Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menunjukkan kepedulian sosial terhadap sesama. Melalui program Unesa Peduli Bencana, Unesa mengirimkan tim relawan di bidang kesehatan, pendampingan psikososial, dan penguatan layanan masyarakat untuk membantu pemulihan warga Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur pasca gempa.
Gempa bumi berkekuatan magnitudo M 7,7mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) dan sekitarnya pada Sabtu, 15 Agustus 2026) pukul 04.58 WIB. Gempa tersebut meninggalkan dampak cukup besar bagi masyarakat. Salah satunya, kerusakan fasilitas kesehatan yang membuat sebagian warga harus mengalami keterbatasan akses pemeriksaan dan pengobatan. Kondisi tersebut, menggerakkan Unesa melalui program Unesa Peduli Bencana untuk membantu menjaga layanan kesehatan tetap berjalan, terutama di Kabupaten Manggarai yang mengalami dampak paling besar.

Program Unesa Peduli Bencana berlangsung pada 3–7 September 2026 dengan melibatkan tim relawan lintas bidang mulai tenaga kesehatan, dosen, dan mahasiswa. Tim relawan mendirikan pusat kegiatan di Posko Manggarai. Melalui posko itu, mereka bergerak menuju sejumlah wilayah terdampak untuk memberikan pelayanan medis, pendampingan psikososial, pendidikan darurat, dan distribusi bantuan kemanusiaan.
Tim relawan menemui sejumlah tantangan akibat keterbatasan fasilitas kesehatan, salah satunya di Kecamatan Reo, Kabupaten Manggarai. Sejumlah layanan terpaksa harus dialihkan ke posko sementara karena bangunan kesehatan mengalami dampak akibat gempa. Kondisi tersebut membuat masyarakat, terutama kelompok rentan seperti ibu hamil, bayi, dan balita, membutuhkan perhatian lebih selama masa pemulihan.
Salah satu fokus utama tim relawan kesehatan Unesa yang dipimpun dr Muhamad Fachry bersama Anindya Aurellia Ardianto Putri, mahasiswa Program Studi S1 Kebidanan Fakultas Kedokteran Unesa adalah menjaga kesehatan ibu dan anak. Pemeriksaan dilakukan terhadap 70 ibu hamil di wilayah terdampak. “Dari jumlah tersebut, kami temukan 18 kasus kehamilan berisiko tinggi yang membutuhkan pemantauan dan tindak lanjut,” ujar dr Muhammad Fachry.
Kasus yang ditemukan meliputi hipertensi dalam kehamilan, dugaan preeklampsia, anemia, posisi janin tidak normal, serta kondisi letak plasenta rendah. Pemeriksaan dilakukan melalui layanan ultrasonografi (USG) untuk mengetahui kondisi ibu dan janin secara lebih awal. Setelah pemeriksaan awal, ibu hamil mendapatkan layanan Antenatal Care (ANC) berupa pemeriksaan kesehatan, edukasi tanda bahaya kehamilan, konseling, hingga penanganan sesuai kondisi masing-masing. “Deteksi dini sangat penting agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat, terutama bagi ibu hamil yang memiliki faktor risiko,” ungkapnya.
Fachry menambahlan, penguatan layanan juga dilakukan melalui kerja sama dengan Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) serta Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Tim memperkuat layanan Pelayanan Obstetri dan Neonatal Emergensi Dasar (PONED) agar ibu hamil dengan kondisi berisiko tetap memperoleh akses penanganan medis.
Fokus Kesehatan dan Psikososial
Selain layanan ibu dan anak, tim kesehatan Unesa juga memberikan pelayanan kepada masyarakat umum. Sekitar 100 warga mendapatkan pemeriksaan kesehatan dengan keluhan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) sebagai kasus yang banyak ditemukan.
