{"id":5411,"date":"2026-06-02T08:37:00","date_gmt":"2026-06-02T08:37:00","guid":{"rendered":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/?p=5411"},"modified":"2026-08-20T08:40:11","modified_gmt":"2026-08-20T08:40:11","slug":"pengalaman-mengajar-dan-interaksi-lintas-budaya-yang-tak-ternilai","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/pengalaman-mengajar-dan-interaksi-lintas-budaya-yang-tak-ternilai\/","title":{"rendered":"Pengalaman Mengajar dan Interaksi Lintas Budaya yang Tak Ternilai"},"content":{"rendered":"<p class=\"has-text-align-center wp-block-paragraph\"><strong>Keberanian keluar dari zona nyaman mengantarkan Muhammad Hafidz Nurudin Tyas<\/strong> <strong>(Hafidz)<\/strong> <strong>pada pengalaman berharga di kancah internasional.<\/strong> <strong>Melalui program Sea Teacher Batch 11, m<\/strong><strong>ahasiswa Program Studi<\/strong> <strong>S1<\/strong> <strong>Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi (PJKR) angkatan 2023 Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) Universitas Negeri Surabaya menjadi satu-satunya mahasiswa FIKK yang lolos mengikuti program<\/strong> <strong>bergensi tersebut<\/strong><strong>.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"683\" src=\"https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/40b564dc-e361-49fb-92f5-ce2502b84a29-1024x683.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-5413\" srcset=\"https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/40b564dc-e361-49fb-92f5-ce2502b84a29-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/40b564dc-e361-49fb-92f5-ce2502b84a29-300x200.jpg 300w, https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/40b564dc-e361-49fb-92f5-ce2502b84a29-768x512.jpg 768w, https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/40b564dc-e361-49fb-92f5-ce2502b84a29-18x12.jpg 18w, https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/40b564dc-e361-49fb-92f5-ce2502b84a29-1536x1024.jpg 1536w, https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/40b564dc-e361-49fb-92f5-ce2502b84a29.jpg 1560w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selama hampir satu bulan mulai 25 Januari hingga 20 Februari 2026, Hafidz menjalani program pertukaran mahasiswa bidang pendidikan di University of Northern Philippines yang berada di Vigan, Philippines. Bagi Hafidz, <em>Sea Teacher<\/em> bukan sekadar kesempatan belajar di luar negeri, tetapi juga ruang untuk mengembangkan kemampuan diri melalui pengalaman mengajar dan interaksi lintas budaya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketertarikannya mengikuti program tersebut berawal dari informasi yang disampaikan dosen pembimbing lapangan (DPL). Rasa penasaran kemudian mendorongnya mencari informasi lebih lanjut melalui media sosial <em>U<\/em><em>nesa<\/em> <em>Global Engagement<\/em> (UGE). Sebagai mahasiswa kelas internasional angkatan pertama di PJKR, ia mengaku selalu ingin mencoba pengalaman yang berbeda dari mahasiswa pada umumnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perjuangan menuju <em>Sea Teacher<\/em> tidak mudah. Dari enam mahasiswa FIKK yang mengikuti seleksi awal, hanya satu peserta yang berhasil lolos hingga tahap akhir. Hafidz pun menjadi satu-satunya wakil fakultas yang berangkat mengikuti program tersebut. \u201cTentu, ada kebanggaan tersendiri bagi saya berhasil lolos seleksi,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Salah satu hal paling menarik dari <em>Sea Teacher<\/em>, kata Hafidz, adalah kesempatan mempelajari budaya baru sekaligus memahami sistem pendidikan di negara lain. Selain belajar menjadi guru, ia juga dapat mengenal kebiasaan masyarakat setempat dan memperluas wawasan melalui pengalaman langsung di lingkungan yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di balik pengalaman tersebut, Hafidz mengaku sempat menghadapi tantangan besar dalam hal kemampuan bahasa Inggris. Ia merasa kemampuan berbahasa asingnya masih terbatas ketika pertama kali mengikuti program. Namun, kondisi itu tidak membuatnya menyerah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sejak pertama kali tiba, Hafidz sudah merasakan perbedaan suasana, bahasa, dan budaya, namun sambutan hangat dari <em>coordinator, cooperating teacher<\/em>, dan para <em>buddies<\/em> membuat ia merasa diterima seperti keluarga sendiri. \u201cRasa gugup tentu ada, terutama karena saya harus menggunakan bahasa Inggris setiap hari, tetapi justru dari situlah proses belajar dan pertumbuhan saya benar-benar dimulai,\u201d tuturnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hafidz menjadikan keterbatasan tersebut sebagai motivasi untuk terus belajar. Setiap hari, ia berusaha membiasakan diri berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris dengan sesama mahasiswa, guru pendamping, maupun masyarakat lokal. Hampir setiap hari, ia belajar berkomunikasi dan mendengarkan mereka berbicara untuk menambah kemampuan bahasa Inggrisnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pengalaman mengikuti <em>Sea Teacher<\/em> juga membuat Hafidz merasakan manfaat nyata dari sejumlah mata kuliah yang telah dipelajari di bangku kuliah. <em>Mata kuliah Perencanaan Pembelajaran dan Inovasi Pembelajaran<\/em> menjadi bekal penting saat ia harus menyusun <em>lesson