{"id":5004,"date":"2026-01-01T07:13:00","date_gmt":"2026-01-01T07:13:00","guid":{"rendered":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/?p=5004"},"modified":"2026-07-24T03:44:32","modified_gmt":"2026-07-24T03:44:32","slug":"berjaya-di-sea-games-xxxiii-thailand","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/berjaya-di-sea-games-xxxiii-thailand\/","title":{"rendered":"BERJAYA DI SEA GAMES XXXIII THAILAND"},"content":{"rendered":"<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Universitas Negeri Surabaya kembali menegaskan diri sebagai kampus yang unggul dalam bidang olahraga. Terbaru, kampus berjargon Rumah Para Juara itu memberikan kontribusi luar biasa bagi kontingen Indonesia di ajang Sea Games ke-33 Tailan 2025. Tak tanggung-tanggung, Martina Ayu dkk, sukses mempersembahkan 54 medali baik dari perorangan maupun beregu, dengan rincian 24 emas, 18 perak, dan 12 perunggu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Luar biasanya, Martina Ayu Pratiwi, mahasiswi Prodi S-1 Pendidikan Kepelatihan Olahraga, Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) Unesa sukses menyumbang 5 medali emas dan 2 medali perak dari cabor endurance (triathlon, duathlon, dan aquathlon). Tak pelak. atlet yang dijuluki \u2018Ratu Triathlon\u2019 tersebut menjadi atlet tersukses tanah air pada multievent olahraga Asia Tenggara tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam perhelatan olahraga bergengsi antarnegara asean itum, Unesa cukup banyak mengirimkan atlet, pelatih, dan official dalam kontingen Indonesia yakni 46 personel d terdiri atas 37 atlet mahasiswa dan alumni, dan 9 dosen yang dipercaya sebagai pelatih nasional di berbagai cabang olahraga. Kolaborasi antara atlet muda dan akademisi ini terbukti efektif dalam mengangkat performa tim Indonesia di level Asia Tenggara. Capaian prestasi itu tentu sangat membanggakan dan mempertegas reputasi Unesa sebagai kampus \u2018Rumah Para Juara\u2019 yang konsisten melahirkan atlet berprestasi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Rektor Unesa Prof Nurhasan tak bisa menutupi rasa bangganya. Rektor yang kerap tampil nyentrik dengan sepatu bhineka itu menyampaikan apresiasi atas pencapaian luar biasa para Atlet Unesa. Menurut Guru Besar Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan itu, keberhasilan itu tidaklah didapatkan secara instan, melainkan buah dari sistem pembinaan jangka panjang yang terintegrasi antara akademik dan prestasi olahraga.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kontribusi 54 medali itu, tandas Cak Hasan (sapaan akrabnya), menjadi bukti nyata bahwa Unesa serius dan konsisten membangun ekosistem olahraga berkelanjutan. Unesa tidak hanya mencetak lulusan, tetapi juga melahirkan juara yang mengharumkan nama bangsa di level internasional.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Yang juga membanggakan bagi Cak Hasan, pengembangan&nbsp;<em>sport science<\/em> di kampus sangatlah efektif, tidak berhenti pada teori, namun diuji langsung di arena kompetisi internasional. Apalagi, pendekatan&nbsp;<em>sport science<\/em>&nbsp;sudah diterapkan Unesa, mulai dari pembinaan fisik, psikologi olahraga, nutrisi, hingga manajemen performa atlet. Sinergi tersebut menjadikan atlet tampil optimal di tengah persaingan ketat antarnegara&nbsp;Asean.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Cak Hasan berharap, prestasi itu menjadi sumber inspirasi bagi seluruh sivitas akademika Unesa, khususnya mahasiswa, untuk terus mengembangkan potensi diri baik di bidang akademik maupun nonakademik. Selain itu, juga semakin memperkuat posisi Unesa sebagai salah satu&nbsp;kampus yang punya peran penting dalam pengembangan altlet nasional&nbsp;dan mitra strategis pemerintah dalam membangun kejayaan olahraga Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"683\" src=\"https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Luluk-Diana-Tri-Wijayana-4-1024x683.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-5007\" srcset=\"https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Luluk-Diana-Tri-Wijayana-4-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Luluk-Diana-Tri-Wijayana-4-300x200.jpg 300w, https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Luluk-Diana-Tri-Wijayana-4-768x512.jpg 768w, https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Luluk-Diana-Tri-Wijayana-4-18x12.jpg 18w, https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Luluk-Diana-Tri-Wijayana-4.jpg 1080w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Diundang ke Istana, Terima Bonus<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Foto: Official Unesa ke Istana Negara<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Atlet dan pelatih Indonesia peraih medali SEA Games 2025, termasuk dari Universitas Negeri Surabaya&nbsp;diundang ke istana dan mendapatkan bonus yang diserahkan langsung Presiden Prabowo Subianto didampingi Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir di Istana Negara, Jakarta, pada Kamis, 8 Januari 2026.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bonus tersebut merupakan bentuk komitmen dan apresiasi negara terhadap perjuangan pahlawan olahraga dalam mengibarkan merah putih dan menjaga martabat bangsa di panggung olahraga internasional. Presiden Prabowo menyampaikan apresiasi dan bangga atas perjuangan dan prestasi yang diraih olahragawan tanah air. Baginya, prestasi olahraga merupakan salah satu cermin keberhasilan dan kekuatan negara.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebagai kepala negara, kepala pemerintah, dan sebagai pribadi, Presiden menyampaikan terima kasih kepada para atlet atas keberhasilan menjaga kehormatan bangsa Indonesia. Pada momen tersebut, Prabowo Subianto takjub dengan raihan medali aMartina Ayu Pratiwi, mahasiswi Prodi S-1 Pendidikan Kepelatihan Olahraga, Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) Unesa yang berhasil meraih 5 medali emas, dan 2 medali perak.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Senada, Rektor Unesa, Nurhasan atau Cak Hasan yang turut hadir dalam penyerahan bonus tersebut juga menyampaikan rasa bangganya atas perjuangan dan prestasi yang diukir atlet dan pelatih Unesa di SEA Games tersebut, termasuk kepada Martina Ayu Pratiwi yang menorehkan tinta emasnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurutnya, apresiasi berupa bonus dari presiden dapat menjadi penguatan prestasi olahraga Indonesia ke depan. Dengan kata lain, setiap keringat dan perjuangan itu dihargai. Apalagi ini menyangkut marwah dan martabat bangsa. \u201cHarapannya, semoga atlet, pelatih dan official serta olahragawan tanah air terjaga motivasinya dalam meningkatkan performa dan meningkatkan prestasi untuk Indonesia,\u201d ucap Cak Hasan. @TimHumas<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img decoding=\"async\" width=\"1000\" height=\"667\" src=\"https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/WR-4-1-1.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-5037\" srcset=\"https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/WR-4-1-1.jpeg 1000w, https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/WR-4-1-1-300x200.jpeg 300w, https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/WR-4-1-1-768x512.jpeg 768w, https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/WR-4-1-1-18x12.jpeg 18w\" sizes=\"(max-width: 1000px) 100vw, 1000px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Prof Dr Dwi Cahyo Kartiko, SPd MKes, Tim Official<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Sea Games Jadi Pembuktian, Selanjutnya Harus Naik ke Level Asian Games<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Salah satu tim official Unesa di Sea Games Tailan, yang juga wakil rektor 4, Prof Dr Dwi Cahyo Kartiko, SPd MKes mengatakan, keberhasilan atlet dari Unesa mendapatkan puluhan medali merupakan hasil dari proses panjang. Capaian tersebut sejalan dengan tagline Unesa sebagai Rumah Para Juara. \u201cTagline itu, bukan sekadar slogan, melainkan cerminan dari kerja nyata yang selama ini dijalankan Unesa dalam membina dan melahirkan mahasiswa berprestasi,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selain hasil dari proses panjang, keberhasilan itu merupakan kerja kolektif yang melibatkan atlet, pelatih, kampus, dan berbagai pihak lainnya. Cahyo mengatakan, hasil di Sea Games menjadi bukti bahwa proses itu berjalan dan membuahkan hasil.