviana Yahya itu pun lolos pendanaan PKM 8 bidang tahun 2025.

Ketua tim PKM, Rizal Bagus Satria menjelaskan bahwa penelitian itu bertujuan mengembangkan gemuk pelumas (biogrese) yang berbasis limbah minyak jelantah dengan penambahan graphene-based nanofluids dan curcumin sebagai aditif penguat. Graphene berperan meningkatkan ketahanan aus, stabilitas termal, dan mengurangi gesekan, sedangkan curcumin sebagai antioksidan alami meningkatkan kestabilan oksidatif.

Graphene-based nanofluids bekerja sebagai aditif tribologis, meningkatkan pelumasan dengan membentuk lapisan pelindung pada permukaan logam, mengurangi gesekan dan keausan, serta memperbaiki stabilitas termal dan ketahanan oksidatif pelumas.

”Kombinasi ini diharapkan menciptakan pelumas berkualitas tinggi, ramah lingkungan, dan mampu bersaing dengan pelumas berbasis minyak mineral” terang Rizal.

Selain itu, tujuan lain dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan curcumin dan graphene terhadap kestabilan termal, viskositas, dan ketahanan oksidatif gemuk pelumas dari minyak jelantah.

“Selain mendukung pengurangan pencemaran lingkungan, minyak jelantah sebagai Prekursor Biogrease dengan Graphene-Based Nanofluids dan Curcumin juga mendukung ekonomi sirkular,” ujar Rizal.

Rizal mengatakan, minyak jelantah yang diubah menjadi pelumas memiliki potensi ekonomi, membantu UMKM, dan mengurangi ketergantungan terhadap produk pelumas berbasis minyak bumi. Menurut Rizal, potensi penelitian ini sangat besar mengingat Indonesia menghasilkan sekitar 1.5 juta ton minyak jelantah pertahun.

“Jika dapat dikelola dengan tepat, ini bisa menjadi sumber bahan baku ramah lingkungan dengan pasar luas. Pangsa pasar pelumas dari minyak jelantah dapat masuk dalam sektor industri, otomatif, hingga pertanian,” jelas Rizal.

Potensi Pasar Sangat Luas

Produk biograse ini memiliki potensi sangat luas tidak terbatas pada rumah tangga atau UMKM. Dengan kualitas yang ditingkatkan melalui aditif graphene dan curcumin, produk ini juga cocok untuk mesin industri dan kendaraan ringan.

Minyak jelantah sebagai prekursor biogrease, terang Rizal, memiliki banyak keunggulan. Di antaranya murah, mudah didapat, bersifat biodegradable dan mampu mengurangi pencemaran lingkungan. Selain itu, dibandingkan dengan minyak nabati segar atau minyak mineral, minyak jelantah lebih ramah lingkungan dan mendukung prinsip keberlanjutan.

Rizal mengakui bahwa potensi risiko jangka panjang dari graphene-based nanofluids belum sepenuhnya diketahui, namun perlu mendapat perhatian akan efek akumulasi partikel nano di lingkungan dan interaksinya dengan logam mesin dalam jangka panjang.

Lebih lanjut Rizal menjelaskan, tantangan utama dalam mencampurkan ketiga komponen berbeda (jelantah, graphene, curcumin) adalah dengan menciptankan dispersi yang homogen karena perbedaan sifat fisikokimia. Rizal menerangkan bahwa Proses pemanasan dan pengadukan berkecepatan tinggi diperlukan untuk menjaga stabilitas dan efisiensi pelumas. Selain itu, tantangan lain juga hadir dari pengaturan suhu agar stabil.

Terkait biaya produksi, Rizal mengungkapkan bahwa biaya cukup kompetitif karena bahan baku utama berupa limbah (minyak jelantah) dan aditif alami. Apalagi, jika diproduksi massal dan didukung oleh teknologi yang efisien, tentu dapat semakin menurunkan harga jual. Selain itu, biaya yang cukup terjangkau juga dipengaruhi oleh proses pembuatan produk yang terbilang sederhana.

Rizal menjelaskan bahwa proses pembuatan biogrease dimulai dengan pemurnian minyak jelantah (penyaringan, netralisasi, pemanasan), pencampuran fumed silica sebagai pengental, dan penambahan aditif graphene-curcumin. Selamjutmya, produk diuji melalui Dropping Point, Viskositas, Copper Corrosion, dan FTIR.

“Pelumas ini bekerja di dalam mesin dengan cara melapisi permukaan logam, mengurangi gesekan, mencegah keausan dan korosi, serta tetap stabil pada suhu tinggi. Kandungan graphene memperkuat perlindungan mekanik, sementara curcumin menjaga kualitas kimia pelumas,” jelas Rizal.

Menurut mahasiswi D4 Teknik mesin tersebut, keberhasilan dan kelancaran penelitian ini tak luput dari dukungan beberapa pihak seperti Belmawa (Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan) yang memberikan dukungan pendanaan melalui program PKM-RE. Selain itu, pengujian lanjutan dari formulasi biogrease dilakukan di LEMIGAS (Lembaga Minyak dan Gas Bumi) yang merupakan institusi resmi pengujian produk migas di Indonesia.

Kolaborasi internal juga dilakukan antar mahasiswa lintas prodi, dan dosen pendamping di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dalam pengembangan produk ini. Kolaborasi itu memperkuat validitas ilmiah dan teknis dari hasil penelitian yang dilakukan. “Selama menjalankan penelitian kami mendapat dukungan dari universitas dalam bentuk dana, fasilitas laboratorium, dan pendampingan oleh dosen ahli yang aktif melakukan riset serupa di bidang teknik dan material,” bebernya.

Penelitian dengan dosen pembimbing Dewi Puspitasari, S.Pd., M.Sc itu dilaksanakan di Lab Kimia FMIPA Unesa dan LEMIGAS (Lembaga Minyak dan Gas Bumi) yang merupakan institusi resmi pengujian produk migas di Indonesia. Penelitian dimulai selama empat bulan mulai Juli 2025 dan diperkirakan berakhir sampai dengan  November.

“Dalam waktu dekat, kami memiliki rencana untuk melakukan publikasi artikel ilmiah dan edukasi masyarakat lewat media sosial, sedangkan rencana jangka panjang kami berharap produk ini dapat dikembangkan untuk produksi massal serta mendapat paten sebagai pelumas ramah lingkungan,”  tegas Rizal. 

Untuk diketahui, Tim PKM RE ini terdiri atas Rizal Bagus Satria, Ilham Tahta Gumilang, Arya Eka Syahputra, Diva Amalia Pradani dan Tiyas Nur Arviana Yahya. @hasna

Bagikan artikel ini

en_USEN