plan<\/em> dan mengajar di lingkungan pendidikan dengan kurikulum yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurutnya, perbedaan kurikulum, kondisi lingkungan, maupun sarana dan prasarana tidak menjadi hambatan berarti karena ia telah memiliki dasar pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan. Bahkan, keterbatasan fasilitas yang ditemui justru mendorongnya untuk lebih kreatif dalam menciptakan media pembelajaran yang efektif. \u201cIlmu yang saya dapatkan di kampus sangat membantu. Ketika fasilitas terbatas, saya harus memanfaatkan kreativitas agar materi pembelajaran tetap tersampaikan dengan baik,\u201d jelasnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Untuk mempercepat proses adaptasi, Hafidz aktif membangun komunikasi dengan berbagai pihak. Ia banyak berdiskusi dengan mahasiswa lain, <em>cooperating teacher<\/em>, hingga warga lokal. Cara tersebut membantunya memahami lingkungan baru sekaligus menyesuaikan diri dengan budaya setempat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Final Demonstration dan Dalliasat yang Berkesan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dari seluruh rangkaian kegiatan, momen yang paling berkesan baginya adalah saat menjalani <em>Final Demonstration<\/em>, yaitu praktik mengajar terakhir yang menjadi penentu kelulusan peserta <em>Sea Teacher<\/em>. Demi menghadapi tahap tersebut, ia menghabiskan banyak waktu untuk mempersiapkan lesson plan, materi pembelajaran, dan strategi mengajar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kerja keras itu akhirnya membuahkan hasil. Hafidz berhasil menyelesaikan <em>Final Demonstration<\/em> dengan lancar dan memperoleh nilai yang memuaskan. Semua rasa lelah terbayarkan ketika ia menerima hasil penilaian dan dinyatakan lulus. \u201cItu menjadi momen yang paling berkesan selama mengikuti <em>Sea Teacher<\/em>,\u201d tuturnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di luar kegiatan mengajar, Hafidz juga sangat terkesan dengan pengalaman <em>Dalliasat<\/em>. Dalam rangkaian kegiatan tersebut, ia tidak hanya mengikuti aktivitas budaya, tetapi juga melakukan perjalanan ke beberapa tempat pariwisata bersejarah dan ikonik di Vigan. Ia berkesempatan berjalan-jalan di Calle Crisologo yang terkenal dengan jalanan batu dan bangunan kolonial peninggalan Spanyol dengan suasana sangat klasik. Selain itu, ia juga mengunjungi Baluarte Zoo untuk melihat berbagai koleksi satwa serta menikmati pemandangan alam sekitar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selain itu, ia mengunjungi Bantay Bell Tower yang memiliki nilai sejarah tinggi dan menawarkan pemandangan kota dari ketinggian. Serta masih banyak lagi tempat yang dikunjungi. \u201cSetiap tempat yang kami kunjungi bukan hanya menjadi destinasi wisata, tetapi juga sarana belajar tentang sejarah, budaya, dan identitas masyarakat setempat,\u201d jelasnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selain pengalaman akademik dan budaya, Hafidz juga mendapatkan nilai persahabatan yang tidak ternilai selama program <em>Sea Teacher<\/em>. Ia mendapatkan teman dari berbagai latar belakang dan negara. Mereka berbagi cerita tentang sistem pendidikan, kebiasaan sehari-hari, hingga cita-cita di masa depan. \u201cKebersamaan itu membuat saya merasa bahwa meskipun berasal dari negara yang berbeda, tujuan kami sama yakni menjadi pendidik yang lebih baik,\u201d pungkasnya. @TimHumasUnesa<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kisah Muhammad Hafidz, Mahasiswa PJKR Unesa Jalani Sea Teacher Internasional<\/p>","protected":false},"author":2,"featured_media":5412,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[11],"tags":[],"class_list":["post-5411","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus-berdampak"],"blocksy_meta":{"styles_descriptor":{"styles":{"desktop":"","tablet":"","mobile":""},"google_fonts":[],"version":7}},"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v28.2 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Pengalaman Mengajar dan Interaksi Lintas Budaya yang Tak Ternilai - Majalah Unesa<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/pengalaman-mengajar-dan-interaksi-lintas-budaya-yang-tak-ternilai\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Pengalaman Mengajar dan Interaksi Lintas Budaya yang Tak Ternilai - Majalah Unesa\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Kisah Muhammad Hafidz, Mahasiswa PJKR Unesa Jalani Sea Teacher Internasional\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/pengalaman-mengajar-dan-interaksi-lintas-budaya-yang-tak-ternilai\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Majalah Unesa\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-06-02T08:37:00+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-08-20T08:40:11+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/DSCF5968-scaled.jpeg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2560\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1707\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"jafar\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"jafar\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/pengalaman-mengajar-dan-interaksi-lintas-budaya-yang-tak-ternilai\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/pengalaman-mengajar-dan-interaksi-lintas-budaya-yang-tak-ternilai\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"jafar\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/39f440f855f3b9ed7c342fc2cb492ff3\"},\"headline\":\"Pengalaman