Hari Pendidikan Nasional menjadi momentum untuk melihat perjuangan para pendidik yang telah berjasa besar dalam memperjuangkan dan meningkatkan pendidikan di Indonesia. Tak terkecuali, bagi para mahasiswa Unesa calon pendidik yang sedang menjalankan program berdampak seperti Praktik Lapangan Perkuliahan dalam negeri maupun luar negeri.

Tantangan Mengajar di Sekolah Pedalaman
Aini Nurdiani (Ayik), mahasiswi Prodi S1 Pendidikan Luar Biasa Fakultas Ilmu Pendidikan Unesa tidak pernah membayangkan akan menjalani Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) atau praktik mengajar di SLB Negeri Gunungsari, sebuah sekolah di wilayah perbatasan yang cukup jauh dari pusat Kota Bojonegoro. “Awalnya agak kaget karena ternyata lokasinya jauh dari Kota Bojonegoro. Sebelumnya saya juga tidak berekspektasi seperti itu,” ujarnya.
Selain jarak, mahasiswi angkatan 2023 itu menghadapi realitas pembelajaran yang berbeda dengan teori di perkuliahan. Strategi pembelajaran yang ideal dalam teori seringkali harus disesuaikan dengan kondisi nyata di lapangan, sehingga penerapannya pun harus menyesuaikan kondisi kelas, kebiasaan murid, dan cara guru mengajar.
Tantangan lain berkaitan dengan urusan administrasi. Letak sekolah di daerah pinggiran membuat akses menuju pusat kota memerlukan waktu tempuh cukup lama. Perjalanannya bisa sampai satu jam karena lokasi sekolah berada di wilayah perbatasan. Namun, di tengah keterbatasan itu, Ayik dan tim berupaya menghadirkan pembelajaran yang lebih menarik bagi peserta didik.
Salah satu upaya yang dilakukan ialah mengaktifkan laboratorium keterampilan. Bersama siswa, mereka mulai melakukan berbagai aktivitas seperti menjahit, membatik, memasak, hingga belajar tata rias. Selain itu, juga mengembangkan program greenhouse untuk menanam berbagai tanaman. “Hasil tanaman tersebut kami gunakan untuk mendukung pembelajaran keterampilan memasak bagi siswa,” ungkapnya.
Pengalaman hampir serupa dialami Nur Akmala Dewi (Mala), mahasiswi Program Studi S1 Pendidikan IPA Fakultas Matematikan dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Surabaya yang menjalani PLP di SMPN 3 Jatirogo Bojonegoro. Karena sekolah berada jauh dari pusat kecamatan, ia harus melewati kawasan hutan. “Sedikit syok karena sekolahnya sangat jauh dari kecamatan dan harus melewati hutan,” ujar mahasiswi angkatan 2023 itu.
Selain jarak, jumlah tenaga pendidik juga terbatas sehingga beberapa guru harus mengampu lebih dari satu mata pelajaran. Selain itu, fasilitas pembelajaran berbasis teknologi yang menunjang proses belajar mengajar juga masih kurang. “Belum ada proyektor di setiap kelas. Padahal, di era sekarang banyak materi yang membutuhkan media interaktif untuk membangkitkan imajinasi siswa,” katanya.
Selain fasilitas, tantangan terbesar adalah membangun motivasi belajar siswa. Menurut Mala, semangat belajar peserta didik perlu terus didorong agar materi pembelajaran dapat terserap lebih optimal. Ia dan tim PLP Unesa kerap berinovasi dengan memanfaatkan media pembelajaran sederhana hingga menghadirkan projek kreatif untuk memancing rasa ingin tahu siswa.
Ia mencontohkan materi tata surya yang memanfaatkan layar Interactive Flat Panel (IFP). Selain itu, ia juga membawa media pembelajaran dari laboratorium, seperti model mata, untuk membantu siswa memahami materi secara lebih konkret. “Kami membuat pembelajaran lebih menarik lewat media konkret dan project sederhana agar siswa lebih aktif dan kreatif,” ungkapnya.
