Oleh: Syaiful Rahman, Mahasiswa S3 Manajemen FEB Unesa
Pagi itu, suasana kelas terasa biasa saja. Beberapa mahasiswa sibuk mencatat, sebagian lain menatap layar laptop, dan satu-dua orang masih berusaha menyelesaikan tugas yang hampir lewat tenggat. Di dalam ruang itu, proses belajar berjalan seperti yang sudah-sudah. Namun di luar sana, dunia berubah jauh lebih cepat dari yang sering kita bayangkan.
Perusahaan-perusahaan sedang beradaptasi dengan teknologi baru, pekerjaan-pekerjaan lama mulai bergeser, dan jenis keterampilan yang dibutuhkan pun ikut berubah. World Economic Forum mencatat bahwa hingga tahun 2030, akan ada jutaan pekerjaan baru yang muncul, tetapi juga jutaan pekerjaan yang hilang atau berubah bentuk. Lebih dari itu, hampir separuh keterampilan yang saat ini dianggap penting diperkirakan tidak lagi relevan dalam beberapa tahun ke depan.

Di sinilah muncul pertanyaan sederhana, tetapi penting: apakah apa yang dipelajari mahasiswa hari ini masih akan relevan ketika mereka lulus nanti?
Selama ini, kampus sering dipandang sebagai tempat “menyimpan ilmu”, sementara dunia industri adalah tempat “menggunakan ilmu”. Keduanya berjalan di jalurnya masing-masing. Tidak salah, tetapi juga tidak sepenuhnya cukup. Ketika perubahan berlangsung cepat, jarak kecil saja antara kampus dan industri bisa berdampak besar bagi lulusan.
Banyak perusahaan saat ini tidak hanya mencari orang yang “pintar”, tetapi juga yang mampu beradaptasi. Kemampuan berpikir kritis, bekerja sama, belajar hal baru dengan cepat, hingga bertahan di tengah tekanan menjadi sama pentingnya dengan kemampuan teknis seperti penguasaan teknologi atau data. Dunia kerja tidak lagi hanya bertanya, “Apa yang kamu tahu?”, tetapi juga “Seberapa cepat kamu bisa belajar ulang?”
Sementara itu, di sisi lain, tidak sedikit lulusan yang merasa kurang siap ketika pertama kali masuk dunia kerja. Mereka punya pengetahuan, tetapi belum terbiasa menghadapi situasi nyata. Mereka mengerti konsep, tetapi belum tentu percaya diri dalam mengambil keputusan. Kondisi inilah yang oleh International Labour Organization disebut sebagai skills mismatch, yaitu ketidaksesuaian antara apa yang dimiliki pencari kerja dan apa yang dibutuhkan oleh pemberi kerja.
Masalah ini sebenarnya bukan karena mahasiswa kurang belajar, atau dosen kurang mengajar. Lebih dari itu, ini adalah persoalan bagaimana sistem pendidikan dan dunia kerja saling terhubung atau justru tidak terhubung dengan cukup baik.
United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization mengingatkan bahwa pendidikan di era sekarang tidak cukup hanya berfokus pada transfer pengetahuan. Ada hal lain yang tidak kalah penting: membentuk cara berpikir, nilai, dan kemampuan untuk menghadapi perubahan. Teknologi seperti artificial intelligence memang membawa banyak kemudahan, tetapi juga menuntut manusia untuk tetap kritis, etis, dan tidak sekadar menjadi pengguna pasif.
Di sinilah kampus punya peran yang jauh lebih besar dari sekadar tempat kuliah. Kampus adalah ruang pembentukan cara berpikir. Namun agar tetap relevan, ruang ini perlu “terbuka”, tidak hanya untuk teori, tetapi juga untuk realitas di luar sana.
Kolaborasi dengan industri menjadi salah satu cara paling masuk akal untuk menjembatani hal tersebut. Bukan kolaborasi yang sekadar formalitas, seperti penandatanganan kerja sama di atas kertas, tetapi kolaborasi yang benar-benar terasa dalam proses belajar.
Misalnya, ketika kurikulum disusun dengan melibatkan praktisi industri, mahasiswa tidak hanya belajar dari buku, tetapi juga dari kebutuhan nyata. Ketika program magang dirancang dengan serius, mahasiswa tidak hanya “hadir” di perusahaan, tetapi benar-benar belajar bekerja. Ketika dosen dan praktisi duduk bersama dalam satu kelas, mahasiswa mendapatkan perspektif yang lebih utuh antara teori dan praktik.
Organisation for Economic Co-operation and Development bahkan menekankan pentingnya pendekatan co-creation, yaitu merancang pendidikan bersama-sama dengan berbagai pihak, termasuk industri. Artinya, masa depan pendidikan tidak bisa ditentukan oleh kampus saja. Ia perlu dibangun melalui dialog.
Menariknya, kolaborasi tidak selalu harus dimulai dari hal besar. Kadang, langkah kecil justru lebih berdampak. Sebuah kelas yang menggunakan studi kasus nyata dari perusahaan. Seorang praktisi yang diundang berbagi pengalaman. Atau tugas kuliah yang menantang mahasiswa untuk memecahkan masalah yang benar-benar ada.
Hal-hal sederhana seperti itu perlahan mengubah cara belajar. Mahasiswa tidak lagi sekadar mengejar nilai, tetapi mulai memahami bagaimana ilmu digunakan. Mereka belajar bukan hanya untuk lulus, tetapi untuk siap menghadapi dunia yang tidak selalu bisa diprediksi.
Pendekatan seperti ini juga sejalan dengan konsep Technical and Vocational Education and Training, yang menekankan pentingnya keterampilan praktis dan keterhubungan dengan dunia kerja. Intinya sederhana: belajar akan lebih bermakna ketika terhubung dengan realitas.
Pada akhirnya, kolaborasi kampus dan industri bukan sekadar tentang memenuhi kebutuhan pasar kerja. Lebih dari itu, ini tentang memastikan bahwa pendidikan tetap relevan dengan kehidupan nyata.
Kampus yang baik bukan hanya yang melahirkan lulusan dengan nilai tinggi, tetapi yang membantu mahasiswanya memahami dunia dengan segala kompleksitasnya. Sementara industri yang berkembang bukan hanya yang mampu menghasilkan keuntungan, tetapi juga yang mau terlibat dalam membentuk generasi berikutnya.
Di tengah dunia yang terus berubah, mungkin yang paling dibutuhkan bukan hanya kecerdasan, tetapi kemampuan untuk terus belajar, beradaptasi, dan bekerja sama. Dan di situlah, kampus dan industri sebenarnya bertemu bukan sebagai dua dunia yang terpisah, tetapi sebagai dua ruang yang saling melengkapi.
Karena pada akhirnya, belajar tidak berhenti di ruang kelas. Dan bekerja, pada dasarnya, juga adalah proses belajar yang tidak pernah selesai. @TimHumasUnesa

