Program double degree menjadi salah satu tahapan penting dalam perjalanan internasionalisasi Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Lebih dari sekadar memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menempuh pendidikan di perguruan tinggi luar negeri, program tersebut mendorong penyesuaian kurikulum, penguatan tata kelola akademik, hingga terbukanya peluang kolaborasi tridarma dengan mitra internasional.
Direktur Direktorat Pendidikan dan Transformasi Pendidikan (DPTP) Unesa, Prof. Rooselyna Ekawati, Ph.D., mengatakan bahwa pelaksanaan program double degree tahun ini merupakan bagian dari proses panjang internasionalisasi pendidikan di Unesa. Program, ini dimulai sejak sekitar 2008–2009 ketika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) mulai menginisiasi kelas internasional. Selanjutnya, program tersebut berkembang di berbagai program studi melalui skema international track maupun kelas unggulan.
Seiring berkembangnya kerja sama internasional, terang Rooselyna, Unesa membangun kemitraan dengan berbagai perguruan tinggi luar negeri untuk mengembangkan program double degree maupun joint degree. “Tahun ini, program tersebut mulai diwujudkan melalui pengiriman mahasiswa jenjang sarjana ke sejumlah negara mitra,” ujarnya.
Guru Besar FMIPA itu menjelaskan, mahasiswa Unesa tahun ini mengikuti program di beberapa negara, termasuk China dan Taiwan. Program tersebut melibatkan mahasiswa dari sejumlah program studi yang telah memiliki kesiapan kerja sama dan kurikulum dengan perguruan tinggi mitra.
Dari perspektif pengelolaan pendidikan, keberadaan program double degree juga mendorong terjadinya transformasi pembelajaran. Ketika program studi Unesa bekerja sama dengan perguruan tinggi luar negeri, terdapat kebutuhan untuk memastikan kesesuaian kurikulum antarkedua institusi.
“Ketika kita punya mitra di luar negeri, maka mau tidak mau prodi itu harus bisa beradaptasi dan bertransformasi. Untuk double degree atau joint degree, kurikulum prodi itu minimal 70 persen untuk double degree dan 50 persen untuk joint degree harus sama,” jelasnya.
Karena itu, DPTP berperan mengoordinasikan proses penyelarasan kurikulum antara program studi di Unesa dan perguruan tinggi mitra. Kesamaan tersebut tidak hanya berkaitan dengan daftar mata kuliah, tetapi juga memastikan mahasiswa dapat menjalani proses pembelajaran yang terintegrasi ketika berpindah dari satu institusi ke institusi lainnya.
Rooselyna menegaskan, mekanisme tersebut lebih tepat dipahami sebagai matching atau kesesuaian kurikulum. Sebelum mahasiswa berangkat, program studi di Unesa dan program studi mitra harus memastikan bahwa kurikulum yang digunakan telah memenuhi persentase kesesuaian yang ditetapkan.
Pelaksanaan program tersebut juga memberikan pembelajaran baru bagi Unesa dalam membangun sistem akademik yang lebih adaptif terhadap kebutuhan internasional. Salah satu tindak lanjutnya adalah penyusunan buku pedoman program double degree oleh DPTP yang akan menjadi landasan dalam penyelenggaraan program, baik kerja sama double degree dengan perguruan tinggi luar negeri maupun dengan perguruan tinggi dalam negeri.
Bagi Rooselyna, pengalaman angkatan pertama menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem internasionalisasi yang lebih luas. Mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman belajar di luar negeri, tetapi juga belajar beradaptasi dengan lingkungan akademik dan budaya global. “Melalui program ini, anak-anak tidak hanya mendapatkan pendidikan, tetapi pasti akan menambah wawasan mereka studi di luar negeri dan beradaptasi di lingkungan global,” tuturnya.
