20.340 Peserta Ikuti UTBK 2026 di Unesa

Laporan Utama

Universitas Negeri Surabaya kembali dipercaya sebagai pusat penyelenggara Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026. Total sebanyak 20.340 peserta dari berbagai daerah menjalani UTBK di kampus “Rumah Para Juara” itu selama 10 hari, mulai 21 hingga 30 April 2026.

Kepala Subdirektorat Admisi Unesa, Dr Sukarmin MPd menjelaskan bahwa seluruh aspek teknis dan operasional telah dipersiapkan dengan standar keamanan tinggi. Unesa telah melakukan mitigasi risiko secara menyeluruh, mulai dari kesiapan perangkat hingga koordinasi lintas sektoral demi menjamin kenyamanan dan keamanan peserta.

Untuk menampung total 19 sesi ujian, Unesa menyiagakan 31 ruang ujian yang tersebar di dua kampus utama, yakni Kampus 1 Ketintang berlokasi di Fakultas Teknik (FT), FMIPA, Fisipol, Fakultas Vokasi (FV), dan FEB. Kemudian, Kampus 2 Lidah Wetan berlokasi di Gedung Rektorat, FBS, Fakultas Kedokteran (FK), dan Fakultas Psikologi (FPsi).

Dari sisi infrastruktur digital, Unesa telah menyiapkan sebanyak 1.075 unit komputer utama dan 147 unit komputer cadangan. Kelancaran sistem juga didukung oleh delapan server yang disiagakan penuh untuk mengantisipasi beban trafik selama ujian berlangsung.

Unesa juga menerapkan sistem keamanan berlapis untuk suplai energi dan internet. Bekerja sama dengan PLN, Unesa telah menyiapkan tiga jalur cadangan listrik serta melakukan pengecekan trafo secara berkala. Hal serupa dilakukan di sektor jaringan internet, di mana Telkomnet dan Biznet menjamin kestabilan koneksi dengan dukungan tiga jalur cadangan (backup line).

“Kami juga berkoordinasi dengan kepolisian untuk memastikan kelancaran lalu lintas di sekitar area kampus agar peserta tidak terkendala saat menuju lokasi ujian,” jelas Sukarmin.

Mengingat UTBK mencakup Tes Potensi Skolastik (TPS) dan Tes Literasi, Sukarmin mengimbau peserta untuk mempersiapkan diri, menjaga stamina fisik dan mental. Ia mengingatkan pentingnya penguasaan penalaran matematika serta literasi bahasa (Indonesia dan Inggris).

“Pahami jenis soal, rutin mengikuti simulasi, dan yang terpenting: cek lokasi ujian sehari sebelumnya. Datanglah lebih awal dan pastikan sudah sarapan agar konsentrasi tetap terjaga,” pesannya.

Dengan persiapan matang yang menyentuh aspek terkecil, Unesa optimistis dapat menyelenggarakan UTBK-SNBT 2026 dengan pelayanan yang inklusif, transparan, dan akuntabel bagi seluruh calon mahasiswa Indonesia.

Posisi Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dalam peta persaingan perguruan tinggi negeri semakin menguat. Pada Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026, kampus yang dikenal dengan sebutan “Rumah Para Juara” ini menempati peringkat kedua nasional sebagai perguruan tinggi negeri dengan jumlah peminat terbanyak.

Sebanyak 53.237 pendaftar tercatat memilih Unesa sebagai tujuan studi, meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di angka 44.204 pendaftar.

Kepala Subdirektorat Admisi Unesa, Sukarmin, melihat lonjakan tersebut sebagai cerminan perubahan kepercayaan masyarakat terhadap institusi. Menurutnya, angka bukan sekadar statistik tahunan, melainkan representasi dari persepsi publik yang terus berkembang.

“Ketika jumlah peminat meningkat, itu artinya ada ekspektasi yang juga ikut naik. Ini menjadi tanggung jawab bagi kami untuk memastikan kualitas yang diberikan sejalan dengan kepercayaan tersebut,” ujarnya.

Di balik angka puluhan ribu pendaftar, terdapat dinamika persaingan yang semakin ketat, terutama pada program studi tertentu. Tahun ini, perhatian tertuju pada dua program studi di bidang kesehatan yang masuk dalam jajaran paling kompetitif secara nasional.

Program S1 Keperawatan mencatatkan 1.693 pendaftar untuk kuota hanya 10 kursi, dengan keketatan 0,59% merupakan prodi paling ketat se Indonesia pada SNBP 2026 ini. Sementara itu, S1 Fisioterapi diminati oleh 1.010 peserta yang memperebutkan 12 kursi dengan keketatan 1,19% merupakan prodi dengan urutan 8 terketat se Indonesia.

Menurut dosen Fakultas Ilmu Matematika dan Pengetahuan Alam (FMIPA), kenaikan tersebut memperlihatkan pergeseran preferensi calon mahasiswa yang semakin berani menentukan pilihan pada bidang dengan prospek kuat, meskipun tingkat persaingannya tinggi.

“Fenomena ini sekaligus menjadi tantangan bagi kami untuk terus menjaga kualitas pembelajaran dan kesiapan lulusan,” ujarnya.

Di tengah tingginya minat melalui jalur reguler, Unesa juga memperkuat perannya dalam menjaring talenta unggul melalui jalur Golden SNBP. Jalur ini menjadi ruang khusus bagi siswa dengan capaian prestasi yang menonjol di tingkat nasional maupun internasional.

Dari total 1.577 pendaftar, hanya 25 peserta yang dinyatakan lolos setelah melalui proses seleksi yang ketat.

