{"id":3185,"date":"2025-04-18T03:23:00","date_gmt":"2025-04-18T03:23:00","guid":{"rendered":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/?p=3185"},"modified":"2026-04-09T04:11:59","modified_gmt":"2026-04-09T04:11:59","slug":"jejak-sunyi-ruang-redaksi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/jejak-sunyi-ruang-redaksi\/","title":{"rendered":"Jejak Sunyi Ruang Redaksi"},"content":{"rendered":"<p>Sebagai kepala humas dua kali, Suyatno cukup paham perjalanan majalah Unesa. Ia masih ingat, sebelum berubah menjadi majalah, kali pertama terbit dalam bentuk warta yang dicetak dengan mesin sit. Lalu, dalam perkembangannya, cikal bakal warta itu terus berproses dari masa ke masa, hingga mewujud menjadi majalah sampai saat ini.<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>Suyatno juga menyampaikan lima fungsi majalah yang harus dipegang teguh pengelolah media. Pertama, memberi informasi yang orang lain tidak pernah menduga-duga dengan mencari sisi lain dari berita dan tidak hanya seputar 5W1H. Kedua, menjadi pemantik. \u201cArtinya, redaksi harus punya kekuatan intuitif yang tinggi dan berpandangan ke depan <em>(visioner)<\/em>, sehingga informasinya dinanti oleh pembaca,\u201d tukasnya.<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>Ketiga, tambah Suyatno, majalah harus menjadi pemicu agar orang mau membaca. Caranya, harus jeli mencermati judul yang menarik. Keempat, adalah <em>ambak<\/em>, yakni bagaimana tulisan di majalah memberikan manfaat bagi pembaca. Kelima, berkesan sehingga majalah itu bisa disimpan\/diarsip\/dikliping sampai puluhan tahun. Dan, keenam, diferensiasi. Yakni memunculkan pembeda. \u201cPastikan bahwa informasi itu hanya didapatkan di Unesa sehingga bisa menjadi pembeda dengan majalah-majalah lain,\u201d urainya. &nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>Selama menahkodai Humas, Suyatno punya pengalaman berkesan selama membersamai majalah Unesa yakni terkait mengolah tulisan mahasiswa. Hal itu menjadi pengalaman yang sangat menarik, karena bisa mengetahui dan mengarahkan tulisan dengan catatan-catatan tertentu.<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>Suyatno juga mengapresiasi humas yang saat ini sudah berkembang melesat dengan berbagai prestasi dan penghargaan yang didapatkan. Kunci keberhasilan itu, tentu tidak lepas dari keterbukaan pimpinan terhadap pentingnya humas dan juga ditunjang pendanaan yang cukup memadai jika dibandingkan dengan sebelum-sebelumnya. \u201cSaya berharap siapapun pimpinannya nanti harus memiliki kesadaran tinggi terhadap peran penting humas perguruan tinggi,\u201d tandasnya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/Dr.-Much.-Khoiri-1-768x1024.jpg\" alt=\"\"\/><\/figure>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<\/p>\n<p><strong>Berkembang Signifikan<\/strong><\/p>\n<p>\n\n\n\n\n\n<\/p>\n<p>Senada, Kepala Humas ke-10 Unesa (2019-2020), Dr Much. Khoiri, MSi mengapresiasi Majalah Unesa yang telah mengalami sejarah cukup panjang dan mengalami perkembangan signifikan dari waktu ke waktu. Kala menjadi kahumas, Dosen Sastra Inggris Unesa itu mengakui jika majalah Unesa menjadi salah satu yang dipandang strategis sebagaimana website, medsos, radio, dan media mitra dari luar kampus.<\/p>\n<p>\n\n\n\n<\/p>\n<p>Sebagai salah satu media komunikasi kampus, terang founder Rumah Virus Literasi (RVL) itu, Majalah Unesa memiliki peran penting menyampaikan informasi kepada sivitas akademika dan masyarakat luas. Apalagi, saat ini, majalah Unesa telah mengalami perkembangan pesat dan harus terus dipertahankan bahkan ditingkatkan kualitasnya.&nbsp;<\/p>\n<p>\n\n\n\n<\/p>\n<p>\u201cSaya salut dengan majalah Unesa saat ini. Ini adalah salah satu produk jurnalistik kampus yang sangat baik dan harus terus dijalankan. Hanya, saran saya, kolom gagasan bisa ditambah (baik dari dosen maupun mahasiswa), agar lebih banyak ide dan pemikiran dari sivitas akademika yang dapat dimuat dan dikembangkan,\u201d tambahnya.