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Secara khusus, Cahyo mencontohkan capaian Martina Ayu yang berhasil meraih tujuh medali dan menjadi atlet dengan perolehan medali terbanyak. Fakta bahwa Martina merupakan mahasiswa Unesa, menurutnya, semakin menegaskan kualitas input mahasiswa yang masuk ke kampus ini. \u201cItu menunjukkan bahwa mahasiswa yang masuk Unesa memang mahasiswa yang qualified. Mereka sudah punya prestasi dan cocok dengan karakter Unesa,\u201d terangnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketua Umum Federasi Olahraga Petanque Indonesia (FOPI) Jawa Timur itu menambahkan, sejak awal Unesa memang menempatkan tiga bidang sebagai keunggulan utama, olahraga, seni, dan disabiltas. Karena itu, Unesa harus tampil lebih unggul dibandingkan dengan perguruan tinggi lain, khususnya dalam pembinaan prestasi olahraga. \u201cKalau unggulan kita olahraga, ya harus betul-betul serius mengelolanya,\u201d tandasnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lebih lanjut, Cahyo menyampaikan bahwa makna capaian Sae Games 2025 bagi Unesa, bukan hanya soal jumlah medali, tapi prestasi tersebut menunjukkan keseriusan Unesa dalam membina mahasiswa berprestasi sejak awal masuk kampus. Ia menegaskan bahwa mahasiswa atlet yang diterima di Unesa merupakan hasil seleksi dan pendekatan yang terencana.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cKita memang melakukan pendekatan ke sekolah-sekolah, salah satunya Sekolah Menengah Olahraga Negeri (Semanor) di Sidoarjo. Dari sana kita bersinergi, sehingga mahasiswa yang masuk ke Unesa memang sejak awal sudah memiliki fondasi prestasi yang kuat,\u201d ujar Guru Besar Bidang Pembelajaran Bola Basket FIKK Unesa tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selain dengan sekolah olahraga, tambahnya, Unesa juga membangun kolaborasi dengan berbagai induk organisasi olahraga, mulai dari pengurus provinsi, kabupaten, kota, hingga tingkat pusat. Kolaborasi itu membuat proses pembinaan menjadi terintegrasi. \u201cJika semua sudah berkolaborasi, mahasiswa yang masuk Unesa itu memang betul-betul mahasiswa andalan. Tidak hanya untuk Unesa, tapi juga untuk Indonesia,\u201d tegasnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Soal regenerasi atlet, Cahyo meyakini Unesa tidak akan kehabisan stok atlet berprestasi. Sebab, sistem yang dibangun selama ini memungkinkan regenerasi berjalan secara alami dan berkelanjutan. Apalagi, mahasiswa atlet yang lulus, kebanyakan melanjutkan S2 atau S3 di Unesa, sementara adik-adik kelas dengan prestasi serupa terus berdatangan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Apresiasi dan penghargaan bagi mahasiswa berprestasi, juga ditunjukkan Unesa, salah satunya melalui beasiswa, sehingga proses regenerasi atlet dapat berjalan secara berkelanjutan. Selain itu, regenerasi juga diperkuat melalui kolaborasi dengan sekolah, klub, KONI, hingga NOC Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Terkait penyelenggaraan Sea Games Thailand 2025, Cahyo menilai kualitas kompetisi sudah berjalan sesuai standar internasional. Meski sempat ada kendala, seperti banjir yang menyebabkan beberapa pertandingan harus dipindahkan ke Bangkok, tapi tidak berdampak besar terhadap jalannya kompetisi. \u201cThailand sudah sering menyelenggarakan event dunia dan internasional. Jadi mereka bisa menyelesaikan semuanya dengan sangat baik,\u201d ungkap Cahyo yang juga hadir langsung di lokasi pertandingan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Cahyo berharap capaian di Sea Games dapat menjadi pijakan untuk target yang lebih tinggi. Ia menekankan bahwa para atlet, baik yang telah meraih medali maupun yang belum, perlu terus berlatih dan berusaha maksimal. Meskipun Sea Games menjadi pencapaian yang membanggakan, tapi kebanggaan lebih besar adalah ketika atlet-atlet Unesa mampu berkontribusi sebagai tulang punggung Indonesia di ajang Asian Games. \u201cSea Games sudah jadi bukti. Selanjutnya, mahasiswa harus bisa naik level dan menjadi tulang punggung Indonesia di ajang Asia,\u201d tandasnya. <strong>@Ja\u2019far<\/strong><\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"682\" src=\"https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Yogi1-1024x682.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-5038\" srcset=\"https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Yogi1-1024x682.jpeg 1024w, https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Yogi1-300x200.jpeg 300w, https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Yogi1-768x512.jpeg 768w, https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Yogi1-1536x1023.jpeg 1536w, https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Yogi1-18x12.jpeg 18w, https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Yogi1.jpeg 1600w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Yogiswara Anugrah Pamungkas, Pelatih Cabor Petanque<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Paduan Teknik dan Kestabilan Emosi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Cabang olahraga Petanque yang ditentukan oleh milimeter dan ketenangan pikiran untuk bisa meraih kemenangan tidak hanya mengandalkan teknik semata, tapi juga tentang kestabilan emosi. Itulah yang dirasakan Yogiswara Anugrah Pamungkas, pelatih petanque Indonesia asal Unesa ketika mendampingi atletnya menuju Sea Games Tailan 2026.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Proses pemilihan atlet, kata Yogiswara, dilakukan melalui pembacaan ranking history dari berbagai kejuaraan, terutama level internasional. Yogi tidak bekerja sendirian. Seleksi dilakukan secara kolaboratif, melibatkan tim pelatih dan pengurus, dengan mempertimbangkan konsistensi performa, pengalaman tanding, serta kesiapan mental. \u201cDari proses ini, saya memegang dua nomor utama, yakni single woman dan single man,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurut Yogi, awalnya, target realistis yang dibayangkan hanya berhasil meraih medali. Sama sekali tidak menargetkan harus medali emas mengingat waktu persiapan yang sangat singkat hanya sekitar tiga bulan training camp. Namun, proses itu justru membuktikan bahwa dengan kerja tim, kepercayaan antar pelatih, atlet, dan dukungan organisasi dapat melampaui ekspektasi awal. P\u00e9tanque mendapatkan enam medali 1 medali emas, 2 medali perak, dan 3 medali perunggu. Capaian ini menjadi jawaban tegas atas keraguan publik, mengingat cabor ini sempat absen di dua edisi SEA Games sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam petanque, terang Yogi, tidak ada program latihan yang benar-benar pakem. Justru fleksibilitas menjadi kunci. Selama tiga bulan pemusatan latihan, atlet tidak hanya berlatih di lapangan, tetapi juga aktif mengikuti berbagai event. Prinsipnya sederhana , jago di kandang sendiri tidak menjamin kesiapan di arena sesungguhnya. Karena itu, berapapun anggarannya, selama memungkinkan, atlet harus ikut kompetisi selama masa training.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dari setiap event, jelas Yogi, tim melakukan evaluasi. Kesalahan dicatat, tekanan mental diamati, dan respons atlet dalam situasi nyata dianalisis. Intensitas latihan kemudian ditinggikan secara bertahap, agar atlet terbiasa berada di level performa tinggi menjelang hari pertandingan. Tantangan terbesarnya justru datang dari karakter cabang olahraga itu sendiri. Petanque adalah olahraga akurasi, penuh repetisi, dan sangat mudah menimbulkan kebosanan. \u201cMenjaga mood atlet menjadi pekerjaan penting. Yogi terus mencari inovasi metode latihan agar rutinitas tidak terasa menekan, tetapi tetap produktif,\u201d bebernya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di luar lapangan, hubungan dijaga sebagai teman. Ia sadar bahwa atlet selalu membawa ketakutan akan kalah, apalagi ini Sea Games pertama mereka. Jika emosi itu dipendam, performa akan terganggu. Karena itu, komunikasi menjadi fondasi. Setelah latihan berat, mereka diajak ngopi bersama, berenang ringan, atau sekadar duduk berbagi cerita. Curhat menjadi bagian dari sistem, bukan distraksi. \u201cYang penting terbuka dan transparan agar kegelisahan tidak mengendap, tetapi bisa dibicarakan dan dicarikan jalan keluarnya bersama,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pendekatan sport science juga hadir, meski tidak dominan. Analisis performa dilakukan berkala, dan terapi pijat dijadwalkan dua minggu sekali untuk menjaga kondisi fisik. Lebih dari itu, Yogi menaruh perhatian besar pada karakter atlet. \u201cSaya belajar memahami perbedaan, mengelola argumen, dan menempatkan konflik sebagai ruang belajar, bukan sumber perpecahan,\u201d imbuhnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kemenangan emas akhirnya datang bukan sebagai hasil satu metode hebat, tetapi sebagai buah dari keterhubungan antara pelatih dan atlet, antara latihan dan kompetisi, antara disiplin dan empati. Namun bagi Yogi, medali bukanlah garis akhir. Ia berpesan agar atlet tidak berhenti berlatih, tetapi juga tidak menggantungkan hidup sepenuhnya pada olahraga. \u201cBonus harus digunakan bijak, dan pendidikan tetap penting, karena masa atlet tidak sepanjang hidup,\u201d tandasnya. <strong>@Shofi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"903\" src=\"https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Rohim1-1024x903.