Para peserta tersebut berasal dari berbagai daerah dan latar belakang sekolah yang beragam. Mereka tersebar di 13 program studi dan membawa rekam jejak prestasi di bidang akademik, olahraga, seni, hingga keagamaan. Keberagaman ini mencerminkan pendekatan Unesa yang tidak hanya berfokus pada satu jenis keunggulan, tetapi membuka ruang bagi potensi multidimensi.

Sukarmin menegaskan bahwa proses seleksi jalur Golden SNBP tidak hanya melihat kuantitas prestasi, tetapi juga menitikberatkan pada validitas dan kualitas capaian. Verifikasi dilakukan secara menyeluruh terhadap sertifikat kejuaraan dari lembaga resmi, baik di tingkat nasional maupun internasional.

“Banyak peserta datang dengan prestasi yang sangat baik. Namun, kami harus memastikan bahwa yang diterima benar-benar memiliki kualitas yang bisa dikembangkan lebih jauh. Seleksi ini menjadi tahap awal pembinaan,” jelasnya.

Mahasiswa yang diterima melalui jalur ini mendapatkan dukungan penuh dari kampus, termasuk pembebasan biaya pendidikan selama delapan semester. Tidak berhenti di situ, mereka juga akan mengikuti program pembinaan berkelanjutan yang dirancang untuk mengasah potensi sekaligus menjaga konsistensi prestasi selama masa studi.

Bagi Sukarmin, skema ini merupakan bagian dari investasi jangka panjang Unesa dalam membangun ekosistem talenta unggul. Ia menilai bahwa keberhasilan perguruan tinggi tidak hanya diukur dari jumlah mahasiswa yang diterima, tetapi juga dari bagaimana institusi mampu mengembangkan potensi mereka secara berkelanjutan.

“Jalur ini bukan hanya soal siapa yang lolos, tetapi bagaimana mereka kemudian dibina. Kami ingin memastikan bahwa talenta yang masuk benar-benar tumbuh dan memberikan dampak,” ujarnya.

Iseng Ikut Robotik Berbuah Prestasi, Amelia Suryani Lolos Golden SNBP Unesa dengan Capaian Internasional

Di balik capaian gemilang yang diraih Amelia Suryani Putri, tersimpan kisah sederhana tentang rasa ingin tahu yang tumbuh sejak bangku sekolah. Gadis yang akrab disapa Amel ini tak pernah menyangka, ketertarikannya pada robotik saat duduk di kelas X MAN 1 Madiun akan membawanya melangkah hingga panggung internasional sekaligus mengantarkannya menjadi salah satu penerima Golden SNBP Unesa 2026.

Perempuan kelahiran Madiun, 26 Maret 2007 ini merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Ia tumbuh di tengah keluarga sederhana, dengan ayah yang bekerja sebagai wiraswasta dan ibu sebagai ibu rumah tangga. Dukungan orang tua menjadi salah satu kekuatan terbesar dalam perjalanannya meraih mimpi.

Awal ketertarikannya pada dunia robotik bermula dari rasa penasaran: bagaimana sebuah robot bisa dibuat dan diprogram oleh manusia. Rasa ingin tahu itu kemudian menemukan jalannya saat sekolah menyediakan ekstrakurikuler robotik. Tanpa ragu, Amel bergabung menekuninya. Dari situlah, ketertarikan itu berkembang menjadi keseriusan yang mengantarkannya pada berbagai prestasi.

“Awalnya saya iseng ikut-ikut karena ingin tahu, meskipun robotik sering dianggap identik dengan laki-laki. Tapi ternyata robotik itu menantang sekaligus menyenangkan. Dari situ saya merasa ingin terus belajar dan mendalaminya,” ungkapnya.

Perjalanan putri dari Mujiono dan Siti ini ditempa melalui latihan yang konsisten melalui ekstrakurikuler yang ada di sekolahnya, menghadapi berbagai kegagalan, dan terus belajar dari setiap proses. Hasilnya, sederet prestasi berhasil ia torehkan.

Tak hanya di bidang robotik, Amel juga menunjukkan kemampuannya di berbagai bidang lain mulai dari meraih medali emas Olimpiade Biologi tingkat nasional hingga medali perunggu dalam lomba paduan suara tingkat nasional.

Namun, satu momen yang paling membekas adalah ketika ia berhasil meraih juara 1 dalam kompetisi robotik tingkat internasional di Singapura pada tahun 2023. Bagi Amel, pencapaian itu bukan sekadar kemenangan, melainkan bukti dari kerja keras, kedisiplinan, dan kekuatan kerja tim.

Di balik kesuksesannya, ada sosok guru pembimbing robotik yang berperan besar dalam membentuk perjalanan prestasinya. Dengan bimbingan yang sabar dan penuh semangat, Amel terus berkembang hingga mampu bersaing di tingkat global. Tak lupa, dukungan orang tua yang tak pernah putus menjadi fondasi kuat yang mengantarkannya hingga titik ini.

Kesempatan emas datang ketika Amel menemukan informasi tentang Golden SNBP Unesa melalui media sosial. Program yang menawarkan pembebasan UKT hingga delapan semester serta pembinaan prestasi bagi mahasiswa terpilih itu langsung menarik perhatiannya. Tanpa ragu, ia pun memanfaatkan peluang tersebut dengan sebaik mungkin.

“Saya merasa senang sekali, bersyukur, dan juga lega. Golden SNBP ini sangat bermakna dalam perjalanan hidup saya. Bukan hanya membantu secara finansial, tetapi juga menjadi motivasi untuk terus berprestasi dan mengembangkan potensi diri,” tutur Amel yang lolos di Prodi S1- Teknik Elektro.

Pilihan Amel pada S1 Teknik Elektro selaras dengan minat besarnya di bidang listrik dan teknologi. Ia ingin mendalami ilmu tersebut untuk berkontribusi pada inovasi teknologi di Indonesia, khususnya dalam pengembangan robotik.

