Tradisi Buka Bersama dan Berbagi Takjil di Unesa 2026

Kegiatan takjil gratis dan buka puasa bersama Unesa menjadi salah satu program yang memperkuat kedekatan kampus dengan masyarakat. Kegiatan ini tidak hanya melibatkan sivitas akademika, tetapi juga terbuka bagi masyarakat umum yang ingin merasakan kebersamaan dalam suasana Ramadan di lingkungan kampus.

Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni, Martadi

Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni, Martadi, menjelaskan bahwa kegiatan ini memiliki makna yang lebih luas dari sekadar berbagi makanan berbuka. Menurutnya, pembagian takjil gratis dan buka bersama merupakan bentuk komitmen unesa untuk hadir di tengah masyarakat.

“Makna kegiatan ini adalah bagaimana kampus bisa lebih dekat dengan masyarakat. Kampus tidak boleh menjadi menara gading yang terpisah dari kehidupan sosial. Kampus harus menjadi menara air yang mampu memberikan kehidupan dan penghidupan bagi masyarakat di sekitarnya,” ujarnya.

Karena itu, peserta yang diharapkan hadir dalam kegiatan ini bukan hanya mahasiswa, tetapi juga masyarakat umum. Salah satu bentuk keterbukaan tersebut terlihat dari pembagian takjil gratis yang dapat diakses oleh siapa saja yang datang.

Program ini juga menjadi bagian dari upaya unesa dalam mengembangkan nilai-nilai keagamaan di lingkungan kampus. Melalui kegiatan berbagi dan kebersamaan saat berbuka puasa, sivitas akademika diajak untuk memperkuat kepedulian sosial, toleransi, dan semangat melayani.

Martadi menilai bahwa tradisi pembagian takjil gratis ini merupakan kegiatan yang perlu dijaga dan diteruskan pada tahun-tahun berikutnya. Bahkan, menurutnya, kegiatan tersebut berpotensi untuk terus ditingkatkan baik dari sisi partisipasi maupun pelaksanaannya.

“Saya melihat ini sebagai tradisi yang baik dan perlu dipertahankan. Kalau bisa, ke depan justru ditingkatkan sehingga manfaatnya bisa dirasakan lebih luas,” jelasnya.

Selama pelaksanaan kegiatan, terdapat sejumlah momen yang meninggalkan kesan tersendiri. Salah satunya ketika mahasiswa asing yang bukan beragama Islam turut serta menjadi relawan dalam membagikan takjil kepada masyarakat. Kehadiran mereka dinilai menjadi gambaran nyata tentang toleransi dan semangat kebersamaan di lingkungan kampus.

Momen lain yang menarik perhatian adalah ketika pimpinan kampus dan para relawan bekerja bersama tanpa sekat dalam melayani pembagian takjil. Semua pihak terlibat langsung dalam proses pelayanan kepada masyarakat, mulai dari menyiapkan makanan hingga membagikannya kepada para penerima.

Selain itu, ada pula masyarakat yang bukan beragama Islam dan bukan berasal dari kalangan yang membutuhkan, tetapi tetap ikut mengantre untuk mendapatkan takjil. Mereka datang karena ingin merasakan suasana berbuka bersama yang belum pernah dialami sebelumnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa kegiatan ini tidak hanya bernilai sosial, tetapi juga menjadi ruang interaksi yang mempertemukan berbagai latar belakang masyarakat.

Di balik pelaksanaannya, kegiatan pembagian takjil juga memiliki sejumlah tantangan. Salah satu yang utama adalah jumlah penerima yang cukup banyak sehingga membutuhkan persiapan yang matang, mulai dari penyediaan makanan, perlengkapan penyajian, hingga pengaturan distribusi.

Ke depan, ia berharap kegiatan ini dapat terus dipertahankan dan diperluas. Tidak hanya dilaksanakan di kampus Lidah Wetan, tetapi juga memungkinkan untuk diselenggarakan di kampus Ketintang agar manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyak masyarakat.

Ia juga berharap unit usaha kampus seperti Boganesa dan Kanvanesa dapat terlibat lebih aktif dalam penyediaan makanan untuk kegiatan tersebut sehingga sekaligus mendukung pengembangan unit bisnis yang dimiliki kampus. Dengan kolaborasi yang semakin kuat, kegiatan berbagi takjil diharapkan dapat menjadi tradisi Ramadan yang terus hidup di lingkungan unesa.

Wakil Rektor Bidang Hukum, Ketatalaksanaan, Keuangan, Sumber Daya, dan Usaha, Bachtiar Syaiful Bachri

Tradisi Buka Bersama dan Berbagi Takjil Unesa bukan sekadar agenda rutin, melainkan sebuah gerakan sosial yang mengakar kuat. Bukan hanya tentang makanan yang dibagikan, tetapi tentang rasa syukur, kebahagiaan, dan solidaritas yang disebarkan kepada siapa pun yang melintas.

Wakil Rektor Bidang Hukum, Ketatalaksanaan, Keuangan, Sumber Daya, dan Usaha, Prof. Dr. Bachtiar Syaiful Bachri M.Pd, mengisahkan bahwa tradisi ini memiliki sejarah panjang dan filosofi mendalam.

Menurut Guru Besar Pengembangan Kurikulum itu, kegiatan ini bermula dari inisiatif Rektor Unesa, Nurhasan, atau yang akrab disapa Cak Hasan, saat beliau masih memimpin di Fakultas Ilmu Keolahragaan. Kala itu, porsi takjil yang dibagikan masih sekitar 250 paket. Namun semangat berbagi itu terus tumbuh, hingga menjadi kegiatan Universitas yang besar dan kini dikenal seluruh warga kampus dan masyarakat sekitar.

