Di tengah kesibukannya, Wakil Dekan I Fakultas Vokasi Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Reza Rahmadian menjadikan musik sebagai ruang menjaga harmoni kehidupan sekaligus menyalurkan kreativitas yang telah tumbuh sejak remaja. Baginya, musik tidak hanya sekadar hiburan tapi juga pelepas penat.
Ketertarikan pria kelahiran Surabaya, 16 Maret 1984 terhadap musik berawal dari lingkungan keluarga, utamanya sang ibu yang pertama kali memperkenalkan lagu dan nyanyian. Dari sang ibu itulah, Reza mulai mengenal musik sejak kecil, meski saat itu musik belum menjadi bagian utama dalam kehidupannya.

Kedekatannya dengan musik baru benar-benar tumbuh ketika SMA pada awal 2000-an. Saat itu, sekolahnya belum memiliki kegiatan ekstrakurikuler musik. Namun, lingkungan pertemanan yang dipenuhi anak-anak pecinta musik membuat Reza mulai mengenal dunia band. Bersama teman-temannya, ia rutin menyewa studio musik sepulang sekolah untuk berlatih dan bermain lagu-lagu yang sedang populer saat itu.
Masa tersebut menjadi titik awal perjalanannya sebagai musisi amatir. Grup band seperti Padi dan Dewa 19 menjadi referensi utama yang sering dimainkan bersama teman-temannya. Meski akses musik saat itu masih terbatas pada kaset pinjaman milik teman, tapi justru keterbatasan tersebut menghadirkan pengalaman belajar yang berkesan.
Perjalanan bermusiknya semakin berkembang ketika Reza mulai memainkan gitar bas pada 2003. Awalnya, ia hanya memainkan gitar akustik sederhana. Oleh temannya, ia diajak mengisi posisi pemain bas dalam salah satu kelompok musik. Sejak saat itu, alat musik tersebut menjadi sahabat setianya hingga sekarang.
Di balik kemahirannya memainkan bas, tersimpan cerita pengalaman manggung pertama yang dipenuih rasa gugup. Reza masih ingat kala itu kesulitan mengatur suara, menyetel alat musik, hingga beberapa kali melakukan kesalahan di atas panggung. Namun, semua pengalaman tersebut menjadi pelajaran berharga yang membentuk kepercayaan dirinya sebagai musisi. “Grogi. Takut salah nada. Takut suara tidak pas. Tapi, dari situ saya evaluasi dan belajar,” kenangnya.
Jejak Nada dari Negeri Sakura
Ketertarikan Reza terhadap musik meluas hingga membawanya mengenal budaya Jepang. Dari kegemarannya menonton kartun sejak kecil, ia mulai tertarik dengan iringan musik yang mengisi berbagai serial animasi. Ketertarikan itu semakin kuat ketika sekitar tahun 2001, ia menyaksikan anime Samurai X (Rurouni Kenshin) yang masih menggunakan lagu pembuka berbahasa Jepang. “Saya dengar lagunya, kok enak. Dari situ, saya mulai penasaran dengan musik Jepang,” ujarnya.
Rasa penasaran tersebut membawanya bertemu seorang teman yang memperkenalkan berbagai band Jepang sekaligus meminjamkan kaset-kaset koleksinya. Sejak saat itul, ia mulai mendalami musik Jepang hingga akhirnya bergabung dengan komunitas musik Jepang di Surabaya yang telah berdiri sejak 2004. Bersama komunitas tersebut, Reza aktif melakukan sesi jamming dan sesekali tampil dalam berbagai festival budaya Jepang di Surabaya maupun daerah lainnya.
Strategi Hidup dari Balik Kartu Pokemon
Jika musik menjadi teman lamanya sejak remaja, lain halnya dengan hobinya mengoleksi kartu Pokemon. Hobi itu baru ditekuni pada awal 2025. Reza mengatakan, hobi tersebut mampu menghadirkan antusiasme sekaligus pengalaman belajar yang berbeda dalam kesehariannya. Ketertarikannya terhadap Pokemon sebenarnya sudah muncul sejak masa kuliah melalui permainan video di konsol Game Boy Advance. Ia menyukai konsep permainan yang menggabungkan petualangan, strategi, dan koleksi karakter. Bersamaan dengan itu, ia juga gemar berbagai permainan kartu strategi atau trading card game.
“Awalnya, saya melihat unggahan seorang teman di media sosial yang sedang memainkan kartu Pokemon. Saya penasaran dan mencari tahu lebih jauh hingga akhirnya mulai mengoleksi dan memainkan kartu tersebut,” katanya.
Dalam waktu relatif singkat, Reza telah mengoleksi kartu hingga hampir 1000 lembar. Sebagian kartu yang dimilikinya bahkan memiliki nilai ratusan ribu rupiah karena tergolong langka dan banyak diburu kolektor. Bagi Reza, daya tarik Pokemon bukan semata soal harga ataupun kelangkaan kartu, lebih dari itu setiap kartu yang memiliki cerita dan karakter tersendiri membuat ia senang mengoleksinya.
Di balik hobinya tersebut, ia menemukan banyak pelajaran hidup yang dapat dipetik. Salah satunya tentang ketidakpastian. Membuka satu kotak kartu tidak selalu menghasilkan kartu langka yang diharapkan. Kadang seseorang beruntung mendapatkan kartu bernilai tinggi, tetapi tidak jarang pula hanya memperoleh kartu biasa.
Menurutnya, kondisi tersebut mengajarkan bahwa hasil tidak selalu bisa ditebak meskipun seseorang telah mengeluarkan usaha yang sama. “Hidup itu tidak bisa diprediksi. Kita bisa membeli banyak, tetapi belum tentu mendapatkan yang kita inginkan. Dari situ kita belajar menerima hasil dan menikmati prosesnya,” ungkapnya.
Selain itu, ia juga belajar mengendalikan diri. Ketika harga kartu Pokemon mulai melonjak drastis di pasaran, ia memilih berhenti membeli sementara waktu. Baginya, hobi harus tetap berada dalam batas yang sehat dan tidak mengganggu kebutuhan utama keluarga. “Ini tetap hanya hobi. Saya harus ingat masih ada kebutuhan lain yang lebih penting,” tegasnya.
Bagi Reza, setiap hobi selalu menghadirkan pelajaran hidup apabila dijalani dengan bijak. Musik mengajarkannya tentang harmoni kehidupan dan kerja sama, sedangkan mengoleksi sekaligus memainkan kartu Pokemon melatihnya berpikir strategis, mengambil keputusan dengan cermat, dan mengendalikan diri dalam menentukan prioritas. @TimHumasUnesa

