Harus Jadi Habit, Bukan Sekadar Pemenuhan Kewajiban Administratif

Prof. Dr. Madlazim, M.Si., Peneliti Senior Unesa

Budaya penelitian merupakan salah satu indikator penting peningkatan kualitas perguruan tinggi. Hal ini ditegaskan Prof Madlazim, peneliti senior Unesa. Menurutnya, penelitian tidak boleh hanya dipandang sebagai pemenuhan kewajiban administratif, melainkan sudah seharusnya menjadi habit para dosen.

“Ketika riset telah menjadi bagian dari keseharian akademik, dosen akan konsisten menulis dan mempublikasikan karya ilmiah, baik di jurnal nasional maupun internasional bereputasi. Dari situ akan muncul tradisi kolaborasi lintas program studi, lintas universitas, hingga dengan mitra industri. Budaya penelitian yang sehat tidak berhenti pada laboratorium, tetapi terintegrasi dengan pembelajaran di kelas maupun pengabdian kepada masyarakat,” terangnya.

Lebih lanjut, guru besar yang berhome base di Prodi Fisika FMIPA Unesa itu menambahkan bahwa ciri budaya penelitian yang telah mengakar dapat dilihat dari produktivitas dosen dalam menghasilkan luaran berkelanjutan, seperti publikasi, paten, prototipe, hingga buku ajar. “Partisipasi aktif dalam komunitas ilmiah juga menjadi tanda bahwa penelitian sudah melekat pada identitas akademisi,” ujarnya.

Namun, ia mengakui bahwa kondisi tersebut belum sepenuhnya terwujud di Unesa. Dari sekitar 1.300 dosen, tidak semuanya memiliki budaya penelitian dengan ciri-ciri yang disebutkan. Menurut Madlazim, masih ada gap antara dosen yang sudah terbiasa melakukan riset dan yang masih memandang penelitian hanya sebagai kewajiban administratif.

Ia menegaskan bahwa tahap penting berikutnya adalah hilirisasi dan komersialisasi. Menurutnya, riset baru bisa disebut berdampak ketika tidak berhenti pada laporan atau artikel, tetapi menjelma menjadi prototipe siap pakai.

“Hasil riset yang sudah sampai tahap hilirisasi biasanya dilengkapi perlindungan hukum berupa paten atau hak kekayaan intelektual. Bahkan, keberadaan model bisnis yang menyertai hasil riset juga menjadi indikator penting bahwa karya tersebut siap masuk ke pasar dan bermanfaat secara luas,” ungkapnya.

Langkah Strategis Perkuat Riset

Menurut Madlazim, sejumlah langkah strategis diperlukan untuk menjaga agar budaya riset tumbuh signifikan. Pertama, perguruan tinggi perlu menyediakan skema pendanaan yang lebih terarah, terutama pada penelitian terapan dan problem solving research sesuai kebutuhan daerah maupun industri.

Kedua, pemberian insentif harus diperluas, tidak hanya berorientasi pada publikasi ilmiah, tetapi juga pada luaran strategis seperti paten, produk inovatif, serta kerja sama dengan mitra industri. “Ketiga, ekosistem hilirisasi harus diperkuat melalui inkubator bisnis dan technopark sebagai wadah pengembangan dan pengujian hasil riset yang bagaimana sedang dalam proses pembangunan,” urainya.

Selain itu, Madlazim menilai pentingnya kolaborasi triple helix antara kampus, pemerintah, dan industri. Kolaborasi itu, kata Madlazim, akan memperluas jejaring riset sekaligus membuka peluang implementasi hasil penelitian di berbagai sektor. Ia juga menekankan perlunya capacity building bagi dosen dan peneliti, mulai dari pelatihan penulisan proposal kompetitif, manajemen riset, hingga transfer teknologi. “Tujuannya, agar setiap penelitian tidak berhenti sebagai dokumen, tetapi betul-betul menjadi karya nyata yang memberi manfaat,” imbuhnya.

Mengenai arah penelitian khas Unesa, Madlazim menyebut perlunya diferensiasi yang menonjolkan keunggulan kampus. Setidaknya, ada empat riset yang perlu diperkuat Unesa. Pertama, riset di bidang pendidikan dan inovasi pembelajaran, mengingat sejarah panjang Unesa sebagai eks-IKIP. “Fokus ini mencakup pengembangan model pembelajaran berbasis teknologi, literasi digital, dan pendidikan inklusif,” ungkapnya.

Kedua, penelitian terkait disabilitas dan inklusi sosial. Unesa memiliki reputasi kuat dalam bidang ini. Karena itu, riset dapat diarahkan pada teknologi asistif, kebijakan pendidikan inklusif, maupun pengembangan layanan ramah difabel.

“Ketiga, riset berbasis kearifan lokal Jawa Timur, seperti seni budaya, olahraga, bahasa, hingga pemberdayaan masyarakat pesisir. Ini bagian dari identitas daerah yang bisa menjadi kekuatan riset khas Unesa,” tambahnya.

Keempat, penguatan bidang green technology dan sustainability yang sangat relevan dengan isu global, mulai dari energi terbarukan, mitigasi bencana, hingga ekonomi hijau. Dengan arah riset tersebut, profesor kelahiran Lamongan ini optimistis Unesa dapat menempatkan diri sebagai kampus yang memiliki diferensiasi kuat, seperti pusat riset pendidikan inklusif, inovasi pembelajaran, dan pengembangan potensi lokal yang memberi dampak sosial nyata. @shofi

en_USEN