Satukan Ego, Industri, dan Mimpi

UKM Band dan Dangdut, Unesa

Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Band dan Dangdut Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menjadi wadah menyatukan ego, industri, dan impian.

Pembina UKM, Marda Putra Mahendra, yang juga dosen S1 Musik Unesa secara tegas malah menyebut bahwa kelahiran UKM Band dan Dangdut bukanlah kebetulan, tapi sebagai jawaban kurikulum terhadap realitas industri. Marda menyebut dalam beberapa tahun terakhir, format band dan dangdut mengalami lonjakan signifikan di pasar hiburan Indonesia.

“Permintaan masyarakat tak lagi homogen. Panggung-panggung lokal hingga acara institusional kini membutuhkan fleksibilitas, yakni satu waktu pop modern, di waktu lain dangdut yang membumi. Kalau dilihat dari sisi bisnis hiburan, permintaan terhadap dua format ini sangat tinggi,” ujar Marda.

Dari situlah, ide membangun satu wadah yang mengakomodasi keduanya mulai dirumuskan dengan lahirnya UKM Band dan Dangdut. Proses rekrutmen anggota dilakukan secara daring. Selain itu, calon anggota harus lolos audisi baik vokal maupun instrumen.

“Parameter penilaiannya jelas yakni kemampuan teknis, kecocokan dengan format band atau dangdut, serta potensi berkembang dalam dinamika kelompok. Tidak semua yang mendaftar akan masuk ke satu jalur yang sama. Mereka disisir,” kata Marda.

Mahasiswa yang mahir kendang, suling, atau memiliki karakter vokal dangdut diarahkan ke lini dangdut. Sebaliknya, mereka yang lebih akrab dengan gitar elektrik, bass, atau drum modern ditempatkan di format band. Pemisahan ini bukan sekadar teknis, melainkan strategi menjaga kualitas sekaligus identitas. “Namun, yang menarik bukan hanya bagaimana mereka direkrut, melainkan bagaimana mereka dilatih untuk bertahan dalam perbedaan,” tambahnya.

Ketua UKM, Arif Nurul Huda menggambarkan ritme keseharian mereka (para anggota) secara sederhana seperti latihan seminggu sekali, satu lagu baru setiap pertemuan. Target yang tampak minimalis, tetapi justru menjadi fondasi disiplin.  alam satu semester, puluhan lagu bisa dikuasai dan menjadi modal penting untuk menjawab kebutuhan panggung yang beragam. “Yang sulit itu bukan belajar lagunya, tapi menyatukan ego,” ungkap mahasiswa S1 Musik angkatan 2024 itu.

Belum lagi latar belakang anggota yang berbeda pun sering memunculkan gesekan. Ada yang terlalu idealis dengan aransemen, ada pula yang lebih pragmatis mengikuti permintaan penyelenggara acara. “Di titik inilah kompromi menjadi kunci,” bebernya.

Tapi, kata Arif, setiap aransemen pada akhirnya harus tunduk pada konteks yakni jenis acara, permintaan penanggung jawab kegiatan (PIC), hingga karakter audiens. Ego personal, betapapun kuatnya, harus diredam demi satu tujuan penampilan yang relevan dan profesional.

Dari Panggung ke Pangung

Di luar ruang latihan, UKM ini hidup dari panggung ke panggung. Program kerja mereka tak melulu bersifat formal, melainkan bertumpu pada praktik langsung. Bekerja sama dengan Direktorat Unesa Science Center (USC) dan Pusat Unggulan Iptek (PUI) Seni Budaya Unesa, mereka rutin mengisi acara di kantin softball Unesa Ketintang. “Panggung sederhana itu menjadi laboratorium social kami,” terang Arif.

Melaui panggung itu, mahasiswa belajar membaca audiens secara real time: kapan harus menaikkan tempo, kapan menurunkan intensitas, kapan mengganti setlist. Pengalaman ini jauh lebih berharga dibandingkan sekadar teori di kelas.

Selain itu, UKM juga merancang program Live Session yang diadakan secara berkala di kantin-kantin fakultas. Konsepnya sederhana: musik hadir di tengah aktivitas sehari-hari mahasiswa. Tidak eksklusif, tidak berjarak. Siapa pun bisa menonton, bahkan tanpa sengaja.

Namun, aktivitas mereka tak berhenti di lingkup internal kampus. UKM Band dan Dangdut juga aktif menerima undangan acara, mulai dari Suara Senja, grand opening fasilitas kampus seperti Greenwood Ketintang, hingga festival tematik seperti Festival Durian dan kegiatan sosial seperti bagi takjil. “Ke depan, kami berambisi memperluas jangkauan ke panggung eksternal,” bebernya.

Salah satu momen yang paling membekas bagi Arif adalah ketika UKM ini mendapat kesempatan tampil rutin di Greenwood Ketintang selama tiga hingga empat bulan. Setiap minggu, mereka harus tampil dengan formasi yang terus berganti agar semua anggota mendapat kesempatan.

Di sela-sela kesibukan itu, ada ritual yang terdengar sepele tetapi justru krusial yakni ngopi bersama. Tanpa sekat angkatan, tanpa hirarki yang kaku, anggota UKM berkumpul, bercengkerama, dan membangun kedekatan. Di ruang-ruang informal itulah solidaritas terbentuk. Senior dan junior melebur, menciptakan atmosfer yang cair sekaligus egaliter.

Meski masih tergolong muda, UKM ini sudah menatap target yang lebih besar. Tahun 2026 direncanakan menjadi titik penting, dengan penyelenggaraan kompetisi band tingkat nasional untuk mahasiswa perguruan tinggi negeri maupun swasta. Ambisinya jelas menguji kemampuan internal sekaligus menempatkan Unesa dalam peta kompetisi musik kampus nasional.

Di tengah lanskap musik yang terus berubah, UKM Band dan Dangdut Unesa berdiri di persimpangan antara idealisme seni dan tuntutan pasar, antara identitas genre dan kebutuhan adaptasi. Mereka tidak memilih salah satu, melainkan mencoba merangkul keduanya.

Dan mungkin, justru di situlah keterbaruan dan keunikan mereka, dua irama yang tak selalu sejalan, tetapi dipaksa untuk berbagi panggung hingga akhirnya menemukan harmoni yang beriringan. @TimHumas

en_USEN