Biskuit Daun Kelor sebagai Alternatif Snack Pendamping MBG

Tim Peneliti, Prof. Dr. Rita Ismawati, S.Pd M.Kes; Prof. Dr. Muhaji, ST, MT; Ita Fatkhur Romadhoni, S.Pd, M.Pd.

Tim peneliti Unesa menghadirkan inovasi alternatif snack pendamping Makan Bergizi Gratis (MBG) Moringa Crackers atau biskuit daun kelor, yang merupakan inovasi pangan lokal dengan mengemas khasiat dan nutrisi dari Moringa oleifera dalam bentuk makanan yang disukai anak-anak.

Penelitian pengembangan produk inovasi prototipe berjudul Standarisasi Produk Moringa Crackers (Biskuit Daun Kelor) sebagai Alternatif Snack Pendamping Makan Bergizi Gratis diinisiasi oleh tim peneliti Unesa yang terdiri atas Prof. Dr. Rita Ismawati, S.Pd M.Kes; Prof. Dr. Muhaji, ST, MT; Ita Fatkhur Romadhoni, S.Pd, M.Pd.

Ketua Tim Peneliti, Prof Rita Ismawati mengatakan, penelitian tersebut merupakan penelitian lanjutan yang sudah dimulai sejak 2014. Produk moringa cracker menjadi produk yang dikembangkan sebagai upaya mengeksplor penggunaan daun kelor dalam pembuatan makanan dan minuman yang sarat gizi dan nutrisi. “Sebelumnya, produk ini sudah digunakan untuk intervensi balita kurang gizi dan balita stunting,“ ujarnya.

Produk ini terus dikembangkan hingga mencoba untuk makanan pendamping dalam program MBG. Tahun lalu, tim peneliti Unesa masih menganalisis tingkat penerimaan atau kesuakaan siswa terhadap biskuit daun kelor sebagai snack pendamping MBG. Selanjutnya akan dilakukan penelitian pengaruh biskuit daun kelor sebagai snack pendamping MBG terhadap status gizi, status anemia, dan tingkat konsentrasi belajar siswa penerima program MBG.

Pengembangan dilakukan semata agar produk yang sudah berkembang tidak hanya berhenti sebatas intervensi penelitian. Pada tahun ini (2025), sudah dikembangkan dengan standarisasi produk. Tujuannya, untuk mendapatkan izin edar yang terdiri atas Nomor Induk Berusaha (NIB), SPP-IRT (Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga) dan sertifikat halal yang dikeluarkan dari BP POM MUI. “Jika sudah lengkap izinnya, produk ini bisa dipasarkan ke masyarakat umum,“ terangnya.

Bagi Guru Besar Bidang Pengembangan Produk Pangan Fungsional tersebut, jika Jepang memiliki green tea dan matcha, Indonesia juga bisa ‘hit’ dengan daun kelor yang memiliki segudang manfaat untuk kesehatan. Tim peneliti Unesa ingin mensosialisasikan manfaat luar biasa dari daun kelor kepada masyarakat umum sebagai makanan sehat lokal yang murah dan mudah ditemukan.

“Kami ingin daun kelor sama populernya dengan green tea atau matcha di kalangan anak muda sehingga mengonsumsi daun kelor menjadi kebiasaan dalam keseharian mereka,” ungkapnya.

Melalui penelitian ini, Rita dan tim juga berupaya menepis adanya persepsi yang keliru tentang daun kelor di masyarakat dengan hal mistis. Di masyarakat, daun kelor dikenal sebagai alat untuk mengusir setan atau halangan bagi seseorang yang memasang ‘susuk’ di tubuhnya. “Persepsi semacam itu ingin kami tepis melalui penelitian ini. Karena khasiat daun kelor lebih luas dan luar biasa dibanding hal mistis tersebut,“ bebernya.

Optimalkan Pangan dengan Kearifan Lokal

Sebagai camilan kering, produk Moringa Crackers (Biskuit Daun Kelor) ini memiliki masa simpan yang relatif lama dan lebih mudah didistribusikan ke daerah pelosok. Langkah ini juga menjadi upaya mengoptimalkan pangan dengan kearifan lokal. “Memanfaatkan potensi daun kelor dalam pengembangan produk makanan dan minuman,” tuturnya.

Hal tersebut juga menjadi keunggulan dari Produk Moringa Crackers, dimana produk ini memiliki masa simpan yang lama, cocok untuk didistribusikan ke daerah pelosok yang membutuhkan waktu yang lama. Selain itu, keunggulan lain memiliki kandungan zat gizi baik makro maupun mikro dan antioksidan yang bagus untuk kesehatan.

Rita mengklaim, masyarakat memberikan respon yang sangat baik pada Produk Moringa Crackers (Biskuit Daun Kelor). Buktinya, melalui uji coba lapangan pada program makan bergizi gratis (MBG) di SMK Taruna Sidoarjo, produk ini mencatatkan tingkat kepuasan yang sangat baik, 100 persen siswa menyatakan sangat menyukai aspek rasa, aroma, bentuk, hingga tekstur.

“Seiring dengan perkembangan produk yang begitu panjang, hingga mampu menjadi snack pendamping MBG, produk ini terus memperluas target pasar seperti balita kurang gizi, balita stunting, masyarakat umum, penderita Diabetes Melitus dan sebagainya,“ jelasnya.

Rita mengungkapkan bahwa akseptabilitas yang sempurna menjadi pintu masuk utama bagi penyerapan gizi ke dalam tubuh. Dengan ketepatan dalam memperhatikan kombinasi antar bahan yang digunakan dengan suhu yang tepat, dapat menjaga zat gizi agar tidak rusak karena faktor pemanasan.

Melihat keunggulan dan khasiat daun kelor, Produk Moringa Crackers (Biskuit Daun Kelor) berpotensi besar dikembangkan sebagai pangan nasional berbasis lokal. Namun, untuk menambahkan pengembangan variasi rasa tanpa mengurangi nilai gizi produk, perlu adanya uji coba atau penelitian lanjutan. “Rencana ke depan, kami akan memasarkan produk ini secara online dan offline,” imbuhnya.

Untuk mengenalkan produk Moringa Crackers (Biskuit Daun Kelor), tim telah melakukan berbagai kegiatan, di antaranya pameran pada kegiatan event INNOUNESA (Unesa Innovation Product Exhibition) yang diselenggarakan pada Senin hingga Rabu (24-26 November 2025) di Lantai Ground Gedung Rektorat Unesa Kampus Lidah Wetan Surabaya. Selain itu, selama masa penelitian, tim peneliti Unesa mendapat dukungan yang cukup dari kampus. @TimHumasUnesa

id_IDID