“Ramadan itu bulan yang penuh kegembiraan. Sedikit kebaikan saja dibalas berlipat ganda. Karena itu kami ingin berbagi kebahagiaan dengan masyarakat luas,” tutur.

Baginya, momentum Ramadan tidak hanya menguatkan sisi spiritual, tetapi juga menjadi jembatan untuk mempererat hubungan sosial. Unesa tidak ingin hanya menjadi “menara gading” yang berdiri megah tanpa bersentuhan dengan masyarakat.

Lebih lanjut, Bachtiar menjelaskan bahwa Unesa berada di lingkungan yang beragam masyarakat, mulai dari warga sekitar, mahasiswa yang masih beraktivitas hingga petang, hingga para pengendara yang melintas tepat menjelang waktu berbuka.

Melihat mereka terus berjalan ketika azan hampir berkumandang menimbulkan rasa sayang tersendiri bagi Unesa. Terlebih, dalam ajaran Islam, umat yang berpuasa dianjurkan untuk segera membatalkan puasa ketika waktunya tiba. Dari situlah nilai kegiatan ini menemukan makna terdalamnya: memastikan siapa pun yang melintas dapat menyegerakan berbuka, meski hanya dengan seteguk air dan sepotong takjil yang dibagikan.

Menguatkan Silaturahmi dan Solidaritas

Buka bersama di Unesa bukan sekadar duduk, makan, lalu pulang. Ia telah berkembang menjadi ruang temu penuh kehangatan antara pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, hingga masyarakat sekitar.

Bachtiar menceritakan bahwa konsep yang diusung adalah kebersamaan yang egaliter. Semua orang makan menu yang sama, pada waktu yang sama, dalam suasana yang sama.

“Pak Rektor selalu menekankan bahwa acara ini tidak hanya ajang makan. Ini ajang berbahagia. Karena itu ada pentas seni, ada hiburan, semuanya dibuat menyatu dalam suasana Ramadan,” jelasnya.

Unit kegiatan mahasiswa, fakultas, hingga komunitas seni menjadi bagian tak terpisahkan dalam memeriahkan acara. Dari penampilan musik akustik, lantunan selawat, antomim hingga tari tradisional semuanya menghidupkan suasana sore menjelang azan Magrib.

Bersama Bisa Bekerja Sama

Momen berbagi takjil di depan gerbang kampus merupakan simbol kolaborasi besar antara berbagai unit internal maupun eksternal. Setiap fakultas dan unit di Unesa dijadwalkan secara bergiliran menjadi penyedia takjil. Ini tidak hanya memastikan keberagaman menu, tetapi juga transparansi dalam pengelolaan kegiatan.

Bachtiar menyebut bahwa koordinasi telah dimulai sejak tiga bulan sebelum kegiatan berlangsung setiap tahunnya. Kegiatan ini melibatkan banyak pihak, dekan, dosen, mahasiswa dari berbagai UKM seperti Pramuka, Menwa, Himapala, hingga Subdirektorat Mitigasi Crisis Center (SMCC). Kolaborasi ini juga lintas sektor seperti tenda-tenda ada yang berasal dari Angkatan Laut dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Keterlibatan banyak pihak membuat kegiatan ini tidak hanya bermakna spiritual, tetapi juga menjadi wujud nyata komitmen kampus berdampak yang terus dijalankan Unesa dalam konteks sosial dan keagamaan.

“Ada aspek spiritual, ada aspek sosial. Kita berkumpul, berkomunikasi, menjalin silaturahmi. Semua menyatu,” tambahnya.

Meski kegiatan ini selalu berlangsung dengan baik setiap tahunnya, Bachtiar menegaskan bahwa sejumlah tantangan tetap perlu diantisipasi. Bukan pada aspek sumber daya manusia maupun fasilitas karena keduanya telah terpenuhi dengan baik melainkan pada faktor cuaca yang kerap berubah-ubah

 “Unesa terus mengembangkan strategi agar kegiatan tetap berlangsung aman dan nyaman. Penguatan koordinasi, perbaikan tata kelola, serta kemitraan dengan instansi eksternal menjadi kunci keberhasilan,” tegasnya.

Bagi Guru Besar FIP itu, diberi amanah sebagai PIC kegiatan ini merupakan kesempatan besar untuk berbuat baik. Ke depan, Unesa berharap tradisi ini tidak hanya bertahan, tetapi juga semakin relevan dan berdampak luas. Spirit yang dibawa tetap sama: berbagi, menyambung silaturahmi, dan menjadi kampus yang dekat dengan masyarakat.

“Saya bersyukur diberi kesempatan berbagi kebahagiaan dengan masyarakat. Semoga ini menjadikan amal baik bagi civitas akademika Unesa yang dilipatkan berkali-kali lipat,” ungkapnya.

Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, Pemeringkatan, Publikasi, dan Science Center, Bambang Sigit Widodo

Pembagian takjil gratis dan kegiatan buka puasa bersama menjadi salah satu tradisi Ramadan yang memperkuat kebersamaan antara kampus, sivitas akademika, dan masyarakat. Program ini tidak hanya menghadirkan suasana berbagi di bulan suci, tetapi juga menjadi ruang interaksi sosial yang mempertemukan berbagai kalangan dalam semangat kebersamaan.

Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, Pemeringkatan, Publikasi, dan Science Center, Bambang Sigit Widodo, menyampaikan bahwa kegiatan berbagi takjil dan buka puasa bersama merupakan tradisi yang mungkin tidak banyak ditemukan di kampus lain. Tradisi ini menjadi salah satu cara Unesa membangun hubungan yang lebih dekat dengan masyarakat sekaligus mempererat solidaritas di lingkungan kampus.

Menurutnya, kegiatan tersebut lahir dari semangat kebersamaan yang ingin dibangun antara kampus dan masyarakat sekitar. Tidak hanya mahasiswa dan pegawai, masyarakat umum juga dapat merasakan suasana berbuka puasa bersama di lingkungan kampus.

“Unesa memiliki tradisi yang mungkin tidak ada di kampus lain. Kegiatan ini menjadi cara kita membangun kebersamaan antara kampus, masyarakat, dan seluruh sivitas akademika,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa salah satu tujuan kegiatan ini adalah memfasilitasi masyarakat yang tidak sempat berbuka puasa di rumah. Melalui pembagian takjil gratis dan buka puasa bersama di kampus, masyarakat tetap dapat menikmati momen berbuka dalam suasana yang hangat dan penuh kebersamaan.

Selain itu, pelaksanaan kegiatan juga diintegrasikan dengan berbagai aktivitas kampus. Beberapa agenda rapat pimpinan bahkan disesuaikan waktunya agar dapat dilaksanakan menjelang waktu berbuka. Dengan demikian, suasana rapat sekaligus menjadi bagian dari kegiatan ngabuburit yang diakhiri dengan buka puasa bersama.

“Kami tidak jarang menyesuaikan waktu rapat agar dapat dilakukan menjelang berbuka. Jadi sambil ngabuburit, setelah itu bisa langsung berbuka bersama,” jelasnya.

Kegiatan berbagi takjil dan buka puasa bersama juga melibatkan berbagai unsur di lingkungan kampus. Pimpinan universitas, fakultas, direktorat, badan dan lembaga, hingga relawan dari berbagai unit bekerja bersama dalam proses persiapan dan pelayanan kepada masyarakat. Kolaborasi tersebut mencerminkan semangat kerja bersama yang selama ini menjadi bagian dari budaya kerja di Unesa.

Menurut dosen FISIPOL tersebut, kegiatan ini juga selaras dengan jargon Unesa, yaitu “Bersama Bisa Bekerja Sama.” Nilai tersebut tercermin dalam proses pelaksanaan kegiatan, di mana semua pihak terlibat tanpa sekat dalam melayani masyarakat yang datang untuk berbuka puasa.

Di balik pelaksanaannya, kegiatan ini juga menghadapi sejumlah tantangan. Salah satu tantangan utama adalah kondisi cuaca. Ramadan tahun ini bertepatan dengan musim penghujan, sehingga hujan kerap turun pada saat kegiatan berlangsung. Meski demikian, antusiasme masyarakat tetap sangat tinggi. Takjil dan hidangan berbuka yang disediakan pun selalu habis dibagikan kepada masyarakat.

Meski menghadapi berbagai tantangan, ia menilai bahwa kegiatan ini memberikan dampak positif yang besar, terutama dalam membangun nilai-nilai moral di lingkungan kampus. Semangat berbagi, kepedulian sosial, serta kebersamaan antara sivitas akademika dan masyarakat menjadi nilai penting yang terus ditanamkan melalui kegiatan tersebut.

Ia berharap tradisi berbagi takjil dan buka puasa bersama di Unesa dapat terus dilanjutkan pada tahun-tahun mendatang. Selain memperkuat hubungan antara kampus dan masyarakat, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk menumbuhkan nilai kemanusiaan dan kepedulian sosial di lingkungan pendidikan tinggi.

“Nilai-nilai moral yang dibangun melalui kegiatan ini sangat penting. Karena itu, tradisi ini akan terus kita jalankan dan pertahankan ke depannya,” pungkasnya.

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Pengembangan, Kerja Sama, dan Teknologi Informasi dan Komunikasi Unesa, Dwi Cahyo Kartiko

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Pengembangan, Kerja Sama, dan Teknologi Informasi dan Komunikasi Unesa, Prof. Dr. Dwi Cahyo Kartiko, S.Pd., M.Kes., menilai buka bersama dan bagi takjil ini menjadi salah satu pertanda baik bagi citra positif universitas di mata masyarakat. Tingginya antusiasme masyarakat yang hadir menunjukkan bahwa kegiatan tersebut diterima dengan antusias, baik oleh warga sekitar kampus maupun masyarakat umum.

“Ini merupakan pertanda baik bagi citra positif lembaga di mata masyarakat. Kita bisa melihat dari banyaknya antusias masyarakat sekitar maupun masyarakat umum mulai dari driver online hingga pekerja yang ikut mengikuti kegiatan ini,” ujarnya.

Ia menambahkan, kegiatan berbagi takjil dan buka bersama juga memberikan dampak positif bagi reputasi universitas, terlebih ketika kegiatan tersebut mendapat perhatian dari berbagai media.

“Tentu saja kegiatan seperti ini juga dapat meningkatkan reputasi universitas. Apalagi kemarin kegiatan ini juga diliput puluhan media, bahkan ada TV One yang datang langsung ke lokasi acara untuk melakukan siaran langsung di televisi. Itu tentu menjadi hal yang bagus bagi lembaga dan menjadi contoh bagi universitas lain,” jelasnya.

Bagi Cahyo, tradisi berbagi di bulan Ramadan bukan sekadar kegiatan seremonial ataupun upaya membangun citra positif semata. Kegiatan ini menjadi wujud nyata semangat untuk berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan sebagaimana diajarkan dalam nilai-nilai Islam.

