Awalnya Hanya Hobi untuk Mengisi Waktu Luang 

Deka Sadira, Sang Juara Lintasan Sepatu Roda

Lintasan sudah di depan mata. Sepatu roda sudah mencengkeram kedua kaki. Mata dan seluruh anggota tubuh hanya tertuju pada lintasan yang makin lama makin kabur dan hanya fokus pada jalur di depan. Yang menyaksikan menahan napas karena kecepatan putaran sepatu roda seperti gasing. Yang ada hanya satu: melesat cepat.

Itu yang terjadi ketika Deka Sadira ada di lintasan sepatu roda. Seluruh tubuh, pikiran, dan semangatnya hanya tertuju pada kecepatan kaki meluncur di atas sepatu roda. Deka Sadira adalah atlet sepatu roda yang lahir di Surabaya pada 20 Oktober 2004. Meski masih muda, Deka telah menunjukkan dedikasinya tidak hanya di dunia olahraga, tetapi juga di dunia pendidikan. 

Perjalanan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Kepelatihan Olahraga Universitas Negeri Surabaya ke dunia olahraga dimulai dari hal sederhana, yakni untuk mengisi waktu luang ketika Minggu. Sepatu roda bukan mainan baru baginya karena ayah Deka semasa muda pernah berlatih sepatu roda. “Awalnya, saya ikut sepatu roda hanya untuk mengisi waktu kosong. Ayah yang mengajari. Setelah itu, saya diajak bergabung klub sepatu roda di Sidoarjo,” kenang Deka. 

Tak disangka, olahraga yang dimulai hanya sebagai hobi kini telah membawanya meraih banyak prestasi. Dorongan keluarga turut membantu anak pertama dari dua bersaudara itu meraih prestasi terbaik. Pencapaian prestasi Deka di dunia sepatu roda cukup banyak. Ia pernah meraih juara 2 Relay 3.000m Putra di PON XXI, Juara 3 Team Time Trial 10km Putra di PON XXI, dan Juara 1 di Mahameru Open 2024 untuk nomor 500m Putra. 

Selain itu, Deka juga mencatatkan namanya sebagai juara 1 di berbagai kejuaraan Porprov Jawa Timur pada 2022 dan 2023, termasuk Relay 3000m Putra dan Team Time Trial 10km Putra. Keberhasilan-keberhasilan itu makin memperkokoh posisinya sebagai atlet sepatu roda muda yang diperhitungkan.

Dari sekian perlombaan yang diikuti, Deka mengaku sangat terkesan kala berhasil meraih emas di semua nomor yang diikuti pada Porprov 2022. Saat itu, ia merasa sangat percaya diri. Semua latihan terasa terasa terbaya dengan presasti yang didapatkan. 

Deka pernah hampir menyerah pada Porprov 2023. Saat itu, Deka hanya berhasil meraih Juara 3 di nomor 10km PTP. Baginya, itu sebuah kegagalan yang cukup mengecewakan yang membuatnya sangat down, bahkan hampir kepikiran berhenti dari sepatu roda, karena dimarahi oleh pelatih di depan banyak orang. “Saya lalu ingat sudah berjuang keras untuk sampai ke titik ini. Itu menjadi alasan saya untuk terus melangkah,” ungkap Deka.

Selain itu, menghadapi tantangan mental di PON XXI juga menjadi pengalaman berharga bagi Deka. Sebagai atlet yang mewakili Jawa Timur untuk kali pertama di PON, Deka merasakan tekanan yang sangat besar. “Rasanya berbeda sekali saat berlomba di PON. Ada rasa gugup karena harus membawa nama besar Jawa Timur,” ujarnya.

Mengatasi rasa gugup itu, Deka menggunakan teknik meditasi dan pernapasan. Selain itu, juga salat malam untuk menjaga fokus saat bertanding. Selain prestasi di dunia olahraga, Deka juga menjalani kehidupan sebagai mahasiswa di Unesa. Setelah berhasil mendapatkan tempat di Program Studi Pendidikan Kepelatihan Olahraga pada 2023, Deka memutuskan untuk meraih cita-citanya di dunia pendidikan olahraga. 

Di Unesa, Deka bisa mengembangkan diri lebih baik, baik di bidang olahraga maupun akademik. Ia juga ingin memanfaatkan kesempatan untuk memperluas relasi dan belajar dari teman-teman seangkatan. Meski tidak terlibat aktif dalam organisasi kampus, Deka memanfaatkan waktu di kampus untuk berdiskusi dan bertukar pengalaman dengan teman-teman di bidang olahraga. 

Menjalani peran ganda sebagai mahasiswa dan atlet bukanlah hal yang mudah. Deka harus pintar-pintar mengatur waktu antara kuliah, latihan, dan lomba. Biasanya, tiga hari sebelum lomba, ia sudah mengurus surat dispensasi supaya kuliah tidak terganggu. Ia juga berusaha etap menjalani kuliah dan latihan dengan seimbang. 

Keberhasilan yang diraih Deka tidak lepas dari dukungan orang-orang terdekatnya. Karena itu, ketika meraih kemenangan, ia tak lupa memberi kabar orang-orang terdekatnya. Dukungan yang mereka berikan menjadi bahan bakar bagi Deka untuk terus berjuang meraih impiannya.

Di masa depan, Deka memiliki cita-cita yang lebih besar. Ia berharap bisa bergabung dengan pelatnas dan berkarier di dunia olahraga sepatu roda. Ia ingin melanjutkan karier di pelatnas, dan terus meraih prestasi internasional. Deka juga berharap bisa mengembangkan cabang olahraga lain, seperti atletik lari, yang telah menjadi minatnya selain sepatu roda. “Masih banyak yang kurang tertarik pada olahraga sepatu roda. Saya ingin mengubah pandangan itu dan membuat lebih banyak orang tertarik untuk mencoba olahraga ini,” ujar Deka. 

Dari lintasan sepatu roda, Deka belajar menjaga fokus pada tujuan baik di kampus maupun di luar kampus. Baginya, ketekunan dan keberanian adalah kunci utama. Itu yang ia pelajari dari kedua orang tuanya. “Saya ingin membuktikan kepada orang tua bahwa usaha keras tidaklah sia-sia. Saya juga ingin mereka bangga dengan apa yang saya capai,” pungkas Deka. @TimHumas

id_IDID