Koleksi Ragam Action Figure dan Barang Antik Bernilai Sejarah

Mahendra Wardhana, SH MKn Kepala Badan Pengelola Usaha (BPU) Unesa

Di balik sosoknya yang bergelut dalam tata kelola usaha institusi, Mahendra Wardhana memiliki hobi yang tak banyak orang tahu. Pria yang kini menjabat sebagai Kepala Badan Pengelola Usaha (BPU) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini ternyata suka mengoleksi action figure superhero, hingga barang-barang antik bernilai sejarah.

Tidak seperti hobi orang-orang pada umumnya, pria kelahiran Surabaya ini memiliki kegemaran yang tidak jauh dari dunia masa kecilnya. Ketika memasuki rumahnya, deretan action figure terpampang rapi di rak ruang tamu, mulai dari Iron Man, Batman, hingga tokoh legendaris Tiongkok, Guan Yu, berdiri gagah lengkap dengan senjatanya yang memikat.

Setiap figur punya makna tersendiri bagi Mahendra. Ia tumbuh bersama karakter-karakter itu, menjadikannya simbol nilai dan semangat yang ia pegang hingga kini. “Siapa sih masa kecilnya yang gak senang mainan robot-robotan, apalagi mainnya sama teman-teman di kampung,” tukasnya.

Ketika ditanya soal figur yang paling dikaguminya, Mahendra langsung menyebut dua nama: Tony Stark dan Bruce Wayne. Dua tokoh ikonik dari dunia superhero itu bukan hanya tampil keren dengan kostum dan teknologi canggih, tetapi juga punya karakter kuat yang membekas dalam benaknya yakni kepeduliannya terhadap orang yang membutuhkan.

Tak heran jika figur-figur tersebut ia tempatkan secara khusus di rak-rak utama koleksinya. Menariknya, ia tidak hanya mengoleksi tokoh-tokoh heroik. Karakter villain pun ia koleksi, selama memiliki bentuk dan desain yang menarik.

Baginya, koleksi tidak selalu harus didominasi oleh tokoh-tokoh pahlawan. Justru, karakter antagonis seringkali memiliki desain yang lebih berani, detail, dan artistik. Ia melihat bahwa setiap figur, baik protagonis maupun antagonis, membawa pesan dan filosofi tersendiri. “Justru dari karakter-karakter yang dianggap ‘jahat’, kadang kita bisa belajar sisi lain dari kekuatan, ambisi, atau bahkan keteguhan,” tambahnya.

Menurutnya, koleksi action figure ini juga merupakan salah satu bentuk investasi. Selain karena nilai estetika dan kepuasan pribadi, banyak dari koleksinya yang memiliki nilai jual tinggi, terutama jika masih dalam kondisi utuh dengan box lengkap.

Bagi Mahendra, ketika hobi dan nilai ekonomi bisa berjalan berdampingan, itu hanyalah bonus. Yang jauh lebih penting adalah kepuasan batin yang ia rasakan setiap kali menatap koleksi yang tersusun rapi di rak rumahnya.

“Kalau saya menatapnya, rasanya seperti kembali ke masa kecil, tiga puluh tahun lalu, saat masih sering minta dibelikan robot-robotan ke orang tua,” kenang Mahendra dengan senyum tipis penuh nostalgia.

Merawat ‘Sejarah’ dan Filosofinya

Pria kelahiran 1981 ini juga memiliki ketertarikan mendalam terhadap barang-barang antik. Selain karena nilai estetikanya, tetapi juga karena cerita dan jejak waktu yang melekat di setiap benda.

Mulai dari radio tua, gramofon, jam dinding klasik, hingga piringan hitam peninggalan zaman kolonial, semuanya menjadi hiasan rumah yang membuat suasana terasa hangat, otentik, dan penuh cerita.

Barang-barang itu seolah menghidupkan kembali nuansa tempo dulu yang membawa ketenangan tersendiri. “Saya mencintai barang lama bukan hanya bentuknya, tetapi juga cerita dan filosofinya yang layak dirawat,” ujarnya sambil tersenyum.

Ia mengaku, kecintaannya pada koleksi barang antik mulai tumbuh sejak masa kuliah, ketika melihat sang ibu dengan telaten merawat barang-barang warisan dari kakek dan nenek. Dari situlah rasa ketertarikannya tumbuh. Ia mulai melihat bahwa benda-benda lama bukan sekadar usang, tetapi menyimpan cerita dan nilai.

Sejak saat itu, ia kerap berburu barang antik di pasar loak atau toko barang bekas. Bahkan hingga kini, aktivitas itu masih menjadi kesenangan tersendiri. Beberapa koleksi ia beli di lapak online, semata karena jatuh cinta pada bentuk atau sejarah di baliknya. “Kadang barangnya nggak berfungsi atau rusak, tetapi bentuknya menarik. Itu saja sudah cukup membuat saya senang,” ungkapnya.

Menariknya, sebagian koleksi barang antiknya justru ia hibahkan kepada teman-teman yang memiliki minat serupa. Baginya, tidak semua benda harus disimpan sendiri. Selama masih ada yang merawat dan menghargainya.

Membangun Kedekatan

Selain menyalurkan kegemaran pada benda-benda penuh nilai sejarah, Mahendra juga menemukan bentuk kebahagiaan lain yang tak kalah bermakna yaitu bermain PlayStation (PS) bersama anak-anaknya.

Bagi sebagian orang, game mungkin dianggap sebagai hiburan semata. Namun baginya, momen ini justru menjadi ruang membangun kedekatan dalam keluarga, terutama di tengah kesibukan kerja yang padat.“Main PS bareng anak-anak itu menyenangkan. Kita bisa ketawa bareng, saling ngalahin, bahkan saling mijetin kalau kalah,” candanya.

Mahendra mengakui kebersamaan yang menyenangkan itu dapat membangun karakter dan mempererat emosi. Kadang, ia sengaja membiarkan anaknya menang. Kadang pula, ia buat suasana kompetitif agar anak belajar menerima kekalahan.

Tak kalah menarik adalah ketika ia memutuskan untuk menghadiahkan PS5 kepada sang anak. Meski terlihat sebagai bentuk apresiasi untuk buah hati, sejatinya hadiah itu juga untuk dirinya sendiri yang sejak lama menyukai permainan PlayStation ini.

“Kadang saya pulang malam. Namun, kalau anak libur, saya ikut nimbrung satu-dua game. Itu yang membuat kami merasa dekat,” ujarnya.

Menutup sesi wawancara, Mahendra menyampaikan bahwa kedewasaan bukan berarti meninggalkan hal-hal yang kita sukai. Justru, merawat apa yang membuat hati bahagia adalah bagian dari menjaga kewarasan dan keseimbangan hidup.

“Bagi saya, semuanya adalah bentuk investasi. Bukan hanya uang, tapi juga perasaan. Investasi hubungan dengan anak, penghormatan pada masa lalu, dan ruang untuk diri sendiri,” tutupnya bijak @TimMajalahUnesa

en_USEN