Ia menegaskan bahwa kegiatan buka puasa bersama dan berbagi takjil akan terus dipertahankan sebagai tradisi di lingkungan Unesa. Tradisi tersebut diharapkan tetap hidup dari tahun ke tahun sebagai bagian dari komitmen kampus dalam menebarkan kebaikan kepada masyarakat di bulan suci.

Lebih lanjut, ia menggarisbawahi kegiatan ini juga memiliki makna sosial yang penting karena mampu mempererat hubungan antara civitas akademika dengan masyarakat sekitar maupun umum.

“Kegiatan ini semakin mendekatkan kita dengan masyarakat. Selain berbagi kebahagiaan saat berbuka puasa, kita juga ingin menghidupkan nilai-nilai kebaikan di bulan Ramadan,” ungkapnya.

Guru Besar Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) itu juga menjelaskan bahwa berbagi makanan untuk berbuka puasa juga memiliki nilai spiritual yang besar. Dalam ajaran Islam, memberikan makanan kepada orang yang berpuasa saat berbuka merupakan amalan yang sangat dianjurkan.

“Dalam Ramadan kita sering diingatkan bahwa orang yang memberi makanan kepada mereka yang berpuasa untuk berbuka akan mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa tersebut. Karena itu, kegiatan ini menjadi salah satu cara kita untuk semangat berbagi di bulan Ramadan,” tuturnya.

Melalui kegiatan tersebut, pihaknya berharap tradisi berbagi dan buka puasa bersama dapat terus menjadi budaya serta memberikan dampak yang semakin luas bagi masyarakat. Tradisi ini diharapkan tetap terjaga sebagai wujud komitmen Unesa dalam menebarkan kebaikan dan mempererat hubungan dengan masyarakat sejalan dengan tagline Diktisaintek Berdampak.

Dosen Agama Islam Unesa, Agung Ari Subagio

Menanggapi kegiatan buka bersama Unesa, dosen agama unesa, Agung Ari Subagio, menjelaskan bahwa dalam ajaran Islam kegiatan berbagi dan berbuka bersama dengan masyarakat luas merupakan praktik yang sangat diapresiasi.

Hal ini karena ajaran Islam menekankan keseimbangan antara dimensi spiritual dan sosial dalam kehidupan manusia.

“Dalam ajaran Islam, kegiatan seperti ini tentu sangat diapresiasi. Inti ajaran Islam adalah keseimbangan, baik antara spiritual dan sosial, ketuhanan dan kemanusiaan, maupun ibadah dan mu’amalah. Kegiatan semacam ini sudah mencerminkan aspek keseimbangan tersebut,” ujarnya.

Menurutnya, kegiatan pembagian takjil dan buka bersama tidak hanya menjadi bentuk ibadah, tetapi juga sarana untuk memperkuat hubungan sosial. Kehadiran masyarakat dalam kegiatan yang digelar kampus menunjukkan bahwa lingkungan pendidikan tinggi dapat menjadi ruang pertemuan antara nilai keagamaan dan kehidupan sosial yang lebih luas.

Lebih lanjut, Agung menilai bahwa kegiatan ini memiliki peran penting dalam menanamkan berbagai nilai moral kepada mahasiswa maupun sivitas akademika. Melalui proses berbagi dan pelayanan kepada masyarakat, mahasiswa dapat belajar tentang kepedulian sosial serta pentingnya membangun kebersamaan.

“Kegiatan ini dapat menanamkan nilai pendidikan kepedulian sosial, semangat kebersamaan, serta memperkuat persatuan dan kesatuan,” jelasnya.

Nilai-nilai tersebut menjadi penting bagi mahasiswa sebagai generasi muda yang tidak hanya dituntut memiliki kemampuan akademik, tetapi juga kepekaan sosial. Dengan terlibat langsung dalam kegiatan berbagi, mahasiswa dapat merasakan pengalaman nyata tentang arti kepedulian terhadap sesama.

Menariknya, kegiatan berbagi takjil di unesa juga melibatkan mahasiswa dari berbagai latar belakang agama. Tidak sedikit mahasiswa non muslim yang turut menjadi relawan dalam membagikan takjil kepada masyarakat. Bagi Agung, fenomena tersebut justru mencerminkan kedewasaan dalam kehidupan beragama.

“Keterlibatan masyarakat nonmuslim dalam kegiatan ini mencerminkan tingkat kedewasaan keberagamaan yang tinggi. Di sinilah makna batasan-batasan toleransi mendapatkan momen aktualisasinya yang tepat,” ungkapnya.

Kebersamaan tersebut menunjukkan bahwa nilai-nilai kemanusiaan dapat menjadi titik temu yang memperkuat hubungan antar individu tanpa memandang perbedaan keyakinan. Melalui kegiatan sosial seperti ini, semangat toleransi dapat tumbuh secara alami dalam kehidupan kampus.

Sebagai lembaga pendidikan, perguruan tinggi juga memiliki tanggung jawab untuk menumbuhkan nilai-nilai keagamaan dan kepedulian sosial melalui berbagai program yang melibatkan mahasiswa dan masyarakat. Menurut Agung, peran tersebut tidak hanya sebatas pada proses pengajaran di kelas, tetapi juga melalui aktivitas nyata di lingkungan kampus.

“Perguruan tinggi sebagai lembaga pendidikan yang lebih dari sekadar lembaga pengajaran harus lebih kreatif dan inovatif dalam membaca serta melahirkan kegiatan-kegiatan yang bernuansa keagamaan dan kebangsaan dalam berbagai aktivitasnya,” tuturnya.

