Terapi Mental Melalui Buku bagi Penderita BPD

PKM Mahasiswa

Buku tak hanya sekadar bacaan. Tapi, juga bisa berfungsi sebagai terapi kejiwaan. Itu pula yang dilakukan oleh sekelompok peneliti muda dari Universitas Negeri Surabaya (UNESA) melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Mereka menemukan inovasi yang memadukan buku dan tradisi lokal untuk terapi mental bagi penderita Bordeline Personality Disorder (BPD).

Projek riset dan pengabdian itu berjudul “Pengembangan Biblioterapi dengan Konten Sastra-Musik-Grafis Berbasis Tradisi Lisan Jawa sebagai Media Terapi bagi Kepribadian Ambang (Borderline Personality). Projek riset yang diketuai oleh Aushaf Dwicita Anwarismail dengan dosen pembimbing Bayu Dwi Nurwicaksono itu, tidak hanya lolos pendanaan, tapi juga menjadi inovasi baru pendekatan terapi jiwa berbasis budaya lokal.

Aushaf, ketua tim peneliti mengatakan, Biblioterapi ini dirancang secara khusus oleh mahasiswa dari berbagai latar belakang ilmu sebagai solusi terapis bagi pasien BPD. Ia mengatakan bahwa BPD atau yang juga dikenal dengan Gangguan Kepribadian Ambang merupakan kondisi kesehatan mental yang ditandai dengan meluasnya pola ketidakstabilan dalam hubungan, citra diri, suasana hati, dan perilaku serta hipersensitivitas terhadap kemungkinan penolakan dan pengabaian.

“Pasien BPD sering merasa hampa, tak stabil secara emosi, dan sulit menjalin hubungan. Terapi konvensional seringkali belum menyentuh sisi kultural mereka, karena itu perlu terapi lain yang lebih mengena,” ujarnya.

Aushaf dan tim memandang bahwa tradisi lisan Jawa, yang kaya akan narasi penuh kebijaksanaan, menjadi sarana refleksi yang relevan bagi penderita BPD. Nilai-nilai yang terkandung dalam cerita rakyat dan babad Jawa, bisa menjadi cermin emosi dan perilaku. “Kami melihat peluang untuk menjadikan itu sebagai media terapi alternatif yang sensitif secara budaya,” ungkapnya.

Tekad itu pun diwujudkan dengan melakukan riset mendalam. Aushaf dan tim melakukan berbagai tahapan, di antaranya mewawancarai psikiater, psikolog klinis, serta terapis seni di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Menur. Mereka juga melakukan diskusi kelompok bersama perawat untuk memahami pola interaksi dan respons emosional pasien.

“Dari situ, kami menemukan bahwa pendekatan visual, audio, dan naratif paling mampu mempertahankan fokus pasien BPD. Kami akhirnya memutuskan untuk membuat media yang menyentuh tiga titik ini yakni sastra, grafis, dan musik,” terang Aushaf.

Cerita yang dipilih pun tidak sembarangan. Tim menelusuri koleksi cerita rakyat dan naskah babad dari perpustakaan, wawancara dengan dalang dan budayawan, serta rekaman cerita rakyat. Proses kurasi dilakukan secara ketat. Kriteria utama adalah nilai moral, kesesuaian dengan prinsip terapi emosi, bahasa yang sederhana, dan potensi adaptasi visual. “Kami menyederhanakan teks dari naskah kuno tanpa menghilangkan esensi budaya. Bahasanya dibuat ringan namun tetap menjaga nuansa filosofis,” jelas ketua tim.

Cara Kerja Biblioterapi

Aushaf menjelaskan, produk akhir dari proyek penelitian ini adalah buku interaktif. Setiap buku dilengkapi dengan file audio MP4 yang memadukan musik dan narasi cerita. Musik gamelan atau tembang Jawa dipilih untuk menstimulasi relaksasi, sementara narasi cerita mengalir dalam tempo tertentu agar sinkron dengan suasana hati pasien.

Setiap elemen, kata Aushat, memiliki peran masing-masing. Sastra membantu pasien memproses emosi, membangun narasi positif, dan mengenal tokoh-tokoh adaptif sebagai role model. Musik berfungsi mengatur ritme pernapasan, meredakan kecemasan, dan memberi petunjuk emosional. Dan, grafis memikat fokus pasien, memberi rasa aman, dan memudahkan pemahaman. “Rencananya, versi aplikasi digital juga akan kami kembangkan agar media ini lebih mudah diakses dan terus bisa diperbarui kontennya,” bebernya.

Aushaf mengakui, dalam implementasinya, beberapa tantangan tak bisa dihindari. Semisal, bahasa tradisional yang terlalu kuno membuat tim harus menyederhanakan, tapi tetap tidak menghapus maknanya. Selain itu, beberapa cerita bisa memicu emosi negatif jika tidak disampaikan dengan hati-hati. “Kami juga harus mengatur panjang cerita, karena konsentrasi pasien BPD cenderung pendek dan fluktuatif,” jelas Aushaf.

Proyek ini mendapat sambutan hangat dari kalangan profesional kesehatan mental. Mereka mengapresiasi sensitivitas budaya dalam metode ini. Bahkan, beberapa rumah sakit dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) menyatakan berminat menjalin kerja sama jangka panjang. “Kami tidak mengganti terapi medis, tapi melengkapinya dengan pendekatan berbasis seni dan budaya,” tegasnya lagi.

Agar proyek tidak berhenti setelah pendanaan PKM selesai, Aushaf dan tim telah menyusun strategi. Beberapa langkah yang akan diambil antara lain: 1) membagikan versi digital secara gratis untuk komunitas, 2) membuka peluang pendanaan dari lembaga kebudayaan atau program crowdfunding, dan 3) menjalin kerja sama dengan komunitas budaya dan seniman lokal untuk memperkaya konten.

Riset ini memberikan pengalaman dan dampak besar bagi Aushaf dan anggota tim baik secara akademis maupun personal. Mereka bisa belajar tentang manajemen lintas disiplin, berkomunikasi dengan profesional, dan memahami pentingnya empati dalam inovasi.  

Dosen Pembimbing PKM, Bayu Dwi Nurwicaksono menegaskan bahwa Biblioterapi bermuatan sastra musik grafis dari tradisi lisan Jawa ini bukan sekadar proyek penelitian, tapi merupakan produk yang punya peluang masuk industri kreatif sebagai buku terapi, modul, dan konten digital yang diminati pasar saat ini.

“Kekuatan budaya lokal membuat produk ini terasa berbeda sekaligus dekat dengan pengguna. Dampaknya ganda, produk ini bernilai komersial sekaligus berkontribusi pada isu kesehatan mental melalui akses terapi yang lebih empatik dan kontekstual,” tegas dosen Fakultas Vokasi Unesa itu. @TimHumas

id_IDID