{"id":2066,"date":"2025-01-14T07:03:19","date_gmt":"2025-01-14T07:03:19","guid":{"rendered":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/?p=2066"},"modified":"2025-07-17T08:52:32","modified_gmt":"2025-07-17T08:52:32","slug":"tantangan-bahasa-jawa-di-tengah-digitalisasi-budaya-pop-dan-ambiguitas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/tantangan-bahasa-jawa-di-tengah-digitalisasi-budaya-pop-dan-ambiguitas\/","title":{"rendered":"Tantangan Bahasa Jawa di Tengah Digitalisasi, Budaya Pop, dan Ambiguitas"},"content":{"rendered":"\t\t<div data-elementor-type=\"wp-post\" data-elementor-id=\"2066\" class=\"elementor elementor-2066\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-48c3572 e-flex e-con-boxed e-con e-parent\" data-id=\"48c3572\" data-element_type=\"container\" data-e-type=\"container\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"e-con-inner\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-c48c036 elementor-widget elementor-widget-image\" data-id=\"c48c036\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"image.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"683\" src=\"https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/IMG_3434-Edit-1024x683.jpg\" class=\"attachment-large size-large wp-image-2069\" alt=\"\" srcset=\"https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/IMG_3434-Edit-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/IMG_3434-Edit-300x200.jpg 300w, https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/IMG_3434-Edit-768x512.jpg 768w, https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/IMG_3434-Edit-1536x1024.jpg 1536w, https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/IMG_3434-Edit-2048x1365.jpg 2048w, https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/IMG_3434-Edit-18x12.jpg 18w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/>\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-3065207 e-flex e-con-boxed e-con e-parent\" data-id=\"3065207\" data-element_type=\"container\" data-e-type=\"container\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"e-con-inner\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-444fdd1 elementor-widget elementor-widget-heading\" data-id=\"444fdd1\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"heading.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t<h5 class=\"elementor-heading-title elementor-size-default\">Membedah Masa Depan Bahasa Jawa, Bersama Pakar Sosiolinguistik Bahasa Jawa Unesa<\/h5>\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-2bef448 e-flex e-con-boxed e-con e-parent\" data-id=\"2bef448\" data-element_type=\"container\" data-e-type=\"container\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"e-con-inner\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-384754e elementor-widget elementor-widget-heading\" data-id=\"384754e\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"heading.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t<h1 class=\"elementor-heading-title elementor-size-default\">Tantangan Bahasa Jawa di Tengah Digitalisasi, Budaya Pop, dan Ambiguitas <\/h1>\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-6ddea900 e-flex e-con-boxed e-con e-parent\" data-id=\"6ddea900\" data-element_type=\"container\" data-e-type=\"container\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"e-con-inner\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-1dd36ba8 elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"1dd36ba8\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p><\/p>\n<p><strong><em>Peneliti sekaligus pakar Sosiolinguistik Unesa, Prof. Dr. Surana, S.S, M.Hum menyebut pengaruh budaya pop memberikan dua sisi, positif terhadap menarik minat penutur non Jawa, dan negatif karena belum mematuhi ilmu sosiolinguistik maupun fonologi sehingga berpotensi menimbulkan ambiguitas. Berikut ulasan selengkapnya dalam bincang prespektif!<\/em><\/strong><\/p>\n<p><\/p>\n<p><strong>Bisa dijelaskan, hakikat Sosiolinguistik dalam Bahasa Jawa?