Ia menambahkan bahwa tradisi berbagi takjil dan buka bersama di unesa merupakan contoh nyata bagaimana kampus dapat menghadirkan kegiatan yang menggabungkan nilai keagamaan, kebersamaan, dan kepedulian sosial.

Ke depan, Agung berharap tradisi ini dapat terus dilanjutkan dengan tetap memperhatikan prioritas utama bagi mahasiswa yang membutuhkan. Selain melalui kegiatan di tingkat universitas, upaya berbagi juga dapat terus dilakukan melalui masjid dan musala yang ada di lingkungan kampus serta didukung oleh berbagai sarana dan prasarana lainnya.

Dosen Sosiologi Unesa, Eufrasia Kartika Hanindraputri

Kegiatan berbagi takjil gratis dan buka bersama yang digelar Universitas Negeri Surabaya (Unesa) selama Ramadan tidak hanya menjadi agenda berbagi makanan untuk berbuka puasa. Di balik kegiatan tersebut, terdapat nilai sosial yang memperkuat hubungan antara kampus dan masyarakat.

Dosen Sosiologi Unesa, Eufrasia Kartika Hanindraputri, menilai bahwa kegiatan berbagi takjil dapat dipahami sebagai bagian dari praktik kesejahteraan sosial. Menurutnya, kampus memiliki peran tidak hanya dalam menghasilkan pengetahuan di ruang kelas, tetapi juga dalam merawat kehidupan sosial masyarakat melalui aksi nyata.

Ia menjelaskan bahwa kegiatan berbagi takjil menunjukkan bagaimana kampus hadir di tengah masyarakat melalui tindakan sederhana yang berdampak. Kampus tidak hanya menjalankan fungsi akademik, tetapi juga berkontribusi dalam membangun nilai solidaritas sosial.

“Kampus tidak hanya hadir dari sisi teori di ruang belajar saja, tetapi juga memiliki komunikasi sosial yang berdampak. Kegiatan seperti ini menunjukkan bagaimana kampus ikut merawat nilai kebersamaan dan solidaritas dalam masyarakat,” ujarnya.

Dalam pandangannya, pembangunan yang dilakukan kampus tidak semata-mata bersifat fisik atau institusional. Lebih dari itu, kampus juga berperan dalam pembangunan sosial, yaitu upaya memanusiakan manusia melalui praktik kepedulian dan kebersamaan.

Kegiatan berbagi takjil juga memberikan manfaat sebagai ruang belajar sosial bagi mahasiswa dan sivitas akademika. Melalui keterlibatan langsung dalam pembagian takjil, mahasiswa dapat merasakan pengalaman berinteraksi dengan masyarakat sekaligus menumbuhkan empati sosial.

“Bagi mahasiswa dan sivitas akademika, kegiatan ini menjadi ruang belajar sosial. Mereka belajar berbagi, berempati, dan berinteraksi dengan masyarakat. Hal itu tentu memperkuat nilai solidaritas dalam kehidupan sosial,” jelasnya.

Selain itu, kegiatan tersebut juga membuka peluang untuk membangun relasi yang lebih luas antara kampus dan masyarakat. Interaksi yang terbangun dalam kegiatan berbagi dapat memperkuat hubungan sosial dan menciptakan rasa saling terhubung antara kampus dan lingkungan sekitarnya.

Menurut Hanin, apabila kegiatan berbagi takjil ke depan ingin diperluas, baik dari sisi jumlah takjil maupun lokasi pembagian, maka diperlukan penguatan kolaborasi antar berbagai pihak.

Ia menilai pendekatan kolaboratif menjadi langkah penting agar kegiatan sosial dapat berjalan lebih terorganisasi dan memberikan dampak yang lebih luas. Organisasi mahasiswa, relawan, serta komunitas di sekitar kampus dapat dilibatkan dalam pelaksanaan kegiatan tersebut.

“Jika porsinya ingin ditambah atau lokasinya diperluas, maka penting untuk memperkuat kolaborasi. Kita bisa melibatkan organisasi mahasiswa, relawan, hingga komunitas di sekitar kampus agar pelaksanaannya tetap nyaman dan berjalan dengan baik,” tuturnya.

Kolaborasi tersebut juga dapat membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah maupun komunitas masyarakat. Melalui kerja sama tersebut, kesadaran kolektif tentang pentingnya solidaritas sosial dapat semakin tumbuh.

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa pembagian takjil gratis tidak sekadar kegiatan berbagi makanan untuk berbuka puasa. Dari perspektif sosiologi, praktik tersebut menjadi bentuk nyata bagaimana kampus membangun modal sosial di tengah masyarakat.

“Berbagi takjil bukan sekadar makanan untuk berbuka. Di dalamnya ada praktik berbagi yang menunjukkan bagaimana kampus dapat berdampak melalui tindakan sederhana yang memperkuat nilai kebersamaan,” ungkapnya.

Ia berharap kegiatan ini dapat terus berlanjut dan menjadi budaya positif di lingkungan kampus. Dengan demikian, semangat kepedulian sosial dapat tumbuh secara berkelanjutan dan menjadi bagian dari karakter sivitas akademika Unesa dalam membangun kampus yang berdampak bagi masyarakat.

Dosen Gizi Unesa, Noor Rohmah Mayasari

Bulan Ramadan selalu menghadirkan suasana yang khas di lingkungan Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Salah satu tradisi yang terus terjaga setiap tahunnya adalah kegiatan buka bersama dan berbagi takjil yang dilaksanakan di depan gerbang Kampus Unesa Lidah Wetan. Ribuan porsi makanan dibagikan kepada mahasiswa, civitas akademika, hingga masyarakat sekitar menjelang waktu berbuka. Di balik suasana kebersamaan tersebut, terdapat aspek penting yang tidak boleh diabaikan, yakni keseimbangan gizi dalam menu berbuka puasa.