&nbsp;<\/p>\n<p>\n\n\n\n<\/p>\n<p>Salah satu inovasi yang dianggap paling penting adalah digitalisasi majalah Unesa. Majalah versi digital berbasis platform Flip, terang Khoiri, membuat majalah Unesa semakin luas jangkauannya ke pembaca yang lebih menyukai format digital dibandingkan dengan cetak. \u201cSebuah terobosan yang cerdas,\u201d ungkap dosen yang juga penulis puluhan judul buku itu. &nbsp;<\/p>\n<p>\n\n\n\n<\/p>\n<p>Selain mengapresiasi perkembangan majalah, Khoiri juga menyoroti pentingnya peningkatan kompetensi bagi para reporter dan tim Humas. Sebab, sifat media selalu dinamis dan pergantian tim setiap tahun juga harus diimbangi dengan sistem pengkaderan yang kuat.&nbsp;<\/p>\n<p>\n\n\n\n<\/p>\n<p>\u201cKompetensi wawancara dan peliputan harus terus ditingkatkan. Ini penting karena hampir setiap tahun ada pergantian reporter, sehingga regenerasi dan pelatihan kompetensi jurnalistik harus benar-benar diperhatikan,\u201d jelasnya.&nbsp;<\/p>\n<p>\n\n\n\n<\/p>\n<p>Khoiri berharap majalah Unesa yang ini sudah memasuki edisi ke-200 dapat terus memberikan inovasi dan menjadi referensi utama bagi sivitas akademika serta masyarakat luas.&nbsp; Selain itu, ia juga ingin melihat majalah Unesa tetap menjadi media yang relevan dan selalu berinovasi sesuai perkembangan zaman.<\/p>\n<p>\n\n\n\n<\/p>\n<p>\u201cSelamat atas pencapaian edisi ke-200. Ini adalah capaian luar biasa. Semoga terus berkembang secara profesional dan menjadi bagian penting dalam branding kampus,\u201d pungkasnya.<\/p>\n<p><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/Suhartono-3-683x1024.jpg\" alt=\"\" width=\"683\" height=\"1024\"><\/p>\n<p>\n\n\n\n\n\n<\/p>\n<p><strong>Digitalisasi dan Konten Bernilai Jual<\/strong><\/p>\n<p>\n\n\n\n<\/p>\n<p>Kepala Humas ke-6 Unesa (2008\u20142009), Prof Dr Suhartono, MPd turut memberikan pandangan mengenai perjalanan Majalah Unesa yang saat ini telah memasuki edisi ke-200. Guru besar bidang pragmatik itu mengatakan bahwa tantangan yang dihadapi Majalah Unesa saat ini adalah terakit teknologi digital dan <em>Artificcial Intelegence<\/em> (AI). Karena itu, majalah Unesa dituntut hadir dalam versi digital. \u201cSatu di antara strategi yang dapat diterapkan adalah meng-<em>online<\/em>-kan majalah Unesa agar lebih mudah diakses oleh mahasiswa, dosen, alumni, dan masyarakat luas,\u201d ujarnya.&nbsp;<\/p>\n<p>\n\n\n\n<\/p>\n<p>Selain itu, pemilihan topik dan narasumber yang memiliki nilai jual juga menjadi kunci dalam meningkatkan daya tarik majalah. Ia mengatakan, penting menghadirkan konten yang tidak hanya informatif. tetapi juga memiliki daya tarik dan relevansi yang tinggi bagi pembaca. Dengan pemanfaatan teknologi digital dan strategi konten yang tepat, terang Suhartono, majalah Unesa dapat lebih luas menjangkau pembaca tidak hanya internal kampus, juga tingkat nasional dan internasional.<\/p>\n<p>\n\n\n\n<\/p>\n<p>Suhartono berharap Majalah Unesa dapat terus berkembang dan memberikan dampak yang lebih besar. Selain itu, ia juga berharap majalah Unesa dapat menjadi referensi utama bagi sivitas akademika Unesa dan masyarakat luas dalam mendapatkan informasi yang kredibel dan inspiratif. &nbsp;<\/p>\n<p>\n\n\n\n<\/p>\n<p>\u201cSaya ucapkan selamat kepada Majalah Unesa yang telah mencapai edisi ke-200 atau usia ke-16. Semoga ke depan, Majalah Unesa semakin jaya, inovatif, dan menjadi kebanggaan Unesa,\u201d tandasnya.<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/Dr.-Heny-Subandiah-2-683x1024.jpg\" alt=\"\" width=\"683\" height=\"1024\"><\/p>\n<p>\n\n\n\n<\/p>\n<p><strong>Ruang Sempit, SDM Minim<\/strong><\/p>\n<p>\n\n\n\n<\/p>\n<p>Kepala Humas ke-9 Unesa, Dr Heny Subandiyah, MHum mengingat masa-masa mendapatkan amanah sebagai Kepala Humas Unesa. Meskipun menjabat tidak lebih dari satu tahun, dosen yang kini menjadi wakil dekan 2 FBS itu merasakan kenangan yang luar biasa, termasuk saat mengelolah majalah Unesa.