Tingkatkan Kualitas Shooting Atlet Muda Bolabasket

Adaptive Motion Basketball Launcher

Perkembangan teknologi membuka banyak peluang di berbagai bidang, tak terkecuali bidang olahraga. Sebagai upaya meningkatkan kualitas atlet-atlet muda, khususnya olahraga bolabasket, Tim peneliti Unesa menghadirkan inovasi penelitian berjudul “Adaptive Motion Basketball Launcher”.

Penelitian yang masuk dalam Program Hilirisasi Riset-Pengujian Model dan Prototipe Tahun 2025 Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi itu terdiri atas Prof Dr Or Gigih Siantoro SPd MPd (ketua), Pradini Puspitaningayu ST MT, Dr Ali Hasbi Ramadani SPd MPd, Mochamad Nur Rochman dan Moch Fahmi Mubarrok.

Ketua Tim Peneliti, Prof Gigih Siantoro mengatakan, Adaptive Motion Basketball Launcherhadir sebagai solusi dari permasalahan-permasalahan yang dirasakan para atlet seperti permasalahan postur atlet bolabasket. Semakin tinggi postur tubuh atlet menuntut pemain untuk meningkatkan kemampuannya dalam shooting dan mengontrol bola agar mampu efektif mencetak poin. “Penting bagi atlet untuk meningkatkan kemampuan shooting sebagai penentu keberhasilan pertandingan,” ujarnya.

Selama ini, kata Gigih, latihan masih sangat bergantung pada metode dan intervensi pelatih. Apalagi, inkonsistensi dalam intensitas latihan sekaligus sulitnya evaluasi performa berbasis data menjadi hambatan dalam latihan. Ia mengatakan, saat ini, pelontar hanya melepas bola ke titik depan tengah, sementara pemain melakukan pola urutan gerak yang ditetapkan, akibatnya mesin menjadi pasif terhadap dinamika pemain.

“Perkembangan metode latihan mandiri kini mulai menjadi tren yang didukung dengan teknologi yang berkembang pesat. Dengan teknologi yang mampu mendukung proses latihan atlet, menjadi lebih efektif dan efisien sekaligus menjadi jawaban bagi berbagai permasalahan yang timbul saat masa latihan para atlet bola basket,” terang Gigih.

Dengan alat ini, atlet mampu meningkatkan kemampuan shooting dalam olahraga bolabasket. Sebab, Adaptive Motion Basketball Launchermenyediakan umpan atau tembakan berulang secara akurat. Selain itu, dengan alat ini, para atlet dapat berlatih mandiri dengan lebih efektif dan fleksibel. “Inovasi ini hadir untuk memudahkan atlet dalam proses berlatih shooting,” tuturnya.

Lebih lanjut, Guru Besar Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan Unesa itu menjelaskan bahwa alat ini dilengkapi dengan sistem mikrokonroler ESP32 dan sensor posisi yang dapat mendukung latihan pada posisi-posisi dengan tingkat akurasi tembakan yang optimal. Selain itu, pelatih maupun atlet dapat mengatur dan memindahkan posisi alat sesuai dengan kebutuhan ketika latihan berlangsung.

Berdampak untuk Pelatih, Atlet, Siswa dan Masyarakat

Adaptive Motion Basketball Launcher telah melewati masa uji coba dan mendapat respon yang baik dari para pelatih maupun atlet. Uji coba dilakukan bersama mitra CV Sarana Teknologi Industri di beberapa subjek penelitian seperti klub maupun ekstrakulikuler. Selain bermanfaat untuk pelatih dan atlet, alat ini juga digunakan oleh para siswa/siswi yang mengikuti extrakulikuler Basket di Sekolah dan masyarakat yang ingin berlatih shooting secara mandiri. “Kami berharap, alat ini dapat menjangkau masyarakat lebih luas, dan harga jual dapat lebih murah dibadingkan dengan alat serupa yang sudah ada,” ungkapnya.

Keunggulan alat ini terdapat pada adaptive motion yang dapat diposisikan sesuai dengan kebutuhan dan keinginan pelatih sehingga mampu melakukan lemparan di sudut 45 derajat atau center dan wing dari lapangan bola basket. Selain itu, ada pula teknologi program shooting yang dapat membuat program latihan dalam beberapa kali tembakan dan bisa mendeteksi posisi bola masuk.

“Dari segi akurasi tembakan atau lontaran, mekanisme lontaran telah disesuaikan dengan kebutuhan latihan bola basket, seperti bola diarahkan ke posisi center body atlet. Dengan demikian, atlet dapat berlatih dalam menerima bola dan shooting yang dibuat semirip mungkin dengan situasi dan atsmosfer pertandingan,” jelas Gigih.

Keunggulan lainnya, kata Gigih, alat ini dapat meningkatkan efektivitas latihan secara mandiri. Ia mengatakan, dalam olahraga bolabasket, skill shooting terbentuk melalui kebiasaan dan konsistensi latihan. Selain itu, sistem dalam alat ini dapat mengirimkan bola ke beberapa titik atau posisi yang telah ditentukan agar latihan menjadi lebih efisien sehingga membantu atlet mengembangkan kemampuan shooting. “Alat ini masih bisa terus dikembangkan terkait dengan program-program latihan yang lebih detail yaitu satu poin shooting 2 poin dan shooting 3 poin,” tambahnya.

Selama penelitian berlangsung, Gigih mengakui terdapat berbagai hal menarik, seperti kolaborasi apik dari bidang ilmu olahraga dan bidang ilmu teknik. Ia mengatakan perlu ada peningkatan kolaborasi dari kedua bidang keilmuan tersebut. Sementara tantangan yang dihadapi adalah dalam segi bentuk. Tim peneliti berkeinginan membuat bentuk yang lebih menarik. Tantangan lainnya, keterbatasan waktu uji di lapangan dan kendala teknis pada sensor adaptif saat pengujian awal. “Tantangan lainnya juga hadir dari kecepatan alat melontarkan bola agar bisa tepat memposisikan di center body atlet,” bebernya.

Penelitian Adaptive Motion Basketball Launcher berhasil menghasilkan prototipe alat adaptif, poster prototipe, video implementasi dan blueprint desain teknis. Tim peneliti berharap alat ini bisa digunakan oleh tim nasional, klub-klub basket profesional, dan klub-klub basket di daerah untuk membantu meningkatkan kualitas shooting alternatif para atlet bola basket. @TimHumasUnesa

en_USEN