Predikat Tendik Berprestasi Universitas Negeri Surabaya (Unesa) didapatkan Dewi Ratna Sari Firdausi. Tendik Direktorat Humas, Informasi Publik, dan Protokoler Unesa itu mengaku tidak mengetahui adanya penghargaan tersebut hingga namanya diumumkan. Ia pun tidak punya kiat khusus selain berupaya disiplin, bekerja penuh tanggung jawab, dan terus membuka diri untuk belajar.
Bagi Dewi, penghargaan bukanlah tujuan utama dalam bekerja. Yang terpenting adalah menjalankan tugas dan tanggung jawab dengan baik sesuai dengan peran yang dimiliki. Ia meyakini bahwa setiap pekerjaan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan memberikan hasil yang baik.

Salah satu hal yang menurutnya penting dimiliki oleh tenaga kependidikan adalah kedisiplinan. Kedisiplinan tidak hanya berkaitan dengan kepatuhan terhadap aturan, tetapi juga menjadi bentuk tanggung jawab terhadap pekerjaan yang telah dipercayakan. “Kalau memang ada aturan, ya diikuti. Misalnya masuk kerja pada jam tertentu, ya berusaha datang tepat waktu. Bukan soal bisa atau tidak, tetapi mau atau tidak,” tuturnya.
Selain disiplin, Dewi juga menekankan pentingnya memiliki kemauan untuk terus belajar. Menurutnya, perkembangan dunia kerja menuntut setiap individu untuk terus meningkatkan kapasitas diri, baik melalui pengalaman kerja, pelatihan, maupun pendidikan formal. “Kalau ada kesempatan belajar, ikut pelatihan, atau mengembangkan kemampuan, ya diikuti saja. Itu penting untuk meningkatkan soft skill dan hard skill,” katanya.
Menurut perempuan asal Pasuruan itu, tenaga kependidikan saat ini perlu memiliki kemampuan beradaptasi dengan berbagai perubahan. Sebab, dalam pelaksanaan tugas sehari-hari, sering kali dihadapkan pada berbagai tantangan yang membutuhkan keterampilan di luar bidang yang selama ini dikuasai. “Kemampuan multitasking menjadi salah satu keterampilan yang perlu dimiliki. Jangan hanya paham satu pekerjaan, tapi juga harus mau belajar hal-hal lain,” tandasnya.
Bagi Dewi, motivasi dalam bekerja sebaiknya tidak berfokus pada penghargaan atau pengakuan. Penghargaan dapat menjadi bentuk apresiasi, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana seseorang mampu menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab. “Yang penting bukan niat menjadi pegawai terbaik, tetapi niat untuk rajin dan bertanggung jawab terhadap pekerjaan yang sudah dipercayakan kepada kita,” ungkapnya.
Di tengah kesibukan pekerjaan, Dewi juga menyadari pentingnya menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Rutinitas yang padat dapat memunculkan rasa jenuh atau burnout apabila tidak dikelola dengan baik. Untuk mengatasinya, ia biasanya melakukan berbagai aktivitas yang disukai, seperti membaca buku, menonton film, bermain badminton, melukis dan berjalan santai. “Aktivitas tersebut menjadi cara bagi saya untuk mengembalikan energi setelah menjalani rutinitas pekerjaan,” katanya.
Dari Olahraga, Melukis hingga Lanjut Studi
Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, Dewi sudah cinta dengan olahraga, utamanya badminton. Meskipun tidak menekuninya sebagai atlet profesional, tapi olahraga tersebut tetap menjadi salah satu aktivitas yang rutin dilakukan ketika memiliki waktu luang.
Selain olahraga, melukis juga menjadi sarana bagi Dewi untuk mengekspresikan kreativitas. Ia mengaku senang bereksperimen dengan berbagai warna sebagai bentuk relaksasi setelah menjalani aktivitas yang padat.
Bagi Dewi, memiliki kegiatan atau hobi di luar pekerjaan dapat membantu seseorang menjaga keseimbangan hidup. Dengan demikian, seseorang tetap dapat bekerja secara optimal tanpa mengabaikan kebutuhan untuk beristirahat dan menikmati hal-hal yang disukai.
Semangat untuk terus belajar juga tercermin dari keinginannya melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Dewi mengaku masih memiliki harapan untuk menempuh pendidikan magister di bidang komunikasi. “Saya memang ingin terus belajar. Kalau ada kesempatan, saya ingin melanjutkan S2,” ujarnya.
Meski memiliki berbagai rencana ke depan, Dewi memilih untuk fokus menjalani tanggung jawab yang ada saat ini. Baginya, setiap proses perlu dijalani dengan sebaik-baiknya sambil tetap membuka diri terhadap berbagai peluang pengembangan diri.
Perjalanan Dewi bergabung dengan Unesa juga menjadi salah satu hal yang selalu ia syukuri. Sebelum lulus kuliah, ia pernah memanjatkan doa agar dapat memperoleh pekerjaan. Doa tersebut akhirnya terjawab ketika ia menjadi bagian dari keluarga besar Unesa. “Dulu saya pernah berdoa supaya bisa mendapatkan pekerjaan sebelum lulus. Alhamdulillah, doa itu dikabulkan,” kenangnya.
Ia juga menyadari bahwa pencapaian yang diraih hingga saat ini tidak terlepas dari dukungan keluarga, terutama doa kedua orang tua. Ia sangat yakin bisa sampai di titik ini bukan hanya karena usaha sendiri, tapi ada peran kedua orang tuanya. “Ada doa ibu dan ayah, juga dukungan dari orang-orang baik di sekitar saya,” tuturnya dengan suara tertahan.
Bagi Dewi, setiap orang memiliki proses dan perjalanan yang berbeda. Karena itu, ia mengajak sivitas akademika untuk terus mengembangkan diri, tidak takut mempelajari hal-hal baru, serta menjalankan tanggung jawab dengan sebaik-baiknya.
Menurutnya, disiplin, kemauan untuk belajar, dan kemampuan beradaptasi merupakan bekal penting untuk menghadapi berbagai tantangan di dunia kerja. Dengan terus bertumbuh dan meningkatkan kapasitas diri, setiap individu memiliki kesempatan untuk memberikan kontribusi terbaik di lingkungan tempatnya berkarya.
Penghargaan Tendik Berprestasi yang diterimanya menjadi salah satu pengalaman berharga. Namun, bagi Dewi, proses belajar dan upaya untuk terus berkembang merupakan hal yang perlu dijaga dalam setiap tahap kehidupan dan karier yang dijalani. @TimHumasUnesa