<\/p>\n<p>\n\n\n\n<\/p>\n<p>Heny, demikian panggilan akrabnya, teringat harus bekerja di ruang yang tidak begitu luas karena harus berbagi tempat dengan Unit Lembaga Penjaminan Mutu (LPM). Meskipun dengan ruangan yang tak luas dan SDM yang sedikit, ia mengaku tetap semangat karena memiliki tim yang memiliki motivasi sangat besar. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;<\/p>\n<p>\n\n\n\n<\/p>\n<p>Pada masa itu, terang Heny, Humas belum dianggap sebagai ujung tombak kampus. Stigma yang muncul saat itu bahwa Humas hanya sebatas menyampaikan berita dan tukang foto sempat melekat erat. \u201cSDM saat itu sangat terbatas, bahkan untuk kebutuhan dasar seperti reporter dan editor. Kami hanya berlima. Kadang saya harus merangkap kepala Humas, redaktur, dan editor,\u201d kenangnya.<\/p>\n<p>\n\n\n\n<\/p>\n<p>Namun, dari proses itu, ia mengakui mendapatkan kebanggaan tersendiri. Apalagi, ketika bisa membersamai beberapa mahasiswa yang dulu pernah dibimbing kini sukses menjadi penulis atau MC profesional. \u201cYa, tentu proses itu, menyenangkan dan sangat membekas dalam diri saya,\u201d terangnya.<\/p>\n<p>\n\n\n\n<\/p>\n<p>Dosen Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia itu menambahkan, saat ini Humas tentu sudah berubah jauh. Selain sudah punya tempat yang layak menyatu dengan Gedung Rektorat, juga secara struktural sudah sangat strategis karena bagian dari direktorat yang menyatu dengan visi besar universitas.<\/p>\n<p>\n\n\n\n<\/p>\n<p>Ia pun mengapresiasi konsistensi Majalah Unesa yang terbit rutin setiap bulan baik versi cetak maupun digital. Juga, SDM Humas yang kini lebih banyak dan kompeten, serta dukungan teknologi dan kejelasan struktur organisasi sehingga membuat produksi majalah berjalan lebih lancar dan profesional.<\/p>\n<p>\n\n\n\n<\/p>\n<p>\u201cDulu, kami hanya punya satu produk (majalah) yang ditunggu-tunggu. Sekarang, sudah ada web, media sosial, video, podcast. Ini tentu perkembangan yang luar biasa,\u201d tandas Heny sembari berpesan agar impian yang sudah jadi kenyataan itu terus dirawat sehingga menjadi lebih baik lagi. <strong>@sir\/put\/zar\/shof<\/strong><\/p>\n<p>\n\n\n\n<\/p>\n<p><strong>Dedikasi, Konsistensi, dan Prestasi<\/strong><\/p>\n<p>\n\n\n\n<\/p>\n<p>Apresiasi yang sama disampaikan Direktur Humas dan Informasi Pubik Unesa, Vinda Maya Setianingrum, S.Sos, MA atas pencapaian Majalah Unesa sudah memasuki edisi ke-200. Tentu, ini menjadi sebuah perjalanan panjang, dan juga simbol dari spirit dan konsistensi dalam berkarya dan berinovasi. \u201cTidak banyak lembaga yang bisa konsisten menerbitkan majalah setiap bulan, baik itu di level perguruan tinggi, maupun lembaga pemerintah seperti Kementerian,\u201d ujarnya. &nbsp;<\/p>\n<p>\n\n\n\n<\/p>\n<p>Dalam perjalanannya, terang dosen Ilmu Komunikasi Unesa itu, Majalah Unesa menjadi media komunikasi, informasi, promosi, penguatan citra dan reputasi kampus rumah para juara. Setiap edisinya selalu hadir dengan beragam informasi yang menarik dan bermanfaat, baik itu bagi civitas, maupun mitra dan masyarakat.<\/p>\n<p>\n\n\n\n<\/p>\n<p>\u201cRubrik dan konten yang disuguhkan relevan dan aktual, sehingga selalu ditunggu di setiap edisinya. Membuka Majalah Unesa, pembaca tidak hanya mendapatkan informasi seputar kegiatan akademik, tetapi juga mendapatkan <em>insight <\/em>yang mutakhir,\u201d terangnya. &nbsp;<\/p>\n<p>\n\n\n\n<\/p>\n<p>Dedikasi ini, lanjut Vinda, menunjukkan komitmen Unesa untuk terus memberikan informasi terbaik kepada para pembaca. Buah dari semua itu tentu bisa dilihat dari berbagai prestasi Majalah Unesa di tingkat nasional, yaitu mendapatkan sejumlah medali Anugerah Humas Diktiristek atau Diktisaintek (AHD).<\/p>\n<p>\n\n\n\n<\/p>\n<p>Ia menambahkan, di era digital seperti sekarang ini, transformasi media menjadi sebuah keniscayaan. Begitupun dengan Majalah Unesa yang terus beradaptasi dengan tuntutan perkembangan zaman melalui transformasi berkelanjutan dari cetak ke digital.