Selain pembelajaran di kelas, mahasiswa PLP Unesa juga menghadirkan berbagai kegiatan sekolah yang melibatkan siswa seperti Ramadhan Islamic Festival hingga peringatan Hari Kartini. Bagi Mala, pengalaman mengajar di daerah membuka pandangannya tentang pentingnya pemerataan kualitas pendidikan, mulai dari fasilitas belajar, pemerataan tenaga pendidik, hingga akses teknologi dan internet bagi sekolah-sekolah di daerah.
Cerita hampir mirip juga dialami Siti Nur Cholisa, mahasiswi Prodi S1 Pendidikan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Surabaya yang menjalani Program Laapangan Persekolahan (PLP) di MA Al Muhibbin Jatirogo, Tuban.
Ia menemukan realitas berbeda dari bayangannya. Proses pembelajaran di sekolah tempatnya PLP tidak berlangsung di ruang kelas seperti sekolah pada umumnya, tapi di bangunan semi terbuka berupa gazebo atau pendopo. Suasana belajar pun diatur dengan nilai-nilai pesantren yang kuat, termasuk adanya pembatas antara siswa putra dan putri saat kegiatan berlangsung.
Sistem pembelajaran di sekolah ini juga memiliki karakteristik tersendiri. Dalam sehari, siswa hanya mempelajari satu mata pelajaran selama kurang lebih 90 menit. Pada jurusan IPA, mata pelajaran difokuskan pada bidang inti seperti Biologi, Fisika, Kimia, dan Matematika.
Ketiadaan laboratorium untuk praktikum, tidak menyurutkan semangatnya. Justru, Nur Cholisa dan teman-temannya menghadirkan berbagai inovasi dan ide kreatif pembelajaran. Salah satunya, Lisa mengajak siswa melakukan praktikum berbasis lingkungan, seperti pembuatan herbarium kering. “Siswa kami ajak mengeksplorasi tumbuhan di sekitar sekolah, kemudian mengawetkannya sebagai media belajar,” terangnya.
Selain itu, ia juga merancang proyek analisis vegetasi herba dengan membandingkan pertumbuhan tanaman di area teduh dan area yang terpapar sinar matahari. Melalui kegiatan itu, siswa dapat memahami secara langsung pengaruh faktor abiotik terhadap kehidupan tumbuhan.

Inovasi Pembelajaran Program Surabaya Mengajar
Program Surabaya Mengajar (PSM) memberikan dampak pengabdian masyarakat yang nyata bagi para mahasiswa Unesa. Salah satunya, disampaikan Vito Dafanda Febriansah (Vito), mahasiswa Prodi S1 PPKn Universitas Negeri Surabaya yang terlibat dalam Program Surabaya Mengajar (PSM) di SMP Negeri 42 Surabaya. “Program Surabaya Mengajar sangat menarik dan bermanfaat bagi saya,” ujar Vito.
Selama mengikuti program, ia tidak hanya mengajar sesuai bidang keilmuan, tetapi juga terlibat aktif dalam berbagai kegiatan sekolah seperti senam bersama, kegiatan Ramadan berupa kaligrafi toples dan apresiasi puisi, sosialisasi anti kekerasan dan narkoba, serta program Jumat Rindang.
Mahasiswa angkatan 2023 itu menghadapi tantangan dalam menjaga fokus siswa di kelas. Ia mendapati sebagian siswa kurang memperhatikan dan kerap keluar masuk kelas saat pembelajaran berlangsung. “Untuk mengatasi hal itu, saya menerapkan metode pembelajaran lebih interakti sambil bermain,” ungkapnya.
Pengalaman paling berkesan baginya adalah ketika mendampingi anak berkebutuhan khusus (ABK) dalam proses belajar. Selain itu, ia juga mendapatkan pengalaman berharga melalui kolaborasi dengan mahasiswa lintas perguruan tinggi serta dukungan dari guru di sekolah. “Program ini memberikan dampak signifikan bagi saya, terutama dalam meningkatkan kepercayaan diri berbicara di depan umum dan kemampuan beradaptasi dengan berbagai karakter siswa,” tegasnya.