<\/strong><\/p>\n<p><\/p>\n<p>Sosiolinguistik bahasa Jawa ini terkait tidak hanya sosiolinguistik tetapi bahasa jawa pada umumnya bahwa bahasa Jawa itu sebenarnya tidak hanya sosiolinguistik. Keduanya memiliki keterkaitan, pertama adalah penutur bahasa Jawa itu memang meliputi bahasa masyarakat, alih kode, campur kode, bahkan penutur asing. Dalam hal ini, masyarakat di luar suku Jawa itu kalau bicara peserta tuturnya tidak hanya penutur bahasa Jawa asli tetapi juga bahasa penutur bahasa lain. Misalnya, ada orang Jawa, orang Madura, dan Madura lagi, biasanya mereka tidak memakai bahasa Madura tetapi mengikuti menggunakan bahasa Madura. Orang-orang luar negeri seperti Malaysia juga sangat tertarik dengan bahasa dan budaya Jawa.<\/p>\n<p><\/p>\n<p><strong>Artinya, sekarang ini bahasa Jawa telah berkembang pesat tidak hanya dituturkan oleh Suku Jawa, begitukah?<\/strong><\/p>\n<p><\/p>\n<p>Betul sekali. Kecenderungannya sekarang banyak masyarakat non Jawa yang tertarik bahasa Jawa. Kebanyakan dari mereka bisa menerima orang yang bertuturkata dengan bahasa Jawa itu bisa mengetahui dan saling memiliki kelebihan yaitu campur kode. Mereka bisa mengombinasikan dengan bahasa Indonesia, misalnya jika ada satu atau dua kata yang mereka tidak tahu bahasa jawanya mereka bisa menggunakan bahasa Indonesia.<\/p>\n<p><\/p>\n<p><strong>Apakah perkembangan bahasa Jawa ini juga didukung dengan budaya-budaya yang ada seperti lagu-lagu Jawa yang tren di anak muda seperti dangdut atau koplo?<\/strong><\/p>\n<p><\/p>\n<p>Iya itu sangat berpengaruh sekali. Hanya saja banyak kesalahan terutama teks-teksnya, seperti teks lagu, dalam bahasa jawa cara penulisannya mereka salah. Misalnya dalam fonem [o] atau dalam fonem [\u0254] itu kan berbeda, tapi mereka sering mencampuradukkan itu, sehingga bagi penutur bahasa Jawa yang bukan suku Jawa akan sulit atau seringkali salah dalam melafalkan suatu kata. Suatu saat hal itu akan menciptakan kebingungan, misalkan kata yang seharusnya diucapkan l\u0254r\u0254 ditulis loro. Itu akan menyebabkan kebingungan. Itu juga dipelajari dalam sosiolinguistik.<\/p>\n<p><\/p>\n<p><strong>Apa permasalahan utama yang dihadapi oleh bahasa Jawa di era digital ini?<\/strong><\/p>\n<p><\/p>\n<p>Tentu yang menjadi permasalahan adalah belum banyak pelaku budaya jawa zaman sekarang seperti penyanyi, penulis lagu, atau artis berbahasa Jawa yang menggunakan penulisan bahasa Jawa yang baik dan benar. Hal ini dapat menyebabkan ambiguitas. Dalam bahasa Jawa, ada delapan fonem vokal. Semuanya rawan kesalahan dalam penulisan atau penyampaiannya. Dari delapan fonem tersebut, empat di antaranya tidak bisa berubah atau diotak-atik, yaitu: [a], [\u00e9], [e], dan [\u0259], sedangkan empat yang lain bisa berubah-ubah, bisa \u201cjejeg\u201d bisa \u201cmiring\u201d artinya, kalau kita mengucapkan [a] tetap dibaca [a] misalnya pada kata \u201cora\u201d. Tidak ditulis selain [a]. Contoh fonem yang bisa berubah menjadi miring, seperti pada kata \u201cmejo\u201d bisa berubah menjadi \u201cmejane\u201d.<\/p>\n<p><\/p>\n<p><strong>Bagaimana kesulitan yang dihadapi oleh bahasa Jawa berpengaruh pada penutur non Jawa dan bagaimana cara mengatasinya?<\/strong><\/p>\n<p><\/p>\n<p>Tentunya, dalam hal menulis harus banyak-banyak belajar. Orang Jawa sendiri sering berbuat salah. Lihat saja seperti teks-teks di lagu, tulisan-tulisan di tv, di mana saja itu banyak salah terkait dengan fonem vokal yang ada 8 fonem. Itu masih fonem vokal, belum nanti fonem konsonan seperti \u201ctho\u201d atau \u201cdho\u201d. Sehingga, memang perlu perhatian lebih untuk dipelajari secara khusus. Bahkan, mahasiswa prodi bahasa Jawa itu dalam mata kuliah yang membahas hal ini banyak mendapatkan nilai jelek. Karena mungkin ilmu ini dianggap \u201cB\u201d aja, dianggap sepele, dianggap nggak penting lah. Tapi, benar salah itu kaitannya dengan empat keterampilan, yaitu membaca, menulis, menyimak dan berbicara.<\/p>\n<p><\/p>\n<p><strong>Bagaimana rancangan penelitian &nbsp;ke depan terkait dengan sosiolinguistik bahasa Jawa ini?<\/strong><\/p>\n<p><\/p>\n<p>Mengingat masih ditemukan kesulitan dalam mempelajari sosiolingistik bahasa Jawa, terutama terkait kesalahan pengucapan fonem yang berimbas pada ambiguitas, atau dalam hal campur kode dan alih kode dalam bahasa Jawa, maka saya merasa perlu untuk mengembangkan model pembelajaran atau media pembelajaran yang cocok diterapkan tidak hanya bagi pembelajar yang merupakan penutur bahasa Jawa tetapi juga bagi penutur non bahasa Jawa, semisal orang luar negeri atau suku bangsa lain di Indonesia. Terutama, tidak hanya orang Jawa saja yang bisa belajar bahasa Jawa, kalau orang lain orang luar mau mengerti harus benar-benar mempelajari dengan betul sosiolinguistik.