<\/p>\n<p>\n\n\n\n<\/p>\n<p>\u201cDengan transformasi ini, majalah lebih mudah diakses dan interaktif, serta dapat menjangkau lebih banyak pembaca. Media cetak boleh redup, tetapi majalah akan tetap hidup dalam bentuknya yang adaptif,\u201d tandasnya.<\/p>\n<p>\n\n\n\n<\/p>\n<p>Vinda berharap edisi yang ke-200 ini menjadi <em>milestone<\/em> atau tonggak penting untuk terus memperkuat dampak publikasi majalah lembaga ke depan, baik bagi civitas, mitra, maupun masyarakat. \u201cEdisi ini juga harus menjadi semangat untuk terus berkarya dan berinovasi,\u201d pungkasnya. <strong>@sir\/putra\/Azhar\/shofi<\/strong><\/p>\n<h5>Kata Mereka<\/h5>\n<h3>Dr. Warju, S.Pd., S.T., M.T., Mantan Redaktur Majalah Unesa, Kini Wadir 1 Sekolah Pascasarjana Unesa<\/h3>\n<p><em><strong>Pencetus Rubik Alumni<\/strong><\/em><\/p>\n<p>Warju pernah menangani langsung penerbitan majalah. Kala itu, ketika masih berstatus mahasiswa Unesa, ia didapuk menjadi redaktur penerbitan majalah. Peran yang tentu tidak mudah. Ia bertugas merapikan paragraf, menimbang diksi, dan memastikan pesan tersampaikan utuh ke pembaca.<\/p>\n<p>Tak hanya sekadar menyunting kata-kata, ia bertugas mengolah naskah yang masuk baik berupa berita langsung, liputan mendalam, hingga opini agar layak dibaca dan memberi makna. \u201cSetiap kalimat yang lolos ke cetak harus membawa nilai informasi yang kuat sekaligus menjaga citra institusi,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Bagi Warju, menjadi redaktur bukan hanya perkara teknis Bahasa, tapi ada tanggung jawab besar untuk menjaga identitas dan kualitas media. Warju menyadari betul bahwa majalah bukan sekadar wadah internal, tapi juga jembatan antara kampus dengan dunia luar. Karena itu, ia mendorong Humas Unesa kala itu untuk tak sekadar membuat berita, tetapi juga membangun jejaring dengan media massa arus utama.<\/p>\n<p>\u201cDinamika yang berkembang saat itu adalah bagaimana menjembatani informasi dari kampus ke media massa di luar Unesa dan masyarakat,\u201d bebernya..<\/p>\n<p>Wakil Direktur Bidang 1 Sekolah Pascasarjana Unesa itu mendorong terjalin kerja sama dengan berbagai media baik surat kabar nasional seperti <em>Jawa Pos, Kompas, Republika<\/em>, hingga media lokal dan radio seperti <em>Suara Surabaya, JJFM<\/em>, dan <em>SCFM<\/em>. \u201cTujuannya jelas, untuk memperluas jangkauan informasi dan meningkatkan <em>branding<\/em> Unesa di mata publik,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p>Kerja-kerja itu membuahkan hasil. Perlahan, Unesa semakin dikenal luas, dan Majalah Unesa menjadi salah satu wajah representatifnya. Namun, ia menyadari menjaga eksistensi media bukan perkara sekali jadi. \u201cDibutuhkan inovasi yang terus-menerus agar pembaca tetap terikat,\u201d paparnya.<\/p>\n<p>Salah satu rubrik yang ia gagas adalah profil alumni (kini inspirasi alumni). Rubrik itu mengangkat kisah para lulusan Unesa yang sukses menapaki karier di dunia kerja. Melalui rubrik itu, Warju ingin memberi gambaran bahwa Unesa tak hanya mencetak lulusan, tetapi juga melahirkan tokoh-tokoh yang berpengaruh di masyarakat.<\/p>\n<p>Kini, setelah tak lagi terlibat langsung dalam redaksi, Warju berharap Majalah Unesa tidak hanya bertahan, tapi juga terus beradaptasi dan menjangkau lebih luas lagi daya jangkaunya. Baginya, media kampus seperti Majalah Unesa memiliki peran strategis dalam membangun opini publik dan mengangkat citra kampus ke tingkat nasional dan internasional. <strong>@shofi<\/strong><\/p>\n<h3>Dr Rudi Umar Susanto, M.Pd., Mantan Reporter Majalah Unesa, Kini Dosen di Unusa<\/h3>\n<p><em><strong>Rasakan Solidaritas dan Kebersamaan<\/strong><\/em><\/p>\n<p>Rudi Umar Susanto, pria kelahiran Gresik ini cukup lama berproses di Humas Unesa, utamanya berproses dalam penerbitan majalah Unesa. Bahkan, setelah lulus S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Unesa pun, ia masih terlibat aktif sembari melanjutkan studi S-2 di kampus yang sama, Unesa. Karena itu, dedikasinya terhadap Humas Unesa, tak perlu diragukan lagi.