Hal yang sama dialami Yemma Nardila (Yemma), mahasiswi Prodi S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Negeri Surabaya yang mengikuti Program Surabaya Mengajar (PSM) di SDN Ngagelrejo 1/396 Surabaya. Selama mengikuti PSM, Yemma dan tim fokus pada program GEMA (Gemar Membaca).
“Program ini dilatarbelakangi oleh kondisi di sekolah yang masih menghadapi persoalan literasi dasar. Kami menemukan masih ada siswa yang belum mampu membaca, bahkan mengenal huruf. Kondisi tersebut mendorong kami untuk berkontribusi melalui pendampingan belajar yang lebih intensif,” jelasnya.
Selama mengikuti program itu, Yemma mendampingi siswa dengan karakter yang beragam, khususnya di kelas 1 yang cenderung hiperaktif dan terdapat siswa berkebutuhan khusus. Ia pun harus menyesuaikan metode pembelajaran dengan kebutuhan setiap siswa.
Bagi Yemma, pengalaman tersebut menjadi pembelajaran berharga baginya, terutama dalam memahami makna tanggung jawab seorang guru. Ia mengaku mengalami perubahan signifikan dalam dirinya setelah mengikuti Program Surabaya Mengajar. “Saya jadi lebih belajar arti sabar dan tanggung jawab penuh saat menjadi guru kelas, karena di situ saya merasa mengemban amanah yang besar,” tegasnya.

Perjuangan Rivaldo, Mahasiswa Inklusi yang PLP di Sekolah Luar Biasa
Pendidikan sejati memberi kesempatan bagi semua untuk tumbuh dan berdaya. Termasuk yang dialami Rivaldo Ardistyo, mahasiswa inklusi dari Program Studi S1 Pendidikan Luar Biasa (PLB). Keterbatasan penglihatan tidak menjadi penghalang untuk mendedikasikan diri mengajar, menginspirasi, dan menghadirkan pembelajaran bermakna bagi peserta didik disabilitas.
Banyak pengalaman didapatkan Rival saat menjalani PLP di SLB Negeri Gedangan selama satu semester mendampingi siswa tunanetra di jenjang SD hingga SMP. Sebelum mengajar, ia mulai dengan observasi selama satu bulan untuk mengamati karakteristik, kemampuan, hingga kebutuhan belajar peserta didik sebelum mulai mengajar secara langsung karena ada dua jenjang SD dan SMP yang diajar.
Selain mengajar, Rival juga menyusun modul dan media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik tunanetra. Media pembelajaran menjadi bagian penting agar siswa mampu memahami konsep secara konkret. “Tantangan terbesar saat mengajar ialah bagaimana menyampaikan konsep kepada siswa tunanetra secara detail dan mudah dipahami karena keterbatasan penglihatan,” ujarnya.
Untuk mengatasi tantangan itu, ia menerapkan pendekatan observasi dan pengakraban di awal pembelajaran. Dari proses itu, ia dapat menentukan metode belajar yang paling tepat bagi siswa. Metode yang digunakan adalah ceramah, drill atau pengulangan dan simulasi. “Momen paling berkesan selama PLP adalah Ketika menyiapkan media pembelajaran,” tuturnya.
Pengalaman PPL membuka pandangannya tentang pentingnya pendidikan inklusif di Indonesia. Ia senang karena saat ini sekolah-sekolah mulai menerima peserta didik berkebutuhan khusus, meskipun implementasinya belum sepenuhnya optimal. Ia menilai keberadaan guru pendamping khusus menjadi kebutuhan mendesak di banyak sekolah inklusi. “Guru pendamping memiliki peran penting membantu siswa disabilitas mengikuti proses pembelajaran sesuai kebutuhannya,” tegasnya.

Cerita Perjuangan Mahasiswa Program PLP Internasional dan UGSMA
Mengabdi hingga ke Lintas Negara dan Benua
Semangat Hardiknas tidak hanya tentang belajar di ruang kelas, tetapi juga keberanian menghadapi dunia yang lebih luas. Semangat itulah yang dirasakan mahasiswa Unesa ketika menjalani Program Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) internasional hingga ke lintas negara dan benua.
