Tekuni Voli Sejak Usia 10 Tahun, Bakatnya Berkembang bersama Tim Jakarta Garuda

Kiprah Fauzan Nibras, Sosok Mahasiswa Unesa yang Turut Andil atas Raihan Juara 1 AVC Men’s Volleyball Cup 2026

Fauzan Nibras, mahasiswa baru S-1 Pendidikan Kepelatihan Olahraga (PKO) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) turut mengharumkan kampus Unesa dan Indonesia. Bersama Tim Nasional Bola Voli Indonesia, ia  berhasil meraih juara 1 AVC Men’s Volleyball Cup 2026. Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa karier sebagai atlet nasional dan mahasiswa dapat dijalani secara beriringan.

Perjalanan Fauzan di dunia bola voli dimulai sejak duduk di bangku kelas 5 sekolah dasar. Saat usianya baru menginjak 10 tahun itu, ia telah menekuni olahraga bola voli. Bakatnya kemudian berkembang bersama tim Jakarta Garuda. Kemampuannya bermain voli mendapatkan perhatian dari Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PBVSI), yang kala itu tengah menjaring pemain muda berbakat sebagai bagian dari regenerasi tim nasional. “Alhamdulillah, saya berhasil terpilih,” ujarnya singkat.

Kesempatan tersebut menjadi titik penting dalam perjalanan kariernya. Fauzan akhirnya mendapat panggilan untuk bergabung dengan skuad Timnas Bola Voli senior Indonesia. Bagi pemain muda itu, kesempatan tersebut bukan hanya menjadi lompatan dalam karier olahraga, tetapi juga tantangan baru untuk membuktikan kemampuan di level yang lebih tinggi.

Menjelang kompetisi AVC Men’s Volleyball Cup 2026 di India, Fauzan terus berbenah. Ia lebih memfokuskan diri pada kesiapan mental dan semangat juang. Ia menyadari bahwa persaingan di level internasional membutuhkan persiapan yang matang, baik secara fisik maupun mental. Karena itu, ia berusaha menunjukkan kreativitas serta performa terbaik selama latihan untuk mendapatkan kepercayaan bermain.

Menariknya, selama kompetosi berlangsung, Fauzan mengaku tidak terlalu merasakan ketegangan, meskipun persaingannya sangat ketat. Padahal, sebelumnya, Tim Indonesia telah berhasil memenuhi target yang ditetapkan PBVSI meraih juara. Rasa tegang justru muncul ketika dirinya mendapat kepercayaan untuk turun ke lapangan. “Rasa tegang justru muncul saat dipercaya untuk turun bermain. Di sana, saya merasa punya tanggung jawab besar untuk tampil maksimal di lapangan,” ungkapnya.

Perjuangan tim Indonesia mencapai puncaknya pada pertandingan final menghadapi Korea Selatan. Kemenangan tidak diraih begitu saja. Persiapan dan analisis strategi menjadi salah satu kunci keberhasilan tim. Para pemain mempelajari rekaman pertandingan lawan sebelum laga final berlangsung. Pengalaman menghadapi Korea Selatan pada babak penyisihan juga membantu tim memahami pola permainan lawan.

Ketika peluit akhir dibunyikan dan Indonesia dinyatakan sebagai juara, Fauzan mengaku masih sulit mempercayai pencapaian tersebut. Bahkan setelah berhasil melaju ke partai final, ia masih merasa tidak menyangka dapat membawa pulang gelar juara. “Ketika peluit akhir dibunyikan dan kami dinyatakan sebagai juara, saya benar-benar tidak menyangka. Bahkan ketika kami berhasil menembus final, saya masih merasa tidak percaya,” jelasnya.

Berikan yang Terbaik untuk Indonesia

Berhasil mempersembahkan target juara, tentu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Fauzan. Ia mengaki, momen tersebut menjadi salah satu pengalaman paling berkesan dalam perjalanannya sebagai atlet. Baginya, kemenangan tersebut bukan hanya tentang pencapaian pribadi, tetapi juga kesempatan untuk memberikan sesuatu yang terbaik bagi Indonesia sekaligus membahagiakan kedua orang tuanya.

Di balik prestasi tersebut, Fauzan juga mengapresiasi dukungan Unesa sehingga ia dapat menjalani dua peran sekaligus, yakni sebagai mahasiswa dan atlet nasional. Dukungan tersebut membantunya tetap mengikuti perkuliahan meski harus menjalani jadwal latihan dan pertandingan yang cukup padat.

Menjadi bagian dari Timnas Indonesia sekaligus mahasiswa Unesa menjadi kebanggaan tersendiri bagi Fauzan. Dua peran tersebut menjadi motivasi baginya untuk terus memberikan performa terbaik, baik ketika berada di lapangan maupun saat mengikuti perkuliahan. “Semua bisa berjalan beriringan,” ungkapnya.

Selain mengejar prestasi olahraga, Fauzan juga memiliki target akademik. Ke depan, ia berencana melanjutkan pendidikan hingga jenjang doktoral. Baginya, dunia olahraga dan pendidikan bukan dua pilihan yang harus dipisahkan. Keduanya dapat berjalan berdampingan selama dijalani dengan komitmen dan manajemen waktu yang baik.

Sementara dalam karier profesionalnya, Fauzan berencana tetap aktif sebagai pemain voli hingga usia 35 tahun. Rencana tersebut menunjukkan keseriusannya untuk terus berkontribusi dalam perkembangan olahraga Indonesia. “Saya ingin mempertahankan karier sebagai atlet sekaligus terus mengembangkan diri melalui Pendidikan,” tegasnya.

Bagi mahasiswa Unesa yang sedang mengejar prestasi, khususnya di bidang olahraga, Fauzan berpesan agar tidak mudah menyerah dalam menghadapi proses. Menurutnya, setiap pencapaian membutuhkan kerja keras dan konsistensi. “Tetap semangat dan terus berjuang, karena tidak ada hal yang tidak mungkin selama kita terus melangkah dan tidak berhenti berusaha,” tandas Fauzan menyampaikan pesan.

Kisah Fauzan menjadi gambaran bahwa prestasi akademik dan olahraga dapat berjalan beriringan. Dengan kerja keras, disiplin, serta dukungan lingkungan yang tepat, mahasiswa tetap dapat mengembangkan potensi di luar ruang kuliah. Sebagai mahasiswa PKO sekaligus atlet Timnas voli Indonesia, Fauzan membuktikan bahwa dua dunia tersebut dapat dijalani bersama untuk membawa nama Unesa dan Indonesia ke panggung yang lebih luas. @Daffa

en_USEN