Melepas Rindu dengan Ibu, Menenangkan Diri lewat Warna

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Prof. Dr. Wiwik Sri Utami, M.P.

Waktu senggang bukan sekadar jeda dari rutinitas tugas akademik saja, namun menjadi momen untuk mengembalikan energi positif. Dua cara sederhana dilakukan untuk mengisi ruang jeda tersebut, yakni dengan pulang ke kampung halaman di Kediri dan melepas penat dengan aktivitas mewarnai (coloring).

Begitulah yang dilakukan Prof. Dr. Wiwik Sri Utami, M.P, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Unesa di tengah seabrek aktivitas pekerjaan yang dijalani. Hampir setiap bulang, Wiwik menyempatkan pulang ke kampung halaman di Desa Jabon, Kediri. Jika tidak ada rapat pimpinan (rapim) maupun tugas dinas luar kota, ia pasti menyempatkan diri pulang. “Biasanya, Jumat malam berangkat, pulang Minggu malam. Waktu senggang saya pakai untuk pulang kampung,” ujarnya.

Kampung halaman bagi Wiwik bukan sekadar tempat beristirahat. Sebab, masih ada sosok ibu yang selalu dirindukannya. Meski merupakan ibu angkat, kedekatan keduanya tidak berbeda seperti hubungan ibu dan anak kandung. “Sejak berusia 10 hari, saya telah diasuh oleh ibu angkat saya,” terangnya.

Di kampung halaman, sejatinya tidak ada aktivitas besar yang dilakukan perempuan kelahiran 5 Agustus 1967 itu. Pagi hari ia gunakan menemani sang ibu berjalan-jalan di sekitar rumah. Setelah agak siang, beraktivitas di kebun yang berada di samping dan belakang rumah. Ada berbagai tanaman seperti terong, cabai, bayam dan simbukan. “Kebun kecil itu menjadi ruang bagi kami untuk bercengkerama sekaligus menikmati suasana kampung,” bebernya.

Dari berkebun, aktivitas dilanjutkan dengan memasak dan makan bersama. Kesederhanaan itulah membuat Wiwik merasa nyaman. Baginya, kebersamaan dengan sang ibu tidak membutuhkan kegiatan yang istimewa dan mahal. “Masak bareng, terus makan bareng. Sederhana, tapi menurut saya itu bisa menyenangkan ibu dan saya,” tambahnya.

Menurut Wiwik, ada satu menu yang selalu membuatnya rindu pulang ke rumah, yakni opor ayam. Setiap kali pulang, sang ibu yang memelihara beberapa ekor ayam di sekitar rumah akan langsung menyembelih ayam kemudian dimasak menjadi opor. Yang istimewa, masakan ibunya memiliki cita rasa khas di lidah. “Sejak kecil, itu yang kami rindukan dan menjadi favorit sekeluarga,” katanya.

Setiap pulang, Wiwik terkadang sengaja tidak memberi tahu lebih dahulu kepada ibunya karena ingin memberikan kejutan sekaligus melihat langsung ekspresi sang ibu ketika mengetahui anaknya datang. Jika diberi tahu lebih awal, sang ibu biasanya akan terus menanyakan keberadaan Wiwik kepada keluarga. Sebaliknya, kedatangannya secara tiba-tiba menghadirkan kebahagiaan tersendiri. “Bahasa tubuh beliau itu yang tidak pernah saya lupakan,” ungkapnya.

Di balik kesederhanaan sang ibu, ada nasihat yang terus dibawa Wiwik hingga kini. Bukan tentang jabatan, penghasilan, atau pencapaian, sebab sang ibu pun tidak banyak memahami jabatan akademik yang disandangnya. Yang diketahui sang ibu, anaknya adalah seorang guru. “Nasihat yang saya ingat adalah agar selalu jujur dan bekerja tanpa banyak pamrih. Kerjakan apa pun dengan ikhlas dan sungguh-sungguh,” ujarnya mengingat pesan sang ibu.

Tenangkan Pikiran dengan Mewarnai

Selain pulang kampung, Wiwik memiliki cara lain untuk menikmati waktu luang, yakni dengan aktivitas mewarnai. Kegemaran atau hobi itu sebenarnya telah tumbuh sejak di Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Negeri di Kediri. Saat itu, sebagai calon guru sekolah dasar, ia mendapatkan mata pelajaran seni rupa. Ia mengaku mengidolakan guru seni rupanya. Berbagai tugas menggambar dan mewarnai yang diberikan sang guru lantas menjadi aktivitas menyenangkan baginya.

Keterampilan mewarnai kembali terasah ketika kuliah di jurusan Geografi. Ia menggambar dan mewarnai peta secara manual. Meski aktivitas mewarnai sempat lama ditinggalkan karena kesibukan, tapi hobi tersebut kembali muncul ketika pandemi Covid-19. Terbatasnya aktivitas di luar rumah membuat Wiwik harus mencari kegiatan yang dapat dilakukan dengan tenang. “Saya kembali mengambil pensil warna dan mulai mewarnai berbagai gambar,” terangnya.

Awal aktivitas mewarna, Wiwik hanya menggunakan buku mewarnai sederhana seperti yang dimiliki anak-anak sekolah dasar. Seiring waktu, pilihannya berkembang. Ia mulai membeli buku dengan gambar yang lebih kompleks, termasuk gambar rangkaian bunga. Kini, coloring menjadi salah satu aktivitas yang dilakukan ketika memiliki waktu luang. Bahkan, ketika malam hari sulit tidur dan sudah merasa lelah membuka laptop, ia memilih mengambil buku dan mulai mewarnai.

Untuk mewarnai, Wiwik menggunakan pensil warna dan crayon. Gambar bunga menjadi objek yang paling sering dipilihnya. Bukan satu bunga dalam satu halaman, melainkan rangkaian berbagai bunga yang kemudian diberi warna sesuai keinginannya.

Baginya, hasil coloring tidak ditujukan untuk dijual ataupun dipamerkan. Aktivitas tersebut dilakukan semata-mata untuk dirinya sendiri, sebagai ruang kecil untuk menikmati sesuatu yang disukai. “Kesibukan tinggi itu pasti menyita pikiran dan waktu. Kita juga harus mengimbangi dengan kebutuhan pribadi. Kalau tidak, itu akan stres berkepanjangan dan tidak baik untuk kinerja,” jelasnya.

Pulang ke Jabon dan mewarnai mungkin terlihat sebagai dua aktivitas sederhana bagi orang lain. Namun, bagi Wiwik, keduanya memiliki makna yang berbeda sekaligus saling melengkapi. Baginya, pulang ke desa dan mewarnai menjadi cara untuk menyeimbangkan diri. Dengan pulang ke kampung halaman, ia bisa melepas rindu bertemu ibu dan kembali merasakan suasana desa yang membesarkannya. Sementara mewarnai menjadi ruang menenangkan pikiran setelah menjalani berbagai kesibukan. @TimHumasUnesa

en_USEN