Hidupkan Nalar Kritis Mahasiswa Lewat Diskusi Terbuka

UKM Riset dan Demokrasi Unesa

Meski tergolong baru, UKM Riset dan Demokrasi (Risdem) Unesa hadir membawa semangat yang cukup berbeda. UKM ini menggabungkan dunia organisasi mahasiswa dengan budaya intelektual yang kuat untuk menghidupkamn nalar kritis mahasiswa.

Unit kegiatan mahasiswa ini berdiri dari kegelisahan sang pencetus sekaligus Pembina UKM, Dr M. Mubarok Muharam, MIP. Ia melihat fenomena yang sering terjadi di kalangan mahasiswa sebagian terlalu fokus pada organisasi, sementara sebagian lainnya hanya berkutat pada aktivitas akademik. Ada yang sangat aktif berorganisasi, tetapi kurang mengembangkan kemampuan akademik. Sebaliknya, ada yang sangat fokus pada akademik tetapi tidak terlibat dalam dinamika organisasi.

Kegelisahan itu memunculkan gagasan menghadirkan wadah yang mampu menjembatani dua dunia tersebut. Risdem kemudian dibentuk sebagai ruang bagi mahasiswa yang ingin tetap aktif berorganisasi sekaligus mengembangkan kapasitas intelektualnya. Selain itu, Mubarok juga melihat bahwa budaya kajian dan diskusi kritis di kalangan mahasiswa mulai jarang dilakukan secara konsisten.

“Risdem mencoba menghadirkan ruang diskusi yang lebih rutin dan konsisten. Setiap minggu, anggota berkumpul untuk membahas berbagai isu yang berkembang di masyarakat, mulai dari politik, sosial, budaya, hingga lingkungan. Melalui kajian rutin ini, mahasiswa dilatih untuk melihat persoalan secara kritis sekaligus belajar menyampaikan argumen secara ilmiah,” terang Mubarok.

Sejak awal, terang Mubarok, Risdem membawa visi menjadi wadah pengembangan intelektual mahasiswa yang kritis, ilmiah, dan progresif. Caranya bukan hanya melalui diskusi tetapi juga lewat riset, literasi, dan berbagai bentuk publikasi tulisan. Karena itu, organisasi ini mendorong anggotanya untuk aktif menulis, baik dalam bentuk artikel populer, jurnalistik, maupun karya ilmiah. Bahkan, setiap anggota didorong untuk menghasilkan setidaknya satu tulisan yang dapat dipublikasikan di jurnal bereputasi.

Fokus kajian Risdem pun cukup luas. Isu kebijakan publik, persoalan sosial kemasyarakatan, geopolitik, hingga isu lingkungan menjadi bagian dari topik diskusi yang sering diangkat. Harapannya, mahasiswa tidak hanya memahami teori di kelas, tetapi juga mampu membaca dinamika yang terjadi di masyarakat secara lebih tajam.

“Untuk mendukung hal tersebut, Risdem tidak hanya mengandalkan diskusi di ruang kelas, tapi juga kerap mengadakan kunjungan ke berbagai lembaga, mulai dari DPR, kantor media, hingga institusi lainnya,” jelasnya.

Mahasiswa perlu melihat langsung bagaimana dinamika di lapangan. Misalnya ketika belajar jurnalistik, mereka diajak mengunjungi kantor media seperti Jawa Pos atau Memorandum untuk memahami proses produksi berita secara langsung. Selain itu, organisasi ini juga mengelola blog organisasi yang menjadi ruang publikasi tulisan para anggotanya. “Melalui media tersebut, mahasiswa dapat menyalurkan ide dan analisis mereka kepada pembaca yang lebih luas,” tegasnya.

Perjalanan Awal Penuh Tantangan

Perjalanan Risdem tentu tidak selalu mulus, apalagi organisasi ini tergolong sangat baru. Menurut Ketua UKM Riset dan Demokrasi Unesa, Tarissa Aditya Berlin Sunyoto, perjalanan awal organisasi ini penuh dengan tantangan. Ia bersama para pengurus benar-benar membangun organisasi ini dari nol. “Karena masih baru, kami belajar bersama dari awal. Mulai merancang visi misi, menyusun program kerja, membentuk departemen, sampai mengurus administrasi organisasi,” ujar Mahasiswa Pendidikan IPS angkatan 2022 itu

Tantangan lainnya, kata ketua umum pertama Risdem pada 2025 itu, datang dari keberagaman latar belakang anggota. Sebagai UKM tingkat universitas, anggota Risdem berasal dari berbagai program studi dan fakultas. Hal itu membuat proses membangun kedekatan antaranggota tidak selalu mudah. Belum lagi kesibukan masing-masing anggota yang berbeda. “Banyak anggota Risdem yang juga aktif di organisasi lain seperti BEM, HMP, maupun DPM. Ada pula yang sedang menjalani program magang atau praktik lapangan,” ungkapnya.

Meski begitu, pengalaman-pengalaman awal justru menjadi cerita yang tak terlupakan bagi mereka. Salah satunya saat Risdem pertama kali mengikuti kegiatan Ramadhan di kampus yang mewajibkan setiap UKM membuka stan kegiatan. Mereka sempat kebingungan mengurus berbagai hal, mulai dari proposal, pencairan dana, hingga laporan pertanggungjawaban. Belum lagi cuaca saat itu sedang musim hujan. “Tenda-tenda sampai roboh karena hujan deras, bahkan panggung acara juga sempat ambruk. Waktu itu rasanya kacau, tapi sekarang justru jadi kenangan yang lucu,” kenangnya sambil tertawa.

Meski baru berdiri, Risdem sudah mulai menunjukkan berbagai capaian. Organisasi ini telah menjalin kerja sama dengan sejumlah pihak, termasuk Baznas Unesa dalam penyelenggaraan seminar penulisan artikel ilmiah dan skripsi. Risdem juga pernah berkolaborasi dengan Jurnal Kajian Ilmu dan Teknologi Universitas Negeri Makassar dalam penyelenggaraan seminar serta proceeding artikel ilmiah.

Selain itu, Risdem juga pernah bekerja sama dengan Global Youth Peace Indonesia dalam program bootcamp selama dua hari bersama mahasiswa dari berbagai kampus di Surabaya. Program tersebut bertujuan menyebarkan nilai perdamaian dan toleransi beragama di kalangan generasi muda.

“Ke depan, Risdem memiliki mimpi cukup besar yakni membangun rumah jurnal sendiri. Platform tersebut nantinya diharapkan menjadi ruang publikasi ilmiah yang tidak hanya dapat diakses oleh mahasiswa Unesa, tetapi juga masyarakat luas,” harapnya.

Di tengah derasnya arus informasi dan dinamika sosial yang semakin kompleks, kehadiran ruang diskusi seperti Risdem menjadi penting. Bukan sekadar tempat berkumpul tetapi menjadi ruang bagi mahasiswa untuk berpikir, menulis, dan berani menyampaikan gagasan. Dan dari ruang kecil itu, bukan tidak mungkin akan lahir pemikiran-pemikiran besar yang berdampak pada masa depan bangsa. @TimHumas

en_USEN