Rooselyna menambahkan, program double degree juga membuka peluang kerja sama yang melampaui bidang pendidikan. Kehadiran mahasiswa di perguruan tinggi mitra dapat menjadi pintu masuk bagi pengembangan kolaborasi riset, pengabdian kepada masyarakat, hingga kemitraan akademik lainnya. Mahasiswa yang mengikuti program tersebut berpotensi terlibat dalam jejaring akademik lebih luas, termasuk pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
“Pengalaman ini nantinya menjadi pijakan untuk program-program berikutnya, sehingga bisa diterapkan di prodi-prodi yang lain. Termasuk bagaimana kita memperkuat keselarasan kurikulum dan membuka kolaborasi yang lebih luas dengan mitra luar negeri,” tandasnya. @Ja’far

Realisasikan Program Double Degree, FBS Kerja sama dengan CCNU Tiongkok
Upaya merealisasikan program double degree dilakukan Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Surabaya melalui kerja sama dengan perguruan tinggi mitra di luar negeri. Salah satunya, melalui kerja sama dengan Central China Normal University (CCNU), Cina untuk mahasiswa Program Studi S1 Pendidikan Bahasa Mandarin.
Dekan FBS Unesa, Syafi’ul Anam PhD mengatakan bahwa program double degree telah dirintis sejak dua tahun lalu. Pada tahap awal, FBS mengembangkan kelas rintisan internasional di seluruh program studi sebagai bagian dari persiapan internasionalisasi pendidikan. “Dari proses tersebut, Prodi S1 Pendidikan Bahasa Mandarin menjadi salah satu program yang berhasil mengembangkan kolaborasi dengan perguruan tinggi mitra luar negeri,” ujar Dekan.
Komunikasi dengan CCNU, ujar Syafi’ul Anam, melalui proses yang cukup panjang, salah satunya melalui penyelarasan kurikulum kedua perguruan tinggi. Setelah rampung penyelarasan, Unesa dan CCNU menyepakati skema double degree two plus two. Skemanya, mahasiswa kuliah dua tahun di FBS Unesa semester 1 sampai dengan semester 4, kemudian dua tahun berikutnya kuliah di Cina semester 5 sampai dengan semester 8.
Selain itu, mahasiswa juga memperoleh pengalaman praktik melalui Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) di sekolah mitra di Cina. Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya berlangsung di lingkungan perguruan tinggi, tetapi juga memberikan pengalaman langsung dalam lingkungan pendidikan di negara tujuan.
Syafi’ menambahkan, pelaksanaan program double degree membutuhkan persiapan dari berbagai aspek. Selain penyelarasan kurikulum, FBS memastikan mahasiswa memenuhi persyaratan kemampuan bahasa Mandarin. Salah satunya melalui HSK (Hanyu Shuiping Kaoshi) yang menjadi standar kemampuan bahasa bagi mahasiswa. “HSK-nya minimal sudah harus terpenuhi. HSK itu semacam TOEFL atau IELTS-nya untuk di Cina,” katanya.
FBS turut melakukan sosialisasi kepada wali mahasiswa untuk menjelaskan manfaat dan mekanisme program sekaligus memastikan mahasiswa dan keluarga memahami kebutuhan baik secara materiil maupun moril selama studi di Cina. Pada tahun ini, tiga mahasiswa telah berangkat dan mulai menjalani pendidikan di CCNU. “Keberangkatan tersebut menjadi tahap awal pelaksanaan program yang selanjutnya akan terus dikembangkan,” ujarnya.
Bagi Dekan FBS itu, double degree tidak sekadar menjadi bentuk kerja sama internasional, tetapi juga salah satu upaya meningkatkan kualitas dan daya saing lulusan. Mahasiswa akan memperoleh dua gelar, yakni dari Unesa dan perguruan tinggi mitra. “Karena jalur pendidikan ini mengintegrasikan dua program di perguruan tinggi, artinya mahasiswa nanti akan dapat dua gelar, yaitu dari Unesa dan dari perguruan tinggi mitra,” ungkapnya.
Selain manfaat akademik, pengalaman belajar langsung di Cina memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk meningkatkan kemampuan bahasa dan memahami budaya secara lebih mendalam. Mahasiswa dapat berinteraksi langsung dengan masyarakat lokal serta lingkungan yang menggunakan bahasa Mandarin dalam kehidupan sehari-hari. “Kalau di sini kan hanya belajar bahasa Mandarin dan sedikit mendapatkan pengalaman budaya, tapi kalau di sana langsung first-hand experience,” jelasnya.