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-5039\" srcset=\"https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Rohim1-1024x903.jpeg 1024w, https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Rohim1-300x265.jpeg 300w, https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Rohim1-768x677.jpeg 768w, https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Rohim1-14x12.jpeg 14w, https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Rohim1.jpeg 1280w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Abdul Haq Habibur Rohim, Pelatih Cabor Hoki<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Bekerja di Balik Layar, Pantau Video dan Diskusi Intens<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Di balik kemenangan tim hoki Indonesia di Sea Games Thailand, ada proses yang jarang diketahui publik, sesi menonton video berjam-jam, diskusi tak berkesudahan tentang pergerakan tanpa bola, hingga evaluasi detail yang sering kali terasa remeh, tetapi menentukan hasil pertandingan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di ruang-ruang sunyi itulah Abdul Haq Habibur Rohim bekerja. Pola latihan yang diterapkan pun berbeda dari pembinaan-pembinaan konvensional sebelumnya. Ia membawa pendekatan sport science dan analisis yang selama ini didapatkan di level nasional. Sehari-hari, ia menghabiskan banyak waktu menonton video pertandingan tim terbaik dunia untuk membaca pola permainan, strategi ofensif, dan sistem pertahanan lawan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Rohim menerapkan pola latihan dengan ritme yang ketat. Pagi diisi latihan fisik dan teknik. Siang hari digunakan untuk analisis video membedah kesalahan sendiri, mempelajari pergerakan lawan, dan mendiskusikan yang bisa diadaptasi. Tantangan terbesar, kata Rohim, justru datang dari perbedaan budaya latihan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Atlet dituntut belajar membaca permainan, memahami data, dan terbiasa dengan evaluasi detail. Apalagi, head coach tim yang berasal dari Malaysia adalah sosok yang dikenal sangat teliti dan menaruh perhatian besar pada hal-hal kecil. \u201cEvaluasi bisa sampai ke hal yang sangat detail, seperti posisi kaki. Awalnya berat, tapi justru di situ kami belajar,\u201d ujar Rohim.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Proses yang menantang itu perlahan membentuk disiplin baru. Atlet mulai terbiasa menganalisis, berdiskusi, dan bertanggung jawab terhadap peran masing-masing di lapangan. Selain teknis, Rohim juga menjaga kondisi mental atlet. Latihan yang Panjang kerap memunculkan rasa bosan dan jenuh. Karena itu, metode latihan dibuat variatif. Sesekali atlet diajak berjalan santai bersama, atau melakukan aktivitas di luar lapangan seperti sholat berjamaah. \u201cTujuannya agar atlet tetap utuh sebagai manusia, bukan hanya sebagai mesin kompetisi,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Untuk menggenjot fisik, program strength and conditioning dan maintenance tubuh dijalankan secara konsisten. Peran sport science, kata Rohim, sangat membantu untuk mengetahui kondisi atlet setiap saat. Selain itu, fisioterapi juga membantu mempercepat pemulihan, sedangkan video analis membantu tim pelatih fokus pada strategi. \u201cKami merasa tercover, sehingga sebagai pelatih kami bisa fokus untuk mengatur strategi,\u201d tukasnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tekad anak didiknya untuk memberikan hasil terbaik menjadi hal mengesankan tersendiri. Ia melihat kesungguhan mereka selama latihan, keterbukaan dalam komunikasi, dan keberanian menghadapi tuntutan tinggi. Kemauan inilah yang mendorong progres cepat. Bahkan menjelang Sea Games, beberapa atlet sudah mulai mendapat tawaran bermain di Eropa saat mereka training camp menjelang Sea Games.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bagi Rohim, kemenangan bukan hanya tentang medali, tetapi tentang membuka jalur baru bagi karier atlet Indonesia. Ia berharap semakin banyak atlet bisa merasakan atmosfer kompetisi Eropa, terbiasa menghadapi tim-tim besar, dan membawa pengalaman itu kembali ke tim nasional. \u201cKami ingin mereka siap untuk level dunia,\u201d tegas Rohim. <strong>@Shofi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"768\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Chomairoh-Bella-Agripina-768x1024.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-5040\" srcset=\"https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Chomairoh-Bella-Agripina-768x1024.jpeg 768w, https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Chomairoh-Bella-Agripina-225x300.jpeg 225w, https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Chomairoh-Bella-Agripina-9x12.jpeg 9w, https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Chomairoh-Bella-Agripina.jpeg 960w\" sizes=\"(max-width: 768px) 100vw, 768px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Chomairoh Bella Agripina, Pelatih Cabor Triathlon<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Buah Proses Panjang dan Disiplin Ketat<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Kemenangan atlet-atlet Indonesia di Sea Games Thailand bukan sekadar deretan angka di papan klasemen. Di balik setiap medali emas, ada proses panjang, disiplin harian, tekanan mental, serta sistem pembinaan yang bekerja dalam senyap. Pun, ada peran pelatih yang ikut mengawal proses menuju podium tertinggi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebagai pelatih cabor triathlon, Chomairoh Bella Agripina tentu memiliki peran penting meski tidak selalu terlihat di layar. Momen ketika atlet bangun pagi untuk latihan, mengulang simulasi lomba, dan saat mulai merasakan tekanan menjelang hari pertandingan menjadi bagian rutinitas yang dilakukan pelatih.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bella sendiri memulai pembinaan dari cabang renang, sebagai fondasi penting dalam triathlon. Seleksi atlet dilakukan berdasarkan riwayat kejurnas dan pola perkembangan performa. Program latihan disusun bukan hanya untuk mengejar Sea Games, tetapi untuk membangun performa jangka panjang menuju level lebih tinggi, termasuk Olimpiade. \u201cSea Games itu penting, tapi bukan tujuan akhir. Itu batu loncatan,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Prinsip itu membuat program latihan dirancang konsisten, yakni fokus pada peningkatan fisik, simulasi lomba, dan penajaman kondisi menjelang kompetisi. Intensitas latihan tinggi, bisa tiga kali sehari, tetapi selalu disertai kontrol ketat terhadap recovery, jam tidur, dan asupan gizi terutama protein.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurutnya, tantangan terbesar bukanlah fisik. Atlet-atlet yang berlaga sebagian besar masih berusia sekitar 20 tahun, usia yang secara emosional masih dekat dengan keluarga, pertemanan, dan kebutuhan ruang bebas. Menjelang Sea Games, berbagai tekanan mulai meningkat, seperti ekspektasi publik, target federasi, hingga beban personal untuk membuktikan diri. \u201cDi titik inilah peran pelatih melampaui takaran teknik,\u201d imbuhnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bella memperhatikan perubahan kecil dalam keseharian atlet, dari ekspresi wajah hingga cara berinteraksi. Ketika ada yang terlihat berbeda, ia memilih untuk mengajak sang atlet berbincang. Terkadang mereka hanya butuh didengar. Dalam satu siklus latihan tiga bulan, tidak semua hari diisi latihan penuh. Ada free day yang sengaja disediakan agar atlet tidak terjebak dalam tekanan berlebih.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dukungan sport science menjadi bagian penting dari sistem ini. Terapis pijat membantu pemulihan otot, mekanik memastikan sepeda dalam kondisi prima, dan pemantauan fisik dilakukan berkala. Semua ini bukan untuk memaksimalkan eksploitasi tubuh atlet, tetapi untuk memastikan mereka bisa bertahan dalam ritme kompetisi yang panjang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kebiasaan para atlet yang tahu kapan harus latihan, kapan makan, dan kapan tidur menjadi pengalaman yang mengesankan bagi Bella. Pola hidup mereka menjadi contoh bahwa prestasi bukan hasil kerja instan, melainkan akumulasi keputusan kecil yang konsisten. Ia berharap para atlet tidak cepat puas, euforia berlebihan, dan larut dalam star syndrome. \u201cMereka harus tetap rendah hati dan siap menghadapi event berikutnya. Sea Games harus menjadi awal dari perjalanan yang lebih panjang, bukan garis akhir,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lebih jauh, ia berharap kemenangan ini menjadi inspirasi bagi regenerasi berikutnya. Bahwa mahasiswa Unesa bisa bermimpi besar, bisa menembus level internasional, dan bisa berdiri sejajar dengan atlet terbaik Asia Tenggara bahkan dunia, asal mau menjalani proses dengan disiplin dan penuh kesadaran. <strong>@Shofi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"682\" src=\"https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Binta-1024x682.