Kampus Bergerak, Mahasiswa Berdampak

Mahasiswa Berdampak hingga ke Ibu Kota Nusantara (IKN)

Universitas Negeri Surabaya (Unesa) terus memperkuat komitmennya dalam menyiapkan lulusan yang unggul, adaptif, dan siap menghadapi tantangan era digital serta memiliki dampak. Komitmen tersebut diwujudkan melalui peluncuran Program Mobilitas Akademik 2026 yang digelar pada Sabtu, 6 Juni 2026, di Zona Paris, Lower Ground (LG) PTC Surabaya.

Mengusung tema “Mendorong Pembelajaran Adaptif dan Berbasis Pengalaman melalui Program Mobilitas Akademik untuk Menciptakan Lulusan Unggul di Era Digital,” program ini menjadi langkah strategis Unesa dalam menghadirkan pengalaman belajar yang lebih relevan dengan kebutuhan dunia kerja, industri, serta masyarakat.

Program Mobilitas Akademik 2026 merupakan pengembangan dari kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang selama beberapa tahun terakhir telah memberikan ruang belajar di luar kampus bagi mahasiswa. Namun, pada implementasi tahun ini, orientasinya tidak hanya pada aktivitas pembelajaran di luar kampus, melainkan juga pada dampak nyata yang dihasilkan mahasiswa selama menjalankan program.

Menurut Kepala Subdirektorat Mobilitas Akademik dan Pertukaran Mahasiswa Unesa, Dr. M. Jacky, S.Sos., M.Si, paradigma baru Mobilitas Akademik menitikberatkan pada kebermanfaatan dan kontribusi mahasiswa terhadap mitra maupun lingkungan tempat mereka belajar. “Mahasiswa tidak hanya menjalankan perkuliahan atau aktivitas di luar kampus, tetapi harus menghasilkan dampak yang dapat diukur,” ujarnya.

 Di bidang pendidikan, kata Jacky, mahasiswa harus mampu memberikan perubahan, misalnya pada sumber belajar atau media pembelajaran. Begitu pula ketika berada di industri, mahasiswa diharapkan memiliki kontribusi nyata terhadap proses kerja maupun pengembangan yang ada di sana.

Pada tahun ini, Unesa mengintegrasikan berbagai bentuk kegiatan pembelajaran di luar kampus ke dalam beberapa program utama. Mobilitas Akademik mencakup berbagai Bentuk Kegiatan Pembelajaran (BKP), seperti magang, studi independen, asistensi mengajar, riset, Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT), pertukaran mahasiswa, wirausaha, pengenalan lingkungan persekolahan (PLP), dan pengabdian kepada masyarakat.

Meski demikian, secara implementasi program difokuskan pada kegiatan yang memiliki dampak langsung terhadap penguatan kompetensi mahasiswa dan kebutuhan mitra. Menurut Jacky, penyederhanaan tersebut dilakukan agar pelaksanaan program menjadi lebih terarah dan efektif.

“Dulu dalam MBKM terdapat banyak skema. Sekarang lebih diintegrasikan sehingga mahasiswa bisa lebih fokus pada pengalaman belajar yang benar-benar memberikan dampak bagi dirinya maupun lingkungan tempat ia berkegiatan,” jelasnya.

Perluas Jejaring Kerja sama Nasional dan Internasional

Salah satu fokus penting Mobilitas Akademik 2026 adalah perluasan jejaring kerja sama, baik di tingkat nasional maupun internasional. Pada level global, Unesa telah memulai berbagai program internasional, termasuk KKN Internasional di Johor, Malaysia, serta memperluas kolaborasi ke Thailand dan Filipina.

“Program internasional tersebut melengkapi berbagai kegiatan yang telah berjalan sebelumnya, seperti Sea Teacher yang menjadi wadah mahasiswa memperoleh pengalaman belajar dan mengajar lintas negara,” terangnya.

Selain itu, kerja sama nasional juga terus diperluas melalui kolaborasi dengan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN). Kolaborasi ini membuka akses mahasiswa ke berbagai perusahaan dan industri yang telah memiliki sistem pembimbingan profesional bagi peserta magang.

Bagi Jacky, kualitas pendampingan menjadi salah satu aspek yang sangat diperhatikan dalam program Mobilitas Akademik tahun ini. Mahasiswa tidak lagi ditempatkan sebagai tenaga tambahan yang hanya menjalankan pekerjaan administratif sederhana, melainkan memperoleh pendampingan langsung dari mentor atau tutor bersertifikat di industri.

“Kami ingin mahasiswa belajar dari mentor yang memang memiliki kompetensi dan kemampuan mengajar. Dengan begitu, mahasiswa mendapatkan pengalaman yang benar-benar meningkatkan keterampilan dan kompetensinya,” tambahnya.

