Universitas Negeri Surabaya mencatatkan kenaikan jumlah pendaftar cukup signifikan. Total ada 53.237 pendaftar yang memilih kampus “Rumah Para Juara.” Jumlah ini mengalami kenaikan 26,2 persen dibandingkan tahun 2025 lalu. Kenaikan itu dipicu berbagai faktor, selain penambahan prodi baru, juga masifnya sosialisasi.
Rinciannya, sebanyak 27.551 pendaftar memilih Unesa sebagai pilihan pertama dan 25.686 pendaftar memilih Unesa sebagai pilihan kedua. Jumlah pendaftar menunjukkan kenaikan signifikan sebesar 11.058 atau 26,2 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya (2025) yang berada di angka 42.179 pendaftar.
Wakil Rektor 1 Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Alumni mengatakan, tingginya peminat ke kampus bermoto ‘Growing with Character’ itu bukan sekadar angka statistik, melainkan bentuk kepercayaan besar terhadap kualitas institusi yang terus bertransformasi. Kepercayaan ini, menurutnya tumbuh berkat konsistensi Unesa dalam meningkatkan mutu pendidikan, dan iklim perkuliahan serta massifnya sosialisasi hingga ke berbagai pelosok daerah. “Kami juga berupaya jemput bola dengan melakukan berbagai sosialisasi,” ujarnya.

Menurut Martadi, penerimaan mahasiswa baru tidak sekadar dimaknai sebagai agenda administratif tahunan, tapi bagian dari strategi jangka panjang universitas dalam membangun kualitas dan reputasi akademik. Kampus, menurutnya, tidak bisa lagi bersikap pasif menunggu pendaftar datang, tapi diperlukan komunikasi yang lebih dekat, informatif, dan persuasif agar calon mahasiswa memahami pilihan studinya secara rasional.
Pendekatan tersebut, kata Martadi, bukan semata-mata untuk meningkatkan jumlah pendaftar, melainkan membangun pemahaman yang utuh tentang pilihan studi dan masa depan akademik. Kasus di lapangan, banyak siswa menentukan program studi hanya berdasarkan tren atau persepsi umum, padahal, kecocokan antara minat, kemampuan, dan karakter program studi menjadi faktor penentu keberhasilan studi di jenjang perguruan tinggi. “Unesa berupaya menghadirkan ruang-ruang dialog yang memungkinkan calon mahasiswa mengenal kampus secara lebih menyeluruh,” terangnya.
Kegiatan Unesa Day, kata Martadi, menjadi salah satu langkah konkret untuk mendekatkan institusi dengan calon mahasiswa. Melalui forum tersebut, siswa tidak hanya memperoleh informasi mengenai daya tampung dan mekanisme seleksi, tetapi juga dapat merasakan atmosfer akademik secara langsung. “Kami juga perluas melalui Unesa Virtual Campus Expo (UVCE), yang memungkinkan akses informasi tanpa batas geografis,” ujarnya.
Selain itu, langkah proaktif juga diperkuat melalui sosialisasi dan promosi langsung ke berbagai daerah melalui kegiatan expo dan kunjungan sekolah di berbagai daerah. Pada awal tahun 2026, Unesa melakukan sosialisasi dan promosi (sospro) di Blitar, Tulungagung, Ponorogo, Madiun, Tuban, Lamongan, Gresik, Sumenep, hingga merambah ke Bogor dan Jakarta.
“Kepercayaan itu lahir ketika calon mahasiswa merasa didengar, dipandu, dan diberikan gambaran yang jelas tentang masa depan studinya. Dalam konteks inilah, Unesa tidak sekadar membuka pendaftaran, tetapi menata strategi komunikasi yang lebih adaptif dan inklusif,” paparnya.
Transformasi penerimaan mahasiswa baru, lanjutnya, juga sejalan dengan visi penguatan kualitas akademik. Ia menegaskan bahwa upaya menjaring mahasiswa harus tetap berjalan seiring dengan komitmen menjaga standar mutu. Dengan demikian, strategi proaktif yang dibangun tidak hanya menghasilkan kuantitas pendaftar, tetapi juga kualitas mahasiswa yang siap berkembang.