Bukan tanpa alasan, Amel memilih Unesa sebagai tempat menimba ilmu. Julukan sebagai “Kampus Para Juara” menjadi daya tarik tersendiri baginya. Ia melihat banyak mahasiswa Unesa yang mampu berprestasi di berbagai bidang baik nasional maupun internasional, dan itu semakin menguatkan tekadnya untuk menjadi bagian dari mereka—mahasiswa berprestasi.

Ke depan, ia ingin meraih prestasi akademik yang tinggi, aktif dalam organisasi, serta terus mengembangkan kemampuannya di bidang robotik. Rencananya, ia akan bergabung dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) robotik dan mengikuti berbagai kompetisi, baik di tingkat nasional maupun internasional.

“Ke depannya, saya ingin terus belajar dan tidak berpuas diri, mengasah kemampuan, dan ikut berkompetisi. Saya ingin membawa prestasi yang lebih besar lagi,” ujarnya penuh semangat.

Gavin Kenzi Arie Putra, S1 Pendidikan Kepelatihan Olahraga, FIKK Unesa. Tekun Berlatih, Atlet Muaythai Asal Sidoarjo Ini Lolos Golden SNBP Unesa

Di balik ketangguhan seorang atlet di atas ring, selalu ada cerita panjang tentang proses, disiplin, dan pengorbanan. Hal itulah yang tergambar dari sosok Gavin Kenzi Arie Putra, atlet muda berbakat asal Sidoarjo yang berhasil lolos sebagai penerima Golden SNBP Unesa 2026.

Remaja yang akrab disapa Gavin atau Sinyo oleh teman-temannya ini sudah menunjukkan ketertarikan pada dunia olahraga sejak duduk di bangku kelas 6 Sekolah Dasar (SD). Namun, perjalanannya tidak langsung mengarah pada muaythai. Ia sempat menekuni bela diri wushu sanda, sebelum akhirnya menyadari bahwa olahraga tersebut kurang sesuai dengan dirinya.

“Sebelum menekuni muaythai, saya sempat mengikuti bela diri wushu sanda. Namun, saya merasa kurang cocok. Hingga akhirnya, seorang pelatih di Surabaya melihat potensi saya dan menyarankan untuk beralih ke muaythai,” ceritanya.

Pria kelahiran 11 Agustus 2009 ini tak membutuhkan waktu lama untuk menunjukkan potensinya. Pada pertandingan pertamanya di cabang olahraga muaythai, ia langsung berhasil meraih juara 1 tingkat provinsi, sekaligus memperkuat keyakinannya untuk menekuni olahraga tersebut secara serius.

Perjalanan Gavin sebagai atlet tidak selalu mudah. Bagi siswa SMAN 1 Krian ini, tantangan terbesar justru bukan terletak pada kerasnya latihan atau lawannya di atas ring, melainkan pada bagaimana ia menjaga kedisiplinan dalam berlatih. Ia meyakini bahwa konsistensi dan kedisiplinan menjadi kunci utama untuk meraih kemenangan.

“Tantangan terbesar itu ada dalam diri sendiri yakni disiplin dan konsisten. Tapi saya percaya, kalau saya disiplin, saya pasti bisa menang,” ujarnya mantap.

Di tengah kesibukan sebagai pelajar, Gavin memiliki cara tersendiri untuk menjaga keseimbangan antara akademik dan olahraga. Ia membiasakan diri menyelesaikan seluruh tugas sekolah lebih awal, sehingga dapat menjalani latihan dengan fokus dan tanpa beban pikiran terhadap pekerjaan akademik yang belum terselesaikan.

Latihan yang dijalani pria yang memiliki hobi mancing ini pun tidak ringan. Ia harus menempuh perjalanan dari Balongbendo, Sidoarjo ke Gunungsari, Surabaya hampir setiap hari demi berlatih. Perjuangan itu terbayar saat ia berhasil meraih juara pada ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur IX 2025 di Malang. Momen tersebut menjadi salah satu yang paling berkesan, terlebih karena saat itu ia masih berusia 15 tahun dan mampu bersaing bahkan mengalahkan lawan-lawan yang berusia 20 hingga 23 tahun.

Kerja keras dan kedisiplinan yang dijalani Gavin berbuah manis melalui sederet prestasi membanggakan di bidang muaythai. Terbaru, ia berhasil meraih Juara 1 kelas 71 Kg putra pada ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur IX 2025 di Malang. Selain itu, ia juga menorehkan prestasi di tingkat nasional dengan meraih Juara 3 Kejuaraan Nasional Muaythai Indonesia 2025. Konsistensinya juga terlihat dari berbagai gelar juara di sejumlah kejuaraan, seperti Walikota Cup Surabaya, SLC Cup, hingga Kejurprov Liga 1 Muaythai Jawa Timur 2026.

Di balik pencapaiannya, ada sosok keluarga yang menjadi sumber kekuatan terbesar. Bagi putra dari Arie Wahyu Kurniawan dan Sudarmani ini, ibunya adalah sosok paling berpengaruh dalam perjalanan kariernya di dunia muaythai.

“Mama saya yang selalu mengurus semuanya, dari administrasi sampai kebutuhan saya. Mama juga yang selalu kasih semangat, bahkan saat saya kalah. Semua kemenangan saya persembahkan untuk orang tua,” ungkapnya.

Selain itu, dukungan dari ayah dan kakaknya juga menjadi penyemangat tersendiri. Ayahnya setia mengantar latihan meski lelah setelah bekerja, sementara sang kakak yang kini menjadi pelatih muaythai di Bali terus memberikan motivasi dari kejauhan.