Program ini juga menjadi sarana untuk menjembatani kesenjangan antara teori yang diperoleh mahasiswa di ruang kuliah dengan kebutuhan praktik di lapangan. Melalui pengalaman belajar selama beberapa bulan di industri, lembaga pendidikan, maupun komunitas masyarakat, mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan keterampilan teknis, kemampuan kolaborasi, serta kecakapan hidup yang menjadi bekal penting setelah lulus.

“Mahasiswa belajar hidup bersama, bekerja sama, dan mengembangkan berbagai keterampilan yang tidak selalu diperoleh di kelas. Ini menjadi modal penting agar mereka siap memasuki dunia kerja,” tambahnya.

Pada 2026, Unesa menargetkan 18 ribu mahasiswa khususkan untuk Angkatan 2024 untuk mengikuti program Mobilitas Akademik. Jumlah tersebut diperkirakan akan terus meningkat seiring bertambahnya mahasiswa yang memenuhi syarat untuk mengikuti program pada semester berikutnya.

Besarnya target tersebut menunjukkan keseriusan kampus ‘Rumah Para Juara’ ini dalam menjadikan Mobilitas Akademik sebagai bagian integral dari proses pendidikan tinggi. “Ke depan, penguatan kemitraan menjadi fokus utama agar semakin banyak mahasiswa memperoleh akses ke lingkungan belajar yang berkualitas, baik di tingkat nasional maupun internasional,” harap Jacky.

UNESA BERDAMPAK MENGAJAR NUSANTARA

Bantu Perkuat Kapasitas Guru dan Susun Blue Print Pendidikan IKN

Kontibusi nyata dan berdampak diwujudkan Unesa melalui pengiriman mahasiswa ke Ibu Kota Nusantara (IKN) sebagai langkah mendukung pembangunan sumber daya manusia di pusat pemerintahan baru Indonesia. Mereka punya dua tugas utama yakni membantu memperkuat kapasitas guru dan menyusun blue print pendidikan di IKN.

Empat mahasiswa yang terpilih dan lolos seleksi Program IKN Mengajar adalah Diah Amaliyah Nuraini dan Rita Afkarina dari Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS), serta Fernandya Hadianti Rosyadi dan Eka Sintiya Wati dari Program Studi Pendidikan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA). Mereka dipercaya untuk mendampingi proses pembelajaran sekaligus memperkuat kapasitas guru di sekolah-sekolah IKN yang tengah diarahkan menuju standar internasional.

Wakil Rektor 1 Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Alumni Unesa, Prof. Dr. Martadi, M.Sn menjelaskan bahwa program IKN Mengajar merupakan bagian dari implementasi kerja sama yang telah terjalin antara IKN dan Unesa dalam pengembangan sektor pendidikan. Keterlibatan Unesa tidak hanya sebatas mengirim mahasiswa untuk mengajar, tapi juga turut berkontribusi dalam penyusunan blueprint pendidikan IKN yang dirancang menghadirkan ekosistem pendidikan berkelas dunia mulai jenjang sekolah dasar hingga perguruan tinggi.

Sekolah-sekolah di IKN, terang Martadi, diarahkan menjadi sekolah bereputasi internasional. Karena itu, diperlukan pendampingan agar mutu pembelajaran terus meningkat. Salah satunya melalui penguatan kemampuan bahasa Inggris dalam proses pembelajaran. “Yang kami kirim mahasiswa dari Prodi Pendidikan Bahasa Inggris dan dari bidang MIPA yang memiliki kemampuan mengajar menggunakan bahasa Inggris,” ujarnya.

Keempat mahasiswa yang dikirim ke IKN, tidak hanya mengajar siswa di kelas, tetapi juga melakukan transfer pengetahuan kepada guru-guru di sekolah IKN. Mereka mendampingi para pendidik dalam mengembangkan metode pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan sekolah berstandar internasional.

Direktur Pendidikan dan Transformasi Pendidikan Unesa, Prof. Rooselyna Ekawati, Ph.D menambakan bahwa semangat IKN Mengajar sejalan dengan arah transformasi pendidikan tinggi yang saat ini didorong pemerintah. Perguruan tinggi tidak lagi hanya berfokus menghasilkan lulusan dengan kemampuan akademik yang baik, tetapi juga dituntut mampu berkontribusi bagi penyelesaian berbagai persoalan sosial, ekonomi, maupun lingkungan.

“Universitas harus hadir sebagai institusi yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Karena itu, berbagai program yang dikembangkan Unesa diarahkan agar mahasiswa dapat belajar sekaligus berkontribusi di tengah tantangan nyata yang dihadapi masyarakat,” ujarnya. 

