Menyemai Nilai Hidup dari Kelopak Bunga

Dr. Heny Subandiyah, M.Hum., Wakil Dekan II FBS Unesa

Bagi Heny Subandiyah, menanam bukan sekadar kegiatan mengisi waktu luang. Hobi yang ia tekuni sejak kecil ini merupakan warisan berharga dari sang Ibu, sekaligus menjadi cerminan nilai hidupnya saat ini.

Lahir di Desa Sentul, Tembelang, Jombang, pada 30 November 1964, Heny tumbuh dalam lingkungan pedesaan yang hijau dan subur. Sejak kecil, ia sudah akrab dengan aroma tanah dan dedaunan yang rimbun di halaman rumahnya. Dari didikan sang Ibu, ia mengenal bahwa merawat tanaman bukan hanya soal menanam benih, tetapi juga soal menumbuhkan karakter mulai dari ketelatenan, kesabaran, hingga rasa syukur.

Heny tumbuh di lingkungan pedesaan yang akrab dengan aneka tanaman buah. Di belakang rumahnya, orang tuanya memiliki kebun kecil yang didominasi pohon salak, diselingi mangga, nangka, dan pisang. Ia sering ikut membersihkan dan merawat tanaman-tanaman itu. Salah satu pengalaman yang paling membekas adalah ketika ia membantu merawat salak, yang cara perlakuannya berbeda dengan tanaman lain. Pohon salak tidak akan berbuah tanpa proses mengawinkan bunga jantan dan betina secara langsung.

Lingkungan desa dengan sawah, kebun, dan tradisi kebersamaan masyarakat ikut menjadi bagian tak terpisahkan dari memori masa kecilnya. Ia masih ingat, ketika musim tanam tiba, Ibunya bersama tetangga memasak sejak pagi buta, menyiapkan makanan sederhana yakni nasi urap-urap dan lauk ikan asin dan tempe. Masakan tersebut dibungkus dengan daun pisang, lalu dibawa bersama-sama ke sawah untuk dimakan beramai-ramai saat pekerjaan menanam selesai.  Memori itu masih terbayang-bayang hingga saat ini, terutama tentang aroma makanannya, dan suasananya.

Kini, meski tinggal di kota besar, di Surabaya, dengan lahan yang terbatas, kebiasaan menanam itu tetap dilakukan. Di rumahnya, pot-pot berbagai bunga tertata rapi menghiasi halaman dan sudut-sudut ruangan. Beraneka ragam tanaman tumbuh subur di sana mulai dari bunga hias, tanaman hijau, hingga beberapa pohon buah yang ia rawat sejak kecil, kini sudah berbuah. “Saya tidak suka bunga atau tanaman plastik. Saya maunya yang hidup, yang hijau asli, yang bunga asli, yang bisa dirawat meski hanya dengan menyiraminya,” ujarnya sambil tertawa.

Filosofi Hidup di Balik Kelopak Bunga

Dari sekian banyak tanaman yang ia rawat, melati dan anggrek memiliki tempat istimewa di hati Heny. Melati bukan sekadar bunga kecil berwarna putih, tetapi memiliki simbol kehangatan masa kecil dan kedekatannya dengan sang ibu. Ia masih mengingat bagaimana ibunya memetik melati setiap pagi, membersihkannya dari serpihan tanah, lalu meletakkannya di atas bantal atau sudut kamar agar wangi alaminya memenuhi ruangan.

“Melati yang jatuh dicuci dan ditaruh di bawah bantal atau di sudut kamar, sedangkan yang masih segar biasanya direndam di air agar awet. Harumnya itu yang selalu saya rindukan. Dulu ibu saya selalu begitu. Kamar Ibu identik dengan aroma melati,” kenangnya.

Selain melati, anggrek juga menjadi bunga yang sangat disukainya. Bagi Heny, anggrek menghadirkan pesan ketangguhan yang halus. Bunga yang tampak lembut, tetapi mampu bertahan mekar berbulan-bulan. Keteguhan itu membuatnya melihat anggrek sebagai simbol perempuan yang cantik dalam kelembutannya. Namun, tetap kuat dalam pendiriannya. “Kalau melati lambang kesucian hati. Sedangkan, anggrek saya artikan sebagai simbol keteguhan seorang perempuan,” ungkapnya.

Dari dua bunga itu, Heny memetik filosofi hidup yang ia bawa hingga kini. Melati mengajarkannya tentang kesucian hati dan ketulusan, sementara anggrek mengingatkannya bahwa kelembutan tidak pernah bertentangan dengan keteguhan. Keduanya membentuk pandangannya tentang bagaimana menjadi perempuan yang anggun cantik, sebab semua perempuan itu cantik, teguh, dan tetap berprinsip di tengah berbagai dinamika kehidupan.

Lepas Penat dengan Berkebun

Di tengah kesibukannya sebagai pendidik dan pengelola fakultas, aktivitas berkebun menjadi ruang favorit tempat Heny melepas penat. Setiap kali kepalanya penuh dengan urusan pekerjaan ataupun yang lain, ia memilih kembali ke pot-pot tanamannya, menyiram, memangkas, atau sekadar memperhatikan perkembangan daun-daun muda yang muncul perlahan. Baginya, kegiatan sederhana itu memberi ketenangan yang tidak tergantikan.

Ia memahami bahwa tanaman tidak bisa tumbuh hanya dengan sekali sentuh, tetapi perlu perhatian berkala, perawatan yang lembut, dan kesiapan menghadapi proses pertumbuhannya yang tidak selalu cepat. Dari situ muncul rasa syukur yang tumbuh setiap hari, terutama ketika melihat pucuk baru yang seolah menjadi isyarat bahwa setiap proses, sekecil apapun, selalu berarti. “Kalau jenuh saya langsung mengambil peralatan berkebun, menyiram, memangkas, dan merawat tanaman. Tahu-tahu sudah siang. Rasanya seperti terapi,” ujarnya.

Setiap helai daun dan setiap kuntum bunga yang merekah merupakan keajaiban kecil yang mengingatkannya pada kebesaran Sang Pencipta. Ia bahkan kerap berbicara pelan kepada tanaman-tanamannya, seakan menjalin ikatan personal yang membuatnya semakin meresapi makna merawat dan dirawat. Ketika bunga-bunga itu mekar, ia memaknainya sebagai hadiah yang menguatkan dan mengembalikan energinya setelah hari-hari yang panjang. “Kadang saya ajak bicara tanaman-tanaman itu. Saya bilang, ayo tumbuh yang baik, ikut saya ya. Karena setiap kali bunga mekar, spontan saya ucapkan subhanallah. Indah sekali ciptaan Tuhan,” ungkapnya dengan mata berbinar.

Setiap tunas baru yang muncul dari pot kecil di rumahnya selalu membawa pesan dan kesan tersendiri. Tunas-tunas itu seolah mengingatkannya bahwa hidup, setidaknya dalam bentuk paling sederhananya, selalu memberi kesempatan untuk tumbuh. “Selama manusia mau merawat, memberikan perhatian, dan bersyukur, kehidupan akan membalas dengan keindahannya sendiri,” pungkasnya. @ja’far

id_IDID