Pengalaman tersebut juga menjadi ruang bagi mahasiswa mengembangkan kemampuan beradaptasi, soft skill, dan cross-cultural understanding. Interaksi dengan mahasiswa dari berbagai negara dan masyarakat lokal turut memperluas jejaring internasional yang diharapkan bermanfaat setelah mereka lulus.
FBS juga menargetkan pengembangan program double degree ke program studi lain, selain Prodi S1 Pendidikan Bahasa Mandarin. Ke depan, FBS akan menyiapkan mahasiswa angkatan 2025 yang diproyeksikan mengikuti program double degree berikutnya. “Sosialisasi kepada mahasiswa dan wali mahasiswa akan kami perkuat agar persiapan dapat dilakukan lebih baik,” tegasnya. @Diva

Gandeng BUCT, FT Tekankan Program Double Degree sebagai Pintu Kompetensi Global
Internasionalisasi perguruan tinggi pada akhirnya harus memberikan dampak nyata kepada mahasiswa. Tidak hanya berupa kerja sama antarinstitusi atau pengakuan di tingkat global, tetapi juga kesempatan bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman, kompetensi, dan peluang yang lebih luas.
Semangat tersebut diwujudkan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) melalui program double degree bersama Beijing University of Chemical Technology (BUCT), China. Tahun ini, enam mahasiswa Fakultas Teknik (FT) Unesa menjadi angkatan pertama yang mengikuti program double degree jenjang sarjana. Mereka berasal dari Program Studi S1 Sistem Informasi dan S1 Teknik Informatika yang akan mengikuti program studi Computer Science and Technology selama empat semester atau dua tahun.
Dekan Fakultas Teknik Unesa, Prof Suparji, menjelaskan bahwa setelah menyelesaikan proses pendidikan sesuai ketentuan kedua perguruan tinggi, mahasiswa akan memperoleh pengakuan akademik dari BUCT dan Unesa. Mereka akan memperoleh gelar dari BUCT. Setelah menyelesaikan seluruh proses studi di Unesa, mereka juga akan memperoleh gelar dari Unesa. “Jadi, setelah menyelesaikan program double degree, mahasiswa akan memperoleh dua gelar,” terang Suparji.
Menurut Guru Besar Fakultas Teknik itu, program tersebut tidak semata-mata tentang memperoleh dua gelar. Tapi, terdapat proses internasionalisasi pendidikan yang memberikan kesempatan bagi mahasiswa belajar dalam lingkungan akademik global. Pengalaman belajar di perguruan tinggi luar negeri membuka ruang bagi mahasiswa untuk beradaptasi dengan sistem pendidikan yang berbeda, perkembangan teknologi, serta lingkungan akademik dan budaya yang lebih beragam. “Hal tersebut menjadi bekal penting bagi mahasiswa untuk membangun kompetensi dan perspektif global,” ujarnya.
Baginya, salah satu dampak penting dari program double degree adalah adanya peluang untuk menyelaraskan dan memperoleh pengakuan terhadap kurikulum dengan standar pendidikan internasional. Salah satunya, kurikulum Unesa dapat diakui dan diselaraskan dengan kurikulum di BUCT tingkat internasional. Selain itu, enam mahasiswa nantinya akan memiliki peluang lebih luas untuk mendapatkan tawaran pekerjaan, melakukan riset, maupun melanjutkan studi.
Melalui program double degree, tambah Suparji, mahasiswa tidak hanya membawa bekal akademik dari program studi asal, tetapi juga memperoleh pengalaman belajar dalam sistem pendidikan internasional Pengalaman tersebut diharapkan dapat memperkuat kemampuan adaptasi, jejaring, serta kesiapan mereka menghadapi dunia profesional yang semakin terbuka.