Mengajar dan Interaksi Lintas Budaya yang Tak Ternilai\",\"datePublished\":\"2026-06-02T08:37:00+00:00\",\"dateModified\":\"2026-08-20T08:40:11+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/pengalaman-mengajar-dan-interaksi-lintas-budaya-yang-tak-ternilai\\\/\"},\"wordCount\":787,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/pengalaman-mengajar-dan-interaksi-lintas-budaya-yang-tak-ternilai\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/08\\\/DSCF5968-scaled.jpeg\",\"articleSection\":[\"Kampus Berdampak\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/pengalaman-mengajar-dan-interaksi-lintas-budaya-yang-tak-ternilai\\\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/pengalaman-mengajar-dan-interaksi-lintas-budaya-yang-tak-ternilai\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/pengalaman-mengajar-dan-interaksi-lintas-budaya-yang-tak-ternilai\\\/\",\"name\":\"Pengalaman Mengajar dan Interaksi Lintas Budaya yang Tak Ternilai - Majalah Unesa\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/pengalaman-mengajar-dan-interaksi-lintas-budaya-yang-tak-ternilai\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/pengalaman-mengajar-dan-interaksi-lintas-budaya-yang-tak-ternilai\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/08\\\/DSCF5968-scaled.jpeg\",\"datePublished\":\"2026-06-02T08:37:00+00:00\",\"dateModified\":\"2026-08-20T08:40:11+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/pengalaman-mengajar-dan-interaksi-lintas-budaya-yang-tak-ternilai\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/pengalaman-mengajar-dan-interaksi-lintas-budaya-yang-tak-ternilai\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/pengalaman-mengajar-dan-interaksi-lintas-budaya-yang-tak-ternilai\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/08\\\/DSCF5968-scaled.jpeg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/08\\\/DSCF5968-scaled.jpeg\",\"width\":2560,\"height\":1707},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/pengalaman-mengajar-dan-interaksi-lintas-budaya-yang-tak-ternilai\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Beranda\",\"item\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Pengalaman Mengajar dan Interaksi Lintas Budaya yang Tak Ternilai\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/\",\"name\":\"Majalah Unesa\",\"description\":\"Majalah UNESA Go Digital\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/#organization\",\"name\":\"Universitas Negeri Surabaya\",\"url\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/08\\\/Logo12.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/08\\\/Logo12.png\",\"width\":5000,\"height\":5000,\"caption\":\"Universitas Negeri Surabaya\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/39f440f855f3b9ed7c342fc2cb492ff3\",\"name\":\"jafar\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/086eb0f49b10df4ce96a7a4aa12d278f3ab388cdb221c9c4a2522ecafdb055f4?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/086eb0f49b10df4ce96a7a4aa12d278f3ab388cdb221c9c4a2522ecafdb055f4?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/086eb0f49b10df4ce96a7a4aa12d278f3ab388cdb221c9c4a2522ecafdb055f4?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"jafar\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/majalahunesa.my.id\\\/en\\\/author\\\/jafar\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Pengalaman Mengajar dan Interaksi Lintas Budaya yang Tak Ternilai - Majalah Unesa","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/pengalaman-mengajar-dan-interaksi-lintas-budaya-yang-tak-ternilai\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Pengalaman Mengajar dan Interaksi Lintas Budaya yang Tak Ternilai - Majalah Unesa","og_description":"Kisah Muhammad Hafidz, Mahasiswa PJKR Unesa Jalani Sea Teacher Internasional","og_url":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/pengalaman-mengajar-dan-interaksi-lintas-budaya-yang-tak-ternilai\/","og_site_name":"Majalah Unesa","article_published_time":"2026-06-02T08:37:00+00:00","article_modified_time":"2026-08-20T08:40:11+00:00","og_image":[{"width":2560,"height":1707,"url":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/DSCF5968-scaled.jpeg","type":"image\/jpeg"}],"author":"jafar","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"jafar","Est. reading time":"5 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/pengalaman-mengajar-dan-interaksi-lintas-budaya-yang-tak-ternilai\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/pengalaman-mengajar-dan-interaksi-lintas-budaya-yang-tak-ternilai\/"},"author":{"name":"jafar","@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/#\/schema\/person\/39f440f855f3b9ed7c342fc2cb492ff3"},"headline":"Pengalaman Mengajar dan Interaksi Lintas Budaya yang Tak Ternilai","datePublished":"2026-06-02T08:37:00+00:00","dateModified":"2026-08-20T08:40:11+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/pengalaman-mengajar-dan-interaksi-lintas-budaya-yang-tak-ternilai\/"},"wordCount":787,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/pengalaman-mengajar-dan-interaksi-lintas-budaya-yang-tak-ternilai\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/DSCF5968-scaled.jpeg","articleSection":["Kampus