<\/p>\n<p>Rudi, demikian ia akrab dipanggil, masuk menjadi bagian tim humas Unesa melalui proses rekrutmen pelatihan jurnalistik yang diselenggarakan humas pada 2012. Ia kemudian dipercaya menjadi reporter Humas Unesa. Di sinilah, ia mendapatkan tantangan sekaligus pelajaran berharga tentang dunia jurnalistik, komunikasi, dan manajemen waktu di tengah padatnya aktivitas perkuliahan.<\/p>\n<p>Ia kala itu mendapatkan target, minimal dua berita perhari. Peliputan pun bisa terjadi pada pagi, siang, dan sore. Jika kegiatan peliputan ada di Kampus Unesa Ketintang, ia pun harus berpindah kampus antara Lidah Wetan dan Ketintang. \u201cTak semua bisa melewati tantangan itu. Buktinya, dari puluhan mahasiswa yang lolos seleksi awal, hanya tiga orang yang mampu bertahan, salah satunya saya,\u201d terangnya.<\/p>\n<p>Bagi Rudi, yang kini berkarier sebagai dosen di Universitas Nadlhatul Ulama (Unusa), berproses di Humas Unesa bukan hanya soal peliputan dan berita, tapi ia menemukan kekuatan yang luar biasa terkait solidaritas dan kebersamaan. \u201cMeskipun tugas terasa berat, karena kekompakan tim yang dibangun dalam suasana kekeluargaan membuat segalanya terasa lebih ringan,\u201d kenangnya.<\/p>\n<p>Salah satu momen paling berkesan baginya adalah saat mewawancarai Menteri Koordinator Perekonomian kala itu, Hatta Rajasa. Meski sempat ditolak oleh ajudan, Rudi tidak menyerah. Ia mendekati sang menteri yang sedang berjalan menuju mobil dan dengan cepat memanfaatkan momen itu untuk melemparkan beberapa pertanyaan singkat. \u201cDari pengalaman itu saya belajar, keberanian dan spontanitas bisa membuka peluang, bahkan di situasi yang sangat terbatas,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p>Pengalaman di Humas Unesa dan berproses sebagai reporter majalah Unesa bukan hanya membentuk keterampilan jurnalistik, tetapi juga membangun karakter disiplin, tangguh, dan adaptif. \u201cSelamat dan sukses untuk majalah Unesa yang sudah konsisten terbit setiap bulan hingga edisi ke-200 ini,\u201d tandas dosen Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Unusa. <strong>@saputra<\/strong><\/p>\n<h3>Dr Moch Ali Mashuri, S.Sos., M.Si., Mantan Reporter Humas Unesa, Kini Dosen di FISIP UPN \u201cVeteran\u201d Jawa Timur<\/h3>\n<p><em><strong>Bertugas Meliput dan Dokumentasi Foto<\/strong><\/em><\/p>\n<p>Dr Moch Ali Mashuri, SSos, MSi merupakan alumnus Unesa yang pada 2010 pernah mengemban tugas sebagai reporter Humas Unesa. Kala itu, ia bertanggung jawab meliput kegiatan kampus, mendokumentasikan momen-momen penting Unesa, dan penyusunan buletin serta siaran pers. Selain itu, ia juga menjalin komunikasi strategis dengan media massa untuk membawa kiprah Unesa ke ruang publik yang lebih luas.<\/p>\n<p>Bagi Mashuri, demikian panggilan akrabnya, dinamika kehumasan Unesa kala itu menghadirkan tantangan tersendiri. Sebab, sumber daya masih terbatas dan teknologi juga belum berkembang pesat seperti saat ini.<\/p>\n<p>Ia juga mengaku terkesan dengan suasana kerja yang dilandasi kekompakan tim, semangat kolaborasi, dan dukungan penuh dari pimpinan kampus. Ia juga menjadikan humas sebagai tempat untuk terus belajar. Ia berupaya memperbarui kemampuan menulis, memahami perkembangan media, dan berbagi informasi.<\/p>\n<p>\u201cBagi saya, humas bukan sekadar pekerjaan administratif, melainkan garda depan dalam membangun citra dan reputasi institusi,\u201d tandasnya sembari menyampaikan selamat atas konsistensi tim humas menerbitkan majalah Unesa setiap bulan hingga edisi ke-200 ini. <strong>@saputra<\/strong><\/p>\n<h3>Supi\u2019ah, S.E., Eks Pegawai Humas Unesa, yang Kini Sudah Purna Tugas<\/h3>\n<p><em><strong>Dulu, Humas Sempat Dianggap Hanya Juru Potret<\/strong><\/em><\/p>\n<p>Sosok yang satu ini lebih akrab dengan panggilan Bu Upik. Ia telah mengabdi sejak tahun 2007 hingga masa purnanya April 2023. Meski perannya bukan sebagai juru bicara, bukan pula sebagai perencana acara, tetapi posisinya sangat penting bagi humas dan teman-teman reporter karena memegang peran sebagai pengelola administrasi keuangan.