Keberangkatan enam mahasiswa tersebut juga memiliki arti strategis bagi perjalanan internasionalisasi Unesa. Mereka menjadi pembuka jalan bagi pengembangan program serupa pada masa mendatang. “Harapan kami, program ini menjadi pionir. Ini merupakan pertama kalinya kami memberangkatkan mahasiswa mengikuti program double degree jenjang sarjana,” ungkap Suparji.
Sebagai pionir, keenam mahasiswa tersebut tidak hanya menjalani perjalanan akademik untuk kepentingan pribadi. Pengalaman yang mereka peroleh diharapkan dapat menularkan semangat internasionalisasi kepada mahasiswa lain dan membuka peluang bagi program studi lain untuk mengembangkan kerja sama serupa.
Suparji berharap seluruh mahasiswa dapat menyelesaikan studi dengan lancar dan membawa pulang pengalaman yang memberikan dampak bagi lingkungan akademik Unesa. Selain itu, pengalaman mereka dapat menularkan semangat dan menjadi inspirasi bagi program studi lain, baik di Fakultas Teknik maupun fakultas lain di lingkungan Unesa.
“Keberhasilan internasionalisasi tidak hanya diukur dari banyaknya kerja sama yang terjalin. Tapi, bagaimana dampaknya bagi mahasiswa dalam memperoleh kesempatan lebih luas untuk belajar, berkembang, melakukan riset, dan membangun masa depan di tingkat global,” pungkasnya. @Ja’far
Cerita Sabrina dan Vania, Dua Mahasiswa Unesa yang Mengikuti Program Double Degree di Cina

Perluas Jejak Internasional melalui Kerja sama Akademik Lintas Negara
Melalui program double degree, sejumlah mahasiswa Universitas Negeri Surabaya berkesempatan menimba ilmu langsung di negeri Tirai Bambu, China. Dua di antaranya adalah Sabrina Zahidah, mahasiswi Program Studi Bahasa Mandarin yang menempuh studi di Central China Normal University (CCNU) dan Vania Setyorini Purba, mahasiswi Program Studi Sistem Informasi yang menjalani double degree di Beijing University of Chemical Technology (BUCT).
Kedua mahasiswa itu menjadi representasi langkah Unesa memperluas jejak internasional melalui kerja sama akademik lintas negara. Meski berada di kota dan program studi yang berbeda, Sabrina dan Vania sama-sama membawa misi untuk menjadi wajah Unesa di kancah global.
Sabrina menjadi bagian dari angkatan pertama program double degree Unesa dengan CCNU yang menggunakan skema dua tahun pertama di Unesa dan dua tahun terakhir di Wuhan, China, hingga kelulusan. Bersama dua rekannya, ia mengemban misi sebagai angkatan pionir dalam program tersebut.
Sabrina mengatakan, untuk lolos ke fase CCNU, mahasiswa diwajibkan memenuhi standar bahasa Mandarin yang cukup ketat, yakni skor HSK 4 minimal 210 poin dan skor HSKK (speaking) minimal 60 poin. Dari segi pembiayaan, program ini bersifat partial funding. Unesa memfasilitasi tiket pesawat keberangkatan, sementara CCNU memberikan potongan biaya sekitar 30 persen untuk UKT dan asrama.
“Biaya asrama sekitar 5.000 Yuan per tahun, atau setara kurang lebih 13 juta rupiah. Itu nilai yang sangat kompetitif dan terjangkau,” ujar Sabrina, yang tinggal satu kamar bersama dua rekannya demi mendapatkan potongan biaya tersebut.
Hari pertama kuliah di CCNU meninggalkan kesan tersendiri bagi Sabrina. Suasana kelas yang sunyi dan serius menjadi salah satu perbedaan yang paling terasa dibandingkan dengan Unesa. “Gugup itu pasti, tapi harus tetap percaya diri. Ritme mengajar di sini sangat cepat, tapi penjelasannya sangat gamblang,” tuturnya.
Meski dosen langsung masuk ke materi tanpa sesi perkenalan, Sabrina tetap merasakan perhatian besar dari para pengajar. Tantangan lain yang cukup mengejutkan baginya adalah aturan ketat yang melarang mahasiswa memegang ponsel selama kelas berlangsung. Kondisi tersebut membuat mahasiswa dituntut memahami materi tanpa bantuan mesin penerjemah digital.