Berdampak"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/majalahunesa.my.id\/pengalaman-mengajar-dan-interaksi-lintas-budaya-yang-tak-ternilai\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/pengalaman-mengajar-dan-interaksi-lintas-budaya-yang-tak-ternilai\/","url":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/pengalaman-mengajar-dan-interaksi-lintas-budaya-yang-tak-ternilai\/","name":"Pengalaman Mengajar dan Interaksi Lintas Budaya yang Tak Ternilai - Majalah Unesa","isPartOf":{"@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/pengalaman-mengajar-dan-interaksi-lintas-budaya-yang-tak-ternilai\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/pengalaman-mengajar-dan-interaksi-lintas-budaya-yang-tak-ternilai\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/DSCF5968-scaled.jpeg","datePublished":"2026-06-02T08:37:00+00:00","dateModified":"2026-08-20T08:40:11+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/pengalaman-mengajar-dan-interaksi-lintas-budaya-yang-tak-ternilai\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/majalahunesa.my.id\/pengalaman-mengajar-dan-interaksi-lintas-budaya-yang-tak-ternilai\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/pengalaman-mengajar-dan-interaksi-lintas-budaya-yang-tak-ternilai\/#primaryimage","url":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/DSCF5968-scaled.jpeg","contentUrl":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/DSCF5968-scaled.jpeg","width":2560,"height":1707},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/pengalaman-mengajar-dan-interaksi-lintas-budaya-yang-tak-ternilai\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Beranda","item":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Pengalaman Mengajar dan Interaksi Lintas Budaya yang Tak Ternilai"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/#website","url":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/","name":"Majalah Unesa","description":"Majalah UNESA Go Digital","publisher":{"@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/#organization","name":"Universitas Negeri Surabaya","url":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Logo12.png","contentUrl":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Logo12.png","width":5000,"height":5000,"caption":"Universitas Negeri Surabaya"},"image":{"@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/#\/schema\/person\/39f440f855f3b9ed7c342fc2cb492ff3","name":"jafar","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/086eb0f49b10df4ce96a7a4aa12d278f3ab388cdb221c9c4a2522ecafdb055f4?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/086eb0f49b10df4ce96a7a4aa12d278f3ab388cdb221c9c4a2522ecafdb055f4?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/086eb0f49b10df4ce96a7a4aa12d278f3ab388cdb221c9c4a2522ecafdb055f4?s=96&d=mm&r=g","caption":"jafar"},"url":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/author\/jafar\/"}]}},"rttpg_featured_image_url":{"full":["https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/DSCF5968-scaled.jpeg",2560,1707,false],"landscape":["https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/DSCF5968-scaled.jpeg",2560,1707,false],"portraits":["https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/DSCF5968-scaled.jpeg",2560,1707,false],"thumbnail":["https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/DSCF5968-150x150.jpeg",150,150,true],"medium":["https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/DSCF5968-300x200.jpeg",300,200,true],"large":["https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/DSCF5968-1024x683.jpeg",1024,683,true],"1536x1536":["https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/DSCF5968-1536x1024.jpeg",1536,1024,true],"2048x2048":["https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/DSCF5968-2048x1365.jpeg",2048,1365,true],"trp-custom-language-flag":["https:\/\/majalahunesa.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/DSCF5968-18x12.jpeg",18,12,true]},"rttpg_author":{"display_name":"jafar","author_link":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/author\/jafar\/"},"rttpg_comment":0,"rttpg_category":"<a href=\"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/category\/kampus-berdampak\/\" rel=\"category tag\">Kampus Berdampak<\/a>","rttpg_excerpt":"Kisah Muhammad Hafidz, Mahasiswa PJKR Unesa Jalani Sea Teacher Internasional","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5411","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5411"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5411\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5414,"href":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5411\/revisions\/5414"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/5412"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5411"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5411"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahunesa.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5411"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}