Tak seperti kebanyakan mahasiswa, masa kuliah identik dengan fokus belajar di kelas dan berorganisasi. Namun bagi Wakil Dekan II Fakultas Psikologi Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Onny Fransinata Anggara, S.Psi., M.Psi., Psikolog, masa kuliah justru menjadi titik awal perjalanan panjangnya dalam terjun ke dunia wirausaha.
Ketertarikan pada dunia bisnis sudah muncul sejak dirinya menempuh studi S1 Psikologi di Universitas Brawijaya (UB) Malang. Saat itu, ia melihat peluang yang ternyata berdampak besar bagi teman-temannya yang berkuliah di daerah asalnya, Probolinggo.
Pada masa itu, akses terhadap buku kuliah tidak semudah sekarang. Belum ada buku digital atau toko online yang memudahkan mahasiswa untuk mendapatkan referensi belajar. Kondisi tersebut membuat banyak mahasiswa di Probolinggo harus pergi ke kota besar seperti Malang atau Surabaya hanya untuk membeli buku.
Melihat situasi tersebut, Onny dengan inovasinya kemudian membuka semacam jasa titip pembelian buku bagi mahasiswa di Probolinggo, terutama dari kampus kesehatan yang baru berdiri saat itu. Melalui cara ini, mahasiswa tidak perlu pergi jauh ke kota lain hanya untuk membeli buku, sehingga dapat menghemat waktu sekaligus biaya perjalanan.
“Akhirnya saya menawarkan jasa titip. Awalnya saya tanya dulu ke teman-teman dekat, ternyata mereka antusias. Mereka membuat daftar buku yang dibutuhkan, lalu saya belikan di Malang dengan bekerja sama dengan toko buku, itu berjalan sampai saya lulus sarjana,” ujarnya.

Es Krim dari Susu Sapi Desa
Semangat berwirausaha kembali muncul ketika Onny melanjutkan studi program profesi psikolog di Universitas Airlangga Surabaya sekitar tahun 2013-2014. Saat itu, tren pengembangan UMKM dan kewirausahaan sedang berkembang pesat. Ia pun mulai memikirkan peluang usaha yang bisa dijalankan di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa.
Keinginan membuka usaha kuliner sempat terhambat karena keterbatasan kemampuan memasak. Ia kemudian mencoba mencari ide yang lebih sederhana dengan melihat potensi yang ada di daerah asalnya.
Ia berasal dari Desa Krucil, Kabupaten Probolinggo, wilayah di lereng Gunung Argopuro yang dikenal sebagai penghasil susu sapi. Hampir setiap hari, para peternak di daerah tersebut menyetorkan susu segar ke koperasi unit desa (KUD) sebelum dikirim ke pabrik pengolahan, Pasuruan.
“Waktu itu saya sempat berpikir membuka kafe makanan, tapi saya tidak punya keahlian memasak. Mau bikin pastry juga tidak bisa. Akhirnya saya mencoba melihat potensi dari daerah asal saya,” ungkapnya.
Kondisi itu kemudian memunculkan ide sederhana di benaknya. Ia melihat susu sapi sebagai bahan yang memiliki banyak potensi untuk diolah menjadi produk lain yang lebih diminati masyarakat.
“Saya berpikir, kalau susu dijual begitu saja mungkin tidak semua orang suka. Tapi kalau diolah menjadi es krim, hampir semua orang menyukainya,” pikirnya.
Dari gagasan tersebut lahirlah Oins Cafe, sebuah kafe es krim yang ia dirikan di Kota Probolinggo. Nama ‘Oins’ sendiri diambil dari nama panggilannya, Oni.
Pada awal merintis usaha, ia mengelola Oins Cafe bersama rekannya hingga berkembang dan mampu mempekerjakan empat orang karyawan. Menariknya, karyawan yang direkrut berasal dari masyarakat sekitar dengan keterbatasan ekonomi dan pendidikan, seperti mereka yang tidak lulus SD atau SMP, ibu rumah tangga, hingga keluarga tukang becak.
Ia mengungkapkan bahwa membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar menjadi salah satu hal yang paling ia sukai dalam menjalankan usaha. Baginya, berwirausaha bukan semata-mata tentang keuntungan atau larisnya produk yang dijual, melainkan juga tentang bagaimana usaha tersebut dapat memberikan penghasilan bagi orang lain.
“Kepuasan itu berkali-kali lipat lebih saya rasakan dibandingkan sekadar mendapatkan keuntungan,” tambahnya.
Tidak hanya menyajikan es krim sebagai menu utama, usahanya juga menghadirkan berbagai olahan kreatif. Mulai dari es krim yang dipadukan dengan roti, bubur es krim, hingga minuman dengan campuran es krim yang menjadi favorit pengunjung.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan Sebelum pandemi Covid-19, usaha tersebut mampu menghasilkan omzet yang cukup menjanjikan. Dalam sehari, cafe tersebut bisa meraih pendapatan antara Rp. 300 ribu hingga Rp. 500 ribu, bahkan meningkat hingga Rp1,5 juta saat ada acara atau momen tertentu.