Di luar kelas, Sabrina dan rekan-rekannya juga harus beradaptasi dengan ekosistem digital lokal, seperti WeChat dan Baidu, serta bergantung pada VPN untuk mengakses aplikasi internasional. Kendati demikian, ekspektasinya sebelum berangkat merasa kesepian dan kewalahan menghadapi jadwal yang padat tidak sepenuhnya terjadi. Kehadiran banyak mahasiswa Indonesia di sana justru membuatnya merasa disambut dengan hangat.
Sebagai angkatan pionir, Sabrina memiliki visi untuk memberikan dampak nyata setelah lulus, terutama dalam memperbaiki metode pengajaran bahasa Mandarin di Indonesia. Pengalaman belajar di sini sangat patut untuk dicoba. Walaupun ada biaya mandiri yang dikeluarkan, nilainya benar-benar sepadan dengan kualitas pendidikan dan pengalaman internasional yang didapatkan.
Berbeda dengan Sabrina, Vania menjalani program S1 Double Degree Computer Science and Technology hasil kerja sama Unesa dengan BUCT di Beijing. Ketertarikannya pada program tersebut muncul sejak pertama kali diumumkan. “Keingintahuan untuk bereksplorasi dan keberanian untuk bermimpi menjadi alasan terbesar untuk mengikuti program ini,” ungkapnya.
Untuk lolos, Vania melalui proses seleksi berlapis. Tahap awal mencakup seleksi administrasi, seperti kemampuan bahasa Inggris, IPK, CV, dan portofolio proyek. Setelah itu, ia mengikuti dua tahap wawancara berbahasa Inggris, satu secara offline bersama Kaprodi dan satu lagi secara online bersama pengajar dari BUCT. Sebelum berangkat, ia mempersiapkan diri dengan belajar bahasa Mandarin secara otodidak selama hampir tiga bulan. “Saya juga merapikan portofolio dari berbagai proyek kuliah, proyek mandiri, hingga sertifikasi dan bootcamp yang telah diikuti sejak semester 5,” jelasnya.
Di BUCT, Vania merasakan perbedaan mencolok, terutama dari segi kelengkapan fasilitas kampus. Ia juga mendapatkan pengalaman bertemu dengan teman-teman dari berbagai negara dan latar belakang. Meski metode pengajaran tidak jauh berbeda dengan Unesa, penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar menjadi pembeda yang cukup terasa.
Vania mengaku mata kuliah General Chinese menjadi yang paling berkesan karena metode pengajarannya interaktif. Sementara itu, Operating System menjadi mata kuliah paling menantang karena porsi jam kelasnya yang padat. Tantangan terbesar datang dari kendala penggunaan bahasa Mandarin dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, tidak semua masyarakat lokal di China menggunakan bahasa Inggris, sehingga kemampuan berbahasa mandarin menjadi semakin penting. “Ini menjadi tantangan menarik karena mau tidak mau aku jadi lebih termotivasi belajar bahasa mandarin,” ujarnya.
Untuk menjaga motivasi selama jauh dari keluarga, Vania memilih menjalani perkuliahan dengan santai dan banyak berinteraksi dengan teman, tanpa terlalu memikirkan semuanya sekaligus. Dukungan dari keluarga dan teman-teman di sekitarnya juga menjadi kunci penting agar ia tetap produktif.
Ia memberi pesan kepada mahasiswa Unesa yang tertarik mengikuti program serupa. Ia memberikan “I highly recommend it. Totally worth it, guys! Jangan takut untuk bermimpi dan selalu berusaha untuk push your limits.
Kisah Sabrina dan Vania menunjukkan bahwa mahasiswa Unesa mampu beradaptasi di lingkungan akademik internasional. Keduanya memperlihatkan bahwa keberanian untuk melangkah keluar zona nyaman, dibarengi kerja keras dan kesiapan mental, dapat membuka jalan menuju pengalaman belajar yang lebih luas sekaligus membawa nama Unesa ke panggung dunia. @Daffa

