Implementasi Ilmu Teknologi Pendidikan Langsung di Dunia Industri

Kisah Khairunnisa Nur Fadhilah, Mahasiswi Unesa yang Magang di PT AGAVI Bandung

Program Magang Berdampak menjadi salah satu wadah bagi mahasiswa untuk mengasah kompetensi sekaligus berkontribusi langsung di dunia profesional. Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman kerja nyata, tetapi juga memahami dinamika dunia industri secara lebih mendalam.

Salah satunya dirasakan Khairunnisa Nur Fadhilah, mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Program Studi S1 Teknologi Pendidikan angkatan 2023 asal Madiun yang menjalani program Magang Berdampak di PT Agritama Sinergi Inovasi (AGAVI) Bandung, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang Inovasi Pengolahan Hasil Pertanian dan Pangan.

Program tersebut menjadi ruang belajar nyata bagi Khairunnisa untuk mengimplementasikan teori yang selama ini dipelajari di bangku perkuliahan. Ketertarikannya mengikuti Magang Berdampak berangkat dari keinginan untuk memperoleh pengalaman yang lebih aplikatif dan kontekstual. “Ketika melihat posisi magang di PT AGAVI Bandung, saya merasa bidangnya sangat relevan dengan latar belakang akademik saya, khususnya dalam pengembangan kurikulum dan program pelatihan,” ungkapnya.

Perempuan yang akrab disapa Ica itu mempersiapkan dengan matang untuk mengikuti seluruh tahapan seleksi, mulai dari penyusunan berkas hingga proses penilaian. Hasilnya, ia dinyatakan lolos dan berkesempatan menjalani Magang Berdampak hingga tuntas. Pengalaman tersebut menjadi titik penting dalam perjalanan akademiknya karena mempertemukan teori Teknologi Pendidikan di dunia industri.

Selama menjalani magang, Ica tidak hanya berperan sebagai pengamat. Ia pun dilibatkan secara aktif dalam berbagai proses kerja, khususnya dalam pengembangan kurikulum dan program pelatihan. Mulai dari tahap perencanaan, penyusunan materi, hingga evaluasi, seluruh proses dijalani secara langsung dan berkesinambungan. Ruang belajar di PT AGAVI Bandung terasa terbuka dan kolaboratif. Ide serta sudut pandangnya sebagai mahasiswa didengar dan dipertimbangkan. “Lingkungan kerja yang demikian mendorong saya untuk berpikir kritis, kreatif, sekaligus solutif,” ujarnya.

Tak hanya itu, Ica juga memperoleh pengalaman lintas disiplin dengan bekerja bersama tim dari latar belakang yang beragam. Hal tersebut memperluas cara pandangnya terhadap penerapan Teknologi Pendidikan di dunia industri, sekaligus mengasah kemampuan komunikasi, manajemen waktu, dan tanggung jawab profesional.

Namun, ia mengakui bahwa proses belajar tersebut tidak lepas dari tantangan. Tantangan terbesar yang ia hadapi adalah beradaptasi dengan ritme dan standar kerja profesional yang menuntut ketelitian, kecepatan, dan tanggung jawab tinggi. Di awal magang, ia sempat merasa kewalahan karena harus menyesuaikan ekspektasi dunia industri dengan kebiasaan akademik di kampus. Selain itu, ia juga dituntut untuk memahami kebutuhan pengguna dan tujuan perusahaan secara menyeluruh, terutama dalam pengembangan kurikulum dan program pelatihan. “Tidak semua hal dapat langsung saya pahami, sehingga perlu banyak belajar, bertanya, dan melakukan penyesuaian,” ujarnya.

Terapkan Manajemen Waktu

Untuk mengatasi tantangan itu, Ica menerapkan manajemen waktu yang lebih disiplin. Ia mencatat setiap masukan dari mentor dan aktif berdiskusi dengan tim. Ia juga berusaha membuka diri terhadap kritik dan menjadikannya sebagai bahan evaluasi diri. Perlahan tapi pasti, proses adaptasi tersebut membuat Ica bekerja lebih efektif dan percaya diri. Dari situ, ia belajar bahwa kemampuan beradaptasi, komunikasi, dan kemauan untuk terus belajar adalah kunci utama untuk berkembang di lingkungan kerja profesional.

Selama magang, Ica banyak menerapkan ilmu dari mata kuliah yang didapatkan, utamanya mata kuliah Desain dan Strategi Pembelajaran dan Evaluasi dan Pengembangan Kurikulum. Kedua mata kuliah tersebut dinilai sangat relevan dengan tugas yang dijalani, terutama dalam penyusunan modul pelatihan. Ilmu Desain Pembelajaran, ia terapkan saat merancang struktur materi, menentukan metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta, dan memastikan setiap sesi memiliki tujuan yang terukur. Sementara itu, mata kuliah Evaluasi Kurikulum membantu memahami pentingnya keselarasan antara tujuan, materi, metode dan evaluasi pembelajaran.

Salah satu kontribusi paling berkesan bagi Ica adalah ketika dipercaya menyusun dokumen kurikulum secara mendalam untuk sejumlah program pelatihan. Di antaranya, program In-Depth, Awareness, serta program sertifikasi CPOB dan HACCP. Dalam program tersebut, ia terlibat mulai dari pemetaan kebutuhan pelatihan, perumusan tujuan pembelajaran, penyusunan struktur kurikulum, hingga penyesuaian materi dengan standar dan regulasi yang berlaku.

Menurut Ica, pengalaman tersebut menuntut ketelitian dan pemahaman konteks yang mendalam, sekaligus memperkaya wawasannya tentang bagaimana kurikulum dan program pelatihan dikembangkan secara profesional di dunia industri. Kepercayaan yang diberikan kepadanya menjadi pencapaian tersendiri, karena ia merasa benar-benar dilibatkan dan diberi ruang untuk berkontribusi secara nyata.

Selama Magang Berdampak berlangsung, Ica menjalani program secara penuh tanpa disertai perkuliahan. Kondisi tersebut membantunya fokus menjalani magang secara maksimal. Meski demikian, pengelolaan waktu tetap ia lakukan dengan menyusun jadwal harian yang terstruktur, mulai dari jam kerja, waktu istirahat, hingga refleksi diri. “Manajemen waktu tetap menjadi prioritas,” imbuhnya.

Ica berpesan kepada mahasiswa Unesa agar tidak ragu mengikuti program Magang Berdampak. Menurutnya, program ini bukan sekadar kewajiban akademik, melainkan investasi jangka panjang bagi pengembangan diri dan karier. “Manfaatkan kesempatan untuk keluar dari zona nyaman, terbuka terhadap proses belajar, dan berani mengambil tanggung jawab. Proses yang dijalani dengan sungguh-sungguh akan memberikan dampak besar, tidak hanya untuk karier, tetapi juga pembentukan karakter,” pesannya.

Kisah Ica menjadi bukti bahwa Magang Berdampak bukan sekadar program, melainkan ruang pembelajaran nyata yang mampu menjembatani dunia kampus dan dunia profesional secara bermakna. @TimHumas

en_USEN