Langkah Gavin semakin mantap ketika ia mengetahui program Golden SNBP Unesa dari kakak tingkat dan rekan latihannya. Ia merasa kriteria yang dibutuhkan sesuai dengan dirinya, sehingga semakin yakin untuk mencoba. Keyakinan tersebut pun terbayar ketika ia dinyatakan lolos seleksi dan keterima di prodi S1 Pendidikan Kepelatihan Olahraga (PKO). Rasa syukur dan bangga langsung ia rasakan, bahkan ia segera membagikan kabar tersebut kepada orang tua yang turut merasakan kebanggaan atas pencapaiannya.

Gavin, anak kedua dari dua bersaudara ini memilih Prodi Pendidikan Kepelatihan Olahraga (PKO) bukan hanya karena selaras dengan cita-citanya, tetapi juga karena ia melihat lingkungan yang mendukung perkembangan atlet di dalamnya. Ia menilai Unesa, khususnya di bidang keolahragaan, memiliki banyak atlet berprestasi hingga tingkat nasional, sehingga semakin menguatkan keyakinannya untuk berkembang dan meraih prestasi di kampus tersebut.

“Unesa sangat mendukung atlet, terutama di PKO. Itu yang membuat saya yakin untuk kuliah di sini,” ujarnya.

Ke depan, Gavin memiliki target besar. Ia ingin meraih prestasi akademik dengan predikat cumlaude, sekaligus terus meningkatkan pencapaiannya di dunia olahraga. Ia bertekad untuk naik ke level yang lebih tinggi, baik nasional maupun internasional.

Lebih dari itu, ia berharap Unesa dapat terus memberikan dukungan bagi para atlet, termasuk dalam pembinaan dan kemudahan dispensasi Latihan hingga reward. Baginya, lingkungan yang suportif menjadi salah satu kunci untuk terus berkembang.

“Saya ingin jadi juara nasional dan atlet profesional yang bisa membawa nama Indonesia dan Unesa ke berbagai negara lewat muaythai,” ucapnya penuh keyakinan.

Camaba Termuda, Kasiati

Di tengah ketatnya persaingan SNBP 2026, kisah para mahasiswa baru Unesa tidak selalu tentang angka dan statistik. Di balik ribuan pendaftar, terdapat cerita-cerita personal yang mencerminkan perjuangan, pilihan hidup, dan arah masa depan yang mulai dibangun sejak usia muda.

Salah satunya datang dari Kasiati, pelajar asal Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), yang resmi menjadi mahasiswa Program Studi S1 Pendidikan Luar Biasa (PLB), Fakultas Ilmu Pendidikan. Usianya baru menginjak 15 tahun 5 bulan saat dinyatakan lolos, lebih muda dibandingkan kebanyakan mahasiswa baru pada umumnya.

Namun, bagi Kasiati, capaian tersebut bukanlah tujuan akhir. Ia justru melihatnya sebagai titik awal dari perjalanan panjang yang ingin ia dedikasikan untuk dunia pendidikan, khususnya bagi anak-anak berkebutuhan khusus.

Perjalanan belajarnya bermula dari ruang yang jauh dari kesan formal. Tanpa melalui pendidikan taman kanak-kanak, ia mengenal huruf dan angka saat menemani orang tuanya bekerja di sawah. Dari situlah proses belajar mandiri mulai terbentuk—dipandu langsung oleh orang tua, hingga akhirnya ia dinilai siap untuk masuk sekolah dasar pada usia 4,5 tahun.

Sejak saat itu, ia menjalani pendidikan secara reguler tanpa program percepatan. Konsistensi menjadi kunci yang ia pegang. Ia terbiasa merangkum materi pelajaran dan memperbanyak latihan soal untuk menjaga pemahaman. Ketekunan tersebut mengantarkannya meraih juara pertama Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar tingkat Provinsi NTB pada 2025.

Pilihan untuk menempuh Pendidikan Luar Biasa bukan keputusan yang datang tiba-tiba. Ada dorongan personal yang kuat untuk mendalami bidang yang berfokus pada pendampingan anak-anak dengan kebutuhan khusus. Baginya, pendidikan bukan hanya soal pencapaian akademik, tetapi juga tentang kebermanfaatan.

Unesa menjadi satu-satunya tujuan yang ia tetapkan sejak awal. Di tengah berbagai pilihan kampus, ia tetap teguh pada keinginannya untuk belajar di bidang yang diyakini mampu memberikan dampak nyata.

Meski demikian, perjalanan menuju bangku kuliah tidak sepenuhnya berjalan tanpa keraguan. Perbedaan usia sempat memunculkan rasa minder, terlebih saat menunggu hasil seleksi. Di fase tersebut, ia banyak bertumpu pada dukungan sang ayah, terutama setelah kepergian ibunya. Dari sanalah ia belajar untuk tetap teguh dan melangkah maju.

Kisah lain datang dari Mohammad Habibullah Zaini Yuko, remaja asal Gresik yang juga diterima di Unesa melalui jalur SNBP 2026, tepatnya pada Program Studi S-1 Teknik Sipil. Di usia 16 tahun, Yuko membawa cerita yang berbeda, tentang disiplin, lingkungan belajar, dan ketertarikan yang tumbuh dari pengamatan sederhana.

Menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Yuko terbiasa dengan ritme belajar yang terstruktur. Melalui program percepatan, ia mampu menyelesaikan jenjang pendidikannya lebih cepat. Baginya, lingkungan pesantren tidak hanya membentuk kedisiplinan, tetapi juga melatih fokus dan kemandirian.

Ketertarikannya pada Teknik Sipil berangkat dari hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ia sering memperhatikan kondisi infrastruktur di sekitarnya yang belum optimal. Dari situ muncul keinginan untuk memahami bagaimana bangunan dirancang dan diperbaiki.