PLP di Thailand, Arab Saudi, dan Perancis
Oktavia Dwi Kasmadi, mahasiswa Prodi S1 Pendidikan Biologi menjadi peserta PLP internasional di Thailand. Ia menjalani program sejak 30 Januari hingga 30 Maret 2026 sebagai pengajar Bahasa Inggris. Menurutnya, suasana belajar di Thailand agak berbeda dengan Indonesia. Di Thailand, siswa memiliki sesi makan siang dan tidur siang sebelum kembali belajar. “Tantangan terbesar justru datang dari persoalan bahasa. Karena bahasa Inggris bukan menjadi bahasa utama di sana,” ujarnya.
Okta mengatasi kesulitan berkomunikasi tersebut dengan meminta bantuan wali kelas atau menggunakan google translate. Ia juga berlahan mulai mempelajari beberapa kosakata dasar bahasa setempat agar lebih mudah berinteraksi dengan siswa. “Pada awal pembelajaran, beberapa siswa sempat menyepelekan, tapi saya berusaha sabar hingga akhirnya mereka menjadi lebih akrab dan percaya,” tuturnya.
Pengalaman berbeda dirasakan Farida. Mahasiswa S1 Pendidikan Bahasa Inggris yang menjalani PLP di Sekolah Indonesia Jeddah (SIJ), Arab Saudi pada 23 Februari hingga 13 April 2026 itu mendampingi pembelajaran Bahasa Inggris siswa SMP dan SMA yang merupakan anak pekerja Indonesia dan menetap di Arab. Meski proses belajar berlangsung menggunakan bahasa Indonesia, Farida tetap harus beradaptasi dengan budaya dan ritme kehidupan di Arab Saudi, terutama selama Ramadan. “Kalau di sana, aktivitas justru lebih hidup di malam hari,” katanya.
Selama Ramadan, kegiatan belajar lebih banyak berlangsung malam hari. Sementara pagi hingga siang, masyarakat lebih banyak beraktivitas di rumah. Toko-toko juga baru ramai menjelang malam. Selain mengajar, ia turut membantu kegiatan sekolah lainnya, seperti Baitul Quran yang berfokus pada hafalan serta membaca Al-Qur’an.
Pengalaman lebih menantang dirasakan Refansyach Amir Syahir, mahasiswa Prodi S1 Sastra Inggris yang menjalani internship mengajar di Prancis. Sejak Februari hingga Mei, Refan menjadi teacher assistant Bahasa Inggris bagi siswa usia 13 hingga 18 tahun di wilayah Saint Claude, Jura, France perbatasan dengan Geneva, Swiss.
Perjalanan panjang menuju Prancis menjadi tantangan pertama yang harus dihadapi. Ia harus menempuh perjalanan hampir dua hari melalui Jakarta, Istanbul, hingga tiba di kota tujuan dengan suhu mencapai minus dua derajat celcius. “Waktu sampai sudah tidak bisa ngomong karena capek dan dingin banget,” katanya.
Perbedaan cuaca menjadi tantangan besar baginya. Saat transit di Istanbul, suhu mencapai satu derajat celcius, sedangkan di lokasi tempat tinggalnya suhu berkisar minus lima hingga sepuluh derajat celcius. Selain itu, sebagai orang Asia yang jumlahnya minoritas, tentu menghadapi perbedaan budaya. Namun, ia bersyukur rekan kerja dan para siswa di sekolah memperlakukannya dengan baik.
Pengalaman belajar di luar negeri bukan sekadar program akademik, melainkan proses pembentukan diri. Mereka belajar menghadapi ketidakpastian, memahami budaya baru, sekaligus mengenal kemampuan diri sendiri.

UGSMA di Timor Leste
Program Unesa Global Students Mobility Award (UGSMA) di Kota Bacau Timor Leste bukan sekadar perjalanan belajar, tapi menjadi ruang adaptasi budaya, pengabdian masyarakat, hingga pembelajaran hidup secara langsung. Mereka melakukan aktivitas mulai dari layanan kesehatan, pendidikan, hingga promosi potensi daerah.
