SMART GLO-PEAT, Inovasi Sarung Tangan Cerdas berbasis Limbah Serat Kelapa

Tim PKM dari Fakultas Vokasi berhasil meraih Juara 1 pada skim Karsa Cipta (PKM-KC) melalui inovasi bertajuk SMART GLO-PEAT. Tim yang diketuai Aditya Marsha Darmawan dari Program Studi Teknik Mesin membuat inovasi berupa sarung tangan cerdas berbasis cocopeat (limbah serat kelapa) yang dirancang untuk melindungi pekerja bengkel manufaktur dari panas, getaran, dan listrik dalam satu alat.

Tim yang juga beranggotakan Aqil Albani Putra Wijaya dan Christiano Ronaldo dari Program Studi Teknik Mesin dengan bimbingan Dr Delia Hani Wakhidah, ST MT itu mengusung konsep 3-in-1 protection untuk meningkatkan keselamatan kerja sekaligus efisiensi penggunaan alat pelindung diri (APD).

“Inovasi ini berangkat dari keresahan kami sebagai mahasiswa teknik. Alat pelindung diri itu mahal dan biasanya terpisah-pisah. Kami ingin menyatukan semuanya dalam satu sarung tangan,” ujar Ketua Tim PKM, Aditya.

Meski belum berbentuk fisik sepenuhnya karena masih dalam tahap pengembangan, namun konsep yang ditawarkan sudah mengintegrasikan teknologi Tiny Machine Learning (Tiny-ML). Teknologi ini memungkinkan sarung tangan mendeteksi potensi bahaya lebih awal melalui sensor yang mampu membaca suhu, getaran, hingga risiko listrik. “Sensor ini bisa memberikan peringatan lebih cepat sebelum pekerja menyadari adanya bahaya,” ungkapnya.

Keunggulan utama SMART GLO-PEAT, jelas Aditya, terletak pada pemanfaatan cocopeat, yaitu limbah serat kelapa yang selama ini kurang dimanfaatkan. Menurut Adit, ide ini muncul dari pengalamannya melihat banyaknya limbah kelapa di daerah pesisir, khususnya di wilayah sekitar Bojonegoro dan Tuban.

Dengan kombinasi bahan alami dan teknologi modern, SMART GLO-PEAT menghadirkan sistem perlindungan berlapis atau triple layer protection. Produk yang ada biasanya hanya satu fungsi oleh tim dikembangkan menjadi tiga fungsi sekaligus, ditambah sensor untuk deteksi dini.

Produk ini ditargetkan dapat digunakan oleh pekerja bengkel manufaktur di seluruh Indonesia. Dengan konsep multifungsi, SMART GLO-PEAT dinilai lebih efisien dibandingkan dengan penggunaan beberapa jenis sarung tangan secara terpisah. “Kami berharap inovasi ini dapat terus disempurnakan hingga menjadi produk yang siap digunakan di dunia industri,” harap Aditya.

Lebih dari sekadar prestasi, inovasi ini menjadi bukti bahwa mahasiswa mampu menghadirkan solusi kreatif terhadap permasalahan nyata. Dengan memadukan teknologi, kepedulian lingkungan, dan semangat kolaborasi, SMART GLO-PEAT menjadi inovasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berdampak bagi masyarakat luas.

RUPA, Inovasi Media Pembelajaran Berbahan Lumpur Lapindo Ramah Lingkungan

Mahasiswa Unesa menghadirkan inovasi media pembelajaran ramah lingkungan melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang Kewirausahaan. Inovasi tersebut bernama RUPA (EduPlay Kit), media pembelajaran interaktif berbasis sensory play yang memanfaatkan lumpur Lapindo sebagai bahan utama.

Tim PKM yang terdiri atas Fairuz Chalisa Calya Molia (S-1 Agribisnis Digital), Nailah Savie Azarine (S-1 Pendidikan Kimia), Lailatul Muna (S-1 Pendidikan Kimia) dan Irfan Laifulmuna (S-1 Teknologi Pendidikan mengembangkan RUPA sebagai solusi media belajar yang edukatif, kreatif, sekaligus mendukung pengurangan limbah lingkungan.

Keunggulan utama RUPA terletak pada penggunaan lumpur Lapindo sebagai bahan dasar produk. Selama ini, lumpur Lapindo identik dengan limbah bencana yang belum dimanfaatkan secara optimal. Melalui inovasi tersebut, tim PKM Unesa mencoba mengubah material tersebut menjadi produk yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.

Salah satu anggota tim, Fairuz Chalisa Calya Molia (Calya), menjelaskan bahwa lumpur Lapindo dipilih karena memiliki kandungan mineral silika yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan produk edukasi. Selain itu, pemanfaatan lumpur Lapindo diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap potensi limbah lingkungan. “Kami ingin menunjukkan kalau lumpur Lapindo itu sebenarnya masih bisa dimanfaatkan jadi sesuatu yang bernilai dan bermanfaat,” ujarnya.

Dalam proses pembuatannya, terang Calya, lumpur Lapindo dicampur dengan semen dan air menggunakan komposisi sekitar 45 persen lumpur Lapindo. Setelah itu, bahan dibentuk dan dibakar hingga menghasilkan material yang kuat dan aman digunakan sebagai media pembelajaran anak. “Lumpur Lapindo ini tidak berbahaya karena sudah melalui proses pengolahan dan pembakaran,” jelas Calya.

Lebih lanjut, Calya menjelaskan, RUPA hadir dalam bentuk EduPlay Kit bertema hewan, anatomi tubuh manusia, dan tata surya. Produk tersebut dilengkapi puzzle, miniatur edukasi, dan aktivitas sensory play yang membantu anak belajar secara lebih interaktif dan menyenangkan.

Konsep tersebut, tambahnya, lahir dari perpaduan latar belakang anggota tim yang berasal dari bidang Pendidikan Kimia dan Teknologi Pendidikan. Mereka ingin menghadirkan media pembelajaran yang tidak hanya menarik, tetapi juga mampu melatih kreativitas dan motorik anak melalui pengalaman belajar langsung.

“Selain inovatif, RUPA juga dinilai lebih terjangkau dibandingkan dengan media pembelajaran interaktif lain di pasaran. Penggunaan bahan lokal menjadi salah satu faktor yang membuat produk ini memiliki nilai ekonomis sekaligus unik,” tambahnya.

Selain fokus pada edukasi, inovasi ini juga membawa konsep keberlanjutan lingkungan melalui pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai guna. Dukungan masyarakat sekitar lokasi lumpur Lapindo pun menjadi motivasi tersendiri bagi tim dalam mengembangkan produk tersebut.

“Kami berharap RUPA bisa berkembang menjadi brand edukasi yang lebih besar dan mampu berkolaborasi dengan UMKM di Sidoarjo maupun Dinas Pendidikan agar pemanfaatan lumpur Lapindo semakin dikenal luas oleh masyarakat,” tukasnya. @TimHumasUnesa

en_USEN