Sportivitas Jalan Hidupnya, Olahraga Nafas Kesehariannya

Dr Abdul Hafidz, SPd M.Pd, Wakil Dekan II Fakultas Vokasi Unesa

Bagi Abdul Hafidz olahraga bukan sekadar aktivitas fisik untuk mengisi waktu luang. Di tengah kesibukannya sebagai Wakil Dekan II Fakultas Vokasi (FV) Universitas Negeri Surabaya (Unesa), olahraga telah menjadi bagian dari gaya hidup yang menemani perjalanan hidupnya sejak kecil hingga sekarang.

Di sela aktivitas akademik, organisasi, dan berbagai tanggung jawab lainnya, Hafidz selalu menyempatkan diri bergerak. Tenis lapangan, padel, petanque, hingga tenis meja menjadi teman setianya untuk menjaga kebugaran sekaligus menyegarkan pikiran. “Olahraga itu cara saya me-refresh pikiran. Aktivitas fisik membuat tubuh tetap bugar dan pikiran lebih segar menghadapi berbagai pekerjaan,” ujarnya.

Kecintaan Hafidz terhadap olahraga bermula saat duduk di bangku sekolah dasar kelas 4. Kala itu, sang ayah yang memiliki hobi bermain tenis lapangan mulai mengajak Hafidz kecil ke lapangan. Awalnya, ia hanya membantu mengambil bola. Namun, perlahan aktivitas tersebut tumbuh menjadi kegemaran yang bertahan hingga kini.

Menariknya, olahraga justru menjadi jalan yang mengantarkan dosen kelahiran Kertosono itu ke dunia pendidikan olahraga. Berkat kemampuan tenis lapangan yang dimiliki, ia berhasil melanjutkan pendidikan melalui jalur prestasi olahraga di IKIP Surabaya (kini Unesa).

“Dulu saya sering diajak ayah bermain tenis karena kondisi fisik saya dianggap paling lemah dibandingkan dengan saudara yang lain. Ternyata, dari situ olahraga menjadi bagian penting dalam hidup saya,” kenangnya.

Hingga kini, olahraga tetap menjadi rutinitas yang sulit dipisahkan dari kesehariannya. Dalam satu minggu, ia bisa berolahraga empat hingga lima kali. Jadwalnya pun beragam. Selasa dan Kamis biasanya digunakan untuk bermain tenis lapangan, sementara hari-hari lain diisi dengan padel, petanque, atau tenis meja bersama komunitas atau rekan kerjanya.

Bagi Hafidz, olahraga bukan hanya soal menjaga kesehatan, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun relasi dan memperluas jejaring. Melalui komunitas olahraga, ia dapat bertemu berbagai kalangan, berbagi pengalaman, hingga berdiskusi tentang banyak hal. “Komunitas olahraga itu tempat belajar sekaligus memperluas jaringan. Banyak hal yang bisa dibicarakan dan dipelajari bersama,” kata Hafidz.

Di antara berbagai cabang olahraga yang digelutinya, petanque menjadi salah satu yang memberikan banyak pengalaman berkesan. Melalui olahraga tersebut, ia pernah meraih sejumlah prestasi pada berbagai ajang kompetisi. Bahkan, ia pernah berpasangan dengan Rektor Unesa, Nurhasan atau Cak Hasan dalam sejumlah kompetisi kejuaraan petanque.

Meski demikian, ia mengungkapkan tidak memiliki cabang olahraga yang paling favorit. Baginya, semua olahraga itu favorit dan memiliki nilai serta tantangan masing-masing. “Yang terpenting adalah aktivitas fisiknya. Karena olahraga sudah menjadi bagian dari kehidupan saya,” ungkapnya.

Salah satu pengalaman yang masih membekas dalam ingatannya terjadi menjelang pelaksanaan LPTK Cup di Jakarta. Dua hari sebelum keberangkatan, kondisi tubuhnya tiba-tiba menurun hingga membuatnya harus mendapatkan perawatan medis. Padahal, saat itu persiapan pertandingan sudah matang. “Alhamdulillah, setelah mendapat penanganan akhirnya tetap bisa bertanding,” kenangnya.

Meski aktif berolahraga sejak kecil, Hafidz mengaku relatif jarang mengalami cedera serius. Cedera yang pernah dialami lebih banyak disebabkan karena kurang pemanasan sebelum bermain. Menurutnya, semakin bertambah usia, semakin penting pula memperhatikan proses pemanasan dan peregangan sebelum berolahraga. “Kadang orang langsung bermain tanpa stretching yang cukup. Padahal pemanasan itu sangat penting untuk mengurangi risiko cedera,” ujarnya.

Nilai Kehidupan dari Sportivitas

Olahraga telah mengajarkan banyak nilai kehidupan yang terus ia pegang hingga sekarang. Salah satu nilai yang paling penting adalah sportivitas. Menurutnya, sportivitas bukan sekadar menerima kemenangan dan kekalahan, tetapi juga mencakup kejujuran, disiplin, kerja sama, dan kemampuan menghargai orang lain. “Di olahraga kita belajar menghargai lawan, menghargai teman, disiplin waktu, jujur, dan bekerja sama,” tegasnya.

Nilai-nilai tersebut pula yang membawanya aktif dalam berbagai organisasi olahraga. Saat ini, ia dipercaya sebagai Wakil Sekretaris Jenderal PB Federasi Olahraga Petanque Indonesia (FOPI), Sekretaris Umum Pengprov FOPI Jawa Timur, Ketua Bidang Keolahragaan IKA Unesa, serta pembina UKM Tenis Meja Unesa.

Meski memiliki banyak amanah organisasi, Hafidz tetap memegang prinsip bahwa jabatan adalah bentuk pengabdian. Karena itu, ia selalu berusaha memberikan kontribusi dan warna terbaik dalam setiap peran yang dijalani.

Di usianya yang kini memasuki kepala lima, ia juga memiliki pandangan tersendiri tentang prestasi. Baginya, kemenangan bukanlah tujuan utama. Juara hanyalah bonus dari proses latihan yang dilakukan secara disiplin dan konsisten. “Kalau latihan dilakukan dengan baik, terstruktur, dan rutin, maka hasil akan mengikuti. Juara itu bonus,” tandasnya.

Selain olahraga, Hafidz juga gemar membaca, mendengarkan musik, serta mengikuti kajian keagamaan. Baginya, keseimbangan hidup tidak hanya dibangun melalui kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental dan spiritual. Ia percaya bahwa hidup yang sehat harus dimulai dari kebiasaan sederhana untuk menjaga tubuh. “Sehat itu mahal. Karena itu aktivitas fisik harus menjadi bagian dari kehidupan. Lebih baik mencegah daripada mengobati,” ujarnya.

Jika diminta memilih satu kata yang paling menggambarkan dirinya, baik di lapangan maupun dalam kehidupan sehari-hari, Hafidz tidak membutuhkan waktu lama untuk menjawab. “Sportif,”. Satu kata sederhana yang baginya memiliki makna luas. Sebab di dalam sportivitas terdapat kejujuran, kerja keras, kerja sama, semangat pantang menyerah, dan penghormatan kepada sesama. @TimHumasUnesa

en_USEN