Dari Kegagalan Pertama, Berbuah Sukses Berkarier di Media Ternama

Cerita Alumni Inspiratif, Indra Maulana, Manager News Anchor Metro TV

Perjalanan menuju dunia media tidak dimulai dari sebuah rencana besar. Justru dimulai dari sebuah kesempatan pertama yang gagal didapatkan. Itulah yang dialami Indra Maulana, alumnus Sastra Inggris Unesa angkatan 1998.

Indra bercerita, pada 2000, saat masih menjadi mahasiswa, ia berkeinginan mendaftar sebagai volunteer PON. Namun, ketika hendak mendaftar, ternyata pendaftaran tersebut sudah ditutup. Saat yang bersamaan, ia menemukan lowongan menjadi co-reporter TVRI Surabaya.

Meskipun ia tak tahu apa bidang pekerjaan yang dilakukan seorang co-reporter. Namun, dalam pikirannya saat itu adalah yang penting dapat duit. Ternyata, keputusan sederhana itu menjadi titik awal perjalanan panjangnya berkarier di dunia media.

Sebagai co-reporter, Indra mulai belajar mengumpulkan data, menulis naskah berita, melakukan editing, hingga dubbing. Ia juga mulai berkenalan dengan orang-orang dari berbagai kampus. Dari pekerjaan yang awalnya diambil karena ingin mendapatkan penghasilan, perlahan muncul kesempatan-kesempatan baru.

Kemampuannya membaca naskah berita mendapatkan perhatian. Indra pun mendapat kesempatan menjadi penyiar lepas Buletin Jawa Timur di TVRI Surabaya. Kesempatan itu, tak disia-siakan. Ia jalani dengan serius sembari tetap menyelesaikan kuliah di Sastra Inggris.

Titik penting perjalanan Indra Maulana terjadi pada 2001. Setelah menjalani latihan, Indra mulai melakukan siaran. Kuliah tetap berjalan, sementara pengalaman profesional terus bertambah. Dari sana, langkahnya semakin panjang. Ia mencoba dunia radio, terlibat dalam program RRI, hingga mendapat tawaran dari radio bisnis PAS FM. “Pengalaman di berbagai media tersebut menjadi ruang bagi saya untuk terus mengasah kemampuan komunikasi dan penyiaran,” ujarnya.

Namun, perjalanan itu tidak selalu diisi keberhasilan. Indra pernah mengikuti Liputan 6 SCTV Goes to Campus dan berhasil masuk lima besar. Ia juga mendapat kesempatan melakukan wawancara. Pada 2004, ia kembali mengikuti news reading contest dan berhasil menjadi runner-up. Sayangnya, kesempatan menjadi presenter hanya diberikan kepada juara pertama.

Alih-alih berhenti, Indra kembali mencari peluang di tempat lain. Langkah tersebut kemudian membawanya bergabung dengan Metro TV sebagai reporter di Surabaya. Dari sinilah ia mulai berhadapan langsung dengan berbagai peristiwa besar. Bom Bali II, gempa Yogyakarta, Lumpur Lapindo, tsunami Aceh, hingga erupsi Merapi 2006 menjadi bagian dari perjalanan jurnalistiknya.

Pekerjaan sebagai reporter membuatnya harus siap menghadapi situasi yang tidak selalu mudah. Dalam liputan Bom Bali II, misalnya, ia menyaksikan langsung kondisi korban di lokasi kejadian. Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa di balik sebuah berita yang dibaca masyarakat, terdapat proses panjang yang harus dijalani seorang jurnalis.

Liputan Lumpur Lapindo juga menjadi salah satu pengalaman penting. Live report dari lokasi tersebut menjadi bagian enilaian dalam prosesnya berkembang menjadi presenter di Jakarta.

Karier Semakin Moncer

Karier Indra terus berkembang dan terbilang moncer. Pada 2012 hingga 2015, ia dipercaya sebagai produser madya sekaligus berkembang sebagai presenter senior. Tahun 2015, ia bergabung dengan CNN Indonesia. Setahun kemudian, ia mendapat kesempatan dikirim ke Amerika Serikat untuk meliput pemilihan presiden Amerika Serikat.

Tak berhenti di situ, pada 2018, Metro TV meminta Indra menangani portal berita medcom.id dan metrotvnews.com sebagai Head of News Content, sembari tetap menjadi presenter. Pada 2021 hingga 2024, ia menjabat sebagai pemimpin redaksi (Pimred). Puncaknya, pada 2024 hingga sekarang, ia dipercaya sebagai Head of News Talent and Support sekaligus Manager News Anchor.

Prestasi berhasil didapatkan Indra selama berkiprah di Metro TV. Pada 2022 dan 2023 media online yang dipimpin medcom.id, meraih penghargaan media online terbaik dari Kementerian Luar Negeri dalam Adam Malik Award. Penghargaan tersebut diberikan langsung oleh Menteri Luar Negeri Retno Marsudi. Ia berkesempatan tampil satu pangggung bersama sejumlah Pimred terkemuka di Indonesia, seperti Rosiana Silalahi dan Sutta Dharmasaputra.

Berbagai pencapaian tersebut tidak datang dalam satu malam. Ada kerja keras dan perjuangan panjang yang dilakukan. Bagi Indra, kesuksesan tidak memiliki jalan pintas. Ada berbagai tantangan. Karena itu, dibutuhkan kesabaran, terus belajar, dan keberanian mengambil kesempatan (peluang).

Sebagai anak pertama dari empat bersaudara yang kehilangan ayah ketika berada di semester tiga, membuat Indra harus memiliki penghasilan sendiri, meski sang ibu masih bekerja. Apalagi, saat itu, adik-adiknya masih bersekolah di SMA dan SMP. Beasiswa dan pekerjaan pun menjadi bagian dari perjuangannya menyelesaikan pendidikan.

Pengalaman itu membentuk Indra sangat menghargai proses. Baginya, sering kali orang melihat kehidupan orang lain dan merasa orang tersebut memiliki jalan lebih mudah. Padahal, setiap orang memiliki proses yang berbeda-beda. “Setiap generasi memiliki tantangan dan rintangannya masing-masing. Yang sama adalah proses untuk meraih sesuatu,” ungkapnya.

Indra juga menekankan pentingnya menjadi orang yang bermanfaat. Kemampuan komunikasi, menurutnya, bukan sekadar keterampilan untuk berbicara, tetapi juga kemampuan membuat sesuatu yang sulit menjadi lebih mudah bagi orang lain. Soft skill perlu diasah, begitu pula hard skill. “Ketika kemampuan tersebut dapat memberikan manfaat, di situlah seseorang memiliki value,” ujar ayah empat anak itu.

Dari Keputusan sederhana, Indra membangun karier perlahan. Mulai dari co-reporter, penyiar, pekerja radio, reporter, presenter, produser, hingga memimpin redaksi dan mengelola talenta pemberitaan. Perjalanan itu menjadi bukti bahwa untuk sukses berkarier tidak selalu dimulai dari rencana yang sempurna, terkadang, hanya perlu berani mengambil kesempatan yang di depan mata. @shofi

en_USEN