Dosen Prodi S1 Gizi, Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) Unesa, Noor Rohmah Mayasari, Ph.D., menegaskan bahwa menjaga keseimbangan gizi saat berbuka puasa merupakan hal yang sangat penting. Menurutnya, selama menjalankan ibadah puasa tubuh tidak mendapatkan asupan makanan dan minuman selama kurang lebih 12 hingga 14 jam. Kondisi tersebut membuat tubuh mengalami jeda asupan energi yang cukup panjang sehingga pemenuhan nutrisi saat berbuka menjadi krusial.

Ia menjelaskan bahwa menu berbuka sebaiknya tetap memperhatikan keseimbangan gizi, baik dari sisi cairan, makronutrien, maupun mikronutrien. Makronutrien meliputi karbohidrat, protein, dan lemak yang berfungsi sebagai sumber energi utama tubuh. Sementara itu, mikronutrien seperti vitamin dan mineral berperan dalam menjaga fungsi metabolisme dan kesehatan tubuh secara keseluruhan.

“Menjaga keseimbangan gizi dalam menu buka puasa sangat penting untuk memenuhi kebutuhan asupan harian tubuh. Dengan menu yang seimbang, mahasiswa tetap dapat menjalankan aktivitas dengan baik tanpa mengalami masalah kesehatan selama maupun setelah Ramadan,” ujarnya.

Dalam tradisi berbagi takjil, biasanya tersedia berbagai jenis makanan dan minuman yang menggugah selera. Namun dari sudut pandang gizi, takjil yang ideal seharusnya tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga mudah dicerna oleh tubuh setelah berpuasa seharian.

Noor Rohmah menjelaskan bahwa setelah tubuh tidak mendapatkan asupan selama berjam-jam, kadar gula dalam darah cenderung menurun sehingga tubuh memerlukan energi yang cepat diserap. Oleh karena itu, makanan yang disarankan untuk mengawali berbuka puasa adalah makanan yang ringan dan mudah dicerna. Contoh yang paling dianjurkan adalah kurma dan buah-buahan.

Kedua jenis makanan tersebut mengandung gula alami yang dapat dengan cepat mengembalikan energi tubuh, sekaligus menyediakan vitamin, mineral, dan serat yang baik bagi sistem pencernaan,” tegas dosen mata kuliah Analis Gizi Pangan FIKK tersebut.

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya mengonsumsi air putih saat berbuka untuk membantu mengembalikan cairan tubuh yang hilang selama berpuasa. Di sisi lain, makanan manis seperti kolak dan gorengan memang sering menjadi menu favorit dalam takjil Ramadan. Namun ia mengingatkan bahwa konsumsi makanan tersebut sebaiknya tidak berlebihan.

Lebih lanjut, ia ,mencontohkan kolak yang mengandung kadar gula yang cukup tinggi sehingga dapat menyebabkan lonjakan gula darah secara cepat. Sementara gorengan mengandung lemak yang membutuhkan waktu lebih lama untuk dicerna oleh tubuh.

Sudah Sesuai Gizi Seimbang

Dalam kegiatan buka bersama dan berbagi takjil yang dilaksanakan di Unesa, penyediaan menu yang dilengkapi dengan buah-buahan dinilai sudah selaras dengan prinsip gizi seimbang. Kehadiran buah dalam menu berbuka memiliki peran penting bagi kesehatan tubuh karena mengandung vitamin, mineral, serta kadar air yang membantu mengembalikan keseimbangan cairan dan elektrolit setelah seharian berpuasa.

Agar kegiatan berbagi takjil tetap memberikan manfaat kesehatan bagi para penerima, Noor Rohmah menekankan pentingnya memperhatikan prinsip gizi seimbang. Hal tersebut dapat dilakukan dengan memastikan bahwa menu yang disajikan mencakup berbagai komponen gizi, seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, serta cairan.

“Menu berbuka sebaiknya dimulai dari minum air putih, kemudian kurma dan buah sebagai takjil. Setelah itu diberi jeda sejenak sebelum mengonsumsi makanan utama seperti nasi, lauk hewani atau nabati, serta sayuran,” jelasnya.

Selain memperhatikan komposisi makanan, aspek keamanan pangan juga menjadi hal yang tidak kalah penting. Proses pengolahan makanan hingga pendistribusian takjil harus dipastikan higienis dan aman untuk dikonsumsi. Bahkan jika diperlukan, kegiatan meraih keberkahan yang di laksanakan Unesa ini dapat melibatkan tenaga gizi untuk membantu memastikan kualitas makanan yang dibagikan.

Lebih jauh, Noor Rohmah juga melihat bahwa kegiatan buka bersama di lingkungan kampus tidak hanya memiliki nilai sosial, tetapi juga manfaat lain bagi mahasiswa dari sisi ekonomi, kegiatan tersebut dapat membantu mahasiswa menghemat pengeluaran selama Ramadan. Sementara dari aspek gizi, kegiatan ini dapat membantu mahasiswa memperoleh asupan nutrisi yang cukup selama menjalankan ibadah puasa.

“Mahasiswa perlu tetap bijak dalam memilih makanan yang bergizi selama Ramadan. Dengan kolaborasi yang baik antara universitas dan mahasiswa, kegiatan buka bersama tidak hanya menjadi tradisi sosial, tetapi juga mampu mendukung kesehatan dan pemenuhan gizi selama bulan puasa,” pungkasnya.

