Ekpresikan Gagasan dan Kritik Lewat Gerak dan Mimik

UKM Pantomime Education Center (PEC) Unesa.

Di tengah riuhnya dunia kampus yang dipenuhi musik, teater, tari, hingga berbagai aktivitas organisasi mahasiswa, ada sekelompok mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) yang memilih berbicara dengan cara berbeda. Mereka tidak berorasi. Tidak pula bernyanyi atau berdialog di atas panggung. Mereka menyampaikan gagasan, emosi, bahkan kritik sosial tidak dengan kata, tapi melalui gerak tubuh dan mimik wajah. Ya, itulah UKM Pantomime Education Center (PEC) Unesa.

Bagi sebagian orang, pantomim mungkin hanya identik dengan wajah bercat putih dan gerakan seolah terjebak di dalam kotak imajiner. Namun di tangan anggota PEC, pantomim menjelma menjadi medium komunikasi yang lebih luas: seni yang mampu melampaui batas bahasa, budaya, dan latar belakang sosial.

Pembina UKM PEC Unesa, Dr. Indar Sabri, S.Sn., M.Pd., mengatakan bahwa seni pantomim memiliki sejarah panjang yang membentang sejak zaman Yunani Kuno. Berasal dari istilah Yunani pantomimos yang berarti “meniru semua”, seni ini berkembang menjadi salah satu bentuk pertunjukan yang mengandalkan kekuatan ekspresi tubuh sebagai media utama komunikasi. “Tubuh manusia adalah instrumen komunikasi yang paling universal. Setiap gerakan memiliki makna, setiap diam juga merupakan sebuah pernyataan,” ujarnya.

Keunikan itulah yang menjadikan PEC berbeda dari komunitas seni pertunjukan lainnya. Sebagai satu-satunya wadah seni pantomim berbasis pendidikan tinggi yang terstruktur di Jawa Timur, PEC tidak hanya mengajarkan teknik gerak dan ekspresi, tetapi juga membangun pemahaman filosofis tentang seni tanpa suara.

Di ruang latihan sederhana, anggota tidak sekadar belajar berjalan melawan angin atau menciptakan ilusi benda tak kasatmata. Mereka belajar memahami tubuh sebagai bahasa. Mereka dilatih membaca emosi, membangun kepekaan sosial, dan menyampaikan pesan secara jujur tanpa bergantung pada kata-kata.

Dalam perjalanannya, imbuh Dosen S3 Pendidikan Seni Unesa itu, UKM ini terus memperluas kiprah. Salah satu program unggulannya adalah Festival Pantomim Nasional yang diselenggarakan secara rutin setiap tahun. Festival ini menjadi ruang temu bagi pelajar dan pegiat pantomim dari berbagai daerah untuk menampilkan karya sekaligus memperkenalkan seni pantomim kepada generasi muda. “Bagi PEC, festival bukan sekadar kompetisi. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keberlangsungan ekosistem pantomim di Indonesia,” tambahnya.

Selain festival, PEC juga menjalankan program Training of Trainer (TOT) yang ditujukan bagi guru dan pelatih pantomim. Melalui pelatihan ini, para peserta mendapatkan pembekalan mengenai teknik, metode pembelajaran, hingga pengembangan kreativitas dalam seni pantomim.

Program lainnya yang cukup dekat dengan masyarakat adalah “Acting on the Street”. Dalam kegiatan ini, anggota PEC turun langsung ke ruang publik untuk menampilkan pertunjukan pantomim. Mereka hadir di lingkungan kampus, kegiatan Ramadan, maupun berbagai agenda masyarakat lainnya.

“Melalui konsep pertunjukan jalanan, PEC ingin menunjukkan bahwa pantomim tidak harus tampil di panggung megah. Seni ini bisa hadir di mana saja dan menyapa siapa saja,” ungkap sang pembina,

Fokus Perluas Jangkauan agar Lebih Dikenal

Ketua UKM PEC Unesa, Jafar Susanto Normiono, menjelaskan bahwa saat ini organisasi yang dipimpinnya masih berada dalam fase pengembangan. Fokus utama mereka adalah memperluas jangkauan dan mengenalkan pantomim kepada lebih banyak mahasiswa. “Fokus kami sekarang adalah menarik minat mahasiswa untuk bergabung serta memperkuat kerja sama dengan berbagai pihak di luar kampus,” katanya.

Meski tergolong UKM yang relatif baru, PEC telah berhasil membangun sejumlah kolaborasi di tingkat daerah maupun nasional. Salah satunya melalui penyelenggaraan Festival Pantomim Nasional di Graha Sawunggaling Surabaya serta kerja sama dengan Dinas Kebudayaan Kabupaten Pasuruan dalam workshop persiapan lomba pantomim.

Di tengah perkembangan industri hiburan digital yang semakin cepat, PEC juga tidak tinggal diam. Organisasi ini mulai menggabungkan pantomim dengan berbagai bentuk seni lain seperti humanoid art, sulap, tari kontemporer, hingga teater fisik. Eksplorasi tersebut dilakukan untuk menghadirkan pertunjukan yang lebih segar tanpa meninggalkan identitas utama pantomim.

Mahasiswa S1 Pendidikan Seni Drama, Tari dan Musik (Sendratasik) angkatan 2023 itu menambahkan bahwa, media sosial pun ikut dimanfaatkan sebagai ruang baru untuk memperluas jangkauan audiens. Dokumentasi latihan, pertunjukan, dan berbagai aktivitas anggota rutin dipublikasikan agar masyarakat semakin akrab dengan seni gerak tanpa suara ini.

Namun perjalanan PEC tidak selalu mudah. Tantangan terbesar yang dihadapi adalah masih minimnya pemahaman mahasiswa terhadap pantomim. Banyak yang menganggap seni ini sekadar hiburan visual, padahal di balik setiap gerakan terdapat nilai estetika, filosofi, dan proses latihan yang panjang.

Karena itu, PEC terus membangun ruang-ruang apresiasi melalui pertunjukan terbuka dan berbagai kegiatan edukatif. Harapannya sederhana, semakin banyak mahasiswa mengenal pantomim, semakin besar pula peluang lahirnya generasi baru yang tertarik mendalami seni tersebut.

Bagi Indar Sabri, tujuan akhir yang ingin dicapai PEC bukan sekadar prestasi atau jumlah anggota yang terus bertambah. Ada misi yang lebih besar yang sedang diperjuangkan. “Pantomim adalah bahasa perdamaian yang menguak rasa dan emosi,” ujarnya.

Bahasa yang tidak memerlukan penerjemah. Bahasa yang dapat dipahami siapapun tanpa memandang asal-usul dan bahasa ibu mereka. Di tengah dunia yang semakin bising oleh perbedaan, PEC ingin membuktikan bahwa keheningan yang bermakna sering kali mampu berbicara lebih dalam daripada ribuan kata. @TimHumasUnesa

en_USEN