Lima mahasiswa Unesa berkesempatan mengikuti program hasil kerja sama Unesa dengan Universidade Dili itu. Mereka adalah Fiana Agta Riyani (D4 Manajemen Informatika) dan Naura Aidah Nasyita (S1 Sistem Informasi) yang bertugas di Comissao Nacional de Eleicoes (CNE) Baucau atau bawaslu.
Kemudian, Adinda Cita Clasica (S1 Gizi) ditempatkan di Centru de Saude atau puskesmas setempat. Aktivitasnya berfokus pada pelayanan kesehatan balita dan ibu hamil, seperti pengecekan status gizi, pencatatan kesehatan, hingga konseling bersama tenaga kesehatan.
Selain itu, ia juga menyusun lima leaflet dwibahasa sesuai permintaan pihak setempat. Leaflet tersebut membahas gizi seimbang, ASI eksklusif, edukasi obat cacing dan vitamin balita, stunting pada anak, serta pencegahan kekurangan energi kronis pada ibu hamil.
Sementara itu, Fatimah (S1 Sosiologi) dan Hanif Mohamad Ramadhan (S1 Manajemen PSDKU Magetan) menjalani aktivitas di Posto Administrativo de Baucau atau kantor kecamatan. Mereka bertugas mengikuti kegiatan camat memantau perkembangan desa-desa di Baucau. Selain di kantor kecamatan, Fatimah juga mendapat pengalaman mengajar di SMA Katolik. “Tantangan terbesarnya adalah perbedaan bahasa karena sebagian besar siswa menggunakan Bahasa Tetun dalam komunikasi sehari-hari,” ujarnya.
Selain persoalan bahasa, ia juga harus beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang berbeda. Meski sempat khawatir memilih Timor Leste sebagai lokasi program, tapi ia bersyukur bisa melewati tantangan tersebut. Baginya, pengalaman di Timor Leste membuatnya tidak hanya mengenal budaya baru, tetapi juga memahami kehidupan dengan cara lebih sederhana.
Melalui program mobilitas akademik tersebut, mahasiswa Unesa membuktikan bahwa pendidikan tidak hanya tentang teori dan nilai di kelas. Pendidikan juga tentang keberanian menghadapi tantangan, belajar dari masyarakat, dan tumbuh menjadi pribadi yang lebih tangguh.

Prof Warsono, Ketua Dewan Pendidikan Jawa Timur
Hadirkan Pendidikan yang Memanusiakan Manusia
Guru besar bidang Ilmu Sosial Unesa sekaligus Ketua Dewan Pendidikan Jawa Timur, Prof Warsono menegaskan bahwa pendidikan sejatinya bukan sekadar proses mencetak tenaga kerja, tapi jalan membangun manusia yang berakal, bermoral, dan memiliki tanggung jawab sosial. Ia mengingatkan kembali pentingnya menghadirkan pendidikan yang memanusiakan manusia.
Menurutnya, arah pendidikan hari ini perlu direposisi kembali. Perguruan tinggi, katanya, tidak boleh hanya fokus menyiapkan lulusan yang siap masuk industri semata. Pendidikan harus membangun intelektualitas sekaligus moralitas peserta didik. Pandangan itu muncul dari kegelisahannya melihat paradigma pendidikan yang semakin dekat dengan logika kapitalisme.
“Saya menilai, ketika pendidikan hanya diarahkan untuk mencetak buruh atau tenaga kerja industri, maka manusia kehilangan kesempatan untuk tumbuh sebagai individu yang merdeka dan kreatif,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sistem kapitalisme membuat manusia hanya diposisikan sebagai alat produksi. Dalam sistem tersebut, buruh bekerja untuk kepentingan pemilik modal, sementara keuntungan terbesar dinikmati kelompok tertentu. Karena itu, menurutnya, pendidikan harus mulai mendorong lahirnya generasi yang mandiri dan mampu menciptakan lapangan kerja sendiri. “Kenapa kita tidak mencetak entrepreneur? Orang yang mampu bekerja tanpa bergantung pada orang lain, bahkan membuka lapangan pekerjaan baru,” tegasnya.