<\/p>\n<p><\/p>\n<p><strong>Harapan &nbsp;untuk sosiolinguistik bahasa Jawa ke<\/strong> <strong>depan?<\/strong><\/p>\n<p><\/p>\n<p>Semoga banyak yang semakin tertarik belajar ilmu ini. Karena dalam ilmu ini kelihatannya mudah tetapi sejatinya dalam implementasi maupun telaahnya cukup sulit. Yang saya jelaskan di atas kebanyakan baru di tataran fonem vokal, belum nanti ada fonem konsonan, fonem semi vokal, dan lain-lain. Memelajari bahasa Jawa juga harus mempelajari sosiolingistik hingga fonologinya. <strong>@TimMajalahUnesa<\/strong><\/p>\n<p><\/p>\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-3f1340d elementor-widget-divider--view-line elementor-widget elementor-widget-divider\" data-id=\"3f1340d\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"divider.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-divider\">\n\t\t\t<span class=\"elementor-divider-separator\">\n\t\t\t\t\t\t<\/span>\n\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-e9bc1c7 elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"e9bc1c7\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p>Bagikan artikel ini<\/p>\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Membedah Masa Depan Bahasa Jawa, Bersama Pakar Sosiolinguistik Bahasa Jawa Unesa Tantangan Bahasa Jawa di Tengah Digitalisasi, Budaya Pop, dan Ambiguitas Peneliti sekaligus pakar Sosiolinguistik Unesa, Prof. Dr. Surana, S.S, M.Hum menyebut pengaruh budaya pop memberikan dua sisi, positif terhadap menarik minat penutur non Jawa, dan negatif karena belum mematuhi ilmu sosiolinguistik maupun fonologi sehingga [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"elementor_header_footer","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[17],"tags":[],"class_list":["post-2066","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-prespektif"],"blocksy_meta":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.5 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Tantangan Bahasa Jawa di Tengah Digitalisasi, Budaya Pop, dan Ambiguitas - Majalah Unesa<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/tantangan-bahasa-jawa-di-tengah-digitalisasi-budaya-pop-dan-ambiguitas\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Tantangan Bahasa Jawa di Tengah Digitalisasi, Budaya Pop, dan Ambiguitas - Majalah Unesa\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Membedah Masa Depan Bahasa Jawa, Bersama Pakar Sosiolinguistik Bahasa Jawa Unesa Tantangan Bahasa Jawa di Tengah Digitalisasi, Budaya Pop, dan Ambiguitas Peneliti sekaligus pakar Sosiolinguistik Unesa, Prof. Dr. Surana, S.S, M.Hum menyebut pengaruh budaya pop memberikan dua sisi, positif terhadap menarik minat penutur non Jawa, dan negatif karena belum mematuhi ilmu sosiolinguistik maupun fonologi sehingga [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/tantangan-bahasa-jawa-di-tengah-digitalisasi-budaya-pop-dan-ambiguitas\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Majalah Unesa\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-01-14T07:03:19+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-07-17T08:52:32+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/IMG_3434-Edit-scaled.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2560\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1707\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admin\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admin\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/tantangan-bahasa-jawa-di-tengah-digitalisasi-budaya-pop-dan-ambiguitas\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/tantangan-bahasa-jawa-di-tengah-digitalisasi-budaya-pop-dan-ambiguitas\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"admin\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/2dfe56075a2c61631370d716c113cab7\"},\"headline\":\"Tantangan Bahasa Jawa di Tengah Digitalisasi, Budaya Pop, dan Ambiguitas\",\"datePublished\":\"2025-01-14T07:03:19+00:00\",\"dateModified\":\"2025-07-17T08:52:32+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/tantangan-bahasa-jawa-di-tengah-digitalisasi-budaya-pop-dan-ambiguitas\\\/\"},\"wordCount\":758,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/tantangan-bahasa-jawa-di-tengah-digitalisasi-budaya-pop-dan-ambiguitas\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/04\\\/IMG_3434-Edit-1024x683.jpg\",\"articleSection\":[\"Prespektif\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/tantangan-bahasa-jawa-di-tengah-digitalisasi-budaya-pop-dan-ambiguitas\\\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/tantangan-bahasa-jawa-di-tengah-digitalisasi-budaya-pop-dan-ambiguitas\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/tantangan-bahasa-jawa-di-tengah-digitalisasi-budaya-pop-dan-ambiguitas\\\/\",\"name\":\"Tantangan