Pilihan tersebut tidak berubah, meskipun sempat mendapat saran untuk mengambil bidang lain. Dukungan orang tua menjadi faktor penting yang menguatkan langkahnya. Baginya, kebebasan untuk memilih jalan sendiri adalah bentuk kepercayaan yang harus dijaga.

Di mata gurunya, Yuko dikenal sebagai sosok yang gigih dan tidak mudah menyerah. Ia tidak ragu untuk bertanya dan terus mencoba hingga benar-benar memahami materi. Sikap ini pula yang menjadi fondasi dalam perjalanan akademiknya.

Di balik capaian tersebut, kesederhanaan keluarga menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Orang tuanya menanamkan nilai bahwa keberhasilan tidak hanya diukur dari prestasi, tetapi juga dari kemampuan menjaga adab dan memberikan manfaat bagi orang lain.

Kasiati dan Yuko mungkin datang dari latar belakang yang berbeda, tetapi keduanya bertemu pada satu titik yang sama, yaitu ketekunan. Di tengah seleksi yang semakin kompetitif, kisah mereka menjadi pengingat bahwa keberhasilan tidak lahir secara instan, melainkan melalui proses panjang yang dijalani dengan konsisten.

Setiap Orang Berhak Sukses, Elsi May Nina Mahasiswa Disabilitas Lolos SNBP 2026 di Unesa

Langkah hidup tak selalu berjalan seperti yang diharapkan. Namun, bagi Elsi May Nina Ginting, keterbatasan bukanlah akhir dari segalanya. Justru dari situlah ia belajar tentang keteguhan, harapan, dan arti perjuangan. Perempuan yang akrab disapa Eci ini menjadi salah satu mahasiswa disabilitas yang berhasil lolos SNBP Unesa 2026.

Bangkit dari Keterbatasan, Menjemput Harapan

Lahir di Berastagi, Sumatera Utara 4 Mei 2002, Eci telah mengalami gangguan penglihatan sejak lahir. Kondisinya yang awalnya masih tergolong low vision perlahan memburuk hingga akhirnya ia mengalami kebutaan total di usia 9 tahun.

Ia mengaku sempat tidak menerima kondisi yang dialaminya. Kehilangan penglihatan di usia yang masih sangat muda membuatnya merasa putus asa. Namun, seiring waktu, ia mulai memahami bahwa hidup harus tetap berjalan. Dari situlah tekadnya tumbuh ia ingin membuktikan bahwa dirinya mampu menjadi sosok yang hebat melalui pendidikan ditengah keterbatasan.

Perjalanan pendidikannya pun tidak mudah. Setelah kehilangan penglihatan, Eci sempat menempuh pendidikan di SLB-A Yapentra hingga jenjang SMP. Empat tahun kemudian, ia mengambil langkah berani dengan melanjutkan pendidikan di sekolah umum, yakni SMA Negeri 2 Lubuk Pakam, sebagai siswi inklusi.

“Keputusan terbesar saya adalah saat memilih untuk melanjutkan pendidikan sebagai siswa inklusi di SMA Negeri. Itu bukan hal yang mudah, tetapi saya ingin membuktikan bahwa saya juga mampu belajar dan bersaing,” ungkapnya.

Lingkungan baru tentu menghadirkan tantangan tersendiri. Ia harus beradaptasi dalam banyak hal, mulai dari mengenali lingkungan sekolah, bersosialisasi dengan teman-teman, hingga mengikuti metode pembelajaran yang berbeda.

Dalam proses belajar, Eci memanfaatkan teknologi sebagai jembatan untuk memahami materi. Ia menggunakan ponsel dan laptop untuk mengakses berbagai sumber pembelajaran, mulai dari video, artikel, hingga rekaman penjelasan guru.

Ketekunan dan kerja kerasnya pun membuahkan hasil. Perempuan yang memiliki hobi bernyanyi dan memasak ini berhasil menjadi salah satu siswa eligible dan lolos SNBP 2026 di Unesa.

“Benar kata pepatah, perjuangan tidak akan mengkhianati hasil. Saya bersyukur bisa sampai di titik ini. Ini membuktikan bahwa di tengah keterbatasan, saya masih bisa bersaing dengan teman-teman lainnya,” tuturnya.

Ketertarikannya pada dunia literasi itulah yang mengantarkannya memilih Program Studi S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Fakultas Bahasa dan Seni (FBS). Selama masa sekolah, ia juga berhasil menorehkan prestasi dengan menulis cerpen hingga tingkat nasional sebanyak dua kali. Ia berharap dapat terus mengembangkan kemampuannya di bidang menulis sekaligus mewujudkan cita-citanya menjadi seorang guru.

Bukan tanpa alasan, sebelum memilih Unesa, Eci terlebih dahulu melakukan riset dan mencari informasi melalui internet mengenai kampus yang ramah disabilitas. Dari penelusurannya, ia menemukan bahwa Unesa dikenal sebagai salah satu perguruan tinggi yang inklusif dan memberikan ruang bagi mahasiswa difabel untuk berkembang.

“Karena Unesa ramah disabilitas, saya merasa punya kesempatan yang sama untuk berkembang di sini,” ujarnya.

Keluarga: Sumber Kekuatan

Di balik semua pencapaiannya, ada peran besar dari keluarga yang selalu mendukungnya. Bagi Eci, keluarga adalah sumber kekuatan utama yang tak pernah berhenti memberinya semangat.

Ia mengingat betul pesan orang tua yang selalu disampaikan kepadanya, bahwa dirinya adalah sosok yang berharga. Dukungan itu menjadi alasan baginya untuk terus melangkah, bahkan di saat-saat sulit.

“Sang Pencipta dan keluarga saya selalu berkata kepada saya bahwa saya adalah berlian yang berharga, indah, dan menakjubkan,” ungkapnya.