Inovasi Baru: Mie Telur Kepiting
Usahanya tidak berhenti hanya es krim, Onny juga gemar melakukan inovasi pada menu yang disajikan di cafenya. Salah satu menu unik yang sempat menjadi favorit pelanggan adalah mie telur kepiting.
Ide tersebut muncul dari keinginannya menghadirkan menu mie yang berbeda dari yang lain. “Saya ingin membuat mie yang tidak terlalu Jepang, tidak terlalu Korea, dan juga tidak seperti mie kaki lima. Akhirnya saya terpikir menggunakan telur kepiting sebagai bahan utamanya,” katanya.
Usaha itu kemudian dikembangkan bersama sang istri melalui beberapa kali percobaan hingga menemukan cita rasa yang pas. Dari berbagai eksperimen yang dilakukan, akhirnya tercipta menu mie telur kepiting dengan versi mie goreng yang justru lebih disukai pelanggan.
“Awalnya kami mencoba membuat versi kuah, tetapi rasanya kurang pas. Lalu kami coba versi mie goreng dengan telur kepiting dan ternyata rasanya enak, saya sempat ujikan ke teman-teman dan mereka suka,” jelasnya.
Saat cafe masih beroperasi secara penuh, menu tersebut bahkan mampu terjual hingga sekitar 50 porsi mangkok dalam sehari. Namun, karena bahan baku telur kepiting bersifat musiman, menu tersebut tidak selalu tersedia dan hanya disajikan pada waktu-waktu tertentu ketika bahan bakunya melimpah.
Memasuki masa pandemi Covid-19, aktivitas cafe pun ikut terdampak. Pembatasan aktivitas masyarakat membuat konsep cafe yang sebelumnya melayani pengunjung secara langsung tidak dapat berjalan seperti biasanya. Kondisi tersebut mendorong Onny untuk menyesuaikan konsep usahanya, bahkan ia terpaksa merumahkan empat karyawannya.
Hingga saat ini, kedua usaha tersebut tetap berjalan meskipun tren cafe tidak seramai sebelumnya. Konsep usahanya pun berubah dari dine-in menjadi takeaway dengan pemesanan melalui aplikasi layanan pesan antar baik es krim maupun mie telur kepiting andalannya.
“Sekarang saya menjalankan usaha es krim itu bersama istri dari rumah dan tiap hari masih ada yang membelinya. Kalau sedang musim telur kepiting, biasanya kami juga membuat mie telur kepiting lagi dan yang paling ditunggu-tunggu sama orang banyak,” ujarnya.
Semangatnya untuk terus berinovasi tidak berhenti pada usaha kuliner. Ia mengaku memiliki ketertarikan untuk mencoba hal-hal baru, termasuk mencari peluang usaha lain yang dapat dijalankan di tengah situasi yang terus berubah.
Usaha Sukulen di Masa Pandemi
Selain kafe es krim dan mie telur kepiting, Onny juga sempat merintis usaha tanaman hias saat pandemi Covid-19. Usaha tersebut berawal dari kegemarannya terhadap tanaman yang menurutnya mampu menghadirkan suasana positif dan membantu meredakan penat.
“Awalnya memang karena saya suka tanaman. Menurut saya tanaman itu membawa energi positif, membuat suasana lebih segar dan bisa menghilangkan penat. Ketika pandemi dan cafe harus berhenti, saya berpikir mencari kegiatan lain supaya tidak stres,” ujarnya.
Dari hasil pengamatannya, banyak orang mulai tertarik merawat tanaman ketika lock down. Ia kemudian memilih sukulen, sejenis kaktus kecil dengan bentuk yang unik dan beragam. Sebagai usaha karena tanaman ini mudah dirawat, memiliki bentuk unik, serta diminati sebagai tanaman hias maupun cinderamata atau oleh-oleh yang menarik dan tahan lama.
Ia kemudian mendatangkan bibit sukulen dari Bandung dalam ukuran kecil untuk dirawat dan dijual kembali di depan halaman rumahnya, Probolinggo. Tanaman tersebut dipasarkan dengan harga yang bervariasi, mulai dari puluhan ribu rupiah hingga ratusan ribu rupiah tergantung jenisnya.
“Sekarang tanamannya masih ada, tapi saya tidak menambah stok baru. Banyak yang masih bertanya ingin membeli, tetapi sementara saya hentikan dulu karena perawatannya cukup menyita waktu di tengah kesibukan saya sebagai Wakil Dekan,” tuturnya. @TimHumas

