Cerita Mahasiswa Unesa Magang di Perusahaan Pelayaran
Sempat Ada Perasaan Sungkan dengan Karyawan Tetap
Ada banyak cerita menarik yang dialami oleh Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya, Surendra Prayoga pada saat menjalani program internship atau magang di di sebuah perusahaan pelayaran dan logistik besar PT Meratus dalam progam Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM).
Mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) itu mengaku mendapatkan pengalaman berharga dengan bisa magang di perusahaan bergengsi.
Saat magang, pria yang akrab disapa Suren itu diitempatkan di divisi Corporate Communication. Salah satu tugas utamanya yakni membuat konten dan terlibat penuh dalam aktivasi media sosial perusahaan, mulai dari akun TikTok @lifeatmeratus hingga Instagram @iammeratus dan kanal sosial Meratus Foundation.
Mahasiswa yang bercita-cita menjadi kreator iklan itu mengaku keterampilan (skill) yang didapatkan di perkuliahan sangat membantunya dalam menyusun materi komunikasi yang tidak hanya informatif, tetapi juga mampu memiliki dampak bagi perusahaan.
Sejak awal masuk kuliah, mimpi Suren sederhana saja, yakni bikin iklan untuk televisi. Karena itu, sebenarnya, keinginan magannya adalah bekerja di agency di Jakarta yang berkaitan dengan TVC (television commercial). Dunia itu bagi Suren dianggap sangat kreatif.
Namun, mimpi itu tak serta-merta membawa langkahnya ke pusat industri kreatif nasional. Setelah berdiskusi dengan keluarga dan mempertimbangkan berbagai hal, ia memutuskan tetap magang di Surabaya. Tapi, itu tidak berarti ia asal pilih tempat magang. Ia mencari tempat magang dengan sangat cermat.
Sampai akhirnya, pada suatu malam, PT Meratus Group yang merupakan salah satu perusahaan pelayaran dan logistik terbesar di Indonesia, menawarkan posisi magang di divisi Corporate Communication.
Awalnya, Suren masih ragu karena dalam pikirnya, dunia korporat itu kaku dan jauh dari kreativitas. Namun, setelah menjalani magang di PT Meratus Group, Suren mendapatkan perspektif baru. Ternyata, dunia kerja di perusahaan penuh cerita dan warna. Meski tidak di agency maupun studio produksi, tapi justru ia menemukan ruang belajar yang tak kalah menantang.
“Saya dapat tawaran malam hari, sorenya langsung interview. Kurang dari 24 jam,” ungkapnya membagi kisah.
Bagi sebagian orang, keputusan cepat bisa jadi sembrono. Tapi bagi Suren, itu adalah wujud dari hasrat belajarnya yang tinggi. Ia ingin tahu bagaimana rasanya bekerja di perusahaan besar. Bagaimana sistemnya, dinamikanya, dan tantangan di dalamnya.
Sebagai intern di Corporate Communication, tugas Suren tak hanya membuat konten. Ia terlibat penuh dalam aktivasi media sosial perusahaan, mulai dari akun TikTok @lifeatmeratus hingga Instagram @iammeratus dan kanal sosial Meratus Foundation.
“Kami diminta menyusun konten calendar, merancang ide, eksekusi sampai quality control oleh mentor. Bahkan, sampai harus ngonten di kapal. Jadi, kami hubungi dulu operasional, lalu langsung koordinasi ke kapten kapal,” jelasnya.
Pengalaman Digital dan Manajemen Even
Di luar produksi konten, Suren juga sering terlibat sebagai tim dokumentasi dan runner dalam berbagai event perusahaan. Pengalaman Suren menjadi semakin luas, tidak hanya di dunia digital, tapi juga event management.
Namun, tidak semua pekerjaan yang dijalani berjalan mulus. Dunia profesional, terlebih korporat besar, punya ritme dan budaya kerja tersendiri. Salah satu tantangan utama bagi Suren bukanlah teknis produksi, melainkan menjalin komunikasi dengan karyawan tetap.
“Ada jarak dan rasa sungkan. Apalagi saat minta mereka untuk muncul di konten, pasti ada rasa takut ditolak,” tutur Suren. Namun, ia dan timnya belajar bahwa keberanian bertanya dan pendekatan yang hangat bisa mencairkan suasana. Mereka pun belajar membangun kepercayaan, dan akhirnya dipercaya.”
Salah satu momen paling berkesan adalah saat ia dan timnya diberi tanggung jawab penuh untuk membuat konten di kapal tanpa dampingan mentor. Suren dan tim diberi kewenangan berkoordinasi operasional dan komunikasi dengan kapten. “Di situ, saya merasa dihargai sebagai pekerja, bukan sekadar anak magang. Kepercayaan itu mahal,” tandasnya.
Di balik semua pengalaman, Suren menyadari satu hal penting terkait perbedaan mencolok antara teori kampus dan praktik di lapangan. Di kampus, ia belajar dasar-dasarnya, tapi di perusahaan ia tahu bagaimana realitas bekerja lintas divisi, menyusun deck presentasi profesional, hingga mengatur workflow. Bahkan, tak jarang, ia mendapatkan kritik dan koreksi dari mentor.
Pengalaman magang itu, membuat skill Suren bertambah. Ia tidak hanya mendapatkam kemampuan desain grafis, tapi juga public speaking hingga keberanian ngobrol dengan orang-orang baru. “Dulu, saya pikir dunia profesional itu menakutkan. Sekarang, saya justru merasa lebih siap masuk ke sana,” bebernya.
Jika dulu Suren berpikir masa depannya hanya terbentang di satu arah, kini ia justru membuka banyak pintu. Ia mungkin tetap akan ke dunia kreatif, tapi juga tak menutup diri kalau suatu saat kembali ke dunia korporat. “Ternyata, banyak hal menarik yang dulu saya abaikan,” ujarnya.
Suren berpesan kepada mahasiswa yang akan melaksanakan magang agar membuka rasa ingin tahu selebar-lebarnya. Sebab, semakin besar keinginan untuk belajar, semakin besar juga value diri akan tumbuh. “Sampai akhirnya, kamu pantas untuk apa pun yang kamu impikan,” ungkapnya.
Bagi Suren, PT Meratus bukanlah pelabuhan akhir, tapi awal dari pelayaran panjang menuju masa depan yang lebih luas. Dan, seperti kapal yang siap mengarungi samudra, Suren kini tahu bahwa terkadang mimpi terbaik justru datang dari arah yang tak pernah dibayangkan. @TimMajalahUnesa
Bagikan artikel ini