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-5041\" srcset=\"https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Binta-1024x682.jpeg 1024w, https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Binta-300x200.jpeg 300w, https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Binta-768x512.jpeg 768w, https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Binta-1536x1023.jpeg 1536w, https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Binta-18x12.jpeg 18w, https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Binta.jpeg 1600w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Binta Erlen Salsabela, Peraih Medali Emas dan Perak Cabor Aquathlon<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Buah dari Proses Panjang Sejak Sekolah Dasar<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Bagi Binta Erlen Salsabela, keberhasilan meraih medali Sea Games Tailan bukan sekadar momen kemenangan, tetapi puncak dari proses panjang yang dijalani sejak usia sekolah dasar. Kerja keras, pengorbanan, dan komitmen Mahasiswa S1 Pendidikan Kepelatihan Olahraga (PKO) angkatan 2024 Unesa asal Tulungagung itu membawanya meraih medali emas nomer super sprint aquathlon relay women dan perak nomer super sprint triathlon relay women.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perjalanan Binta dimulai jauh sebelum ia mengenal triathlon. Ia mulai berenang sejak kelas 3 sekolah dasar, lalu baru masuk ke triathlon pada Agustus 2022. Sejak itu, cabang olahraga ini menjadi ruang pembentukan mental dan disiplin baginya. Prosesnya tidak selalu mudah. Latihan mengajarkan kesabaran ekstra untuk mengulang hal yang sama setiap hari, menerima progres yang tidak selalu cepat, dan tetap bertahan di tengah rasa lelah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam satu hari, Binta bisa menjalani dua hingga tiga sesi latihan. Renang berdurasi 1,5 hingga 2 jam, sepeda 2 hingga 4 jam, dan lari 1 hingga 2 jam. Selain itu, terdapat sesi brick, yakni latihan gabungan antara renang-sepeda atau sepeda-lari yang menuntut adaptasi fisik dan mental dalam satu rangkaian panjang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun, tantangan terbesar datang dari dalam dirinya, seperti rasa bosan dan keinginan menyerah. Dalam olahraga yang menuntut repetisi tinggi, menjaga motivasi menjadi pekerjaan tersendiri. Di sinilah kekuatan mental memainkan peran penting. \u201cSaya belajar untuk menerima rasa lelah dan ragu sebagai bagian dari proses, bukan sebagai alasan untuk berhenti,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di arena kompetisi, tekanan datang dalam bentuk lain. Filipina menjadi salah satu lawan terberat, dengan performa yang konsisten dan agresif. Rasa gugup tentu hadir, tetapi Binta belajar mengelolanya dengan kembali pada hal-hal yang bisa ia kendalikan dan percayaan pada kemampuan diri sendiri. Di luar latihan, ia tetap membaca, mengatur waktu istirahat, serta menjalin komunikasi yang baik dengan dosen terkait jadwal latihan dan kompetisi. \u201cKampus memberikan pemahaman, fleksibilitas, dan dukungan moral bagi mahasiswa-atlet, sehingga Binta tidak harus memilih antara pendidikan dan prestasi olahraga,\u201d terangnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bagi Binta, medali Sea Games bukan akhir segalanya, justru menjadi motivasi untuk melangkah lebih tinggi. Target terdekatnya adalah meningkatkan performa dan konsistensi agar mampu bersaing di level internasional yang lebih tinggi. \u201cSaya ingin terus berkembang, tidak hanya sebagai atlet, tapi juga sebagai pribadi yang tangguh menghadapi proses panjang,\u201d tandasnya.\u00a0 <strong>@Shofi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"684\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Martina1-684x1024.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-5042\" srcset=\"https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Martina1-684x1024.jpeg 684w, https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Martina1-200x300.jpeg 200w, https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Martina1-768x1150.jpeg 768w, https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Martina1-1026x1536.jpeg 1026w, https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Martina1-1368x2048.jpeg 1368w, https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Martina1-8x12.jpeg 8w, https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Martina1-scaled.jpeg 1710w\" sizes=\"(max-width: 684px) 100vw, 684px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Martina Ayu Pratiwi, Peraih Medali Terbanyak<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Bermula dari Renang, Debut Pertamanya di Event Terbesar Asia Tenggara<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Tiga tahun lalu, Martina Ayu Pratiwi belum mengenal istilah triathlon. Mahasiswa S1 Pendidikan Kepelatihan Olahraga (PKO) Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan Unesa angkatan 2025 asal Magetan itu memulai perjalanan dari kolam renang, sebelum akhirnya menerima tantangan baru, berenang, bersepeda, dan berlari, dalam satu rangkaian lomba. Tantangan itu kini membawanya berdiri sebagai salah satu atlet paling menonjol Indonesia di Sea Games Thailand, dengan torehan lima medali emas dan dua perak.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Capaian tersebut terasa istimewa, bukan hanya karena jumlah medali, tetapi karena ini merupakan debut pertama Martina di ajang multi-event terbesar Asia Tenggara itu. Ia tampil di berbagai nomor, mulai dari aquathlon relay, duathlon relay, hingga triathlon individual, dengan jadwal pertandingan yang padat dan menuntut kesiapan fisik serta mental dalam waktu yang sangat berdekatan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perjalanan Martina menuju panggung Sea Games terbilang singkat. Ia baru mulai berlatih triathlon sekitar tiga tahun lalu, setelah mendapat tawaran dari pelatih renangnya untuk mencoba cabang olahraga tersebut. Rasa penasaran dan tantangan menjadi pemicu awal. Hasil awalnya pun memberi sinyal positif. Pada race pertamanya di Jawa Barat tahun 2022, Martina langsung menembus peringkat dua triathlon individu putri dan peringkat tiga aquathlon individu putri, meski baru berlatih selama tiga bulan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sejak itu, ritme latihan menjadi bagian dari kesehariannya. Dalam satu minggu, Martina dan tim menjalani enam hari latihan, dengan satu hari berisi dua hingga tiga sesi. Menjelang Sea Games, ia mengikuti pemusatan latihan selama tiga bulan di Bangka Belitung. Di sana, program latihan disesuaikan dengan kondisi lokasi, tanpa mengubah prinsip dasar pembinaan yang sudah dijalankan sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tantangan terberat justru datang dari padatnya jadwal pertandingan di Sea Games. Martina harus turun di beberapa nomor dalam waktu berdekatan, yang menuntut manajemen energi, recovery, dan fokus mental yang presisi. Dalam situasi itu, ketenangan menjadi kunci. \u201cDengan kondisi itu, saya memilih untuk memusatkan perhatian pada hal-hal yang bisa dikontrol, seperti strategi lomba, ritme, dan kondisi tubuh tanpa larut dalam tekanan hasil,\u201d ucapnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Persaingan ketat datang dari Filipina, yang dikenal sebagai salah satu kekuatan utama di triathlon Asia Tenggara. Namun justru dari tekanan itulah Martina belajar menghadapi lawan besar dengan kesiapan mental yang lebih matang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di balik performa Martina, terdapat sistem pendukung yang bekerja konsisten. Ia bersyukur Unesa memberikan fleksibilitas akademik, perizinan, serta perhatian terhadap statusnya sebagai atlet mahasiswa. Dukungan ini memungkinkan Martina tetap menjalankan tanggung jawab akademik tanpa mengorbankan proses pembinaan prestasi. \u201cUnesa adalah tempat yang sangat mendukung mahasiswa untuk berkembang dan berprestasi,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bagi Martina, raihan medali bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan penanda sebuah proses panjang tentang disiplin, konsistensi, dan kepercayaan dari pelatih, tim, institusi, juga dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Medali emas menjadi simbol bahwa proses yang dijalani dengan sabar dan terarah mampu menghasilkan prestasi yang melampaui ekspektasi awal. \u201cJangan takut untuk bermimpi besar dan mencoba. Tetap konsisten, disiplin, dan percaya pada proses. Setiap perjuangan pasti ada hasilnya,\u201d tukasnya. <strong>@Shofi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"683\" src=\"https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Dea-Salsabila-Putri-2-1024x683.