Salah satu bentuk implementasin adalah keterlibatan Unesa dalam program di IKN. Rooselyna mengatalan, sebelumnya, pihak IKN membutuhkan dukungan dalam pengembangan kemampuan bahasa Inggris dan pembelajaran sains bagi masyarakat setempat. Menanggapi kebutuhan tersebut, Unesa kemudian mengirimkan empat mahasiswa pascasarjana dari bidang pendidikan Fisika dan pendidikan bahasa Inggris.

Pembekalan Khusus dari Unesa dan IKN

Rooselyna menambahkan, keempat mahasiswa yang terpilih Program IKN Mengajar, selain memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan program, mereka juga sedang menjalankan mata kuliah internship sehingga memungkinkan kegiatan tersebut terintegrasi dengan proses akademik yang ditempuh. 

Selain itu, mahasiswa yang diberangkatkan ke IKN, harus melalui berbagai tahapan persiapan yang dirancang kampus melalui Subdirektorat Mobilitas Akademik. Mereka juga mendapatkan pembekalan terlebih dahulu dari pihak Unesa dan IKN. “Materi pembekalan disesuaikan dengan karakteristik program dan mitra yang akan dituju,” ujar Rooselyna.

Mahasiswa juga memperoleh coaching terkait proses pembelajaran dalam bahasa Inggris, penyesuaian dengan lingkungan baru, hingga berbagai kebutuhan yang akan mereka hadapi selama berada di lokasi penugasan. “Kami melakukan coaching sebelum mahasiswa berangkat. Tidak hanya terkait akademik, tetapi juga persiapan mereka selama berada di lokasi tujuan. Jadi mahasiswa tidak langsung diterjunkan begitu saja,” katanya.

Persiapan tersebut, kata Rooselyna, tidak hanya berfokus pada aspek akademik. Mahasiswa juga dibantu memahami kondisi sosial dan budaya di tempat tujuan sehingga mereka dapat beradaptasi dengan lebih cepat. Pendekatan serupa diterapkan pada berbagai program mobilitas akademik lain yang dimiliki Unesa mulai dari magang, pertukaran mahasiswa, KKN Internasional, hingga berbagai program yang melibatkan mitra dari luar negeri.

Senada, Marrtadi mengatakan bahwa selain melalui seleksi yang ketat dengan mempertimbangkan kemampuan akademik, kompetensi Bahasa Inggris dan komitmen menjalankan tugas di luar daerah dalam jangka waktu tertentu, para mahasiswa yang diberangkatkan program IKN Mengajar juga mendapatkan pembekalan khusus dari Unesa dan pihak IKN. “Mahasiswa dibekali pemahaman mengenai kondisi lapangan dan kebutuhan pendidikan di IKN,” terang Martadi.

Program IKN Mengajar dirancang berlangsung selama empat bulan. Namun, jika setelah dilakukan evaluasi hasilnya positif, Martadi menegaskan program ini berpeluang ditambah pada periode berikutnya. Bahkan, mahasiswa yang menunjukkan kinerja baik berpotensi memperoleh kesempatan untuk direkrut dan berkarier di lingkungan IKN setelah menyelesaikan studi.

Strategi Hadapi Tantangan

Martadi mengakui, dalam pelaksanaannya, tantangan tentu tidak dapat dihindari. Salah satunya jarak yang jauh dari kampus membuat proses monitoring dan supervisi agak terkendala. Namun, dengan perkembangan teknologi memungkinkan proses pendampingan tetap dilakukan secara optimal melalui berbagai platform daring.

Selain itu, mahasiswa juga dituntut memiliki kesabaran dan kemampuan komunikasi yang baik saat mendampingi guru-guru yang sebelumnya belum terbiasa mengajar dalam lingkungan berstandar internasional. Proses adaptasi membutuhkan waktu, komitmen, dan kerja sama dari seluruh pihak yang terlibat.

Meski demikian, Martadi optimistis tantangan tersebut dapat diatasi melalui kolaborasi yang kuat antara Unesa dan IKN. Ia menilai program ini menjadi kesempatan berharga bagi mahasiswa untuk berkontribusi langsung dalam pembangunan bangsa sekaligus memperluas wawasan mereka tentang Indonesia.

“Indonesia itu bukan hanya Jawa Timur. Masa depan Indonesia salah satunya ada di IKN. Mahasiswa harus memiliki panggilan untuk berkontribusi bagi bangsa dan melihat Indonesia dalam perspektif yang lebih luas,” tuturnya.

Sementara itu. Rooselyna mengatakan bahwa pengalaman belajar di luar kampus merupakan bagian penting dalam pembentukan kompetensi mahasiswa. Melalui mobilitas akademik, mahasiswa dapat menghubungkan teori yang dipelajari di ruang kuliah dengan praktek nyata di lapangan.

Ia mengatakan, saat ini, Unesa terus memperluas kerja sama dengan berbagai mitra, baik di dalam maupun luar negeri. Kesempatan tersebut dapat dimanfaatkan mahasiswa melalui berbagai program yang tersedia sesuai bidang keilmuan masing-masing.