Bahasa Jawa di Tengah Digitalisasi, Budaya Pop, dan Ambiguitas - Majalah Unesa\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/tantangan-bahasa-jawa-di-tengah-digitalisasi-budaya-pop-dan-ambiguitas\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/tantangan-bahasa-jawa-di-tengah-digitalisasi-budaya-pop-dan-ambiguitas\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/04\\\/IMG_3434-Edit-1024x683.jpg\",\"datePublished\":\"2025-01-14T07:03:19+00:00\",\"dateModified\":\"2025-07-17T08:52:32+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/tantangan-bahasa-jawa-di-tengah-digitalisasi-budaya-pop-dan-ambiguitas\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/tantangan-bahasa-jawa-di-tengah-digitalisasi-budaya-pop-dan-ambiguitas\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/tantangan-bahasa-jawa-di-tengah-digitalisasi-budaya-pop-dan-ambiguitas\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/04\\\/IMG_3434-Edit-1024x683.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/04\\\/IMG_3434-Edit-1024x683.jpg\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/tantangan-bahasa-jawa-di-tengah-digitalisasi-budaya-pop-dan-ambiguitas\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Beranda\",\"item\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Tantangan Bahasa Jawa di Tengah Digitalisasi, Budaya Pop, dan Ambiguitas\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/\",\"name\":\"Majalah Unesa\",\"description\":\"Majalah UNESA Go Digital\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/#organization\",\"name\":\"Universitas Negeri Surabaya\",\"url\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/08\\\/Logo12.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/08\\\/Logo12.png\",\"width\":5000,\"height\":5000,\"caption\":\"Universitas Negeri Surabaya\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/2dfe56075a2c61631370d716c113cab7\",\"name\":\"admin\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/5c02a0c87e0dafc85961cd79c6c61b67a7b1b45ef24b285c398c49dc89fa7cfe?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/5c02a0c87e0dafc85961cd79c6c61b67a7b1b45ef24b285c398c49dc89fa7cfe?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/5c02a0c87e0dafc85961cd79c6c61b67a7b1b45ef24b285c398c49dc89fa7cfe?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admin\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/en\\\/author\\\/admin\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Tantangan Bahasa Jawa di Tengah Digitalisasi, Budaya Pop, dan Ambiguitas - Majalah Unesa","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/tantangan-bahasa-jawa-di-tengah-digitalisasi-budaya-pop-dan-ambiguitas\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Tantangan Bahasa Jawa di Tengah Digitalisasi, Budaya Pop, dan Ambiguitas - Majalah Unesa","og_description":"Membedah Masa Depan Bahasa Jawa, Bersama Pakar Sosiolinguistik Bahasa Jawa Unesa Tantangan Bahasa Jawa di Tengah Digitalisasi, Budaya Pop, dan Ambiguitas Peneliti sekaligus pakar Sosiolinguistik Unesa, Prof. Dr. Surana, S.S, M.Hum menyebut pengaruh budaya pop memberikan dua sisi, positif terhadap menarik minat penutur non Jawa, dan negatif karena belum mematuhi ilmu sosiolinguistik maupun fonologi sehingga [&hellip;]","og_url":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/tantangan-bahasa-jawa-di-tengah-digitalisasi-budaya-pop-dan-ambiguitas\/","og_site_name":"Majalah Unesa","article_published_time":"2025-01-14T07:03:19+00:00","article_modified_time":"2025-07-17T08:52:32+00:00","og_image":[{"width":2560,"height":1707,"url":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/IMG_3434-Edit-scaled.