Tidak semua orang mampu menemukan jeda di tengah kesibukan. Namun, bagi Dr. Olievia Prabandini Mulyana, ruang melepas penat justru hadir dari hal-hal sederhana –membaca buku, healing bersama keluarga, hingga menikmati drama Korea. Dari tiga kegiatan itu ia memaknai hidup secara utuh, sekaligus memperkaya perspektifnya sebagai akademisi dan psikolog.
Kebiasaan membaca sudah melekat dalam diri Olievia sejak usia dini. Ia mulai akrab dengan buku sejak berusia sekitar lima hingga enam tahun. Meski lingkungan tempat tinggalnya di Kamal, Madura saat itu memiliki keterbatasan akses informasi, tapi hal itu justru menjadi salah satu faktor yang mendorongnya untuk mendapatkan informasi.
“Saya baca buku itu sejak kecil, sejak bisa baca. Karena waktu itu sumber informasi sangat terbatas. TV juga belum ramah anak, jadi buku menjadi salah satu cara untuk mendapatkan informasi,” ujarnya.

Akses terhadap buku pada masa itu tidak semudah sekarang. Untuk mendapatkannya, ia harus pergi ke kota kabupaten dengan waktu tempuh yang cukup lama menggunakan transportasi umum. Namun, keterbatasan tersebut tidak menjadi hambatan, melainkan justru memperkuat ketertarikannya terhadap aktivitas membaca.
Saat usia SMP, Olievia bersama teman-temannya kerap menyempatkan diri pergi ke kota untuk mencari buku yang diinginkan. Kegiatan tersebut bahkan menjadi rutinitas tersendiri, sekaligus ruang untuk berbagi minat yang sama terhadap bacaan.
“Untuk mendapatkan buku, kami harus menempuh sekitar satu sampai dua jam dengan kendaraan umum. Di lingkungan tempat tinggal saya waktu itu tidak ada yang menjual buku selain buku pelajaran,” ceritanya.
Dukungan orang tua juga menjadi faktor penting. Ia masih ingat momen paling berkesan adalah ketika ayahnya pulang kerja dari Surabaya. Ia selalu menunggu karena biasanya disertai dengan buku atau majalah baru untuk dibaca bersama di rumah.
Memasuki masa remaja hingga kuliah, minat bacanya mulai berkembang. Ia tidak hanya membaca majalah, tetapi juga mulai tertarik pada buku-buku yang lebih serius dengan pembahasan yang cukup berat, seperti manajemen, organisasi, hingga pengembangan diri.
Ia juga mengingat bagaimana budaya membaca saat itu terasa begitu hidup, terutama ketika berada di lingkungan kuliah akademik seperti di Yogyakarta. Aktivitas membaca bukan lagi sekadar hobi, melainkan sudah menjadi bagian dari keseharian. Ia kerap menjumpai orang-orang memanfaatkan waktu luang untuk membaca, bahkan hal sederhana seperti menunggu angkutan umum pun diisi dengan membaca koran atau buku.
Kebiasaan tersebut turut memengaruhinya dan teman-teman untuk melakukan hal yang sama. Buku sering dibaca bersama, didiskusikan, bahkan menjadi bagian dari rutinitas di sela aktivitas kuliah. Dari berbagai bacaan tersebut, salah satu buku yang paling membekas adalah Good to Great. “Di buku itu saya belajar bahwa musuh terbesar kita bukan kegagalan, tetapi kenyamanan. Ketika orang sudah nyaman, biasanya dia tidak ingin berubah,” ungkapnya.
Kecintaannya terhadap buku juga terlihat dari kebiasaannya mengoleksi bacaan. Olievia memiliki perpustakaan mini di rumahnya, baik di kampung halaman maupun di Surabaya, yang berisi beragam jenis buku, mulai dari komik, buku fiksi, nonfiksi, hingga buku-buku dengan pembahasan yang mendalam. “Jumlah koleksi buku telah mencapai ribuan yang saya kumpulkan selama bertahun-tahun,” ujarnya.
Healing Nuansa alam
Selain membaca buku, berjalan-jalan atau healing bersama keluarga menjadi salah satu cara Olievia untuk melepas penat di tengah kesibukan sebagai Wakil Dekan. Ia memanfaatkan waktu luang, terutama saat akhir pekan, untuk bepergian ke tempat-tempat yang menawarkan suasana alam yang tenang dan menyegarkan.
Beberapa daerah seperti Pandaan, Malang, hingga Yogyakarta dan Solo kerap menjadi pilihan untuk sekadar beristirahat sejenak dari rutinitas pekerjaan. Ia juga sesekali mengunjungi Bandung, yang merupakan kampung halaman sang suami, sekaligus menjadi bagian dari perjalanan yang membekas di hati.
Ia lebih menyukai destinasi alam yang tidak terlalu ekstrem, seperti kawasan taman, perbukitan, atau situs wisata yang tetap nyaman dijangkau. Hal ini juga menjadi pertimbangan karena perjalanan tersebut kerap dilakukan bersama orang tua dan keluarga.
“Kalau jalan-jalan itu lebih ke alam, tapi tidak yang ekstrem. Yang penting bisa menikmati suasana dan tetap nyaman, apalagi kalau bersama orang tua. Senyum mereka itu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi kami,” jelas Olievia.
Menariknya, dalam setiap perjalanan, Olievia dan keluarga memiliki kebiasaan singgah di kota-kota yang dilalui. Selain itu, saat perjalanan pulang, mereka kerap memilih rute berbeda agar bisa menikmati suasana dan pengalaman di tempat lain. “Kalau bersama keluarga itu jadi release stress. Kita bisa ngobrol santai, hal-hal ringan yang tidak kita dapatkan saat bekerja,” ungkapnya.
Senang Nonton Drakor
Selain membaca dan bepergian, Olievia juga memiliki hobi menonton drama Korea (drakor). Kebiasaan ini bermula saat menjalani masa pemulihan kesehatan sekitar 2020, ketika seorang mahasiswa mengirimkan rekomendasi tontonan untuk mengisi waktu luang. Dari sekadar hiburan, ia justru menemukan nilai lebih dalam drama Korea, terutama dalam memahami beragam karakter dan dinamika emosi manusia yang tidak selalu ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, beragam alur cerita dalam drama Korea menghadirkan banyak sudut pandang tentang cara seseorang merespons masalah, menghadapi tekanan, hingga mengambil keputusan. Hal tersebut turut memperkaya perspektifnya, termasuk dalam mendukung perannya sebagai seorang psikolog.
Di tengah tuntutan pekerjaan yang tinggi, ia percaya bahwa setiap orang perlu memiliki ruang untuk diri sendiri, ruang untuk belajar, tertawa, dan merasakan hidup secara utuh. “Yang penting bukan seberapa sibuk kita, tapi bagaimana kita tetap punya ruang untuk diri sendiri,” imbuhnya. @TimHumasUnesa

