Dirintis Sejak Kuliah, Berbekal Kegemaran Menyantap Rujak dan Asinan

Cerita Inspiratif Alumni Unesa Rintis Usaha Rujak Asinan hingga Punya Belasan Karyawan

Ada masa ketika Rizadian Mayangsari (akrab disapa Mega) harus memilih antara berkumpul bersama teman-teman seusai kuliah atau bergegas ke pasar untuk membeli bahan dagangan.

Saat mahasiswa lain menikmati waktu senggang selepas kelas, perempuan yang akrab disapa Mega itu justru menghabiskan sore hingga malam hari mengantar pesanan asinan ke berbagai sudut Surabaya dengan sepeda motor. Setelah itu, ia masih harus menyiapkan bahan produksi untuk esok hari. Rutinitas itu dijalaninya bertahun-tahun.

Mega merupakan alumni S-1 Ilmu Administrasi Negara Unesa angkatan 2012 yang lulus pada 2016. Di balik usaha kuliner yang kini berkembang dan mempekerjakan 11 karyawan, tersimpan kisah panjang tentang keluarga, kehilangan, dan tekad untuk bertahan.

Merintis dari Keterbatasan

Awalnya, usaha yang dirintis Mega lahir bukan karena peluang bisnis yang menjanjikan. Semua berangkat dari keadaan yang memaksanya mencari jalan. Saat masih kuliah, ibunya telah meninggal dunia. Ayahnya memasuki masa pensiun, sementara dua adiknya masih membutuhkan biaya sekolah. Di saat bersamaan, kebutuhan kuliah juga terus berjalan. “Waktu itu saya harus membantu ekonomi keluarga. Adik masih kecil-kecil dan saya juga butuh biaya kuliah,” ujarnya.

Berbekal kegemaran menyantap rujak dan asinan, Mega mulai menjual satu menu sederhana: asinan buah. Tidak ada toko. Tidak ada dapur produksi khusus. Bahkan tidak ada karyawan. Semua dikerjakan sendiri.

Pesanan yang masuk diantar langsung ke rumah pelanggan. Setelah kuliah selesai, ia berkeliling Surabaya mengirim pesanan satu per satu. Dari Surabaya Barat hingga Surabaya Utara, semua ditempuh dengan motor. “Pulang kuliah tidak langsung pulang rumah. Biasanya ngirim pesanan dulu sampai malam,” kenangnya.

Untuk menambah modal usaha, Mega juga bekerja sambilan di sebuah gerai minuman di Super Indo. Penghasilannya dikumpulkan sedikit demi sedikit untuk mengembangkan usaha yang baru dirintis.

Kesibukan itu membuatnya harus mengorbankan banyak hal. Ia jarang ikut nongkrong bersama teman-teman kampus. Namun lingkungan pertemanannya memahami pilihan yang diambilnya. “Teman-teman tahu kondisi saya waktu itu. Mereka mengerti kalau saya harus bekerja dan jualan,” katanya.

Bertahan Setelah Kehilangan

Titik balik hidupnya datang saat pandemi Covid-19. Ayah yang selama ini menjadi sandaran keluarga meninggal dunia. Kehilangan itu menjadi pukulan besar, tetapi sekaligus mengubah arah hidupnya. Jika sebelumnya usaha dijalankan sambil lalu untuk membantu kebutuhan keluarga, sejak saat itu Mega memutuskan menekuninya sepenuh hati. “Tinggal saya yang harus menjaga adik-adik,” ujarnya pelan.

Perjalanan membangun usaha tentu tidak selalu berjalan mulus. Salah satu momen yang paling diingatnya terjadi ketika ia berjualan secara mobile di pinggir jalan. Hari itu ia membawa banyak produk. Modal sudah keluar, tenaga sudah terkuras, tetapi hujan deras turun sepanjang hari. Dagangan tak laku dan sebagian besar produk harus dibuang. “Rasanya benar-benar down. Sudah capek bikin, jualan di pinggir jalan, ternyata tidak laku sama sekali,” katanya.

Dari pengalaman itu, Mega memutuskan membuka lapak sederhana di depan rumah. Keputusan tersebut ternyata tidak langsung membuahkan hasil. Pada masa-masa awal, omzet hariannya hanya berkisar Rp200 ribu hingga Rp300 ribu. Pelanggannya sebagian besar tetangga sekitar rumah. Namun ia memilih bertahan.

Dukungan terbesar datang dari dua adiknya. Mereka memahami perjuangan yang telah dilakukan sang kakak sejak masih kuliah dan selalu memberikan semangat ketika usaha sedang sepi. “Kalau bukan karena mereka, mungkin saya sudah menyerah,” ujarnya.

Membesarkan Mimpi dari Dapur Kecil

Satu hal yang membuat Mega terus melangkah adalah keyakinan bahwa usaha kecil tidak harus selamanya kecil. Ia mengaku memiliki sifat ambisius dalam arti positif. Ketika memiliki mimpi, ia akan berusaha mengejarnya sampai tercapai. “Kalau punya usaha, jangan berpikir usaha itu akan kecil terus. Berani membayangkan usaha itu menjadi besar,” katanya.

Seiring waktu, satu menu asinan buah berkembang menjadi beragam pilihan rujak dan makanan segar lainnya. Ide-ide menu baru sering muncul dari kebiasaan sederhana, yakni mencoba makanan yang disukai, lalu bereksperimen membuat versinya sendiri.

Media sosial juga menjadi bagian penting dalam perjalanan usahanya. Sejak awal merintis pada 2016, Mega sudah memanfaatkan Instagram untuk mengenalkan produknya. Ketika TikTok berkembang dan tren siaran langsung mulai diminati, ia ikut beradaptasi. Baginya, perkembangan teknologi bukan sesuatu yang harus dihindari, melainkan dimanfaatkan untuk mendekatkan usaha kepada pelanggan.

Hasil kerja keras selama hampir satu dekade mulai terlihat. Jika dahulu hanya mengandalkan satu menu dan mengantar pesanan seorang diri, kini usahanya mampu mencatat omzet harian sekitar Rp10 juta hingga Rp15 juta dengan dukungan belasan karyawan.

Meski demikian, Mega mengaku masih memiliki mimpi yang belum selesai. Salah satunya membuka cabang di Yogyakarta, kampung halaman keluarga ayahnya. Keinginan itu bukan semata soal ekspansi bisnis, melainkan juga cara untuk tetap terhubung dengan keluarga besar yang berada di sana.

Untuk mewujudkannya, ia memilih fokus pada hal-hal mendasar, yaitu menjaga kualitas produk, mendengarkan masukan pelanggan, dan terus melakukan evaluasi bersama tim.

Di tengah pencapaiannya hari ini, Mega masih mengingat dengan jelas bagaimana semuanya dimulai: dari seorang mahasiswa yang sepulang kuliah harus berkeliling mengantar pesanan demi membayar kebutuhan kuliah dan membantu dua adiknya.

Perjalanan itu mengajarkannya satu hal sederhana. Bahwa mimpi besar tidak selalu lahir dari kondisi yang ideal. Kadang justru tumbuh dari keterbatasan, dipelihara oleh tanggung jawab, lalu bertahan karena seseorang memilih untuk tidak menyerah. @TimHumasUnesa

en_USEN