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-5050\" srcset=\"https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Dea-Salsabila-Putri-2-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Dea-Salsabila-Putri-2-300x200.jpg 300w, https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Dea-Salsabila-Putri-2-768x512.jpg 768w, https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Dea-Salsabila-Putri-2-1536x1024.jpg 1536w, https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Dea-Salsabila-Putri-2-18x12.jpg 18w, https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Dea-Salsabila-Putri-2.jpg 1600w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dea Salsabila Putri, Peraih Emas Modern Pentathlon<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Bukti Kerja Keras dan Konsistensi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Dea Salsabila Putri, mahasiswa Program Studi S-2 Pendidikan Olahraga Universitas Negeri Surabaya (Unesa) berhasil meraih medali emas nomor Triathle Individual Women\u2019s cabang modern pentathlon pada SEA Games Thailand 2025. Keberhasilan mempersembahkan medali emas itu menjadi bukti kerja keras dan konsistensi setelah enam tahun penantiannya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dea, sapaan akrabnya, konsisten menjaga performa sekaligus mengharumkan nama Indonesia dan almamater di tingkat Asia Tenggara. Atlet kelahiran Surabaya, 20 Maret 1998 itu bukan nama baru dalam dunia olahraga prestasi Indonesia. Ia telah menekuni olahraga sejak usia dini, dimulai dari cabang renang ketika duduk di bangku Sekolah Dasar kelas tiga. Ketertarikannya pada olahraga air kemudian berkembang hingga akhirnya pada tahun 2018 mulai menekuni modern pentathlon, cabang olahraga multidisiplin yang menuntut kekuatan fisik, ketahanan, dan kemampuan mengatur strategi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dea, awalnya menekuni renang. Seiring waktu, ia mencoba hal baru dan mulai serius di pentathlon sejak 2018. Perjalanan prestasi Dea terbilang panjang dan konsisten. Sejak meraih medali perunggu pada PON Jawa Barat 2016 cabang renang perairan terbuka, ia terus menunjukkan peningkatan performa. SEA Games 2019 di Filipina, Dea berhasil mempersembahkan medali emas di nomor Individual Laser Run dan Individual Triathle, serta menyumbang emas melalui nomor Mixed Relay Triathle. Ia juga mencatatkan prestasi pada PON Papua 2021 dan berbagai kejuaraan nasional maupun internasional lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">SEA Games Tailan 2025 menjadi ajang yang cukup menantang bagi Dea. Selain harus bersaing dengan atlet-atlet terbaik dari negara lain, ia juga dihadapkan pada tekanan sebagai atlet peraih emas di edisi sebelumnya. Menurut Dea, tantangan terbesar justru datang dari aspek mental. \u201cSaya harus menghindari tekanan karena pernah meraih emas sebelumnya. Saya berusaha menikmati setiap race,\u201d tuturnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam persiapan menuju SEA Games, Dea menjalani latihan secara intensif dengan pola latihan hingga tiga kali sehari. Hal itu dilakukan karena dalam satu nomor pertandingan terdapat beberapa cabang yang harus dilalui. Program latihan jangka panjang telah dijalaninya bahkan hingga lebih dari satu tahun sebelum kejuaraan berlangsung. \u201cUntuk event besar seperti PON atau SEA Games, persiapan latihan bisa berlangsung satu tahun bahkan lebih,\u201d jelasnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di tengah jadwal latihan yang padat, Dea tetap berupaya menjaga keseimbangan antara akademik dan olahraga. Sebagai mahasiswa pascasarjana Unesa, ia aktif berkomunikasi dengan dosen terkait perkuliahan dan tugas akademik. Di sela latihan, ia tetap mengikuti kuliah dan mengerjakan tugas. Jika jadwal bertabrakan, ia berkomunikasi dengan dosen untuk mencari solusi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dukungan dari Unesa menjadi salah satu faktor penting dalam perjalanan prestasinya. Dea merasakan kemudahan dalam menjalani perkuliahan, terutama dalam hal perizinan dan fleksibilitas akademik bagi mahasiswa atlet. Walaupun ia atlet, Unesa sangat membantu. Para dosen memberikan dukungan sehingga bisa menjalani perkuliahan dengan baik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Medali emas SEA Games Tailan 2025 memiliki makna tersendiri bagi Dea. Selain menjadi bukti keberhasilan mempertahankan prestasi sejak 2019, medali tersebut juga menandai penantian panjang karena cabang modern pentathlon sempat tidak dipertandingkan dalam beberapa edisi SEA Games. \u201cEnam tahun saya menunggu pentathlon kembali dipertandingkan di SEA Games, dan akhirnya bisa berbuah hasil yang sangat baik,\u201d ungkapnya bangga.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ke depan, Dea mengaku ingin menikmati perannya sebagai atlet senior. Ia tidak lagi mematok target tinggi, tetapi memilih menjalani karier olahraga dengan lebih bijak sambil terus mengembangkan diri. Bagi Dea, prestasi tidak semata-mata soal medali, tetapi juga nilai dan tanggung jawab. Ia berharap pengalamannya dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa Unesa untuk terus berusaha dan tidak ragu mengejar prestasi di bidang masing-masing. <strong>@Ja\u2019far<\/strong><\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"682\" src=\"https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Luluk-Diana-Tri-Wijayana-1-1024x682.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-5045\" srcset=\"https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Luluk-Diana-Tri-Wijayana-1-1024x682.jpg 1024w, https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Luluk-Diana-Tri-Wijayana-1-300x200.jpg 300w, https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Luluk-Diana-Tri-Wijayana-1-768x512.jpg 768w, https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Luluk-Diana-Tri-Wijayana-1-1536x1024.jpg 1536w, https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Luluk-Diana-Tri-Wijayana-1-2048x1365.jpg 2048w, https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Luluk-Diana-Tri-Wijayana-1-18x12.jpg 18w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Luluk Diana Tri Wijayana, Peraih Medali Emas Angkat Besi<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Sempat Alami Cedera Kaki, Kenal Angkat Besi Sejak SD<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Perjalanan Luluk Diana Tri Wijayana di SEA Games Tailan2025 menjadi catatan penting dalam kariernya sebagai atlet angkat besi. Mahasiswa Program Studi S1 Pendidikan Kepelatihan Olahraga Universitas Negeri Surabaya angkatan 2024 itu berhasil mempersembahkan medali emas sekaligus menegaskan ketangguhan mental dan fisik di tengah persaingan ketat antar negara Asia Tenggara.