Kini, setelah resmi menjadi bagian dari Unesa, Eci memiliki harapan besar. Ia ingin diterima dengan baik di lingkungan kampus, mendapatkan kesempatan beasiswa, serta menyelesaikan pendidikannya hingga meraih gelar sarjana.

“Harapan saya, saya bisa menyelesaikan pendidikan hingga sarjana dan menjadi orang yang berguna bagi banyak orang,” ucapnya penuh harap.

Lebih dari itu, anak dari keluarga petani ini ingin membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih masa depan. Ia pun menyimpan cita-cita besar untuk menjadi seorang guru, serta menginspirasi banyak orang melalui ilmu yang dimilikinya.

Eci juga menyampaikan pesan khusus bagi mereka yang memiliki keterbatasan untuk tetap semangat dan tidak menyerah dalam menjalani proses kehidupan. Ia menegaskan bahwa setiap tantangan bukanlah penghalang, melainkan bagian dari proses untuk menjadi pribadi yang lebih kuat.

Menurutnya, rasa percaya diri dan keyakinan pada diri sendiri menjadi kunci penting dalam meraih mimpi, karena setiap orang memiliki potensi dan kesempatan yang sama untuk sukses.

“Jangan pernah merasa minder karena kondisi kita. Kita punya cara sendiri untuk meraih mimpi, dan kita sama-sama berharga,” pesannya.

Penerima KIP-K, Ibnu Utomo

Bagi Ibnu Utomo, lapangan voli bukan sekadar tempat bertanding, melainkan ruang belajar tentang ketekunan, kehilangan, dan harapan. Remaja yang berhasil meraih juara 1 Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) tingkat Provinsi itu kini diterima di Program Studi S1 Pendidikan Kepelatihan Olahraga (PKO) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) melalui jalur SNBP 2026, sekaligus sebagai penerima Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K).

Perjalanan siswa SMK Krian 1 Sidoarjo itu tidak dimulai dari kondisi yang mudah. Ia kehilangan ayahnya, Moch. Nur Hamidi, saat usianya baru empat tahun. Sejak saat itu, ibunya, Isrodiana, menjadi satu-satunya sosok yang mendampingi sekaligus menguatkan langkahnya. Dalam keterbatasan, sang ibu tetap berusaha memastikan Ibnu bisa melanjutkan pendidikan dengan baik.

Peran sekolah pun turut membuka jalan. Ibnu mendapatkan pendampingan untuk mendaftar program KIP-K, yang akhirnya membantunya melangkah ke perguruan tinggi tanpa terbebani biaya. Baginya, kesempatan ini bukan sekadar keberuntungan, tetapi hasil dari proses panjang yang dijalani dengan tekun.

Kecintaannya pada voli tumbuh sejak duduk di bangku sekolah dasar, tepatnya kelas 4. Awalnya hanya mengikuti lomba, tetapi pengalaman itu justru menjadi titik awal keseriusannya. Ia mulai berlatih lebih giat, hingga akhirnya dilirik pelatih karena dinilai disiplin dan bersungguh-sungguh.

“Awalnya karena waktu masih kecil saya sering sakit-sakitan, lalu diajak main voli di situ saya mulai suka dan seiring waktu badan saya semakin membaik. Waktu pertama kali dapat juara rasanya bangga, dari situ saya mulai ketagihan untuk mencetak prestasi lainnya,” ujar anak bungsu dari dua bersaudara itu.

Tak ayal, dari tekadnya yang kuat itu, ia berhasil membawa timnya untuk menjuarai berbagai kompetisi voli di tingkat provinsi. Akan tetapi bagi Ibnu, kemenangan bukan sekadar trofi, melainkan bukti bahwa usaha yang konsisten akan memberikan hasil yang memuaskan.

Namun, perjalanan menuju prestasi tidak selalu berjalan mulus. Salah satu ujian terberat datang saat ia mempersiapkan diri untuk kompetisi Kejurprov U-17 2024. Ia menjalani latihan intensif dari pagi hingga malam demi performa terbaik. Namun, tiga hari sebelum pertandingan, ia mengalami cedera pergelangan kaki saat sesi sparing.

Cedera tersebut memaksanya berhenti dari aktivitas voli selama tiga bulan. Bagi Ibnu, masa itu menjadi ujian kesabaran. Ia harus menahan keinginan untuk kembali bermain, sekaligus menjaga semangat agar tidak padam.

Sang ibu, Isrodiana menyampaikan rasa syukurnya karena anaknya bisa mendapatkan kesempatan berkuliah tanpa perlu membayar UKT dengan prestasinya selama ini.

“Alhamdulillah ketekunan dan kerja keras Ibnu selama ini bisa membawanya ke titik ini. Tetap rajin, belajar yang giat, dan berdoa,” pesannya.

Kini, Ibnu tidak hanya dikenal sebagai atlet pelajar, tetapi juga mulai berbagi ilmu. Ia aktif sebagai asisten pelatih di salah satu klub voli di Sidoarjo, sekaligus tetap berkontribusi menyumbangkan prestasi bagi sekolahnya. Peran tersebut menjadi langkah awal baginya untuk menekuni dunia kepelatihan secara lebih serius.

Memilih Program Studi Pendidikan Kepelatihan Olahraga menjadi keputusan yang selaras dengan perjalanan yang telah ia jalani. Ia ingin tidak hanya menjadi atlet, tetapi juga pelatih yang mampu membina generasi berikutnya.

Ke depan, Ibnu berkomitmen untuk menyelesaikan studinya dengan baik, tetap aktif berlatih, dan terus mengembangkan kemampuan di bidang olahraga. Baginya, kesempatan kuliah melalui jalur SNBP dan KIP-K adalah amanah yang harus dijaga.

