Di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) inklusi bukan lagi sekadar janji dari visi-misi, melainkan sebuah gerakan nyata. Hal itu terwujud dari berdirinya Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Peduli Disabilitas Unesa melalui SK Rektor pada Oktober 2025. UKM ini sebenarnya sudah berdenyut sejak era Pusat Studi dan Layanan Disabilitas (PSLD) dalam bentuk kelompok relawan.
Novia Restu Windayani, SPd, MPd, dosen pembina UKM Peduli Disabiltas yang mendampingi sejak awal menjelaskan bahwa tujuan utama adalah memperluas akses dan meningkatkan mutu layanan pendidikan bagi mahasiswa penyandang disabilitas, baik akademik maupun non-akademik.
Layanan yang diberikan, katanya, tidak hanya terbatas pada pendampingan biasa, tapi juga melalui teknologi asistif, advokasi kebijakan, pengembangan kapasitas, serta pelatihan teori dan praktik untuk mahasiswa disabilitas sekaligus relawan. “Keanggotaan dibuka untuk semua program studi di Unesa, sehingga mahasiswa dari berbagai fakultas dapat belajar langsung tentang dunia inklusi,” terang Dosen Prodi Tata Rias Unesa itu.
Tantangan terbesar, menurut Novia, adalah regenerasi. Kesadaran terhadap isu disabilitas masih bergantung pada panggilan hati, bukan kewajiban. Namun, ia bersyukur karena hingga November 2025, UKM ini sudah memiliki 125 relawan aktif yang terdiri dari mahasiswa disabilitas dan nondisabilitas lintas fakultas. “Tahun ini juga menjadi titik ekspansi Disability Corner resmi dibuka di Kampus Ketintang (Fakultas Vokasi) agar layanan lebih cepat sampai ke mahasiswa disabilitas di wilayah selatan,” ujarnya.
Novia menambahkan, setiap momen bersama mahasiswa disabilitas dan relawan selalu penuh warna. Puncaknya adalah perayaan Hari Disabilitas Internasional setiap akhir tahun, saat panggung kampus diserahkan sepenuhnya kepada mereka untuk menampilkan bakat tanpa sekat. “Itu menjadi momen yang luar biasa bagi kami,” tegas Novia.
Sementara itu, Siti Nur Fadilah, mahasiswa Prodi Pendidikan Luar Biasa angkatan 2023 yang kini menjabat Ketua UKM Disabilitas periode 2025 menambahkan. Sebagai pelaksana organiasi, mahasiswi yang akrab disapa Situ itu mengakui tantangan terberat baginya adalah merespons keberagaman kebutuhan seperti tunanetra, tunarungu, tunadaksa, autism spectrum, hingga slow learner. Karena itu, dalam setiap kegiatan harus dirancang ulang dari nol baik terkait lokasi, materi, pendampingan, hingga teknis pelaksanaan. “Mengkoordinasikan 125 relawan dengan jadwal kuliah yang berbeda juga membutuhkan kesabaran tingkat tinggi,” bebernya.
Namun, di balik semua itu, ada pengalaman yang paling membekas bagi Fadilah. Momen itu adalah saat mengkoordinasikan pendampingan pada PKKMB 2025. Ia harus mengumpulkan data mahasiswa disabilitas baru dari seluruh fakultas, lalu mencocokkan dengan relawan yang kompeten. Nah, saat hari pelaksaan kejutan: datang. Tiba-tiba ada maba yang ingin pulang, sehingga harus diyakinkan dengan sabar. “Ada pula yang antusias luar biasa hingga relawan harus terus mengatur antrean sambil tertawa,” ungkap Siti mengenang.

Jalankan Program Rutin
Layaknya sebuah organisasi, UKM Peduli Disabiltas juga memiliki berbagai program yang dijalankan. Menurut Siti, setidaknya ada 7 program inti yang saat ini dijalankan secara rutin. Ketujuh program itu adalah 1) pendampingan relawan pada PKKMB tingkat universitas, fakultas, dan prodi, 2) layanan pendampingan di setiap event kampus semisal lomba, seminar, workshop dan berbagai acara lainnya, 3) pelatihan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) yang dilaksanakan setiap minggu.
Selain itu, ada pula 4) pelatihan dosen dan relawan tentang pedagogi inklusif serta cara mendampingi yang tepat, 5) riset kebutuhan aksesibilitas fasilitas kampus, 6) konseling rutin dua kali seminggu bersama terapis profesional khusus disabilitas, dan 7) kolaborasi dengan komunitas eksternal seperti Pertuni, Gerkatin, dan PPCI Surabaya.
Di antara even yang dilakukan oleh UKM Peduli Disabilitas setiap minggu adalah Pelatihan Bahasa Isyarat Indonesia (BASINDO). Salah satunya, dilaksanakan pada Kamis, 16 oktober 2025 bekerja sama dengan Pusat Unggulan Iptek Disabilitas (PUID) atau Disability Innovation Center (DIC).
Kegiatan itu, kata Siti, berkolaborasi juga dengan Komunitas Tuli Unesa (KOTUNESA) dan Disability Innovation Center (DIC). Kegiatannya berlangsung di gedung O6 Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Unesa. Pelatihan itu berlangsung sebanyak 10 kali pertemuan, yang dimulai pada 16 Oktober hingga 14 November 2025 setiap Kamis dan Jumat. “Pelatihan ini dibuka secara gratis bagi mahasiswa yang ingin belajar bahasa isyarat dan Juru Bahasa Isyarat (JBI),” terang Siti.
Sementara itu, Khofidotur Rofiah, MPd, PhD, koordinator Prodi Pendidikan Luar Biasa (PLB) menyampaikan mengenai pentingnya penggunaan bahasa isyarat dalam lingkungan kampus sebagai bentuk dari kesetaraan serta inklusivitas. Selain itu, ia juga menyampaikan bahwa pelatihan tersebut merupakan pelatihan dasar bahasa isyarat, sehingga peserta dapat mengikuti pelatihan tingkat atas apabila tertarik menjadi JBI.
Sementara itu, Novia Restu Windayani, selaku pembimbing UKM Peduli Disabilitas berharap dengan adanya pelatihan ini dapat menumbuhkan rasa ingin tahu peserta mengenai Bahasa Isyarat dan mempertimbangkan JBI sebagai profesi. “UKM Peduli Disabilitas tak hanya ada di Unesa Lidah wetan namun juga sudah tersedia di Unesa Ketintang,” bebernya.
Ke depan, Novia berharap UKM ini menjadi role model bagi organisasi mahasiswa lainnya. Fadilah menambahkan, inklusi harus menjadi DNA kampus yang di setiap acara, setiap organisasi, otomatis sudah memikirkan aksesibilitas tanpa perlu diingatkan lagi. @putra