Dosen Psikologi Unesa, Qurrota A’yuni Fitriana

Tradisi buka bersama dan berbagi takjil yang dilaksanakan di depan gerbang Kampus  II Unesa Lidah Wetan tidak hanya menjadi kegiatan berbagi makanan bagi mahasiswa dan masyarakat sekitar, tetapi juga menjadi ruang pertemuan sosial yang penuh makna. Dari perspektif psikologi, kegiatan tersebut memiliki dampak yang lebih luas, terutama dalam memperkuat hubungan sosial dan meningkatkan kesejahteraan psikologis individu.

Dosen Fakultas Psikologi Unesa, Qurrota A’yuni Fitriana, S.Psi., M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa tradisi buka bersama pada dasarnya merupakan praktik sosial yang berakar kuat dalam budaya masyarakat Indonesia. Menurutnya, manusia secara alami memiliki kebutuhan untuk menjalin hubungan dengan orang lain dan menjadi bagian dari suatu kelompok sosial.

“Dari perspektif psikologi sosial, tradisi buka bersama merupakan kebiasaan yang berlandaskan asas kebersamaan. Setiap orang memiliki kebutuhan untuk membangun ikatan sosial, sehingga momen berbuka puasa bersama menjadi cara bagi individu untuk memenuhi kebutuhan sosial tersebut melalui ritual keagamaan dan kegiatan berbagi,” jelasnya.

Membawa Bahagia dan Menyehatkan Mental

Kegiatan berbagi takjil yang sering dilakukan dalam momen Ramadan juga menjadi bentuk interaksi sosial yang sederhana, namun memiliki dampak yang signifikan bagi hubungan antar individu. Ketika seseorang memberikan makanan kepada orang lain, tidak hanya terjadi proses pemberian secara fisik, tetapi juga terbangun hubungan emosional yang memperkuat kohesi sosial dalam masyarakat.

Menurut A’yuni, kegiatan berbagi seperti membagikan takjil juga dapat menimbulkan perasaan bahagia bagi orang yang melakukannya. Hal ini berkaitan dengan perubahan zat kimia di dalam otak yang terjadi ketika seseorang melakukan kebaikan kepada orang lain.

Dosen mata kuliah Konseling dan Psikoterapi itu juga menjelaskan bahwa ketika seseorang berbagi dengan orang lain, tubuh akan mengalami perubahan pada beberapa zat kimia di otak seperti dopamin, serotonin, dan oksitosin.

Perubahan tersebut memunculkan perasaan sejahtera dan bahagia pada individu. Melalui kegiatan membantu orang lain, seseorang juga cenderung tidak terlalu terpaku pada dirinya sendiri sehingga hidup terasa lebih ringan dan memiliki makna yang lebih dalam.

Dari sisi emosional, aktivitas berbagi makanan atau membantu orang lain saat Ramadan juga memunculkan berbagai perasaan positif. Rasa kasih sayang, empati, dan kepuasan sering kali muncul ketika seseorang melihat kebahagiaan orang lain atas bantuan yang diberikan.

Ia menambahkan, interaksi sederhana seperti menerima ucapan terima kasih atau melihat senyuman dari penerima takjil dapat membuat seseorang merasa lebih terhubung dengan orang lain. Kondisi tersebut secara tidak langsung melatih kemampuan empati, yaitu kemampuan memahami dan merasakan apa yang dialami oleh orang lain.

“Melihat respon positif dari orang yang kita bantu, seperti senyuman atau ucapan terima kasih, dapat membuat kita merasa terkoneksi dengan orang lain. Dari situ juga muncul empati, yaitu kemampuan untuk merasakan posisi orang lain dan memahami pengalaman yang mereka jalani,” tuturnya.

Selain memperkuat empati, kegiatan buka bersama juga memiliki peran penting dalam mempererat hubungan sosial di berbagai lingkungan, baik keluarga, pertemanan, maupun institusi seperti Unesa. Melalui kegiatan bersama, individu memiliki kesempatan untuk saling mengenal, berinteraksi, dan membangun komunikasi yang lebih hangat.

Dalam kajian psikologi, kemampuan membangun hubungan positif dengan orang lain merupakan salah satu aspek penting dalam kesejahteraan psikologis. Hubungan sosial yang sehat ditandai dengan adanya kehangatan, rasa percaya, empati, serta kemampuan untuk saling mendukung satu sama lain.

“Melalui kegiatan berbagi takjil, individu belajar memahami kehidupan orang lain secara langsung. Mereka belajar mengenali ekspresi, memahami situasi sosial, serta mencoba menempatkan diri pada posisi orang lain,” jelasnya.

Lebih jauh, kegiatan sosial seperti berbagi takjil juga dapat memberikan dampak positif bagi kesehatan mental. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa melakukan kebaikan kepada orang lain dapat membantu mengurangi perasaan negatif seperti stres, kecemasan, hingga depresi.

Baginya, ketika seseorang terlalu fokus pada masalah pribadi, kondisi tersebut dapat memperburuk perasaan stres dan cemas. Namun melalui kegiatan berbagi, perhatian individu akan beralih pada pengalaman sosial yang terjadi di sekitarnya.

Rasa syukur atau gratitude menjadi salah satu aspek penting dalam menjaga kesehatan mental. Dengan melihat kondisi orang lain dan berbagi kebahagiaan bersama, seseorang dapat lebih menghargai hal-hal positif dalam hidupnya. “Mahasiswa yang aktif dalam kegiatan berbagi akan belajar berinteraksi dan berkolaborasi dengan orang lain. Hal ini dapat membentuk karakter yang lebih empati, peka terhadap situasi sosial, serta memiliki nilai-nilai kemanusiaan yang kuat,” terangnya.

