Dari Kecil Suka Olahraga, Didukung Penuh Keluarga

Eryk Aprya Dwycandra, Atlet Muda Atletik Potensial

Kecintaannya terhadap olahraga sudah tumbuh sejak kecil. Kala itu, dia sudah suka bermain sepakbola, renang, sebelum akhirnya fokus pada dunia atletik. Dialah Eryk Aprya Dwycandra, mahasiswa Prodi S-1 Pendidikan Kepelatihan Olahraga (PKO), Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) Unesa yang juga atlet cabor atletik.

Pemuda asal Kabupaten Kediri ini adalah salah satu atlet muda berbakat yang telah menorehkan berbagai prestasi gemilang meski usianya masih belia. Di balik senyum ramahnya, tersimpan kisah inspiratif tentang perjuangan, pengorbanan, dan semangat pantang menyerah.

Pemilik nama panggilan Eryk atau biasa juga dipanggil Paimo tumbuh sebagai anak yang aktif dan penuh semangat. Anak pertama dari dua bersaudara pasangan Ponidi dan Wiwik Widayati ini dibesarkan dalam keluarga yang sangat mendukung keinginan dan usaha dari anak-anaknya. Mereka selalu memberikan dukungan penuh terhadap apa pun yang menjadi minat Eryk di bidang olahraga.

Minat dan bakat Eryk pada dunia olahraga sudah tampak sejak usia sekolah dasar di SDN Puncu 2. Kemampuan olahraganya semakin terasah saat bersekolah di SMPN 3 Pare. Dan, saat melanjutkan sekolah menengah atas, ia semakin fokus pada bidang olahrga dengan masuk di SMAN Olahraga Jawa Timur, sebuah sekolah yang fokus pada pembinaan siswa dengan bakat olahraga. “Dari kecil, saya suka olahraga. Mulai dari sepak bola, renang, sampai akhirnya fokus ke atletik,” ujar Eryk.

Bukan hanya sekadar aktif, Eryk juga berhasil membuktikan dirinya sebagai salah satu atlet muda potensial di dunia atletik. Momen penting baginya adalah saat berhasil meraih juara 2 di nomor estafet 4×100 meter pada Jateng Open dan turut berlaga di PON XXI di Aceh-Sumut pada nomor 100 meter dan estafet 4×100 meter.

Selain itu, prestasi yang paling membekas dalam ingatannya adalah saat berhasil meraih dua medali emas di kategori junior padfa Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Atletik. Hal itu menjadi pengalaman yang sangat berkesan. Sebab, ia merasa semua kerja keras dan latihan yang dijalani benar-benar terbayar lunas.

Perjalanan Eryk untuk menjadi atlet berprestasi tidaklah mudah. Tantangan besar datang saat dia mengalami patah tulang jari kaki tujuh bulan sebelum PON XXI Aceh-Sumut. Insiden itu terjadi saat dia sedang menjalani training camp bersama Puslatda. Ia harus menjalani operasi di Solo. Bahkan, orang tuanya tidak tahu kalau ia dioperasi karena jarak yang jauh.

Bersama pelatih dan seniornya, ia menjalani operasi pemasangan pen di jari kakinya. Setelah operasi, ia membutuhkan waktu tiga bulan untuk memulihkan diri. Meski demikian, Eryk tidak menyerah begitu saja. Ia tetap menjalani latihan ringan, seperti gym untuk memperkuat otot tubuh bagian atas, meski harus absen dari latihan lari. Motivasi terbesarnya waktu itu adalah PON. Ia sudah lolos di Pra-PON, dan ini adalah kesempatan pertamanya. “Saya tidak ingin menyerah begitu saja,” ungkapnya.

Dukungan dari para senior, pelatih, dan teman-temannya menjadi pendorong terbesar Eryk untuk bangkit. Perlahan tapi pasti, ia kembali ke kondisi terbaiknya dan siap bertanding di PON.

Seimbangkan Prestasi dan Akademik

Walaupun sudah memiliki prestasi yang gemilang, Eryk tetap memperhatikan akademiknya dengan melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi sebagai mahasiswa Unesa. Sebagai seorang atlet dan mahasiswa, Eryk memiliki tantangan tersendiri dalam mengatur waktu antara kuliah dan latihan. Namun, dia merasa beruntung karena pihak kampus memberikan dukungan penuh terhadap mahasiswa yang juga berprofesi sebagai atlet. “Biasanya, kalau ada lomba, kampus memberikan keringanan berupa dispensasi. Dosen juga sering memberi tugas khusus agar saya bisa fokus latihan,” jelasnya.

Selain itu, ia sangat menjaga pola tidur dan konsumsi makanan bergizi. Dia yakin dengan menjaga pola makan dan asupan yang bergizi dapat meningkatkan kekuatan fisiknya agar dapat bertanding dengan kemampuan yang maksimal. “Menjaga pola hidup sehat itu wajib. Ini adalah salah satu kunci untuk mencapai performa terbaik,” tambahnya.

Eryk mengaku bahwa keberhasilannya tidak lepas dari dukungan orang-orang di sekitarnya. Orang tua, pelatih, senior, hingga teman-temannya selalu memberikan motivasi saat ia merasa lelah atau hampir menyerah.

“Doa dari orang tua adalah yang paling penting. Selain itu, senior dan pelatih juga selalu membantu saya untuk bangkit. Mereka yang membuat saya terus percaya diri dan yakin bahwa saya bisa melakukannya,” tuturnya.

Setelah lulus kuliah, Eryk memiliki impian besar untuk menjadi pelatih atletik dan mengabdikan dirinya di tanah kelahirannya, Kabupaten Kediri. Dia ingin menjadi bagian dari Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) di daerahnya dan membantu mencetak atlet-atlet muda yang berprestasi.

“Saya ingin berkontribusi untuk perkembangan olahraga di Kediri. Semoga saya bisa membantu adik-adik yang punya bakat di atletik agar bisa berkembang seperti saya,” katanya penuh semangat.

Bagi adik-adik kelas atau generasi muda yang ingin berprestasi di dunia olahraga, Eryk memiliki pesan yang sederhana namun penuh makna. “Tetap konsisten dengan latihan, jangan pernah cepat puas, dan jangan sombong kalau sudah juara. Ingat, di atas langit masih ada langit. Terus belajar dan rendah hati,” pungkasnya. @TimHumasUnesa

en_USEN