Ketua tim layanan kesehatan Unesa, dr. Rizky Patria Nevangga, menjelaskan bahwa posko kesehatan menjadi tempat masyarakat memperoleh pemeriksaan awal, konsultasi, hingga penanganan terhadap keluhan yang muncul selama masa pemulihan. “Banyak masyarakat mengalami keluhan ISPA sehingga menjadi salah satu perhatian utama tim di lapangan,” katanya.
Pelayanan tersebut diberikan bersama dr. Allia Fitrah Amarra dengan dukungan mahasiswa Program Studi S1 Kedokteran Fakultas Kedokteran Unesa. Tim memberikan pemeriksaan dasar, konsultasi medis, serta penanganan awal sesuai kondisi pasien.
Dukungan terhadap tenaga kesehatan lokal juga diberikan melalui penyerahan peralatan medis berupa dua set instrumen partus, lima partus set, 10 partus pack, satu unit doppler fetal, obat-obatan, dan perlengkapan pendukung posko kesehatan. “Bantuan tersebut membantu tenaga kesehatan setempat mempertahankan pelayanan medis ketika fasilitas dan peralatan masih dalam proses pemulihan,” ujar dr Rizky.
Dampak kondisi psikologis anak-anak pasca gempa, juga menjadi perhatian tim relawan. Kerusakan lingkungan sekolah dan pengalaman menghadapi bencana membuat sebagian siswa membutuhkan ruang untuk memahami serta mengelola perasaan mereka. Tim Unesa Peduli memberikan pendampingan di SMP Negeri 1 Langke Rembong. Ada sekitar 200 siswa kelas VIII yang mengikuti pendampingan psikososial sebagai bagian dari upaya membantu siswa kembali merasa aman setelah mengalami traumatis akibat gempa.
Direktur Direktorat Pencegahan dan Penanggulangan Isu Strategis (PPIS) Unesa, Prof. Mutimmatul Faidah menyampaikan bahwa perguruan tinggi memiliki peran dalam membantu masyarakat menghadapi situasi darurat. Unesa ingin hadir bagi masyarakat yang membutuhkan pendampingan, khususnya anak-anak dan warga yang terdampak bencana.
Pendampingan, ujar Mutimmatul Faidah, dilakukan melalui permainan kelompok, aktivitas interaktif, diskusi, latihan relaksasi, serta teknik pernapasan sederhana. Melalui kegiatan tersebut, siswa diajak mengenali emosi yang muncul setelah bencana sekaligus belajar cara menghadapi rasa cemas ketika terjadi gempa susulan.
“Bagi para siswa, kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk kembali berinteraksi dan membangun kepercayaan diri. Suasana belajar yang sempat terganggu perlahan diarahkan kembali agar mereka siap melanjutkan aktivitas pendidikan,” terangnya.
Tidak dapat dipungkiri bahwa pemulihan pasca bencana membutuhkan waktu dan kerja bersama. Karena itu, langkah Unesa di Manggarai diarahkan pada penguatan layanan yang dapat terus berjalan setelah masa tanggap darurat berakhir. Bersama pemerintah daerah, tenaga kesehatan, serta berbagai mitra, Unesa turut membahas revitalisasi Puskesmas Reo dan penguatan jejaring pelayanan melalui lima Puskesmas Pembantu (Pustu) serta enam Pondok Bersalin Desa (Polindes).
Rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan bahwa penanganan bencana bukan hanya tentang memberikan bantuan sesaat. Kehadiran layanan kesehatan, pendampingan psikologis, dan penguatan fasilitas menjadi bagian dari upaya menjaga masyarakat tetap memiliki akses terhadap kebutuhan dasar selama proses pemulihan. Para relawan membawa satu pesan penting bahwa pemulihan masyarakat dapat berjalan melalui kepedulian yang hadir secara nyat dari ruang pelayanan kesehatan hingga ruang belajar anak-anak. @putra

Cerita Anindya, Mahasiswi Kebidanan Unesa yang Tergabung dalam Relawan Unesa Peduli Gempa NTT
Bantu Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak, Pindah-pindah ke Sejumlah Lokasi Pelayanaan
Anindya Aurellia Ardianto Putri bersama tim relawan Unesa turun langsung membantu pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT), termasuk mendampingi ibu hamil yang membutuhkan pemeriksaan dan penanganan medis. Pengalaman penting itu pun mengubah cara pandangnya sebagai mahasiswi kebidanan.
