Menanam Kebahagiaan, Merawat Kejernihan

Dr. Taufiq Hidayat, S.Pd., M.Kes – Wakil Dekan 2 FIKK Unesa

Tak banyak orang tahu,  Dr. Taufiq Hidayat, S.Pd., M.Kes. memiliki cara tersendiri untuk refresh atau healing setelah bergelut dengan tugasnya sebagai Wakil Dekan II Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) Unesa. Di luar agenda rapat dan pekerjaan, ia menyempatkan dengan ketenangan melalui dua aktivitas yang sudah melekat dalam keseharian di kampungnya yakni berkebun buah-buahan dan merawat ikan koi. Baginya, kedua hobi itu bukan sekadar pelepas penat, melainkan ruang hening yang membuatnya kembali dekat dengan alam, membangun semangat baru, dan mengajarkan rasa syukur atas setiap ciptaan Tuhan.

Kecintaan Pria kelahiran 18 Agustus 1975 itu pada tanaman berakar dari masa kecilnya di pesisir Paciran, Lamongan. Lingkungan kampung yang dikelilingi hamparan lahan hijau, pohon-pohon buah, serta kesibukan orang tua yang akrab dengan tanah dan bibit, membuatnya terbiasa melihat kehidupan tumbuh dari tanah. Sejak kecil ia menyerap suasana aroma tanah basah, aktivitas menanam yang dilakukan hampir setiap hari, hingga pemandangan halaman rumah yang tak pernah sepi dari pepohonan.

Dari kebiasaan itulah rasa senang pada tanaman perlahan tumbuh. Ketertarikannya semakin kuat ketika ia menyadari bahwa setiap kali menanam apa pun jenis tanamannya bibit itu hampir selalu mudah hidup dan berkembang.

Uniknya, orang tua Taufiq yang begitu rajin menanam justru jarang menikmati buah dari pohon-pohon itu. Banyak hasil kebun yang dibiarkan bebas dipetik tetangga atau siapa pun yang menginginkan.

“Bapak-ibu saya itu senang menanam, tapi hasilnya justru sering dinikmati orang lain. enanam bukan semata-mata soal memetik buahnya, tetapi tentang memberi manfaat bagi siapa pun yang membutuhkan,” ujarnya.

Kebun Kecil, Kebahagiaan Besar

Kebun kecil di pekarangan rumahnya di Probolinggo menjadi ruang favorit setiap kali ia pulang melepas penat. Tanaman-tanaman yang dulu ia tanam saat masih setinggi satu meter, kini menjulang hingga lima meter dan tumbuh subur tanpa banyak perlakuan khusus. Menariknya, sebagian bibit itu datang dari berbagai sumber ada yang ia beli sendiri, ada hadiah dari mahasiswa, dan ada pula yang diberikan oleh rekan dosen.

Dari situlah kebunnya perlahan beragam. Ada kelengkeng dengan buah lebat, kelapa yang tumbuh cepat meski ditanam dari bibit kecil, jambu air, mangga, pisang, sampai matoa buah khas Papua yang ia rawat sejak bibit setinggi satu meter.

Semua itu ia rawat dengan cara yang unik yakni tanpa pupuk, tanpa target, cukup mengalir saja. Ia percaya setiap tanaman memiliki waktunya sendiri untuk berbuah, sebagaimana manusia yang punya takdir masing-masing.

“Yang bikin bangga itu prosesnya. Menanam, menunggu, merawat, melihat dia tumbuh. Sama seperti mendidik mahasiswa. Kita membimbing dari semester awal sampai lulus. Ketika mereka berhasil, itu kebahagiaan,” jelasnya.

Bagi Taufiq, berkebun adalah jeda yang tak pernah gagal menghadirkan ketenangan di tengah padatnya rutinitas akademik. Aktivitas sederhana seperti menyiram tanaman, membersihkan daun kering, atau sekadar berdiri beberapa menit memandangi warna hijau di pekarangan, menjadi cara efektif untuk menyegarkan pikiran.

“Fresh rasanya. Ada lega setiap lihat pohon makin besar. Melihat pepohonan yang hijau itu rasanya adem sekali,” ujarnya.

Koi sebagai Cermin Keberagaman

Selain berkebun, Taufiq memiliki hobi lain yang tak kalah menarik yaitu memelihara ikan koi. Sudah hampir satu dekade, koi-koi berwarna merah, putih, hitam, hingga kuning itu tumbuh bersamanya dari ukuran 15 cm hingga hampir 60 cm.

Baginya, warna koi yang beragam adalah simbol keberagaman yang indah. Setiap corak—merah, putih, hitam, hingga kuning bergerak serempak di dalam satu kolam, menciptakan harmoni yang mengingatkannya pada semangat Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi jati diri Bangsa Indonesia. Perbedaan warna itu bukan untuk dibandingkan, tetapi justru saling melengkapi dan menambah keindahan.

Dari sana ia sering menarik makna sederhana: bahwa kehidupan yang beragam akan terasa lebih kaya ketika dijalani dengan sikap saling menerima. Tak heran, setiap kali pulang dan memandangi ikan-ikan itu berenang pelan, ada rasa tenang yang muncul, seolah mengajak dirinya untuk ikut larut dalam harmoni tersebut.

“Saya suka koi karena warnanya. Ada merah, hitam, kuning, tapi tetap satu. Setiap kali sedang capek atau banyak pikiran, saya duduk sama istri lihat koi. Dengar gemericik air, lihat warnanya berenang pelan, sambil ngobrol ringan itulah terapi saya. Rasanya tenang sekali,” ceritanya.

Namun, memelihara koi bukan berarti tanpa tantangan. Situasi paling riskan terjadi ketika terjadi pemadaman listrik. Saat pompa dan aerator berhenti bekerja, sirkulasi air terhenti dan kadar oksigen di kolam menurun drastis. Dalam kondisi seperti itu, Taufiq biasanya bergerak cepat dengan mengalirkan air baru ke kolam agar oksigen kembali terpenuhi.

“Yang dirawat itu airnya, bukan ikannya. Kalau mati lampu, saya langsung alirkan air keran ke kolam supaya oksigennya cepat naik,” jelasnya.

Salah satu hal yang paling membekas bagi Taufiq adalah momen-momen sederhana saat ia makan bersama keluarga di depan kolam koi yang berukuran sekitar 4 x 2 meter itu. Duduk berhadapan dengan gemericik air, sambil menyaksikan ikan-ikan besar berenang, menjadi suasana yang membuatnya merasa lengkap dan nikmat.

Selama hampir sembilan tahun merawat koi, Taufiq memahami satu prinsip yang selalu ia pegang, kejernihan air adalah kunci segalanya. Air yang bersih membuat ikan sehat, warna tetap cerah, dan kolam menjadi lingkungan yang nyaman.

“Kita sebagai manusia juga harus bersih dan jernih. Itu filosofi yang saya ambil dari koi,” ujarnya. Ia percaya bahwa hidup yang jernih tanpa prasangka berlebih, tanpa beban yang mengeruh akan memudahkan seseorang melangkah dan melihat segala sesuatu dengan lebih terang.

Berkebun membuatnya kembali membumi, mengingatkan bahwa setiap hal membutuhkan proses dan ketelatenan. Sementara itu, koi mengajarinya ketenangan, kesabaran, serta pentingnya menjaga kejernihan baik air maupun hati. @TimHumas

en_USEN