Cerita perjalanannya jauh dari kata mulus. Masa kuliahnya di IKIP Surabaya (kini, Unesa) pada awal 1990-an bukan sekadar menuntut ilmu, melainkan kawah candradimuka yang membentuknya sebagai guru besar melalui perjuangan, mulai dari berjualan, menjadi aktivis, hingga mengajar privat. Seluruh pengalaman itu kini menjadi fondasi pribadi yang ulet dan tak kenal menyerah.
Tahun 1991 menjadi penanda dimulainya babak perjuangan dan kemandirian Budi Purwoko. Bersama tiga sahabatnya, ia menyewa sebuah ruang kecil di Surabaya. Bukan untuk tempat tinggal mewah, melainkan untuk merintis warung sederhana.
Setiap sore hingga menjelang tengah malam, mereka menjajakan jajanan kering, gorengan, keripik, hingga minuman hangat, teman setia begadang para mahasiswa kala itu.
Modal awal mereka? Unik. Berasal dari dana beasiswa PPA (Pembinaan Prestasi Akademik) yang mereka kumpulkan. Alih-alih digunakan untuk kepentingan pribadi, dana itu menjadi modal gotong royong untuk melatih semangat wirausaha dan kemandirian.
Warung itu pun bukan sekadar tempat transaksi. Ia menjadi ruang tumbuh bersama yang sistematis. Mereka menyusun jadwal yang terstruktur.
Ada pembagian tugas jelas: siapa yang menyiapkan dagangan, siapa yang menjaga, dan siapa yang mendapat giliran belajar atau berorganisasi lebih dulu.
“Di sela menjaga warung, kami masih bisa berdiskusi, mengerjakan tugas, bahkan merancang kegiatan organisasi. Warung itu sejatinya ruang belajar dan bertumbuh,” kenang Guru Besar Ilmu Manajemen dan Organisasi BK itu.
Tantangan terbesar muncul saat musim hujan, di mana dagangan kerap sepi. Namun, kondisi ini justru menguji ketekunan.
Jatuh-bangun bisnis mengajarkan arti keuletan. Usaha itu bertahan hampir tiga tahun, hingga akhirnya harus berhenti, karena mereka harus fokus menyelesaikan tugas akhir dan kakak tingkat mulai wisuda.
Lebih dari sekadar bisnis, warung tersebut menjadi saksi persahabatan yang erat. Salah satu momen berharga yang dikenang adalah ketika merayakan kelulusan teman: alih-alih perayaan mewah, mereka memilih bersepeda dari Surabaya menuju kota-kota asal teman-temannya (Kediri hingga Tulungagung).
“Itu cara kami merayakan ketika ada teman wisuda,” ujarnya penuh kehangatan.
Mendalami Dunia Pergerakan
Di luar warung, dosen kelahiran Wonogiri ini, adalah seorang mahasiswa aktivis. Ia menjelajahi hampir semua lini organisasi: pernah menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), dipercaya sebagai Ketua BEM Fakultas, aktif di Dewan Legislatif Mahasiswa (DLM), hingga memimpin Unit Kegiatan Kerohanian Islam (UKKI).
Kegiatan organisasi sering kali berlanjut hingga larut malam. “Rasanya mengalir saja. Dari siang sampai malam, bahkan kadang menjelang pagi, kami tetap semangat menyusun program kerja yang bermanfaat,” ungkapnya.
Nilai terpenting yang ia peroleh adalah kemampuan menyatukan keberagaman pemikiran. Baginya, perbedaan pendapat adalah hal biasa, tetapi kemampuan untuk menyatukan perbedaan menjadi program kerja nyata adalah esensi sejati dari berorganisasi.
Selain berwirausaha, ia juga mencari penghasilan sampingan sebagai tutor privat untuk empat peserta didik, dari siswa SD hingga SMP. Secara mengejutkan, dari aktivitas inilah ia justru memperoleh penghasilan yang lebih stabil ketimbang berjualan.
“Kalau dari les privat, penghasilannya lebih jelas. Empat siswa sudah cukup menutup kebutuhan bulanan,” tuturnya.
Tetap Prioritaskan Kuliah
Mengajar privat tidak hanya sekadar menambah uang saku. Aktivitas ini menjadi arena pelatihan dini dalam menyampaikan materi dan membangun komunikasi—bekal krusial bagi seorang calon pendidik.
Di tengah padatnya peran sebagai wirausaha, aktivis, dan tutor, Budi Purwoko selalu menempatkan kuliah sebagai prioritas utama.
“Jika ada kegiatan yang bersamaan dengan jadwal kuliah, saya selalu mendahulukan perkuliahan,” tegasnya.
Kegigihan ini berbuah manis. Pada tahun 1995, Prof. Budi dinobatkan sebagai Mahasiswa Berprestasi I IKIP Surabaya sekaligus menyandang predikat lulusan FIP terbaik.
“Prinsip saya sederhana, bagaimana membuat orang tua tersenyum lewat prestasi kita. Itu motivasi terbesar yang selalu saya pegang hingga saat ini,” ungkapnya haru.
Nilai-nilai yang ia pupuk sejak muda itulah yang kini ia ingin tularkan ke generasi mahasiswa Unesa saat ini. Prof. Budi berpesan: tidak perlu takut untuk mencoba, jatuh, dan bangkit lagi.
“Mulailah dari hal kecil. Beranilah mandiri. Pengalaman itu akan menjadi bekal berharga untuk kehidupan setelah kuliah,” pungkasnya, memberikan motivasi yang relevan di tengah tuntutan zaman.
Nilai-nilai yang ia pupuk sejak di IKIP Surabaya itulah yang kini ia tularkan kepada mahasiswanya sekarang. Ia menekankan bahwa tidak perlu takut untuk mencoba, jatuh, dan bangkit lagi.
“Mulailah dari hal kecil. Beranilah mandiri. Pengalaman itu akan menjadi bekal berharga untuk kehidupan setelah kuliah,” tuturnya memberi motivasi. (Ja’far)