Mantan Rektor Unesa itu menilai, Bangsa Indonesia sebenarnya telah memiliki fondasi pemikiran ekonomi yang kuat melalui konsep koperasi yang dirancang para pendiri bangsa. Sistem koperasi, menurutnya, memungkinkan masyarakat menjadi pemilik sekaligus pelaku ekonomi secara bersama-sama.
Namun, ia melihat nilai-nilai koperasi mulai terkikis karena masyarakat lebih terbiasa dengan pola pikir kapitalistik yang menekankan persaingan bebas dan keuntungan materi. Menurut pandangannya, pendidikan harus mengajarkan peserta didik untuk berlomba dengan dirinya sendiri, bukan sekadar mengalahkan orang lain. “Kalau hari ini saya lebih baik dari yang kemarin, itu sudah berhasil,” katanya.
Sebagai akademisi yang lama berkecimpung di dunia pendidikan, ia percaya bahwa tantangan terbesar pendidikan Indonesia hari ini terletak pada moralitas. Menurutnya, kecerdasan tanpa moral hanya akan melahirkan manusia yang egois dan kehilangan empati sosial. Karena itu, ia menegaskan bahwa pendidikan moral harus dimulai sejak usia dini, bahkan dari lingkungan keluarga.
“Anak-anak tidak perlu terlalu dibebani materi pelajaran ketika masih di tingkat TK dan SD. Yang lebih penting adalah membentuk karakter, kejujuran, disiplin, dan rasa tanggung jawab. Anak kecil itu sebenarnya jujur. Lingkunganlah yang kadang membuat mereka menjadi tidak jujur,” tuturnya.
Ia juga menilai sekolah memiliki peran penting untuk menjaga nilai-nilai tersebut tetap hidup. Sekolah, menurutnya, jangan hanya sibuk membangun citra dan branding, tetapi melupakan esensi pendidikan sebagai ruang pembentukan manusia. Pendidikan harus menjadi prioritas utama bangsa. “Pendidikan itu jalan untuk menyiapkan sumber daya manusia sebagai modal pembangunan bangsa sekaligus calon pemimpin masa depan. Modal mencari ilmu itu hanya satu, yaitu bertanya,” katanya.
Ia menilai siswa harus terus dilatih berpikir kritis dan memiliki keberanian untuk bertanya. Sebab, menurutnya, pendidikan sejatinya adalah proses perubahan dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mampu menjadi mampu, dari tidak mau menjadi mau. Selain itu, dosen Pendidikan Kewarganegaraan (PPKn) ini menegaskan bahwa pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah, melainkan tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat, dan negara. “Kalau anak berhasil, negara ikut beruntung. Kalau gagal, negara juga terkena dampaknya,” tegasnya.
Warsono percaya perubahan dapat dimulai dari kesadaran sederhana bahwa pendidikan bukan sekadar jalan mencari pekerjaan, melainkan proses membentuk manusia yang utuh. Sebab pendidikan tidak hanya mencerdaskan akal, tetapi juga menumbuhkan moralitas, tanggung jawab, dan kemanusiaan.

Muchlis Arif, SSn, MSn, Pemerhati Pendidikan Unesa
Pendidikan Itu Pengabdian dan Karya Hidup
Akademisi dari Fakultas Bahasa dan Seni Unesa, Muchlis Arif mengatakan bahwa pendidikan bukan sekadar proses mentransfer ilmu, tapi upaya memanusiakan manusia, menghadirkan keteladanan, sekaligus menumbuhkan keberanian untuk berpikir kreatif. Pada momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), semangat itulah yang terus dihidupkan melalui karya, ruang belajar, hingga interaksinya dengan masyarakat.
Bermula dari keinginannya memamerkan karya seni di bangku kuliah, ia membuka ruang belajar keramik bernama Matahati Ceramics di Batu Jawa Timur. Tempat tersebut tidak hanya menjadi galeri karya seni, tetapi juga ruang berbagi pengalaman, kreativitas, dan nilai kehidupan.