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Foto: Luluk Diana Tri Wijayana&nbsp; (1), Luluk Diana Tri Wijayana&nbsp; (2), Luluk Diana Tri Wijayana&nbsp; (3), Luluk Diana Tri Wijayana&nbsp; (4), Luluk Diana Tri Wijayana&nbsp; (5)<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perempuan kelahiran Pacitan, 9 Agustus 2005 ini telah mengenal angkat besi sejak duduk di bangku kelas 6 sekolah dasar. Ketertarikannya pada cabang olahraga ini tumbuh seiring waktu hingga akhirnya ia memilih menekuninya secara serius. Menurut Luluk, alasan bertahan hingga level tertinggi cukup sederhana, tetapi bermakna, ia merasa cocok dengan karakter dan fisiknya. \u201cSaya merasa cocok dengan karakter dan fisik. Angkat besi membuat saya bisa mengenal kemampuan diri sendiri dan terus menantang batas yang dimiliki,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Luluk, sapaannya, mengatakan keikutsertaannya di SEA Games Tailan 2025 bukanlah perjalanan yang mudah. Menjelang keberangkatan, ia sempat mengalami cedera pada kaki sekitar sepuluh hari datang ke pelatnas di Jakarta. Kondisi tersebut menjadi tantangan besar, tidak hanya secara fisik, tetapi juga mental. \u201cTantangan terberat ada di mental dan fisik karena saya sempat cedera. Saat itu, saya harus benar-benar menjaga kondisi dan kepercayaan diri agar tetap siap bertanding,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Meski demikian, Luluk tetap mengikuti program latihan yang telah disusun pelatih secara disiplin. Ia mempercayakan sepenuhnya proses persiapan kepada pelatihnya, samsuri, mulai dari pemulihan cedera hingga kesiapan bertanding. Konsistensi menjalani program latihan menjadi kunci untuk menjaga performa hingga hari pertandingan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Konsistensi tersebut membuahkan hasil saat ia tampil meyakinkan di kelas 48 kilogram dengan catatan snatch 84 kilogram dan clean and jerk 100 kilogram, yang mengantarkannya mengamankan medali emas SEA Games 2025. Persaingan di cabang angkat besi SEA Games 2025 berlangsung ketat. Luluk menilai atlet-atlet dari Thailand, Vietnam, dan Filipina sebagai lawan terberat. \u201cSaya berusaha menjaga fokus dengan berpikir positif dan menenangkan diri sebelum bertanding,\u201d bebernya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Salah satu momen paling berkesan bagi Luluk justru terjadi setelah menyelesaikan angkatan clean and jerk. Saat itu, ia duduk di lantai dengan tubuh tertutup handuk dan jaket, menunggu hasil angkatan atlet lain. Dalam kondisi lelah dan tegang, ia belum mengetahui hasil akhir yang diraihnya. Ia baru tahu setelah pelatihnya membangunkan dan bilang medali emas.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bagi Luluk, medali emas ini begitu berarti. Ia menyebut pencapaian tersebut sebagai bentuk pembuktian sekaligus balas dendam atas berbagai rintangan yang pernah dihadapi dalam perjalanan kariernya. \u201cIni pembuktian dan balas dendam. Bukan kepada siapa pun, tetapi kepada diri saya sendiri atas semua proses, kegagalan, dan keraguan yang pernah saya lewati,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dukungan Unesa dirasakan sangat berarti, terutama dalam penyesuaian jadwal perkuliahan dengan program latihan. Menurut Luluk, fleksibilitas tersebut membantunya menjalani dua peran sekaligus tanpa tekanan berlebihan. Unesa memberikan dukungan dengan menyesuaikan jadwal perkuliahan dengan program latihan, sehingga tetap dapat menjalani perkuliahan jarak jauh.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ke depan, Luluk memiliki mimpi besar yang ingin dicapai. Setelah SEA Games, target selanjutnya adalah tampil di ajang olahraga tertinggi dunia. Ia menargetkan dapat mengikuti Olimpiade Los Angeles 2028 sebagai bagian dari perjalanan prestasinya. Ia juga menyampaikan pesan kepada mahasiswa Unesa yang tengah berjuang mengejar prestasi di berbagai bidang. \u201cTetap semangat. Mungkin sekarang belum berhasil, tapi ingat, di depan sana ada hal yang sangat indah menanti,\u201d tutupnya. <strong>@Ja\u2019far<\/strong><\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"682\" src=\"https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Yosi-Ariel-Firnanda-2-1024x682.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-5046\" srcset=\"https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Yosi-Ariel-Firnanda-2-1024x682.jpg 1024w, https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Yosi-Ariel-Firnanda-2-300x200.jpg 300w, https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Yosi-Ariel-Firnanda-2-768x512.jpg 768w, https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Yosi-Ariel-Firnanda-2-1536x1023.jpg 1536w, https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Yosi-Ariel-Firnanda-2-18x12.jpg 18w, https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Yosi-Ariel-Firnanda-2.jpg 1600w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Yosi Ariel Firnanda, Peraih Medali Emas Voli Pantai<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Tekuni Voli Pantai Sejak Remaja<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Kecintaan pada olahraga yang tumbuh sejak usia belia, menjadi fondasi kuat bagi perjalanan Yosi Ariel Firnanda di dunia voli pantai. Mahasiswa Program Studi S1 Pendidikan Kepelatihan Olahraga (PKO) Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) Universitas Negeri Surabaya itu membuktikan konsistensinya sebagai atlet nasional dengan menyumbangkan medali emas cabang voli pantai pada SEA Games Tailan 2025.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Foto: Yosi Ariel Firnanda&nbsp; (1), Yosi Ariel Firnanda&nbsp; (2), Yosi Ariel Firnanda&nbsp; (3), Yosi Ariel Firnanda&nbsp; (4)<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Atlet kelahiran Sidoarjo, 8 April 1999 itu bahagia dapat membawa Indonesia ke podium tertinggi. Ia mengatakan, medali emas tersebut menjadi salah satu mimpi dan target yang akhirnya terwujud bersama tim yang solid. Keberhasilan mempertahankan tradisi emas voli pantai Indonesia di SEA Games menjadi kebanggaan tersendiri bagi Yosi, yang sejak awal menempatkan kepentingan tim di atas pencapaian individu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perjalanan Yosi di cabang olahraga voli pantai dimulai sejak remaja. Tepatnya, sejak usia 14\u201315 tahun. Lingkungan keluarga yang lekat dengan olahraga ini, juga mempengaruhi ketertarikan Yosi. Dari sekadar hobi, voli pantai kemudian menjadi jalan hidup yang terus dijalani hingga level internasional.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menjelang SEA Games Tailan 2025, Yosi menjalani pola latihan yang terstruktur dan intensif. Fokus utama latihan adalah penguasaan teknik dan strategi permainan agar lebih efisien di lapangan. Ia berusaha meminimalkan energi yang terbuang melalui pengambilan keputusan yang tepat saat bertanding. \u201cLatihan saya lakukan setiap hari, pagi dan sore, baik di lapangan maupun fitness,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Persiapan itu sangat krusial mengingat tantangan yang dihadapi tidak hanya berasal dari lawan, tetapi juga faktor nonteknis. Yosi menyebut kondisi mental dan arah angin di venue pertandingan sebagai tantangan tersendiri dalam voli pantai. Karakter lapangan terbuka menuntut atlet cepat beradaptasi dengan perubahan cuaca dan arah angin yang dapat memengaruhi jalannya pertandingan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada SEA Games Tailan 2025, Yosi menilai Thailand dan Filipina sebagai lawan terberat. Dua negara tersebut memiliki kualitas permainan yang kuat, konsisten, dan pengalaman bertanding yang matang di level internasional. \u201cMenghadapi Thailand dan Filipina kami tidak boleh lengah. Fokus, komunikasi, dan kekompakan tim menjadi kunci agar bisa mengimbangi permainan mereka,\u201d katanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Untuk menjaga performa di laga-laga penting, Yosi menerapkan prinsip berpikir positif dan fokus pada permainan. Ia berusaha mengendalikan tekanan dengan tetap tenang, membaca situasi pertandingan, dan menjalankan strategi yang telah disiapkan bersama pelatih dan pasangan bertandingnya. Baginya, stabilitas mental menjadi kunci utama untuk tampil optimal di level internasional.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Medali emas SEA Games 2025 memiliki makna tersendiri bagi Yosi. Ia memandang pencapaian tersebut sebagai tolok ukur kemampuan diri sekaligus bahan evaluasi untuk terus berkembang ke depan. Medali itu menjadi pencapaian sekaligus tolak ukur kemampuannya, dan jadi bahan introspeksi agar ke depan bisa menjadi lebih baik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Yosi menyampaikan pesan kepada mahasiswa Unesa yang sedang berjuang mengejar prestasi. Ia mengajak untuk tetap semangat dan terus berproses tanpa mengenal kata lelah. \u201cTerus semangat dan jangan berhenti berproses. Hasil tidak datang instan, tapi dengan ketekunan dan konsistensi, semuaakan menemukan jalannya,\u201d pungkasnya. <strong>@Ja\u2019far<\/strong><\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"576\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Muhammad-Hendri-Firdaus-1-576x1024.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-5047\" srcset=\"https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Muhammad-Hendri-Firdaus-1-576x1024.jpg 576w, https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Muhammad-Hendri-Firdaus-1-169x300.jpg 169w, https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Muhammad-Hendri-Firdaus-1-768x1365.jpg 768w, https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Muhammad-Hendri-Firdaus-1-864x1536.jpg 864w, https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Muhammad-Hendri-Firdaus-1-1152x2048.jpg 1152w, https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Muhammad-Hendri-Firdaus-1-7x12.jpg 7w, https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Muhammad-Hendri-Firdaus-1-scaled.jpg 1440w\" sizes=\"(max-width: 576px) 100vw, 576px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Muhammad Hendri Firdaus, Peraih Medali Emas Hockey Indoor<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Tekuni Sejak SMA, Yakin Bisa Mengantarkannya Berprestasi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Perjalanan menuju prestasi tertinggi tidak pernah instan. Hal itu dirasakan betul oleh Muhammad Hendri Firdaus, mahasiswa Program Studi S-2 Ilmu Keolahragaan Unesa) angkatan 2024. Ia sukses mempersembahkan medali emas cabang olahraga hockey indoor putra pada SEA Games Tailan 2025.