Bed Otomatis untuk Perawatan Pasien

Dzulkiflih, SSi MT, Dr Agung Prijo Budijono, ST MT, Ir Fendi Achmad, SPd MPd dan dua mahasiswa dari S1 Teknik Mesin Unesa.

Peneliti Unesa terus melakukan inovasi yang berdampak. Salah satunya, yang sedang dikembangkan untuk hilirisasi dan komersialisasi adalah bed atau ranjang otomomatis untuk mempermudah perawatan pasien. Penelitian itu berjudul Hilirisasi dan Komersialisasi Automatic Patient Bed (AP-Bed) sebagai Solusi Mudah Perawatan Pasien yang digawangi oleh Dzulkiflih, SSi MT (ketua), Dr Agung Prijo Budijono, ST MT, Ir Fendi Achmad, SPd MPd dan dua mahasiswa dari S1 Teknik Mesin Unesa.

Menurut Dzulkiflih, Automatic Patient Bed (AP-Bed) merupakan penelitian terapan yang berorientasi pada technology readiness dan market readiness. Selain merancang kemudahan ranjang pasien, juga memastikan inovasi siap diproduksi secara konsisten, bermutu, dan layak secara komersil. “Program ini dibangun melalui tujuh tahapan utama,” ujar dosen S1 Fisika Unesa tersebut.

Ketujuh tahapan utama itu adalah perancangan teknis (shop drawing) dan validasi desain, proses manufaktur dan perakitan (assembly) dengan kontrol mutu, pengujian performa dan keselamatan operasional, evaluasi–revisi berbasis hasil uji, penyusunan dokumen penggunaan dan pemeliharaan, penyiapan sistem manajemen mutu dan) penguatan komersialisasi melalui branding, strategi bisnis, dan jejaring mitra.

Dzulkiflih melanjutkan, pasien dengan keterbatasan mobilitas membutuhkan perubahan posisi tubuh secara berkala untuk kenyamanan, keselamatan, dan pemulihan. Saat ini, fasilitas kesehatan masih banyak mengandalkan tenaga manual para perawat atau pendamping untuk melakukan perubahan posisi pada pasien. “AP-Bed dikembangkan sebagai solusi untuk menyederhanakan pekerjaan perawatan, meningkatkan patient comfort, dan mengurangi risiko komplikasi seperti pressure injury (luka tekan/dekubitus) melalui perubahan posisi yang lebih mudah dan teratur,” terangnya.

Keuntungan lainnya, dari segi klinis, AP-Bed memfasilitasi reposisi yang lebih aman dan praktis bagi pasien bedridden (mobilitas terbatas) yang rentan luka tekan dan gangguan sirkulasi bila terlalu lama berada di posisi yang sama. Sementara itu, dari segi layanan, produk ini mempermudah prosedur perawatan di rumah sakit, khususnya bagi rumah sakit yang memiliki keterbatasan tenaga kesehatan. Kemudian, dari segi sosial ekonomi, AP-Bed menjadi produk alat kesehatan dalam negeri yang fungsional dan kompetitif dengan produk luar negeri.

Dibandingkan dengan produk serupa, kata Dzulkiflih, AP-Bed memiliki berbagai keunggulan. Di antaranya, fungsionalitas multi-posisi (multi-motion) yang memungkinkan berbagai pengaturan posisi untuk perawatan (duduk, kaki, kemiringan sisi), kontrol nirkabel (wireless) untuk meningkatkan kemudahan operasional dan mengurangi ketergantungan pada pengaturan manual, dilengkapi fitur pendukung perawatan seperti toilet portable, varian desain yang dapat menyesuaikan kebutuhan layanan dan ergonomi tenaga medis. “AP-Bed dirancang tidak hanya bergerak, tetapi bergerak sesuai kebutuhan klinis” ungkapnya.

Dengan berbagai keunggulan itu, Dzulkiflih optimis AP-Bed memiliki potensi besar di pangsa pasar alat kesehatan karena selaras dengan besarnya kebutuhan ranjang pasien di berbagai lintas fasilitas baik rumah sakit, klinik, puskesmas, ruang perawatan, hingga layanan rehabilitas. Target pengguna produk bisa menyasar pada pasien dengan mobilitas terbatas seperti pascaoperasi, stroke, orthopedi, dan lansia, tenaga medis/perawat, dan pendamping pasien.

Memiliki Teknologi Andalan

AP-Bed memiliki teknologi andalan yaitu kombinasi aktuator listrik (motor linier) dan sistem kontrol elektronik. Cara kerja produk ini, terang Dzulkiflih adalah remote mengirim perintah, receiver/kontrol elektronik memproses sinyal, motor linier menggerakkan mekanisme rangka bed pada titik tertentu, bed berubah posisi sesuai mode yang dipilih. “Pendekatan ini dipilih karena presisi gerak lebih baik, lebih stabil, dan dapat dibuat lebih mudah dipelihara dibandingkan dengan sistem manual,” bebernya.

Pada tahap hilirisasi, kata Dzulkiflih, aspek penting adalah memastikan kontrol tersebut robust dan aman yakni ada batasan gerak, kestabilan rangka, dan konsistensi performa antarunit. Teknologi yang canggih dalam produk ini, sudah melewati berbagai proses yang tidak mudah. Umumnya, proses pembuatan meliputi perancangan desain mekanik dan sistem control, pemilihan material rangka dan komponen, fabrikasi rangka, perakitan aktuator dan sistem elektronik, quality control, uji performa dan evaluasi-revisi, dan penyusunan manual penggunaan/pemeliharaan serta  penguatan dokumen mutu.

Dzulkiflih mengatakan, AP-Bed mendapatkan respon positif dan konstruktif, terutama dari sudut pandang pengguna layanan kesehatan. Mereka menilai AP-Bed memiliki berbagai nilai lebih seperti pengoperasian lebih mudah, fitur perawatan lebih lengkap, dan aspek purna jual. Selain itu, AP-Bed sudah melalui uji performa dan uji fungsional serta sudah melewat proses sertifikasi dan sistem manajemen mutu sebagai agenda penting menuju komersialisasi. “Hilirasasi menjadi langkah penting dalam memastikan nilai guna dan nilai keberlanjutan,” tandasnya.

Hal menarik juga ditemukan dalam proses pembuatan produk ini. Menurut Dzulkiflih, penelitian ini bersifat end-to-end dari desain hingga aspek komersialisasi. Selain itu, adanya keterlibatan mahasiswa dalam proses industri memberi dampak dalam melatih kemampuan dan pendidikan yang kuat, sehingga mahasiswa tidak memahami teori semata, namun merasakan proses nyata Desain-Produksi-Uji. Dalam proses pembuatan AP-Bed, tambahnya, tim Unesa juga bekerja sama dengan mitra industri. Penelitian dilakukan di dua tempat yaitu lingkungan perguruan tinggi, dan lingkungan mitra industri sepanjang tahun 2023. Mitra industri berperan menjalankan proses manufaktur, perakitan, kontrol kualitas, dan kesiapan produksi. Hilirisasi dan Komersialisasi Automatic Patient Bed (AP-Bed) sebagai Solusi Mudah Perawatan Pasien, merupakan program Matching Fund Kedaireka, yang memang dirancang untuk memperkuat link and match antara perguruan tinggi dan industri melalui hilirisasi inovasi. @TimHumas

en_USEN