S1 Fisioterapi Unesa Tembus 10 Besar Keketatan Nasional, Perkuat Peran di Layanan Kesehatan Modern

Koorprodi S1 Fisioterapi Unesa, Firdausi Kahfi Maulana, S.Tr.Fis., M.Pt.

Di tengah meningkatnya kebutuhan tenaga kesehatan yang adaptif dan profesional, Program Studi S1 Fisioterapi Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menunjukkan eksistensinya di tingkat nasional. Pada Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026, prodi ini berhasil masuk dalam 10 besar program studi dengan tingkat keketatan tertinggi di Indonesia dengan persentase 1,19%, di posisi ke-8, dengan jumlah peminat mencapai 1.010 pendaftar.

Capaian tersebut menjadi penanda kuat bahwa minat masyarakat terhadap bidang fisioterapi terus meningkat, seiring dengan berkembangnya layanan kesehatan modern yang semakin menekankan aspek rehabilitatif dan preventif.

Sejalan dengan itu, S1 Fisioterapi Unesa mengusung visi menjadi program studi yang tangguh, adaptif, dan inovatif berbasis kewirausahaan, dengan keunggulan pada bidang fisioterapi olahraga di tingkat internasional pada tahun 2044.

Visi ini menjadi arah pengembangan prodi dalam mencetak lulusan yang tidak hanya kompeten secara klinis, tetapi juga mampu beradaptasi dengan dinamika global serta memiliki jiwa inovatif dan kewirausahaan di bidang kesehatan.

Koorprodi S1 Fisioterapi Unesa, Firdausi Kahfi Maulana, S.Tr.Fis., M.Pt., menyampaikan bahwa tingginya animo pendaftar menjadi bentuk kepercayaan publik yang patut disyukuri, sekaligus tantangan bagi prodi yang masih tergolong baru.

“Perolehan ini menjadi suatu kebanggaan sekaligus tanggung jawab besar bagi kami sebagai prodi baru. Hal ini juga menunjukkan adanya peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya peran fisioterapi dalam layanan kesehatan modern,” ujarnya.

Didirikan pada tahun 2024, S1 Fisioterapi Unesa kini memasuki tahun kedua penyelenggaraan pendidikan. Meski baru seumur jagung, perkembangan prodi menunjukkan tren yang sangat positif, terutama dari sisi jumlah pendaftar.

Data menunjukkan adanya peningkatan signifikan dari tahun ke tahun. Pada awal pembukaan, rasio penerimaan mahasiswa baru berada di angka 1:25. Angka ini meningkat menjadi 1:30 pada tahun berikutnya, hingga mencapai 1:84 pada SNBP 2026.

Menjawab Kebutuhan, Menguatkan Spesialisasi

Tingginya minat pendaftar tidak lepas dari meningkatnya kebutuhan tenaga fisioterapi di berbagai sektor layanan kesehatan. S1 Fisioterapi Unesa hadir dengan arah pengembangan yang memiliki keunggulan, yakni memperkuat kompetensi mahasiswa di bidang fisioterapi olahraga.

Pendekatan ini menjadi nilai tambah karena tidak semua program studi fisioterapi di Indonesia memiliki fokus yang spesifik pada bidang tersebut.

“Keunggulan kami terletak pada pengembangan fisioterapi olahraga, sehingga mahasiswa memiliki peluang kerja yang lebih luas, tidak hanya di fasilitas kesehatan, tetapi juga di dunia olahraga profesional,” terang Firdausi.

Dengan kompetensi tersebut, lulusan memiliki peluang karier sebagai fisioterapis di rumah sakit, klinik, klub olahraga, hingga unit layanan disabilitas, bahkan membuka praktik mandiri.

Proses pembelajaran di S1 Fisioterapi Unesa dirancang untuk menjawab kebutuhan dunia kerja. Prodi ini mengimplementasikan kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE) dengan pendekatan Student-Centered Learning (SCL).

Mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga aktif dalam praktikum, studi kasus, hingga problem-based learning dan project-based learning. Penguatan kompetensi juga dilakukan melalui program early clinical exposure yang memungkinkan mahasiswa mengenal dunia klinis sejak dini.

Selain itu, Firdausi menambahkan bahwa fasilitas pembelajaran didukung oleh laboratorium modern seperti Cardiopulmonary Exercise Test (CPET), Electromyography (EMG), serta laboratorium biomedis yang menunjang penguasaan keterampilan teknis mahasiswa.

Terhubung dengan Dunia Industri dan Global

Dalam memperluas pengalaman belajar mahasiswa, S1 Fisioterapi Unesa juga membangun jejaring kerja sama yang luas, baik di tingkat nasional maupun internasional. Mitra prodi meliputi rumah sakit, institusi olahraga, hingga lembaga internasional.

Beberapa program unggulan yang dikembangkan antara lain student mobility, summer course, interprofessional education (IPE), serta riset kolaboratif internasional. Kolaborasi ini menjadi langkah strategis untuk menyiapkan lulusan yang mampu bersaing di tingkat global.

“Ke depan, kami akan terus fokus pada pengembangan pendidikan, riset unggulan, serta peningkatan kualitas lulusan agar mampu bersaing secara global,” tutup Firdausi.

S1 Keperawatan Unesa Puncaki Keketatan Nasional Nomor 1, Tawarkan Keunggulan Keperawatan Olahraga

Ns. Wiwin Sulistyawati, S.Kep., M.Kep., Koordinator Prodi S1 Keperawatan

Langkah S1 Keperawatan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) tengah mencuri perhatian nasional. Meski tergolong program studi baru, animo calon mahasiswa baru terhadap prodi ini justru melesat tajam. Pada Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026, S1 Keperawatan Unesa mencatat 1.693 pendaftar dan menempati posisi sebagai program studi dengan tingkat keketatan tertinggi nomor satu di Indonesia dengan persentase 0,59%.