Menariknya, kampus juga membuka ruang bagi mahasiswa yang memiliki inisiatif mencari mitra secara mandiri. Jika mahasiswa menemukan peluang magang atau kegiatan akademik yang belum bekerja sama dengan Unesa, kampus siap memberikan pendampingan dalam proses komunikasi dan penjajakan kerja sama.

Menurut Rooselyna, langkah tersebut dapat menjadi strategi untuk memperluas jaringan kemitraan sekaligus membuka lebih banyak peluang bagi mahasiswa pada masa mendatang. Namun, ia mengingatkan pentingnya koordinasi dengan kampus sebelum mengajukan kerjasama kepada berbagai institusi.

“Kami tidak ingin mahasiswa berjalan sendiri. Jika ada peluang yang baik, silakan dikomunikasikan kepada kami agar bisa didampingi dan ditindaklanjuti bersama. Selain membantu mahasiswa, hal itu juga bisa menjadi peluang untuk menambah mitra Unesa,” tuturnya.

Di tengah berbagai tantangan, termasuk kebutuhan pendanaan untuk program internasional, Unesa terus berupaya memberikan dukungan melalui berbagai skema pembiayaan yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing program dan mitra.

“Pada akhirnya, keberhasilan program seperti IKN Mengajar tidak hanya diukur dari jumlah mahasiswa yang diberangkatkan, tapi dari bagaimana pengalaman tersebut mampu memberikan manfaat bagi mahasiswa sekaligus masyarakat yang menjadi sasaran program,” tegasnya.

Cerita Mahasiswa Unesa Program IKN Mengajar

Kesempatan Berharga Berkontribusi dan Berdampak untuk Negeri

Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) mendapatkan pengalaman berharga melalui program IKN Mengajar. Hal tersebut dirasakan oleh Diah Amaliyah Nuraini, Rita Afkarina (FBS), Fernandya Hadianti Rosyadi dan Eka Sintiya Wati (FMIPA), empat mahasiswa yang lolos seleksi.

Diah Amaliah, dkk mengatakan, ketertarikan pada konsep inisiatif pengabdian dan keinginan berkontribusi pada dunia pendidikan menjadi alasan kuat untuk turut serta dalam program IKN Mengajar. “Sejak pertama kali mengetahui program IKN Mengajar, kami melihatnya sebagai kesempatan yang sangat berharga untuk belajar sekaligus berkontribusi dalam dunia pendidikan di lingkungan yang sedang berkembang,” ujar Diah Amelia, mewakili rekan-rekannya.

Awalnya, sebelum berangkat ke IKN, mereka membayangkan perbedaan cukup besar dengan kondisi pendidikan di Pulau Jawa, mulai dari segi fasilitas hingga kemampuan siswa. Namun, di lapangan mereka justru mendapatkan pemahaman baru. Sekolah-sekolah di IKN memiliki semangat untuk mengembangkan kualitas pendidikan. Juga, para siswa menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi dan antusias mengikuti pembelajaran. “Para siswa memiliki potensi yang baik. Mereka hanya perlu ruang, pendampingan, dan kesempatan lebih banyak untuk mengembangkan potensinya itu,” terangnya.

Diah dan kawan-kawan, mengakui adanya tantangan dalam proses pembelajaran berupa perbedaan tingkat kemampuan dan kepercayaan diri masing-masing siswa. Mereka mendapati sebagian siswa memiliki kemampuan yang baik, namun masih ragu untuk menunjukkannya, terutama pada pembelajaran bahasa Inggris.

“Untuk mengatasi tantangan tersebut, kami melakukan placement test di awal program untuk membantu memetakan kemampuan siswa. Selain itu, kami memberikan apresiasi terhadap setiap usaha yang dilakukan siswa untuk menciptakan suasana kelas yang nyaman,” jelas Diah.

Pengalaman paling berkesan dialami Diah dan kawan-kawannya saat siswa melakukan presentasi pada minggu kedua pertemuan luring. Mereka melihat perubahan signifikan pada keberanian siswa untuk tampil di depan kelas dan menyampaikan hasil kerja mereka dengan lebih percaya diri. “Selain keberanian siswa, hal yang membekas diingatan kami adalah sikap saling mendukung antarsiswa,” tuturnya.

Kegiatan mengajar di Ibu Kota Nusantara (IKN) bagi Diah dan kawankawan, tidak hanya memberikan pengalaman mengajar, tetapi menjadi ruang pembelajaran untuk mengembangkan kesabaran, empati, dan kemampuan beradaptasi dengan berbagai karakter siswa.  “Pengalaman ini mengajarkan kami bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari hal besar. Terkadang, perkembangan kecil yang terjadi pada siswa justru memiliki makna yang sangat besar,” tegasnya. @TimHumasUnesa

en_USEN