Dea Salsabila Putri, kembali menorehkan prestasi gemilang. Setelah enam tahun menunggu, mahasiswa S-2 Pendidikan Olahraga Unesa itu berhasil mempertahankan tradisi emas pada nomor Triathle Individual Women’s cabang modern pentathlon dalam ajang SEA Games Tailan 2025.
Dea, sapaan akrab perempuan kelahiran Surabaya, 20 Maret 1998 ini, bukanlah sosok baru di dunia olahraga prestasi. Kecintaannya pada olahraga air bermula sejak kelas tiga sekolah dasar. Berawal dari lintasan renang, Dea kemudian bertransformasi menjadi atlet modern pentathlon pada tahun 2018—sebuah cabang olahraga multidisiplin yang menuntut ketahanan fisik luar biasa, ketajaman strategi, dan kekuatan mental.
Awalnya, ia menekuni renang. Seiring waktu, Dea mencoba tantangan baru dan mulai serius di pentathlon sejak 2018. Keputusan tersebut terbukti tepat. Ia menjadi andalan Indonesia dengan memborong tiga emas sekaligus pada SEA Games 2019 di Filipina. Prestasi itu pun berlanjut di SEA Games Tailan 2025 dengan tetap mempertahankan tradisi medali emas.
Berbeda dengan di SEA Games Filipina, Dea memiliki tantangan yang berbeda karena berstatus sebagai petahana peraih emas,. Ia memikul beban ekspektasi yang besar. Baginya, lawan terberat bukanlah atlet dari negara tetangga, melainkan pikirannya sendiri. Ia harus bisa menghindari tekanan karena pernah meraih emas sebelumnya. “Saya berusaha menikmati setiap race yang saya jalani agar bisa tampil lepas,” tuturnya.

Di balik ketenangannya saat bertanding, Dea memiliki rutinitas latihan yang spartan. Selama satu tahun penuh sebelum kejuaraan, ia menjalani latihan intensif hingga tiga kali sehari. Hal ini dilakukan demi menguasai berbagai disiplin ilmu dalam satu nomor pertandingan yang ia ikuti.
Di tengah jadwal latihan yang menyita waktu dan energi, Dea membuktikan bahwa pendidikan tetap menjadi prioritas. Sebagai mahasiswa pascasarjana Unesa, ia tetap aktif mengikuti perkuliahan dan mengerjakan tugas di sela-sela waktu istirahat latihan.
Dukungan penuh dari Unesa sebagai “Rumah Para Juara” diakui Dea sebagai faktor krusial. Walaupun ia atlet, Unesa sangat membantu melalui fleksibilitas akademik. Dosen-dosen memberikan dukungan luar biasa sehingga saya tetap bisa menjalani perkuliahan dengan baik.
Bagi Dea, emas kali ini terasa sangat emosional karena cabang modern pentathlon sempat absen dalam beberapa edisi SEA Games sebelumnya. Kini, setelah enam tahun menunggu, Dea membuktikan bahwa api semangatnya tidak pernah padam. Ke depan, Dea memilih menjalani kariernya dengan lebih bijak sebagai atlet senior. Baginya, prestasi kini bukan sekadar soal medali, melainkan tanggung jawab moral untuk menginspirasi junior-juniornya di Unesa.
Dea sudah menorehkan prestasi sejak 2016 dengan meraih medali perunggu pada ajang PON Jawa Barat dalam cabang renang perairan terbuka. Lalu, di ajang PON Papua 2021 dan SEA Games 2019 di Filipina, ia berhasil membawa pulang medali emas dalam kategori Inividual Laser Run, Individual Triathle, dan Mixed Relay Triathle. Sementara pada PON XXI Aceh-Sumut, ia berhasil meraih emas cabang olahraga renang perairan terbuka. Tak berhenti di situ, ia juga meraih medali perak Sea OWS Champhionsip se-Asia Tenggara, dan medali emas Age Group Triathlon Ironman Bangsean.
Sebagai atlet, Dea juga mengalami masa-masa sulit. Namun, kesulitan itu justru dijadikan Dea sebagai batu loncatan untuk makin kuat. Ia terus memotivasi diri agar bisa mengatasi berbagai tantangan demi tantangan yang akan datang. Setiap kali perasaan bimbang muncul, ia mengingat kembali tujuan awalnya untuk mengibarkan bendera Merah Putih di kancah internasional dan membawa kabar baik bagi orang tuanya dan Indonesia. Ia juga tak lupa melakukan persiapan mental dengan rutin melaksanakan salat tahajud dan memohon restu dari orang tua sebelum pertandingan.
Bagi Dea, dukungan keluarga, terutama doa, merupakan fondasi kokoh dalam menjalani kehidupannya sebagai atlet. Ketika kemenangan datang, kabar pertama yang ia sampaikan adalah kepada kedua orang tuanya, Djohar Suharto dan Nursaida Primawestri. Setiap kemenangan ia persembahkan untuk mereka. “Saya berhasil juga bukan kerja keras saya sendiri, tetapi ada doa-doa yang selalu terucap dalam bibir orang tua,” ujar anak kedua dari tiga bersaudara itu.
Dea tidak hanya mengejar prestasi di luar kampus, tetapi juga fokus pada akademik. Menurutnya, ilmu yang didapat dari Unesa sangat berarti dan bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai atlet. Meski jadwalnya sebagai atlet cukup padat, ia selalu berusaha mengatur waktu antara kuliah dan latihan dalam mempersiapkan pertandingan. “Saya selalu berkomunikasi dengan dosen. Jika jadwal kuliah bentrok dengan latihan atau pertandingan, saya akan meminta izin dan meminta tugas pengganti,” ujar Dea.
Keinginannya untuk terus berprestasi bukanlah sekadar ambisi pribadi. Dea menyampaikan bahwa di balik prestasi yang ingin ia raih, ia selalu berusaha untuk tetap rendah hati. Ia berkomitmen menjadi atlet yang amanah, tidak pernah merasa sombong atas setiap pencapaiannya. Bagi Dea, penghargaan dan medali yang ia peroleh bukan hanya soal kebanggaan pribadi, tetapi juga bentuk tanggung jawab untuk terus membawa nama baik bangsa. “Pencapaian yang saya raih bukan untuk kesombongan, melainkan untuk menunjukkan bahwa prestasi harus dicapai dengan integritas dan penuh tanggung jawab,” imbuhnya. @TimHumas