Fenomena ini menjadi sinyal kuat bahwa kepercayaan publik terhadap S1 Keperawatan Unesa tumbuh pesat dalam waktu yang dibilang singkat. Koorprodi S1 Keperawatan Unesa, Ns. Wiwin Sulistyawati, S.Kep., M.Kep., mengungkapkan rasa syukur atas capaian tersebut.

Menurutnya, tingginya minat pendaftar menunjukkan bahwa prodi yang berdiri sejak 21 Mei 2024 ini telah dikenal luas, bahkan mampu bersaing dengan program studi sejenis yang lebih dahulu mapan.

“Ini menjadi bukti bahwa meskipun kami prodi baru, kepercayaan masyarakat sudah sangat baik. Namun di sisi lain, ini juga menjadi tantangan besar bagi kami untuk memberikan layanan pendidikan terbaik bagi mahasiswa,” ucapnya.

Keunggulan Unik: Keperawatan Keolahragaan

Salah satu faktor utama yang menjadikan S1 Keperawatan Unesa begitu diminati adalah keunikan branding yang ditawarkan. Tidak sekadar mencetak perawat generalis, prodi ini menghadirkan keunggulan khusus di bidang keperawatan keolahragaan.

Mahasiswa tidak hanya dibekali kompetensi dasar keperawatan, tetapi juga keterampilan dalam menangani cedera olahraga dan bekerja di event maupun klinik olahraga.

“Keunggulan kami adalah pada perawatan olahraga, khususnya penanganan cedera olahraga. Ini masih sangat jarang di Indonesia, bahkan bisa dikatakan menjadi salah satu yang pertama di Indonesia,” jelas Wiwin.

Keunggulan ini membuka peluang karier yang lebih luas. Lulusan tidak hanya dapat bekerja di rumah sakit atau klinik, tetapi juga berkesempatan terlibat dalam tim medis olahraga, event olahraga nasional maupun internasional, hingga klinik khusus olahraga.

Didukung Kurikulum Adaptif dan Berbasis OBE

Dari sisi akademik, Wiwin menjelaskan S1 Keperawatan Unesa mengusung kurikulum berbasis kurikulum Outcome-Based Education (OBE) yang mengacu pada Asosiasi Institusi Pendidikan Ners Indonesia (AIPNI). Kurikulum ini diperkaya dengan muatan khas keperawatan olahraga sebagai diferensiasi utama.

Mahasiswa juga mendapatkan pengalaman praktik klinik secara langsung melalui kerja sama dengan berbagai rumah sakit dan institusi kesehatan, seperti RS Ibnu Sina Gresik, RSJ Menur Surabaya, RS Haji Surabaya, dan RS Notopuro Sidoarjo, serta jejaring puskesmas di bawah dinas kesehatan.

Pada semester akhir, mahasiswa akan menjalani praktik klinik dengan sistem rotasi di berbagai bidang keperawatan. Setelah menyelesaikan jenjang sarjana, mahasiswa dapat langsung melanjutkan ke tahap profesi (ners) sebagai satu paket pendidikan.

Mahasiswa dari Seluruh Penjuru Nusantara

Antusiasme tinggi terhadap S1 Keperawatan Unesa tidak hanya tercermin dari jumlah pendaftar, tetapi juga dari keragaman asal daerah calon mahasiswa. Program studi ini berhasil menarik minat peserta didik dari berbagai penjuru Indonesia, menunjukkan jangkauan daya tariknya yang telah melampaui skala regional.

Wiwin Sulistyawati, menjelaskan bahwa sebaran mahasiswa cukup merata dari berbagai wilayah. Meski Jawa Timur masih mendominasi, kehadiran mahasiswa dari luar daerah terus meningkat setiap tahunnya.

“Kalau dari data demografi, mahasiswa kami variatif, dari Sabang sampai Merauke. Tidak hanya dari Jawa Timur, tetapi juga ada dari Jawa Barat, Yogyakarta, Kalimantan, Nusa Tenggara Timur, hingga Lampung,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa keberagaman latar belakang tersebut menjadi nilai positif bagi lingkungan akademik, karena menciptakan ruang belajar yang inklusif sekaligus memperkaya perspektif mahasiswa dalam proses pendidikan.

Antara Kebanggaan dan Tantangan

Di balik capaian prestisius sebagai prodi dengan keketatan tertinggi nasional, S1 Keperawatan Unesa menyadari adanya tanggung jawab besar yang harus diemban. Tingginya jumlah peminat tidak hanya mencerminkan kepercayaan publik, tetapi juga beriringan dengan meningkatnya ekspektasi terhadap kualitas pendidikan, fasilitas, serta layanan akademik yang diberikan kepada mahasiswa.

Wiwin menegaskan bahwa kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus motivasi bagi prodi untuk terus berbenah dan meningkatkan kualitas di berbagai aspek. “Dengan banyaknya peminat, kami harus memastikan kualitas pembelajaran, fasilitas, dan layanan terus meningkat. Harapannya, kami bisa menghasilkan lulusan yang benar-benar siap bersaing, baik di tingkat nasional maupun global,” tambah Wiwin.

Sejalan dengan itu, S1 Keperawatan Unesa juga mulai memperluas arah pengembangan ke kancah internasional. Tidak hanya berfokus pada penguatan di dalam negeri, prodi ini tengah merintis kerja sama dengan sejumlah negara, seperti Taiwan dan Jerman yang menjadi target pengembangan jejaring, membuka peluang bagi lulusan untuk berkarier di luar negeri sekaligus memperkuat daya saing global yang menjadi target utama pengembangan program studi. @TimHumas

en_USEN