Pioner Kedokteran Gigi Olahraga (Sports Dentistry)

Lebih Dekat dengan Prodi S1 Kedokteran Gigi Unesa

Rasio jumlah dokter gigi di Indonesia masih berada di bawah angka ideal jika dibandingkan dengan total populasi penduduk. Akibatnya, akses terhadap pelayanan kesehatan gigi dan mulut menjadi tidak merata, terutama di daerah-daerah terpencil. Inilah yang menjadi pemantik Unesa membuka Prodi S1 Kedokteran Gigi sebagai upaya mencetak tenaga medis yang kompeten.

Prodi S1 Kedokteran Gigi berada dalam naungan Fakultas Kedokteran Unesa. Prodi ini tidak hanya sekadar mencetak praktisi medis biasa, tapi juga hadir dengan mengintegrasikan kesehatan gigi dengan performa atletik. Hal itu disampaikan Koordinator Program Studi S1 Kedokteran Gigi, drg Dian Samuel Hasudungan, SpPros. “Prodi ini menjadi kepingan puzzle penting dalam ekosistem kesehatan Indonesia,” ujarnya.

Program Studi S1 Kedokteran Gigi Unesa, terang Dian Samuel, memiliki karakter yang tegas dan berbeda dari institusi serupa di universitas lain. Secara sadar, Unesa memilih tidak sekadar menjadi “pengikut” di dunia medis, tetapi memosisikan diri sebagai pionir dalam bidang yang selama ini sering terabaikan di lingkungan akademik tanah air, yakni Kedokteran Gigi Olahraga (Sports Dentistry). “Fokus utama prodi ini adalah memberikan perhatian khusus pada kesehatan gigi dan mulut para atlet serta komunitas olahraga secara luas,” terangnya.

Kebutuhan akan spesialisasi ini bukan tanpa alasan fundamental. Menurut Dian Samuel, banyak data menunjukkan bahwa atlet sering kali mengalami masalah kesehatan gigi dan mulut yang serius, mulai dari cedera traumatis pada gigi hingga penyakit periodontal kronis.

Kondisi kesehatan oral yang buruk ini, lanjut Dian Samuel, bukan sekadar masalah estetika, melainkan faktor krusial yang dapat mengganggu performa dan konsentrasi mereka saat berlaga di lapangan. Hal inilah yang menjadi katalisator utama bagi Unesa untuk mengembangkan bidang kedokteran gigi olahraga sebagai jawaban atas tantangan medis di dunia sportivitas.

Kurikulum yang diterapkan di KG Unesa tetap menjaga integritas akademik nasional dengan mengikuti standar yang ditetapkan oleh Asosiasi Fakultas Kedokteran Gigi Indonesia (AFDOKGI). Hal ini memastikan bahwa tujuan pendidikan dan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) tetap setara dan diakui secara nasional sebagaimana institusi Kedokteran Gigi lainnya di Indonesia. “Yang membedakan adalah integrasi mata kuliah inovatif seperti Basic Sport Dentistry,” paparnya.

Mata kuliah itu dirancang khusus untuk membekali mahasiswa dengan keahlian praktis dan teoritis dalam menangani berbagai kasus medis yang spesifik terjadi di lingkungan komunitas olahraga. Dengan demikian, lulusan tidak hanya menguasai ilmu kedokteran gigi umum, tetapi juga memiliki keunggulan kompetitif sebagai ahli kesehatan oral di sektor olahraga.

Ditunjang SDM yang Mumpuni

Kualitas sebuah program studi tercermin dari siapa yang berada di balik mimbar kuliah. Saat ini, jajaran Sumber Daya Manusia (SDM) di Kedokteran Gigi Unesa diisi oleh tenaga pendidik yang mumpuni. Bahkan, beberapa dosen saat ini sedang menempuh pendidikan spesialis untuk memperkuat kedalaman ilmu yang akan ditransfer kepada para mahasiswa.

Dari sisi infrastruktur, mahasiswa dimanjakan dengan fasilitas yang memadai di lingkungan Fakultas Kedokteran. Salah satu keunggulan teknisnya adalah sistem laboratorium yang memungkinkan efisiensi tinggi. Setiap mahasiswa memiliki akses ke fasilitas laboratorium secara individu. “Tidak hanya itu, penggunaan alat laboratorium dirancang sedemikian rupa sehingga mahasiswa tidak perlu bergantian, sehingga mempercepat proses penguasaan keterampilan praktikum,” jelasnya.

Masa depan lulusan Kedokteran Gigi Unesa dirancang untuk memiliki cakrawala yang luas. Tak hanya terbatas menjadi praktisi dokter gigi klinis, lulusan diharapkan mampu merambah dunia akademisi sebagai dosen, melanjutkan ke jenjang spesialis, atau menjadi ahli dalam bidang kedokteran gigi olahraga yang memiliki nilai tawar tinggi.

“Untuk mendukung hal tersebut, kami telah menjalin kemitraan strategis dengan berbagai instansi, seperti menjadi Anggota resmi AFDOKGI dan PDGI Jawa Timur, menjalin kerja sama dengan RS Haji, RS Bakti Dharma Husada, hingga puskesmas-puskesmas di wilayah Sidoarjo,” tambahnya.  

Di sisi lain, perkembangan organisasi mahasiswa juga menunjukkan progres yang signifikan. Per Februari 2026, telah resmi berdiri Himpunan Mahasiswa (HIMA) Kedokteran Gigi yang bernaung di bawah HIMA Fakultas Kedokteran. Tidak hanya di lingkup internal, para mahasiswa juga telah melebarkan sayapnya dengan bergabung dalam PSMKGI (Persatuan Senat Mahasiswa Kedokteran Gigi Indonesia) untuk memperkuat jejaring di tingkat nasional.

“Antusiasme terlihat jelas pada angkatan perdana tahun 2025 yang berjumlah 13 mahasiswa dari total kuota 25 orang. Para mahasiswa pionir ini dikenal sangat aktif dan penuh semangat dalam menjalani setiap agenda perkuliahan maupun praktikum,” ungkapnya.

Meskipun tergolong baru, langkah Kedokteran Gigi Unesa sangatlah terukur. Dian Samuel menegaskan bahwa target jangka pendek prodi ini sangat ambisius. Pada tahun depan, yakni 2027, mereka menargetkan melakukan reakreditasi dengan tujuan meraih predikat “Unggul”. “Kami berkomitmen untuk menjaga kualitas seleksi agar kuota 25 mahasiswa setiap tahunnya selalu terpenuhi oleh talenta-talenta terbaik,” tutup Dian. @TimHumas

en_USEN