Baginya, pendidikan selalu berakar dari pesan sederhana yang diwariskan orang tuanya. Ayahnya yang berprofesi sebagai guru, selalu menanamkan pentingnya ilmu pengetahuan kepada anak-anaknya. “Bapak saya selalu bilang, kalau bapak tidak punya harta untuk diwariskan, tapi urusan sekolah harus diperjuangkan,” ujarnya.
Pesan itulah yang kemudian membentuk cara pandangnya terhadap dunia pendidikan. Ia percaya, belajar adalah proses yang tidak pernah selesai. Guru, dosen, maupun mahasiswa harus memiliki semangat belajar sepanjang hayat. “Never ending learning. Jangan pernah berhenti belajar,” katanya.
Semangat berbagi ilmu tersebut menjadi alasan utamanya membuka berbagai kelas keramik dan pelatihan kreativitas. Bukan semata persoalan bisnis, melainkan cara agar ilmu yang dimiliki dapat memberi manfaat bagi banyak orang.
Di Matahati Ceramics, Muchlis Arif membuka berbagai program, mulai dari pottery class reguler dan privat hingga creativity training untuk korporasi, institusi pendidikan, maupun komunitas. Melalui aktivitas membuat keramik, ia mengajak peserta memahami proses kreativitas secara nyata.
Menurutnya, kreativitas tidak cukup dipahami melalui teori. Kreativitas harus dirasakan dan dialami langsung. Karena itu, ia lebih memilih metode learning by experience dibanding sekadar ceramah. “Kalau teori, sekarang AI juga bisa menjelaskan. Tapi manusia harus merasakan pengalaman kreatif itu sendiri,” tuturnya.
Dalam berbagai pelatihan, ia kerap mengajak peserta melihat sesuatu dari perspektif yang berbeda. Sebuah benda sederhana seperti kacamata, misalnya, dapat memiliki makna yang luas tergantung cara seseorang memandangnya. Dari simulasi-simulasi sederhana tersebut, ia melatih peserta untuk berpikir lebih terbuka, imajinatif, dan tidak terjebak pada satu sudut pandang.
Kemampuan berpikir kreatif menjadi hal penting dalam pendidikan masa kini. Dunia pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada aspek teknis dan administratif, tetapi juga harus menghidupkan humaniora dan nilai-nilai kemanusiaan. “Tantangan pendidikan saat ini bukan terletak pada sistemnya, tapi pendidikan akan kehilangan ruh ketika pendidik tidak lagi menjadi teladan bagi peserta didik,” tegasnya.
Ia mencontohkan tokoh-tokoh pendidikan Indonesia seperti Ki Hajar Dewantara maupun Ahmad Dahlan berhasil membangun pendidikan karena hadir sebagai figur teladan. Sementara saat ini, menurutnya, banyak pendidik justru terlalu dibebani administrasi sehingga lupa pada esensi mendidik manusia.
Arif juga menyoroti kecenderungan dunia pendidikan yang mulai terlalu dekat dengan logika industrialisasi. Pendidikan, menurutnya, tidak bisa sepenuhnya diukur hanya melalui kuantitas mahasiswa, branding, maupun keuntungan finansial.
Ia mengingatkan bahwa setiap bidang ilmu memiliki peran penting, termasuk humaniora dan seni yang sering dianggap kurang menjanjikan secara ekonomi. Padahal, menurutnya, ilmu humaniora justru mampu membangun empati, komunikasi, estetika, dan nilai kemanusiaan yang dibutuhkan dalam kehidupan sosial.
Semangat itulah yang terus ia bawa hingga hari ini. Bagi Arif, pendidikan bukan sekadar pekerjaan, melainkan bentuk pengabdian dan karya hidup. Ia percaya, ketika seseorang sungguh-sungguh berkarya dan memberikan manfaat bagi orang lain, maka kebermanfaatan itu akan kembali dalam bentuk yang tidak terduga. “Guru itu bukan hanya bekerja, tetapi berkarya. Kalau berkarya, maka yang dibuat harus yang terbaik,” pungkasnya. @TimHumasUnesa

