“Emak saya itu bakul di pasar. Dari beliau saya belajar satu hal: jangan jual putus,” tegasnya.
Suasana di SMKN 13 Surabaya Jumat pagi itu nampak berbeda. Para siswa, guru, dan tenaga kependidikan sibuk mengikuti kegiatan Jumat Bersih. Di tengah aktivitas tersebut, seorang perempuan dengan sigap ikut terjun mengarahkan dan mencontohkan sambil mencabuti rumput liar. Dialah Rodhiyatul Jannah, S.Pd., M.M., Kepala SMKN 13 Surabaya.

Alumni Teknik Elektro FPTK IKIP Surabaya (Kini, Unesa) angkatan 1995 itu meski tengah memimpin kegiatan, tapi tepat menyambut tim majalah Unesa dengan hangat dan penuh keramahan. Baginya, menjadi kepala sekolah bukan sekadar memberi instruksi dari balik meja kerja. Pemimpin harus hadir dan memberi teladan secara langsung. “Menjadi kepala sekolah tidak hanya memimpin, tetapi juga mencontohkan,” ujarnya sambil mempersilahkan kami masuk ruang kerjanya.
Sebagai alumni Unesa, Jannah, demikian panggilan akrabnya, tentu memiliki banyak kenangan dan cerita penuh perjuangan. Ia mengatakan, sebelum masuk kuliah, ia sudah terbiasa diajarkan mandiri. Setiap hari, ia membantu ibunya berjualan di pasar, bahkan ketika masih duduk dibangku SMP. Kebiasaan kerja keras itu, ia bawa hingga masuk di perguruan tinggi.
Ia pun mengakui, di balik kepemimpinannya yang humanis dan pantang menyerah, ada filosofi hidup sederhana yang diwarisi dari sang ibu. “Emak saya itu bakul di pasar. Dari beliau saya belajar satu hal: jangan jual putus,” kenangnya. Dalam dunia perdagangan, “jual putus” berarti transaksi yang berhenti setelah barang berpindah tangan. Namun bagi ibunya, hubungan dengan pembeli tidak boleh berhenti pada transaksi semata. Kepercayaan harus dijaga agar hubungan dapat berlangsung dalam jangka panjang.
Filosofi tersebut menjadi prinsip yang melekat kuat dalam dirinya. Tidak hanya dalam relasi pribadi, tetapi juga dalam cara membangun jejaring dan mengelola lembaga. “Saya kalau ketemu orang tidak mau jual putus. Relasi itu harus dijaga dengan komunikasi yang baik. Jangka panjangnya, kita tidak hanya bekerja bersama, tetapi bisa seperti saudara,” tuturnya.
Prinsip inilah yang kemudian menjadi fondasi dalam membangun kepercayaan terhadap SMKN 13 Surabaya. Menurutnya, sekolah tidak cukup hanya membangun branding. Yang jauh lebih penting adalah menghadirkan kualitas nyata sehingga kepercayaan tumbuh secara alami. “Kalau branding itu kemasan. Tapi kepercayaan lahir karena ada produknya, ada bukti nyatanya,” jelasnya.
Perjalanan hidup Jannah sendiri tidak selalu mudah. Perempuan yang lahir dan besar di Gresik ini merupakan anak keempat dari enam bersaudara. Sejak SMP, ia telah terbiasa bekerja sambil sekolah. Sepulang belajar, ia terbiasa membantu berjualan sandal dan sepatu di pasar. Pengalaman tersebut membentuk karakter pekerja keras sekaligus kemandirian yang kuat.
Pun begitu, ketika Jannah memilih melanjutkan pendidikan ke Jurusan Pendidikan Teknik Elektro di Fakultas Tekni IKIP Surabaya, yang kemudian berubah menjadi Universitas Negeri Surabaya (Unesa), keputusan itu diambil berdasarkan perhitungan yang sangat matang, bukan asal-asal nyoba. “Saya sadar diri dengan kemampuan. Karena itu, saya putuskan ambil Pendidikan Teknik Elektro. Saya tak peduli apa kata orang. Sebab, masa depan saya ada di tangan saya sendiri,” ungkapnya.
Kembangkan Diri di Organisasi
Selama menjalani perjuliahan di kampus, selain rajin kuliah, Jannah juga aktif berorganisasi. Ia ikut organisasi Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) dan Unit Kegiatan Mahasiswa Paduan Suara. Bagi Jannah, organisasi bukan sekadar aktivitas tambahan, melainkan ruang untuk mengembangkan diri, membangun keberanian, jaringan, serta kemampuan berkomunikasi. “Kalau punya komunitas, akhirnya kita punya relasi,” katanya.
Nilai-nilai yang diperoleh selama kuliah terus ia bawa dalam perjalanan kariernya. Bahkan, sebelum menyelesaikan Program Pengalaman Lapangan (PPL), Jannah telah dipercaya mengajar. Kariernya pun dimulai menjadi guru, kemudian terus berkembang melalui berbagai jabatan hingga dipercaya menjadi kepala sekolah.
Dalam bekerja, ia memiliki satu prinsip yang selalu dipegang teguh yakni fokus pada solusi, bukan drama. Ia juga memaknai sebuah kendala sebagai permasalahan, tetapi dijadikan sebagai tantangan. Ia juga meyakini bahwa semua pekerjaan akan bisa diselesaikan dengan bersama-sama. “Saya yakin tidak ada pekerjaan yang bisa diselesaikan sendirian. Semua harus dikerjakan bersama-sama,” tegasnya.
Sebagai Kepala SMKN 13 Surabaya, Jannah pun berupaya mengimplementasikan filosofi hidupnya itu melalui berbagai program kolaboratif. Di antaranya, ia aktif membangun sinergi dengan perguruan tinggi, industri, alumni, dan masyarakat. Gagasannya sederhana tetapi berdampak besar: menghadirkan alumni mengajar, perguruan tinggi mengajar, dan industri mengajar. “Pendidikan tidak boleh berjalan sendiri. Sekolah harus menjadi ruang yang terbuka bagi berbagai pihak untuk bersama-sama mempersiapkan masa depan peserta didik,” tambahnya.
Di lingkungan sekolah, tambah Jannah, penguatan karakter juga menjadi perhatian utamanya. Berbagai program pun dijalankan dengan konsisten, seperti program kebersihan, literasi, dan kegiatan religius. Setiap pagi, siswa dibiasakan mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur’an melalui pengeras suara sebagai bagian dari pembiasaan spiritual. “Kompetensi tanpa karakter tidak akan cukup mengantarkan seseorang menuju kesuksesan yang berkelanjutan,” tandasnya.
Dari pasar tradisional hingga ruang kepemimpinan sekolah, filosofi sang ibu terus hidup dalam setiap langkahnya. Sebuah pelajaran sederhana tentang menjaga kepercayaan dan merawat hubungan. Nilai yang mungkin lahir dari seorang “bakul” di pasar, tetapi terbukti mampu menjadi tonggak inspirasi dalam membangun institusi dan menyiapkan generasi masa depan. @TimHumasUnesa