Mahasiswa Luar Negerti, Rajab Hamis Yusuph, mahasiswa asal Tanzania

Kegiatan pembagian takjil gratis dan buka puasa bersama yang digelar Unesa juga meninggalkan kesan mendalam bagi para relawan internasional yang terlibat. Bagi mereka, suasana kebersamaan masyarakat yang menanti waktu berbuka sambil menikmati beragam jajanan tradisional merupakan pengalaman baru yang jarang ditemui di negara asal mereka.

Hyun Subin, mahasiswa asal Korea Selatan yang akrab disapa Sekar, mengaku terpukau dengan semarak tradisi berbagi takjil dan kebersamaan masyarakat saat menanti waktu berbuka. Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi momen pertama yang begitu berkesan selama berada di Indonesia.

“Ini pengalaman pertama bagi saya. Di Korea, jumlah umat muslim relatif sedikit, sehingga tradisi seperti ini jarang ditemui. Saya sangat senang bisa merasakan hal baru yang penuh kehangatan ini,” ungkap Sekar dalam bahasa Indonesia yang cukup fasih.

Hal serupa disampaikan Rajab Hamis Yusuph, mahasiswa asal Tanzania. Ia menilai kegiatan berbuka puasa bersama di lingkungan kampus seperti yang digelar Unesa menjadi sarana yang efektif untuk mempererat persatuan dan kebersamaan.

Sementara itu, Liu Meixi, mahasiswa asal Tiongkok, juga mengaku terkesan dengan antusiasme masyarakat dan mahasiswa yang berkumpul dalam suasana hangat dan damai. Bagi mereka, pengalaman menjadi relawan pembagi takjil tidak hanya menjadi aktivitas sosial, tetapi juga kesempatan berharga untuk mengenal lebih dekat tradisi Ramadan di Indonesia.

Mahasiswa Unesa, Egita Fitri Nur Hayati

Selain itu, mahasiswa Unesa juga merespon positif kegiatan ini, salah satunya Egita Fitri Nur Hayati. Menurutnya, program ini cukup membantu mahasiswa selama menjalani Ramadan di kampus.

Egita mengaku senang karena kegiatan tersebut membuatnya bisa lebih berhemat sekaligus menikmati momen berbuka puasa bersama teman-teman. Ia juga menilai pelayanan yang diberikan panitia berjalan dengan baik sehingga mahasiswa tetap merasa nyaman mengikuti kegiatan tersebut.

“Meski antrean mahasiswa cukup panjang menjelang waktu berbuka, tapi pembagian makanan tetap berlangsung lancar dan relatif cepat,” ujarnya.

Meski demikian, Egita menyebut beberapa mahasiswa kerap mengeluhkan menu makanan yang cenderung sama setiap hari. Ia berharap ke depan variasi menu dapat lebih diperhatikan meskipun dengan anggaran yang sama. Selain itu, ia juga menyarankan agar pilihan minuman tidak terlalu didominasi minuman manis sehingga lebih seimbang bagi mahasiswa yang berbuka puasa.’

Masyarakat Umum, Rucita

Tradisi buka bersama dan berbagi takjil yang diselenggarakan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) setiap bulan Ramadan tidak hanya dirasakan manfaatnya oleh civitas academika, tetapi juga oleh masyarakat sekitar kampus, masyarakat umum, maupun para pengguna jalan yang melintas di sekitar area kegiatan. Kehadiran kegiatan ini menjadi momen yang dinantikan oleh warga karena selain menghadirkan kebersamaan, juga membawa manfaat sosial bagi lingkungan sekitar.

Salah satu warga yang hadir, Rucita, mengaku baru pertama kali mengikuti kegiatan berbagi takjil dan buka bersama yang digelar Unesa. Ia menilai kegiatan tersebut berlangsung tertib, terencana dengan baik, serta memberikan dampak positif bagi masyarakat.

“Kegiatan ini sangat baik dan terasa manfaatnya bagi masyarakat. Saya baru pertama kali ikut, tapi melihat pelaksanaannya sangat tertib dan rapi, meskipun antrian panjang tetapi pembagiannya cepat,” ungkapnya.

Menurut Rucita, tradisi berbagi takjil yang dilakukan Unesa menunjukkan kepedulian kampus terhadap masyarakat di sekitarnya. Ia merasa senang karena kegiatan tersebut tidak hanya melibatkan mahasiswa dan civitas academika, tetapi juga terbuka bagi masyarakat umum yang ingin merasakan suasana kebersamaan di bulan suci Ramadan.

Selain itu, ia juga menilai bahwa kegiatan tersebut sangat membantu, terutama bagi mahasiswa perantauan yang menjalankan ibadah puasa jauh dari keluarga. Melalui kegiatan buka bersama di lingkungan kampus, para mahasiswa dapat tetap merasakan suasana kebersamaan seperti di rumah.

Rucita pun berharap kegiatan berbagi takjil dan buka bersama yang diinisiasi oleh Unesa dapat terus dilaksanakan setiap tahun. Menurutnya, kegiatan seperti ini tidak hanya memberikan manfaat secara langsung bagi masyarakat, tetapi juga mempererat hubungan antara kampus dan lingkungan sekitar.

“Semoga kegiatan ini bisa terus dilaksanakan setiap Ramadan. Selain membantu masyarakat, kegiatan ini juga mempererat hubungan antara kampus dan warga sekitar,” ujarnya.@TimHumas

id_IDID