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Foto: Muhammad Hendri Firdaus (1), Muhammad Hendri Firdaus (2)<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bagi Pria kelahiran Gresik, 31 Agustus 1999 itu, capaian tersebut bukan hanya pencapaian pribadi, melainkan juga bagian dari mimpi besar memajukan hockey Indonesia di tingkat internasional. Ia telah mengenal hockey sejak di bangku SMA pada 2016. Ketertarikan pada cabang olahraga ini berawal dari keyakinan bahwa hockey memiliki potensi besar untuk berkembang dan mampu mengantarkannya meraih prestasi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Keyakinan itulah yang membuat ia bertahan, berproses, dan terus meningkatkan kemampuan hingga ke level tataran dunia. \u201cSejak awal saya yakin bahwa hockey bisa berkembang dan membawa saya untuk berprestasi,\u201d ucapnya optimis.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Keikutsertaannya di SEA Games Tailan 2025 menjadi puncak dari proses panjangnya. Hendri, demikian panggilan akrabnya, mengaku merasakan kebahagiaan sekaligus kebanggaan saat berhasil mewujudkan mimpi membawa pulang medali emas untuk Indonesia. \u201cTentu sangat bahagia dan bangga. Ini mimpi yang akhirnya bisa terwujud. Penantian sejak lama sebenarnya,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebelum mencapai podium tertinggi, Hendri dan tim harus melalui pertandingan demi pertandingan dengan intensitas tinggi. Salah satu momen paling berkesan adalah ketika seluruh pemain mempertaruhkan kemampuan terbaik hingga akhir pertandingan. Setiap game mempertaruhkan segalanya sampai peluit akhir. Bukan hanya soal teknik, tetapi juga komitmen, kepercayaan antar pemain, dan tekad untuk tidak menyerah demi membawa hasil terbaik bagi Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Persiapan menuju SEA Games dilakukan dengan disiplin tinggi. Hendri menjalani latihan rutin dua kali sehari, pagi, dan sore sebagai bagian dari program pembinaan yang ketat. Menurutnya, tantangan terbesar saat latihan adalah tuntutan fisik dan mental yang terus didorong oleh pelatih agar setiap atlet mampu melampaui batas sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saat pertandingan, kata Hendri, tantangan bergeser pada aspek mental dan kecerdasan bermain. Hockey indoor menuntut pengambilan keputusan cepat, kerja sama tim, serta kemampuan membaca situasi di lapangan. \u201cDi pertandingan, yang paling penting adalah mental dan kecerdasan untuk melakukan yang terbaik,\u201d tambah Hendri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selama SEA Games, Hendri mengatakan, Malaysia sebagai lawan terberat. Beruntung, ia dan tim menyiapkan mental yang baik sebagai kunci utama menghadapi tekanan laga-laga penting. Untuk menjaga ketenangan sebelum bertanding, Hendri memiliki cara tersendiri. Di antaranya, mendengarkan musik dan menyempatkan diri berkomunikasi dengan orang tua serta orang-orang terdekatnya. \u201cDukungan mereka membantu saya menjaga fokus dan kesiapan sebelum turun ke lapangan,\u201d katanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di tengah kesibukan sebagai atlet nasional, Hendri juga menjalani peran sebagai mahasiswa pascasarjana di Unesa. Ia mengaku tidak mengalami kesulitan berarti dalam membagi waktu antara latihan dan perkuliahan karena kampus memberikan dukungan. \u201cUnesa tidak pernah menekan kami untuk selalu hadir di perkuliahan, tetapi selalu memberikan dukungan dan kesempatan agar kami bisa meningkatkan prestasi,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Medali emas SEA Games 2025 memiliki makna mendalam bagi Hendri. Ia mempersembahkan pencapaian tersebut untuk orang tuanya, sekaligus berharap prestasi ini menjadi dorongan bagi perkembangan hockey di Indonesia agar maju dan berkembang menjadi olahraga yang semakin digemari masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hendri bertekad untuk terus belajar dan berkembang. Ia ingin menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya serta terus mengejar prestasi setinggi-tingginya, baik sebagai atlet maupun insan akademik. \u201cJangan lelah berproses dan berdoa. Semua berawal dari mimpi. Dengan doa dan usaha, mimpi itu bisa jadi nyata,\u201d tandasnya. <strong>@Ja\u2019far<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Universitas Negeri Surabaya kembali menegaskan diri sebagai kampus yang unggul dalam bidang olahraga. Terbaru, kampus berjargon Rumah Para Juara itu memberikan kontribusi luar biasa bagi kontingen Indonesia di ajang Sea Games ke-33 Tailan 2025. Tak tanggung-tanggung, Martina Ayu dkk, sukses mempersembahkan 54 medali baik dari perorangan maupun beregu, dengan rincian 24 emas, 18 perak, dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":5006,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[12],"tags":[],"class_list":["post-5004","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-laporan-utama"],"blocksy_meta":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v28.1 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>BERJAYA DI SEA GAMES XXXIII THAILAND - Majalah Unesa<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/berjaya-di-sea-games-xxxiii-thailand\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"BERJAYA DI SEA GAMES XXXIII THAILAND - Majalah Unesa\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Universitas Negeri Surabaya kembali menegaskan diri sebagai kampus yang unggul dalam bidang olahraga. Terbaru, kampus berjargon Rumah Para Juara itu memberikan kontribusi luar biasa bagi kontingen Indonesia di ajang Sea Games ke-33 Tailan 2025. Tak tanggung-tanggung, Martina Ayu dkk, sukses mempersembahkan 54 medali baik dari perorangan maupun beregu, dengan rincian 24 emas, 18 perak, dan [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/berjaya-di-sea-games-xxxiii-thailand\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Majalah Unesa\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-01-01T07:13:00+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-07-24T03:44:32+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Dea-Salsabila-Putri-1.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1280\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"853\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"jafar\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"jafar\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"34 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/berjaya-di-sea-games-xxxiii-thailand\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/berjaya-di-sea-games-xxxiii-thailand\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"jafar\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/39f440f855f3b9ed7c342fc2cb492ff3\"},\"headline\":\"BERJAYA DI SEA GAMES XXXIII THAILAND\",\"datePublished\":\"2026-01-01T07:13:00+00:00\",\"dateModified\":\"2026-07-24T03:44:32+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/berjaya-di-sea-games-xxxiii-thailand\\\/\"},\"wordCount\":5553,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/berjaya-di-sea-games-xxxiii-thailand\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/07\\\/Dea-Salsabila-Putri-1.jpg\",\"articleSection\":[\"Laporan Utama\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/berjaya-di-sea-games-xxxiii-thailand\\\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/berjaya-di-sea-games-xxxiii-thailand\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/berjaya-di-sea-games-xxxiii-thailand\\\/\",\"name\":\"BERJAYA DI SEA GAMES XXXIII THAILAND - Majalah Unesa\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/berjaya-di-sea-games-xxxiii-thailand\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/berjaya-di-sea-games-xxxiii-thailand\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/07\\\/Dea-Salsabila-Putri-1.jpg\",\"datePublished\":\"2026-01-01T07:13:00+00:00\",\"dateModified\":\"2026-07-24T03:44:32+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/berjaya-di-sea-games-xxxiii-thailand\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/berjaya-di-sea-games-xxxiii-thailand\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/berjaya-di-sea-games-xxxiii-thailand\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/07\\\/Dea-Salsabila-Putri-1.