Fenomena Gunung Kawi: Tradisi dan Kearifan Lokal yang Disalah Arti

Prespektif Dosen Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Unesa

Gunung Kawi di Kabupaten Malang, Jawa Timur sempat heboh di jagat maya media sosial lantaran isu praktik mistis dan pesugihan. Situs budaya ini justru dikaitkan dengan praktik pesugihan akibat salah kaprah terhadap ritual pencarian berkah. Berikut bincang prespektifdengan Budayawan Jawa sekaligus Akademisi Bahasa dan Sastra Jawa Unesa, Danang Wijoyanto, SPd MPd.

Belakangan ini Gunung Kawi sempat viral karena dikaitkan dengan praktik mistis dan pesugihan, apakah fenomena itu sesaat atau bentuk salah penafsiran budaya?

Awal mulanya tidak hanya gunung Kawi tapi alam secara umum, menurut filosofi Jawa “Memayu hayuning bawana, manunggaling kawula gusti.” Alam merupakan hal yang penting untuk dijaga. Dalam kepercayaan Jawa itu ada jagad alit dan jagad gede. Gunung Kawi dan semua gunung di Jawa itu memiliki peran strategis sebagai unsur alam yang harus dijaga. Ketika Gunungg Kawi dikaitkan dengan kepercayaan sebenarnya sama dengan gunung lain seperti Lawu, Arjuna, dll. Menjadi viral karena di media sosial isu pesugihan sering terdengar. Orang yang belum tahu dan belum pernah ke gunung Kawi jika dibilang di sana ada pesugihan langsung percaya. Yang sudah ada dari dulu itu kan ziarah sebenarnya di pesarean Mbah Jugo dan Mbah Iman Soedjono tokoh yang dianggap berjasa atau berpengaruh sehingga sering dikunjungi orang-orang. Bagi “penghayat” gunung Kawi itu untuk menenangkan diri dengan menikmati unsur-unsur alam.

Kearifan lokal yang seharusnya untuk menjaga alam, hak penghayat spiritual, tapi kemudian muncul pro kontra di media sosial, bagaimana menurut bapak?

Kalau ditanya harus dilestarikan atau ditinggalkan yang demikian itu, menurut saya pesugihan itu disalahartikan. Setahu saya “penghayat” itu memilih gunung karena suasananya tenang, sejuk, dan dekat dengan alam. Sebenarnya untuk ritualnya kalau ditarik ke arah logis, itukan sebenarnya nadzar atau slametan, entah setelah atau bahkan sebelum hajat itu berhasil. Tujuannya sebenarnya agar tidak ada halangan ke depannya, termasuk mencari rezeki atau membuka bisnis. Nah, ini yang disalahartikan tanpa alasan itu bisa langsung kaya, padahal acara ritual adat itu bukan untuk “instan”. Point penting bagi “penghayat” adalah buah meditasi, itu yang paling penting, mendekatkan diri dengan alam. Ketika acara slametan itu ada tumpeng ada ayam Ingkung, ubo rampe, setelah didoakan itu dimakan bersama tidak ditinggal begitu saja, dimakan oleh pengunjung atau masyarakat. Itukan sejatinya “sedekah” kepada orang lain, dan kalau kita sedakah dengan orang lain maka ketika berusaha atau membuka usaha itu akan dimudahkan, orang akan lebih kenal juga.

Melihat pro-kontra yang terjasi, sebaiknya dilestarikan atau tidak budaya yang semacam itu?

Yang menilai tetap masyarakat. Kalau yang saya ceritakan tadi adalah bentuk “penghayatan”, edukasi untuk menjaga hubungan baik dengan alam. Kalau urusan religi atau spiritual sekali lagi itukan kepentingan pribadi. Kalau masalah dilestarikan atau tidak ya itu tadi, jangan sampai disalahartikan simbol simbol budaya tadi. Apalagi kalau di media sosial gampang termakan isu, sebaiknya tidak langsung dinilai buruk, tapi perlu didalami makna budaya itu.

Berarti yang harus ditinggal sejatinya bukan budayanya tetapi cara pandang dan kehati-hati terhadap oknum-oknum tertentu, apalagi dengan mematok harga (price list)?

Ada dua price list sebenarnya. Pertama, dari oknum-oknum yang langsung mematok harga dari puluhan ribu, ratusan ribu hingga ratusan juta dan dijanjikan langsung kaya. Itu yang harus dihindari. Tetapi, di sana juga ada price list yang lain, yaitu harga-harga ubo rampe, misalnya harga tumpeng berapa, ayam Ingkung berapa, paket tumpeng dan ayam ingkung berapa, jadi lebih ke ubo rampe saja dan itu harganya masih masuk akal, tidak ada iming iming yang lain. Kalau mau nanggap wayang berapa harganya, itu kan sebenarnya tidak masalah, artinya budaya ini sebenarnya memberikan dampak positif terhadap ekonomi warga sekitar, inikan tidak masalah karena jasa, dari pada kesulitan membawa tumpeng sambil mendaki, ya bisa pesan di warga sekitar, dan itu sah-sah saja menurut saya apalagi harganya juga masuk akal. Lagian, ubo rampe itu akan dibagikan dimakan bersama, jadi tidak mubadzir.

Di era digital dan AI ini kan banyak hal diplesetkan, bagaiman peran akademisi agar bisa membantu meluruskan ke arah yang benar?

Sebagai akademisi termasuk juga budayawan memiliki peran meluruskan yang sudah beredar negatif di masyarakat dengan membuat konten counter, jadi kita harus melawan konten dengan konten, konten apapun itu, entah itu video, tulisan, dan lain-lain. Kita harus memberikan literasi yang sebenarnya sesuai dengan keilmuan. Kita bedah budaya itu secara dalam dan disajikan agar mudah dipahami masyarakat. Itu yang bisa kita lakukan.

Apa pesan penting terkait dengan fenomena gunung Kawi?

Jangan sampai tradisionalitas dan modernitas itu dibenturkan, tapi lebih baik diselaraskan. Sebab jika keilmuan yang etnosentris ini tidak dilestarikan nantinya bisa punah. Ajaran-ajaran leluhur atau kearifan lokal itu masih relevan dengan dunia global. Literasi yang baik tanpa menjelekkan kearifan lokal kita perlu terus dijaga, karena sebetulnya kalau mau digali kearifan lokal kita itu sejalan dengan global. Yang salah adalah oknum oknum yang mengiming-iming mencapai sesuatu secara instan dengan mental yang manipulatif, padahal itu yang ditentang dalam ritual ritual dan kearifan lokal itu terutama yang di gunung Kawi. @TimHumasUnesa

en_USEN