<\/p>\n<p>Sebagai pengelola keuangan, tugas yang diemban tentu tidak ringan. Setiap laporan, setiap angka, dan setiap pengeluaran harus dikelola dengan teliti. Bu Upik \u2013 yang sudah dianggap sebagai ibunya anak-anak Humas ini mengaku, beban tanggung jawab yang dipikul cukup besar. Namun, kehadiran para pimpinan yang bijaksana menjadi dorongan yang meringankan langkahnya. \u201cTugas saya memang berat waktu itu, tapi karena pimpinan dari waktu ke waktu sangat bijaksana, semuanya bisa terselesaikan dengan baik,\u201d kenangnya.<\/p>\n<p>Pada masa awal pengabdian di Humas Unesa, kata Upik, humas masih dianggap hanya sebagai \u201cjuru potret\u201d yang bertugas meliput dan mendokumentasikan kegiatan-kegiatan kampus. Namun, saat ini, seiring berjalannya waktu, peran Humas berkembang pesat yang ia saksikan dari balik meja kerjanya.<\/p>\n<p>Baginya, kini Humas Unesa dikenal sebagai garda depan universitas. Humas berperan penting menjadi ujung tombak promosi dan citra institusi. Perubahan itu selain mencerminkan tuntutan zaman, tapi juga hasil kerja tim yang solid dan komitmen yang konsisten dari waktu ke waktu.<\/p>\n<p>Ia mengatakan, keberhasilan mengubah <em>image<\/em> itu kuncinya ada pada kesiapsiagaan alias gercep. Menjadi bagian dari Humas, ujarnya, berarti harus siap setiap saat ketika dibutuhkan. \u201cTidak ada ruang untuk bekerja setengah hati. Karena loyalitas dan tanggung jawab itu harus berjalan beriringan,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>Lebih dari 15 tahun mengabdi, ia menjadi saksi bagaimana Humas membentuk dirinya sebagai unit yang tidak hanya mendukung, tapi juga memimpin dalam hal komunikasi dan publikasi. Menurut Upik perubahan besar itu terjadi karena adanya inovasi yang terus tumbuh, semangat kerja yang dijaga, dan konsistensi yang tidak pernah padam.<\/p>\n<p>Meski purna tugas, semangatnya masih bergema. Ia tidak hanya meninggalkan jejak administratif, tetapi juga warisan nilai kerja yang diam-diam telah menjadi budaya. \u201cHumas bukan tentang hasil semata, tapi juga tentang proses panjang yang dilalui dengan ketekunan dan cinta,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p>Ia juga menyampaikan apresiasi terhadap majalah Unesa, yang telah konsisten terbut setiap bulan hingga sampai pada edisi ke-200. Tentu, semua itu, dilalui dengan sebuah proses yang panjang, ketelatenan, ketekunan, dan inovasi dari para tim humas. \u201cSelamat untuk majalah Unesa, semoga senantiasa terus menginspirasi,\u201d pungkasnya. <strong>@shofi<\/strong><\/p>\n<p>\n\n\n<\/p>\n<p>Bagikan artikel ini<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Spesial Edisi ke-200 Majalah Unesa<\/p>","protected":false},"author":1,"featured_media":3296,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[12],"tags":[],"class_list":["post-3185","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-laporan-utama"],"blocksy_meta":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Jejak Sunyi Ruang Redaksi - Majalah Unesa<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/jejak-sunyi-ruang-redaksi\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Jejak Sunyi Ruang Redaksi - Majalah Unesa\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Spesial Edisi ke-200 Majalah Unesa\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/jejak-sunyi-ruang-redaksi\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Majalah Unesa\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-04-18T03:23:00+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-04-09T04:11:59+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/foto-spesial-edisi-majalah-200-scaled.