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/07\\\/Dea-Salsabila-Putri-1.jpg\",\"width\":1280,\"height\":853},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/berjaya-di-sea-games-xxxiii-thailand\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Beranda\",\"item\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"BERJAYA DI SEA GAMES XXXIII THAILAND\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/\",\"name\":\"Majalah Unesa\",\"description\":\"Majalah UNESA Go Digital\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/#organization\",\"name\":\"Universitas Negeri Surabaya\",\"url\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/08\\\/Logo12.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/08\\\/Logo12.png\",\"width\":5000,\"height\":5000,\"caption\":\"Universitas Negeri Surabaya\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/39f440f855f3b9ed7c342fc2cb492ff3\",\"name\":\"jafar\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/086eb0f49b10df4ce96a7a4aa12d278f3ab388cdb221c9c4a2522ecafdb055f4?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/086eb0f49b10df4ce96a7a4aa12d278f3ab388cdb221c9c4a2522ecafdb055f4?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/086eb0f49b10df4ce96a7a4aa12d278f3ab388cdb221c9c4a2522ecafdb055f4?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"jafar\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/en\\\/author\\\/jafar\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"BERJAYA DI SEA GAMES XXXIII THAILAND - Majalah Unesa","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/berjaya-di-sea-games-xxxiii-thailand\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"BERJAYA DI SEA GAMES XXXIII THAILAND - Majalah Unesa","og_description":"Universitas Negeri Surabaya kembali menegaskan diri sebagai kampus yang unggul dalam bidang olahraga. Terbaru, kampus berjargon Rumah Para Juara itu memberikan kontribusi luar biasa bagi kontingen Indonesia di ajang Sea Games ke-33 Tailan 2025. Tak tanggung-tanggung, Martina Ayu dkk, sukses mempersembahkan 54 medali baik dari perorangan maupun beregu, dengan rincian 24 emas, 18 perak, dan [&hellip;]","og_url":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/berjaya-di-sea-games-xxxiii-thailand\/","og_site_name":"Majalah Unesa","article_published_time":"2026-01-01T07:13:00+00:00","article_modified_time":"2026-07-24T03:44:32+00:00","og_image":[{"width":1280,"height":853,"url":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Dea-Salsabila-Putri-1.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"jafar","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"jafar","Est. reading time":"34 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/berjaya-di-sea-games-xxxiii-thailand\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/berjaya-di-sea-games-xxxiii-thailand\/"},"author":{"name":"jafar","@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/#\/schema\/person\/39f440f855f3b9ed7c342fc2cb492ff3"},"headline":"BERJAYA DI SEA GAMES XXXIII THAILAND","datePublished":"2026-01-01T07:13:00+00:00","dateModified":"2026-07-24T03:44:32+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/berjaya-di-sea-games-xxxiii-thailand\/"},"wordCount":5553,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/berjaya-di-sea-games-xxxiii-thailand\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Dea-Salsabila-Putri-1.jpg","articleSection":["Laporan Utama"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/majalahunesa.my.id\/berjaya-di-sea-games-xxxiii-thailand\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/berjaya-di-sea-games-xxxiii-thailand\/","url":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/berjaya-di-sea-games-xxxiii-thailand\/","name":"BERJAYA DI SEA GAMES XXXIII THAILAND - Majalah Unesa","isPartOf":{"@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/berjaya-di-sea-games-xxxiii-thailand\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/berjaya-di-sea-games-xxxiii-thailand\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Dea-Salsabila-Putri-1.jpg","datePublished":"2026-01-01T07:13:00+00:00","dateModified":"2026-07-24T03:44:32+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/berjaya-di-sea-games-xxxiii-thailand\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/majalahunesa.my.id\/berjaya-di-sea-games-xxxiii-thailand\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/berjaya-di-sea-games-xxxiii-thailand\/#primaryimage","url":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Dea-Salsabila-Putri-1.jpg","contentUrl":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Dea-Salsabila-Putri-1.jpg","width":1280,"height":853},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/berjaya-di-sea-games-xxxiii-thailand\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Beranda","item":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"BERJAYA DI SEA GAMES XXXIII THAILAND"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/#website","url":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/","name":"Majalah Unesa","description":"Majalah UNESA Go Digital","publisher":{"@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/#organization","name":"Universitas Negeri Surabaya","url":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Logo12.png","contentUrl":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Logo12.png","width":5000,"height":5000,"caption":"Universitas Negeri Surabaya"},"image":{"@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/#\/schema\/person\/39f440f855f3b9ed7c342fc2cb492ff3","name":"jafar","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/086eb0f49b10df4ce96a7a4aa12d278f3ab388cdb221c9c4a2522ecafdb055f4?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/086eb0f49b10df4ce96a7a4aa12d278f3ab388cdb221c9c4a2522ecafdb055f4?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/086eb0f49b10df4ce96a7a4aa12d278f3ab388cdb221c9c4a2522ecafdb055f4?s=96&d=mm&r=g","caption":"jafar"},"url":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/author\/jafar\/"}]}},"rttpg_featured_image_url":{"full":["https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Dea-Salsabila-Putri-1.jpg",1280,853,false],"landscape":["https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Dea-Salsabila-Putri-1.jpg",1280,853,false],"portraits":["https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Dea-Salsabila-Putri-1.jpg",1280,853,false],"thumbnail":["https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Dea-Salsabila-Putri-1-150x150.jpg",150,150,true],"medium":["https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Dea-Salsabila-Putri-1-300x200.jpg",300,200,true],"large":["https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Dea-Salsabila-Putri-1-1024x682.jpg",1024,682,true],"1536x1536":["https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Dea-Salsabila-Putri-1.jpg",1280,853,false],"2048x2048":["https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Dea-Salsabila-Putri-1.jpg",1280,853,false],"trp-custom-language-flag":["https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Dea-Salsabila-Putri-1-18x12.jpg",18,12,true]},"rttpg_author":{"display_name":"jafar","author_link":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/author\/jafar\/"},"rttpg_comment":0,"rttpg_category":"<a href=\"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/category\/laporan-utama\/\" rel=\"category tag\">Laporan Utama<\/a>","rttpg_excerpt":"Universitas Negeri Surabaya kembali menegaskan diri sebagai kampus yang unggul dalam bidang olahraga. Terbaru, kampus berjargon Rumah Para Juara itu memberikan kontribusi luar biasa bagi kontingen Indonesia di ajang Sea Games ke-33 Tailan 2025. Tak tanggung-tanggung, Martina Ayu dkk, sukses mempersembahkan 54 medali baik dari perorangan maupun beregu, dengan rincian 24 emas, 18 perak, dan&hellip;","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5004","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5004"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5004\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5051,"href":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5004\/revisions\/5051"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/5006"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5004"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5004"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5004"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}