Anindya memulai perjalanan sebagai relawan pada 4 September 2026 bersama tim Fakultas Kedokteran (FK) Unesa. Selama beberapa hari, ia terlibat langsung menjalankan misi kemanusiaan. Mereka berpindah dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Lapangan Manggarai di sekitar Bandara Ruteng menuju sejumlah lokasi pelayanan, seperti Kecamatan Reo dan Bangka Kenda.
Sebagai mahasiswa S1 Kebidanan Unesa, Anin mendapat peran membantu pelayanan kesehatan ibu dan anak. Ia mendampingi proses pemeriksaan pasien, membantu pencatatan pemeriksaan kehamilan, dan mendukung pelayanan antenatal care (ANC) yang dilakukan oleh tim bidan dan dokter spesialis obstetri dan ginekologi.
Kondisi di lapangan membuat pelayanan kesehatan harus dilakukan dengan berbagai penyesuaian. Keterbatasan alat medis, obat-obatan, hingga akses menuju fasilitas rujukan menjadi tantangan yang harus dihadapi para relawan. Di beberapa wilayah, masyarakat harus menempuh perjalanan hingga berjam-jam untuk mendapatkan pemeriksaan lanjutan.
“Yang menjadi kendala adalah alat dan obat-obatan yang terbatas karena terdampak gempa. Untuk rujukan juga cukup jauh, bisa membutuhkan waktu dua sampai tiga jam,” ujar perempuan yang akrab disapa Anin itu.
Salah satu pengalaman yang membekas bagi Anin terjadi ketika menangani pasien dengan kondisi gangguan pernapasan di Bangka Kenda. Tim menemukan pasien dengan riwayat asma yang mengalami penurunan saturasi oksigen hingga 55 persen. Dengan keterbatasan fasilitas yang tersedia, dokter memberikan penanganan awal sebelum memutuskan melakukan rujukan ke RSUD Lapangan yang memiliki fasilitas lebih lengkap.
Bagi Anin, pengalaman tersebut memberikan pelajaran besar mengenai pentingnya ketelitian dalam pelayanan kesehatan. Ia masih mengingat seorang ibu yang datang untuk pemeriksaan kehamilan setelah menunggu kehadiran buah hati selama bertahun-tahun. Namun, hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi yang berbeda dari harapan sang ibu.
Peristiwa itu membuat Anin memahami bahwa tenaga kesehatan memiliki tanggung jawab besar dalam menyampaikan informasi kepada pasien. Baginya, komunikasi yang tepat menjadi bagian penting dalam menjaga kondisi psikologis pasien. “Dari situ saya belajar untuk lebih baik lagi dalam melakukan anamnesis dan memberikan informasi kepada pasien agar tidak memberikan harapan yang belum pasti,” katanya.
Selain memberikan pelayanan medis, keberadaan relawan Unesa juga menjadi bentuk dukungan bagi masyarakat yang masih menghadapi dampak pascabencana. Tim membantu memastikan ibu hamil, bayi, dan masyarakat umum tetap memperoleh akses kesehatan meski berada dalam situasi darurat.
Selama berada di lokasi, Anin dan tim juga melihat persoalan kesehatan yang perlu mendapat perhatian lebih lanjut, terutama tingginya risiko kehamilan di beberapa wilayah NTT. Temuan tersebut menjadi bahan refleksi akademik bagi sivitas Unesa untuk mengkaji lebih jauh faktor yang memengaruhi kondisi kesehatan ibu dan anak di daerah terdampak.
Bagi Anin, perjalanan sebagai relawan bukan sekadar tugas kemanusiaan. Pengalaman itu menjadi ruang belajar yang mempertemukannya dengan realitas pelayanan kesehatan di lapangan. @putra

