Visi besar yang diusung Program Studi D4 Rekayasa Multimedia Edukasi Digital (RMED) Fakultas Vokasi, Universitas Negeri Surabaya adalah menjadi jembatan antara kreativitas multimedia dan sistem pembelajaran digital. Karena itu, prodi ini bertekad mencetak profesinal bidang rekayasa multimedia dan pembelajaran digital.
Koordinator Program Studi D4 RMED, Nanda Nini Anggalih mengatakan, program studi ini tidak lahir secara tiba-tiba, tapi sudah melalui proses kajian akademik, pembacaan tren industri, serta refleksi atas kebutuhan nyata dunia pendidikan dan pelatihan di Indonesia. Prodi ini, katanya, didirikan sebagai respons meningkatnya kebutuhan sumber daya manusia di bidang rekayasa multimedia dan edukasi digital.
“Transformasi digital di sektor pendidikan dan pelatihan berkembang sangat cepat, tetapi tenaga profesional pengembang teknologi pembelajaran masih terbatas,” ujarnya.
Nanda mengungkapkan, sejauh ini, jabatan fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran di instansi pemerintah maupun industri edutech masih belum terpenuhi secara optimal. Padahal, hampir seluruh lembaga pendidikan kini telah beralih atau sedang berproses menuju sistem pembelajaran digital. “Kami hadir untuk merespon kondisi itu,” ungkapnya.
Fakultas Vokasi Unesa, terang Nanda, mencatat peningkatan jumlah peminat dari tahun ke tahun. Keterbatasan pilihan program studi vokasi berbasis teknologi digital menjadi salah satu pertimbangan penting. Dengan dukungan ekosistem multimedia kampus serta posisi strategis Surabaya sebagai kota industri dan kreatif, Nanda optimis prodi ini akan berkembang.
Salah satu penegasan penting dari Prodi D4 RMED, ujar Nanda, adalah positioning lulusannya. Lulusan tidak diposisikan sebagai pendidik di kelas formal, tetapi sebagai perancang edukasi digital, pengembang dan pengelola multimedia edukasi, evaluator sistem edukasi digital, hingga technopreneur di bidang edutech. “Kami menyiapkan lulusan profesional pengembang sistem edukasi digital,“ tegas Nanda.
Berbeda dari S1 Pendidikan Multimedia yang berorientasi pedagogis menjadi guru dan D4 Teknologi Rekayasa Multimedia yang lebih umum pada industri kreatif seperti animasi dan broadcasting, RMED memiliki fokus lebih spesifik, yaitu rekayasa sistem pembelajaran berbasis multimedia.
Nanda menjelaskan, kurikulum D4 RMED, dirancang sangat vokasional dengan komposisi 70 persen praktik dan 30 persen teori. Mahasiswa lebih banyak berada di laboratorium, studio, serta mengerjakan proyek-proyek daripada kuliah konseptual. Selain itu, pendekatan inklusivitas dan adaptivitas teknologi menjadi karakter penting.
Padukan Dua Disiplin Keilmuan
Secara garis besar, kata Nanda, D4 RMED memadukan dua disiplin keilmuan, yaitu teknologi multimedia dan ilmu pendidikan. Mahasiswa tidak hanya belajar membuat desain visual atau video menarik, tapi juga memahami bagaimana manusia belajar, bagaimana pesan pembelajaran disampaikan secara efektif, dan bagaimana mengukur keberhasilan sistem pembelajaran digital.
Beberapa rumpun mata kuliah menjadi inti pembelajaran D4 RMED. Antara lain: Dasar Multimedia Edukaso, Model Pembelajaran Digital, Desain Komunikasi Visual, Tata Suara Multimedia Edukasi, Pengembangan Game Edukasi, Multimedia Tepat Guna, Teknologi Immersive (AR/VR), Manajemen Proyek Multimedia Edukasi, Learning Analytics dan Bisnis Media Edukasi Digital.
“Learning Analytics, misalnya, menjadi mata kuliah penting karena mahasiswa akan belajar membaca data interaksi pengguna untuk mengevaluasi efektivitas pembelajaran. Sementara Teknologi Immersive memperkenalkan pengembangan media berbasis Augmented Reality (AR) dan Virtual Reality (VR) untuk pengalaman belajar yang lebih mendalam,” jelas Nanda.
Selain itu, mahasiswa juga dibekali kemampuan analisis, desain, pengembangan, pengelolaan, hingga evaluasi sistem edukasi digital. Dengan demikian, mereka tidak hanya bisa membuat, tapi juga bisa menilai efektif tidaknya produk tersebut.
Prodi ini didukung enam dosen dengan latar belakang multimedia, teknologi pendidikan, dan rekayasa pembelajaran digital, serta satu tenaga kependidikan. Kurikulum telah disusun lengkap, termasuk skema magang industri satu semester penuh.
Meski saat ini, Prodi D4 RMED masih dalam tahap persiapan menerima mahasiswa baru tahun ajaran 2026, tapi Nanda memastikan bahwa angkatan pertama nanti mahasiswa bisa langsung mendapatkan pengalaman praktik yang kuat dan relevan dengan industri.
“Magang satu semester penuh menjadi salah satu strategi untuk memastikan lulusan benar-benar siap kerja. Mahasiswa tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga terlibat langsung dalam proyek di industri atau lembaga mitra,” jelasnya.
Lulusan D4 RMED memiliki prospek karier yang luas. Mereka dapat berkarier sebagai pengembang media pembelajaran digital, instructional designer, content creator edukasi, multimedia designer, educational game developer, ui/ux designer, ar/vr developer, trainer & instruktur digital learning, konsultan dan evaluator teknologi edukasi dan startup edukasi digital.
Saat ini, fasilitas yang tersedia meliputi laboratorium komputer serta studio fotografi dan videografi yang dapat digunakan untuk produksi konten. Pengembangan fasilitas dilakukan secara bertahap, baik dari sisi perangkat maupun ruang praktik tambahan.
“Kami berharap Prodi D4 Rekayasa Multimedia Edukasi Digital dapat menjadi pilihan studi yang relevan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan dunia kerja. Kami ingin mencetak lulusan yang tidak hanya kreatif, tetapi juga adaptif dan profesional,” pungkas dosen DKV itu.
Sebagai tambahan Prodi D-4 Rekayasa Multimedia Edukasi Digital bisa dipilih calon mahasiswa baru baik pada jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT), maupun pada jalur seleksi mandiri Unesa. @TimHumas

