Perangkat Portabel Literasi Numerasi Berbasis Sel Surya untuk Siswa Berkebutuhan Khusus

Ketua Peneliti, Dr Nia Wahyu Damayanti MPd

Terdorong kepedulian melihat kemampuan literasi dan numerasi siswa berkebutuhan khusus di Indonesia masih rendah, tim peneliti Unesa menghadirkan penelitian berjudul Perangkat Portabel Literasi Numerasi Berbasis Sel Surya untuk Siswa Berkebutuhan Khusus.

Tim peneliti yang terdiri atas Dr Nia Wahyu Damayanti MPd (Ketua), Pradini Puspitaningayu PhD (anggota) dan Hendra Saputra Pratama AMdM (anggota) mengembangkan perangkat pembelajaran yang portable, adaptif, dan menggunakan energi ramah lingkungan yaitu Sel Surya. Penggunaan energi surya dipilih agar dapat digunakan secara fleksibel di berbagai kondisi dan wilayah sekolah.

Ketua Tim Peneliti, Nia Wahyu menjelaskan bahwa perangkat ini dirancang dengan bentuk koper portable yang berisi panel surya, tombol huruf, angka timbul, sistem audio, dan layar visual. Melalui perangkat ini, siswa dapat dengan mudah belajar huruf, angka, dan operasi matematika dasar melalui pendekatan multisensory (visual, audio, dan taktil).

“Alat ini menyasar siswa berkebutuhan khusus dengan hambatan tertentu seperti hambatan penglihatan, hambatan pendengaran, hambatan intelektual, dan autis. Setiap kategori hambatan memiliki karakteristik yang berbeda,” terang Nia Wahyu.

Nia Wahyu mengungkapkan bahwa perangkat ini menyediakan beberapa mode pembelajaran yang sudah disesuaikan seperti mode visual untuk tunarungu, mode audio untuk tunanetra, dan mode sederhana untuk tunagrahita. Selain itu, perangkat ini memiliki keunggulan dibandingkan dengan perangkat serupa, seperti lebih hemat energi, portable dan mudah dipindahkan, memiliki sistem multisensory (visual, audio, braille), dapat digunakan di berbagai kategori siswa berkebutuhan khusus dan desainnya sederhana.

Tidak hanya itu, perangkat yang dirancang dengan bentuk koper tersebut memiliki tombol yang cukup dengan jarak tombol yang jelas sehingga memudahkan siswa dengan hambatan motorik. Selain itu, huruf dan angka yang dibuat timbul memudahkan siswa dengan hambatan penglihatan untuk meraba setiap huruf dan angka.

“Dari segi ketahanan daya, Perangkat Portabel Literasi Numerasi Berbasis Sel Suryayang memanfaatkan panel surya mampu mengisi daya di manapun, bahkan ketika cahaya matahari tengah rendah. Hal tersebut dikarenakan perangkat ini dilengkapi dengan sistem penyimpanan daya pada baterai,” jelasnya.

Nia Wahyu mengatakan, perangkat ini penting sebagai upaya mendukung siswa berkebutuhan khusus agar dapat memeperoleh akses belajar yang setara dan mengembangkan teknologi pendidikan ramah lingkungan. “Perangkat ini merupakan bentuk penyempurnaan dari perangkat penelitian yang sebelumnya yaitu penelitian program Riset Keilmuan Mandiri yang didanai oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP),” ujarnya.

Potensi Besar Komersialiasi

Perangkat Portabel Literasi Numerasi Berbasis Sel Surya memiliki potensi besar dalam ranah komersialisasi. Sebab, jumlah siswa berkebutuhan khusus di Indonesia mencapai jutaan anak dan tersebar di berbagai daerah sehingga dapat dimanfaatkan Sekolah Luar Biasa (SLB), Sekolah inklusi, pusat terapi maupun orang tua yang mendampingin anak belajar di rumah. Selain itu, perangkat ini dirancang dengan komponen sederhana, sehingga dapat menekan biaya produksi.

Respon yang diberikan siswa dan guru menjadi hal menarik bagi tim peneliti Unesa. Menurut Nia Wahyu, perangkat ini berhasil menarik respon positif masyarakat, khususnya guru SLB. Para guru SLB menyatakan bahwa perangkat ini membantu menjelaskan konsep huruf dan angka secara lebih konkret. Para siswa juga menunjukkan ketertarikan karena perangkat yang mampu memberikan umpan balik visual dan audio secara langsung.

Sistem kerja produk ini, kata Nia Wahyu, cukup sederhana. Pertama, panel surya akan mengisi daya baterai perangkat. Kemudian, siswa dapat menekan tombol huruf atau angka. Dengan cepat, perangkat akan memberikan respon berupa tampilan visual pada layar dan suara melalui speaker. Dengan mode pembelajaran tertentu yang sudah disesuaikan mengikuti hambatan dan karakteristik, siswa dapat melakukan latihan penjumlahan secara sederhana.

“Untuk memudahkan pembelajaran, para guru diberikan orientasi singkat terkait cara pengoperasian perangkat. Mereka diajarkan untuk memilih mode pembelajaran, penggunaan tombol serta strategi dalam mengintegrasikan perangkat dalam kegiatan pembelajaran,” ungkap Dosen S1 Pendidikan Matematika Unesa itu.

Penelitian ini berlangsung enam bulan (Juli – Desember 2025) di SLB Starkids Jember, SLB Muhammadiyah Jombang, dan SLB Sinar Harapan 1 Probolinggo. Selama penelitian, banyak tantangan yang dihadapi, di antaranya menyesuaikan desain perangkat dengan berbagai karakteristik disabilitass, proses uji coba di beberapa sekolah, dan memastikan perangkat aman serta mudah digunakan.

Nia Wahyu menjelaskan akan mengembangkan perangkat ini dan menambahkan beberapa fitur, seperti aplikasi pendamping berbasis android, sistem pencatatan perkembangan belajar siswa, peningkatan jumlah materi pembelajaran, dan variasi media pembelajaran bagi siswa berkebutuhan khusus. “Selain itu, kami juga merencanakan melakukan hilirisasi produk ke dunia pendidikan,” bebernya.

Untuk penyempurnaan dan pengembangan, tim peneliti Unesa menyadari perlu perbaikan. Di antaranya penambahan indikator daya baterai, meningkatkan fungsi perangkat yang khusus untuk pembelajaran siswa hambatan penglihatan, dan menambah variasi materi pembelajaran. Saat ini, perangkat ini telah digunakan untuk kegiatan uji coba di beberapa SLB di Jawa Timur. Selain itu, juga sudah mengikuti pameran inovasi di Unesa pada 2025.

Nia Wahyu dan Tim menyadari bahawa keberhasilan produk ini tidak terlepas dari kerja keras dan dukungan berbagai pihak. Salah satunya dari Universitas Negeri Surabaya yang memberikan fasilitas penelitian, kolaborasi akademik, dan dukungan pengembangan inovasi. “Kami berharap perangkat ini dapat menjadi media pembelajaran inklusif yang membantu meningkatkan literasi dan numerasi siswa berkebutuhan khusus di Indonesia,” pungkasnya. @TimHumas

en_USEN