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admin","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"admin","Est. reading time":"5 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/tantangan-bahasa-jawa-di-tengah-digitalisasi-budaya-pop-dan-ambiguitas\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/tantangan-bahasa-jawa-di-tengah-digitalisasi-budaya-pop-dan-ambiguitas\/"},"author":{"name":"admin","@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/#\/schema\/person\/2dfe56075a2c61631370d716c113cab7"},"headline":"Tantangan Bahasa Jawa di Tengah Digitalisasi, Budaya Pop, dan Ambiguitas","datePublished":"2025-01-14T07:03:19+00:00","dateModified":"2025-07-17T08:52:32+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/tantangan-bahasa-jawa-di-tengah-digitalisasi-budaya-pop-dan-ambiguitas\/"},"wordCount":758,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/tantangan-bahasa-jawa-di-tengah-digitalisasi-budaya-pop-dan-ambiguitas\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/IMG_3434-Edit-1024x683.jpg","articleSection":["Prespektif"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/majalahunesa.my.id\/tantangan-bahasa-jawa-di-tengah-digitalisasi-budaya-pop-dan-ambiguitas\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/tantangan-bahasa-jawa-di-tengah-digitalisasi-budaya-pop-dan-ambiguitas\/","url":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/tantangan-bahasa-jawa-di-tengah-digitalisasi-budaya-pop-dan-ambiguitas\/","name":"Tantangan Bahasa Jawa di Tengah Digitalisasi, Budaya Pop, dan Ambiguitas - Majalah Unesa","isPartOf":{"@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/tantangan-bahasa-jawa-di-tengah-digitalisasi-budaya-pop-dan-ambiguitas\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/tantangan-bahasa-jawa-di-tengah-digitalisasi-budaya-pop-dan-ambiguitas\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/IMG_3434-Edit-1024x683.jpg","datePublished":"2025-01-14T07:03:19+00:00","dateModified":"2025-07-17T08:52:32+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/tantangan-bahasa-jawa-di-tengah-digitalisasi-budaya-pop-dan-ambiguitas\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/majalahunesa.my.id\/tantangan-bahasa-jawa-di-tengah-digitalisasi-budaya-pop-dan-ambiguitas\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/tantangan-bahasa-jawa-di-tengah-digitalisasi-budaya-pop-dan-ambiguitas\/#primaryimage","url":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/IMG_3434-Edit-1024x683.jpg","contentUrl":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/IMG_3434-Edit-1024x683.jpg"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/tantangan-bahasa-jawa-di-tengah-digitalisasi-budaya-pop-dan-ambiguitas\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Beranda","item":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Tantangan Bahasa Jawa di Tengah Digitalisasi, Budaya Pop, dan Ambiguitas"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/#website","url":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/","name":"Majalah Unesa","description":"Majalah UNESA Go Digital","publisher":{"@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/#organization","name":"Universitas Negeri Surabaya","url":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Logo12.png","contentUrl":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Logo12.png","width":5000,"height":5000,"caption":"Universitas Negeri Surabaya"},"image":{"@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/#\/schema\/person\/2dfe56075a2c61631370d716c113cab7","name":"admin","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/5c02a0c87e0dafc85961cd79c6c61b67a7b1b45ef24b285c398c49dc89fa7cfe?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/5c02a0c87e0dafc85961cd79c6c61b67a7b1b45ef24b285c398c49dc89fa7cfe?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/5c02a0c87e0dafc85961cd79c6c61b67a7b1b45ef24b285c398c49dc89fa7cfe?s=96&d=mm&r=g","caption":"admin"},"sameAs":["https:\/\/majalahunesa.my.id"],"url":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/author\/admin\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2066","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2066"}],"version-history":[{"count":7,"href":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2066\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3375,"href":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2066\/revisions\/3375"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2066"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2066"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2066"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}