Mengayuh Makna Hidup di Setiap Putaran Pedal

Dr. Irmantara Subagio., M.Kes: Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK)

Di tengah kesibukan sebagai Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) Unesa, Irmantara Subagio punya cara sendiri untuk menjaga jarak dari rutinitas yang padat. Bukan dengan liburan mewah atau aktivitas yang rumit, melainkan lewat bersepeda pagi menyusuri jalan-jalan kampung, bahkan sesekali mampir ke pasar untuk membeli sayuran titipan sang istri.

Hampir setiap hari, sebelum aktivitas kantor dimulai, ia sudah lebih dulu mengayuh sepeda. Biasanya selepas Subuh. “Rutenya tak tentu, waktunya sekitar satu jam. Pulang-pulang setengah enam, mandi, lalu berangkat kerja,” tuturnya.

Akhir pekan jadi cerita lain baginya. Sabtu atau Minggu, jarak tempuh bisa lebih jauh. Bukan soal kecepatan, tapi soal menikmati perjalanan. Kadang hanya mengikuti insting ke mana roda akan berputar hari itu.

Sepeda dan Cerita

Ada cerita-cerita kecil yang mengiringi kebiasaannya dalam bersepeda. Ia kerap memanfaatkan waktu gowes untuk mampir ke pasar. Membeli sayuran, atau sekadar melihat aktivitas pagi warga. Dulu, ketika masih memelihara kura-kura darat dan air, sepeda menjadi alat transportasi favorit untuk mencari pakan.

“Santai saja, hampir tiap hari saya bersepeda. Buat saya, sepeda itu seperti perpanjangan langkah untuk menyatu dengan kehidupan sekitar. Jadi bukan soal cepat atau jauh, tapi menikmati proses bergerak itu sendiri,” ujarnya.

Hobi ini sebenarnya tidak muncul sejak kecil. Baru sekitar 15 tahun terakhir ia mulai rutin bersepeda. Awalnya sekadar alternatif untuk menghilangkan penat. Ia menyukai sepeda karena memberi kebebasan melihat sekitar. Tidak terkurung, bisa menoleh kanan-kiri, merasakan suasana, tanpa beban berlebihan di tubuh.

“Gerakannya siklis, jadi bebannya tidak berlebihan di tubuh, tapi dampaknya bagus untuk kesehatan. Sepeda itu memberi aktivitas fisik yang cukup tanpa harus memaksa, dan itu yang saya cari untuk menjaga kebugaran,” jelasnya.

Soal jenis sepeda, Irmantara tak terpaku pada satu model. Di rumahnya, ada beberapa sepeda dengan fungsi berbeda sepeda gunung, sepeda lipat, hingga sepeda hasil modifikasi dari milik anaknya. Totalnya tujuh unit. 

Ia mengungkapkan kurang menyukai sepeda ontel lama yang berat dan minim variasi. Justru sepeda dengan sistem gigi memberinya sensasi tersendiri. Ada tantangan, ada kendali, dan ada pilihan ritme.

Secercah Ketenteraman

Menariknya, Irmantara justru lebih senang bersepeda melewati jalan-jalan kecil dibanding jalur utama. Gang-gang kampung menjadi rute favoritnya. Ia menikmati sensasi menjelajah daerah yang belum pernah dilewati sebelumnya. Tak jarang, ia harus berbalik arah karena menemui jalan buntu.

“Kadang malah kesasar, masuk gang buntu, terus muter balik lagi. Tapi justru itu yang seru. Dari situ saya jadi tahu tempat-tempat yang sebelumnya nggak pernah saya lewati. Rasanya kayak diajak kenal lingkungan pelan-pelan,” katanya sambil tertawa kecil.

Bersepeda menjadi caranya untuk mengenal lingkungan dengan lebih dekat melihat kehidupan warga, suasana kampung, dan ritme pagi yang berbeda dari hiruk-pikuk kota.

Sesekali, ia juga bergabung dengan komunitas kecil alumni SMAN 5 Surabaya yang rutin bersepeda bersama. Kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus reuni ringan. Meski tidak selalu ikut rutin dua minggu sekali, ia menikmati kebersamaan itu sebagai bagian dari menjaga relasi lama.

Cita-Cita Lama

Di balik kegemarannya bersepeda, ada sisi lain Irmantara yang tak banyak diketahui: cita-citanya dulu ingin menjadi petani. Ketertarikan itu tumbuh sejak masa SMA, ketika ia mulai melihat Indonesia sebagai negara agraris dengan potensi besar.

“Saya berpikir, kenapa petani kok relatif tidak sejahtera, padahal perannya sangat penting,” ungkapnya.

Ketertarikan itu sempat ia wujudkan dengan berkuliah di jurusan pertanian di sebuah universitas swasta di Surabaya, bersamaan dengan studinya di IKIP Surabaya (kini Unesa). Ia mencoba menjalani dua dunia sekaligus. Namun, beban kuliah yang cukup berat membuatnya harus memilih satu jalur. 

Pada akhirnya, ia memutuskan meninggalkan studi pertanian dan memusatkan perhatian pada pendidikannya di IKIP Surabaya. Meski demikian, rasa cintanya pada dunia pertanian tak pernah benar-benar hilang.

Orang tuanya berprofesi sebagai guru, bukan petani. Namun ia sering berkunjung ke desa dan menikmati pemandangan alamnya. Sawah, ladang, dan kehidupan desa selalu memberinya kesan mendalam. Baginya, desa menyimpan potensi besar yang seharusnya bisa membuat petani hidup lebih sejahtera.

“Saya coba saja, biar tahu realitasnya seperti apa. Sebelumnya sawah itu sempat disewakan. Sekarang saya dan istri mencoba mengelolanya sendiri, meski masih dalam skala kecil,” ungkapnya.

Di rumah desanya, Irmantara juga gemar menanam pohon buah seperti, Mangga, kelengkeng, pisang, sukun, hingga kelapa. Ia lebih menyukai tanaman yang ditanam langsung di tanah ketimbang di pot. Baginya, menanam pohon adalah soal kesabaran dan harapan menunggu waktu, merawat, lalu menikmati hasilnya.

Menurut Irmantara, ada benang merah antara dunia olahraga dan kehidupan petani. Keduanya sama-sama mengajarkan kerja keras, konsistensi, dan kesabaran. Atlet berlatih dengan disiplin, petani bekerja tekun di sawah. Namun, sekuat apa pun usaha manusia, hasil akhirnya tetap berada di luar kuasa mereka.

“Yang penting kita sudah berusaha semaksimal mungkin. Soal hasil, mau panen atau gagal, mau juara atau belum, itu urusan Tuhan. Tugas manusia ya terus berikhtiar,” tutupnya. @TimHumas

en_USEN