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2560\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1440\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admin\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admin\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"16 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/jejak-sunyi-ruang-redaksi\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/jejak-sunyi-ruang-redaksi\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"admin\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/2dfe56075a2c61631370d716c113cab7\"},\"headline\":\"Jejak Sunyi Ruang Redaksi\",\"datePublished\":\"2025-04-18T03:23:00+00:00\",\"dateModified\":\"2026-04-09T04:11:59+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/jejak-sunyi-ruang-redaksi\\\/\"},\"wordCount\":2684,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/jejak-sunyi-ruang-redaksi\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/07\\\/foto-spesial-edisi-majalah-200-scaled.jpg\",\"articleSection\":[\"Laporan Utama\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/jejak-sunyi-ruang-redaksi\\\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/jejak-sunyi-ruang-redaksi\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/jejak-sunyi-ruang-redaksi\\\/\",\"name\":\"Jejak Sunyi Ruang Redaksi - Majalah Unesa\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/jejak-sunyi-ruang-redaksi\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/jejak-sunyi-ruang-redaksi\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/07\\\/foto-spesial-edisi-majalah-200-scaled.jpg\",\"datePublished\":\"2025-04-18T03:23:00+00:00\",\"dateModified\":\"2026-04-09T04:11:59+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/jejak-sunyi-ruang-redaksi\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/jejak-sunyi-ruang-redaksi\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/jejak-sunyi-ruang-redaksi\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/07\\\/foto-spesial-edisi-majalah-200-scaled.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/07\\\/foto-spesial-edisi-majalah-200-scaled.jpg\",\"width\":2560,\"height\":1440,\"caption\":\"sumber foto: Gemini AI\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/jejak-sunyi-ruang-redaksi\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Beranda\",\"item\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Jejak Sunyi Ruang Redaksi\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/\",\"name\":\"Majalah Unesa\",\"description\":\"Majalah UNESA Go Digital\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/#organization\",\"name\":\"Universitas Negeri Surabaya\",\"url\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/08\\\/Logo12.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/08\\\/Logo12.png\",\"width\":5000,\"height\":5000,\"caption\":\"Universitas Negeri Surabaya\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/2dfe56075a2c61631370d716c113cab7\",\"name\":\"admin\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/5c02a0c87e0dafc85961cd79c6c61b67a7b1b45ef24b285c398c49dc89fa7cfe?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/5c02a0c87e0dafc85961cd79c6c61b67a7b1b45ef24b285c398c49dc89fa7cfe?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/5c02a0c87e0dafc85961cd79c6c61b67a7b1b45ef24b285c398c49dc89fa7cfe?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admin\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/en\\\/author\\\/admin\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Jejak Sunyi Ruang Redaksi - Majalah Unesa","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/jejak-sunyi-ruang-redaksi\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Jejak Sunyi Ruang Redaksi - Majalah Unesa","og_description":"Spesial Edisi ke-200 Majalah Unesa","og_url":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/jejak-sunyi-ruang-redaksi\/","og_site_name":"Majalah Unesa","article_published_time":"2025-04-18T03:23:00+00:00","article_modified_time":"2026-04-09T04:11:59+00:00","og_image":[{"width":2560,"height":1440,"url":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/foto-spesial-edisi-majalah-200-scaled.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admin","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"admin","Est. reading time":"16 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/jejak-sunyi-ruang-redaksi\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/jejak-sunyi-ruang-redaksi\/"},"author":{"name":"admin","@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/#\/schema\/person\/2dfe56075a2c61631370d716c113cab7"},"headline":"Jejak Sunyi Ruang Redaksi","datePublished":"2025-04-18T03:23:00+00:00","dateModified":"2026-04-09T04:11:59+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/jejak-sunyi-ruang-redaksi\/"},"wordCount":2684,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/jejak-sunyi-ruang-redaksi\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/foto-spesial-edisi-majalah-200-scaled.jpg","articleSection":["Laporan Utama"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/majalahunesa.my.id\/jejak-sunyi-ruang-redaksi\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/jejak-sunyi-ruang-redaksi\/","url":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/jejak-sunyi-ruang-redaksi\/","name":"Jejak Sunyi Ruang Redaksi - Majalah Unesa","isPartOf":{"@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/jejak-sunyi-ruang-redaksi\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/jejak-sunyi-ruang-redaksi\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/foto-spesial-edisi-majalah-200-scaled.jpg","datePublished":"2025-04-18T03:23:00+00:00","dateModified":"2026-04-09T04:11:59+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/jejak-sunyi-ruang-redaksi\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/majalahunesa.my.id\/jejak-sunyi-ruang-redaksi\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/jejak-sunyi-ruang-redaksi\/#primaryimage","url":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/foto-spesial-edisi-majalah-200-scaled.jpg","contentUrl":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/foto-spesial-edisi-majalah-200-scaled.jpg","width":2560,"height":1440,"caption":"sumber foto: Gemini AI"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/jejak-sunyi-ruang-redaksi\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Beranda","item":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Jejak Sunyi Ruang Redaksi"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/#website","url":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/","name":"Majalah Unesa","description":"Majalah UNESA Go Digital","publisher":{"@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/#organization","name":"Universitas Negeri Surabaya","url":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Logo12.png","contentUrl":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Logo12.png","width":5000,"height":5000,"caption":"Universitas Negeri Surabaya"},"image":{"@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/#\/schema\/person\/2dfe56075a2c61631370d716c113cab7","name":"admin","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/5c02a0c87e0dafc85961cd79c6c61b67a7b1b45ef24b285c398c49dc89fa7cfe?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/5c02a0c87e0dafc85961cd79c6c61b67a7b1b45ef24b285c398c49dc89fa7cfe?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/5c02a0c87e0dafc85961cd79c6c61b67a7b1b45ef24b285c398c49dc89fa7cfe?s=96&d=mm&r=g","caption":"admin"},"sameAs":["https:\/\/majalahunesa.my.id"],"url":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/author\/admin\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3185","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3185"}],"version-history":[{"count":41,"href":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3185\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4201,"href":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3185\/revisions\/4201"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3296"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3185"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3185"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3185"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}