Golden Tiket SNBP dan Prodi Baru
Direktur Direktorat Pendidikan dan Transformasi Pendidikan (DPTP) Unesa, Prof Rooselyna Ekawati, PhD mengatakan, SNBP 2026 menjadi momentum Unesa memperkenalkan beberapa program studi baru. Setidaknya, ada 9 prodi baru yang dibuka dan bisa dipilih di jalur SNBP, SNBT, dan Mandiri. Sembilan prodi tersebuta adalah S1 Kedokteran Gigi, S1 Bioteknologi, S1 Pendidikan Vokasional Teknologi Otomotif, S1 Teknik Metalurgi, S1 Teknik Pertambangan, D4 Arsitektur Bangunan Gedung, D4 Rekayasa Multimedia Edukasi Digital dan S1 Sains Informasi Geografi, serta S1 Geofisika.
Selain program studi baru, terang Rooselyna, Unesa juga menghadirkan inovasi baru berupa program Golden Ticket SNBP. Program ini memberikan kesempatan bagi calon mahasiswa memperoleh beasiswa UKT selama delapan semester. Syaratnya sederhana, memilih Unesa sebagai pilihan pertama pada SNBP, memiliki prestasi minimal tingkat provinsi, dan mengikuti tahapan seleksi.
“Sebelumnya Golden Ticket hanya tersedia pada jalur mandiri, kini kami membuka juga di SNBP sebagai bentuk komitmen Unesa untuk menjaring calon mahasiswa terbaik sejak awal proses seleksi,” ujar Rooselyna.
Program Golden Ticket SNBP, tambah Rooselyna, memberikan kesempatan beasiswa UKT selama delapan semester. Kesempatan itu, tentu menjadi motivasi tambahan bagi calon mahasiswa untuk memulai perjalanan akademik di Unesa.
Rooselyna menegaskan, Unesa tetap berpegang pada moto “Satu Langkah di Depan”, menegaskan posisi kampus sebagai lembaga pendidikan yang selalu siap menghadapi perubahan, inovasi, dan tantangan baru. Dengan persiapan matang, program inovatif, dan layanan akademik unggulan, Unesa tidak hanya mengukir prestasi, tetapi juga berhasil menaikkan jumlah pendaftar.
Presisi Sistem Penjaringan Mahasiswa
Kasubdit Admisi Unesa, Dr Sukarmin, MPd mengaku bersyukur jumlah pendaftar SNBP 2026 Unesa meningkat cukup signifikan dari tahun ke tahun. Namun, menurut Sukarmin, keberhasilan penerimaan mahasiswa baru tidak hanya diukur dari jumlah pendaftar atau tingkat keketatan seleksi, tetapi dari seberapa presisi sistem mampu menjaring mahasiswa yang sesuai dengan karakter program studi. “Presisi itu penting karena akan berdampak pada kelancaran studi dan capaian akademik mahasiswa di kemudian hari,” terangya.
Sukarmin menyampaikan, proses seleksi bukan hanya soal membuka beberapa jalur masuk, melainkan bagaimana setiap jalur dirancang dalam satu sistem yang saling terhubung dan menjaga standar mutu yang sama. Ia menjelaskan bahwa penerimaan mahasiswa baru di Unesa disusun secara berlapis. Setiap jalur memiliki karakteristik, instrumen penilaian, serta bobot seleksi yang berbeda, namun tetap berada dalam kerangka akademik yang konsisten.
Pendekatan ini memungkinkan institusi menjaring calon mahasiswa dari berbagai latar belakang potensi, tanpa mengorbankan kualitas. Menurut Sukarmin, tantangan terbesar dalam sistem seleksi adalah menjaga keseimbangan antara akses dan standar. Di satu sisi, perguruan tinggi negeri memiliki tanggung jawab membuka peluang seluas-luasnya. Di sisi lain, kualitas akademik tetap harus menjadi prioritas utama. Karena itu, seluruh proses dirancang berbasis data, evaluasi, dan transparansi.
Ia menekankan bahwa setiap jalur seleksi memiliki fungsi yang saling melengkapi. Jalur berbasis prestasi memberikan ruang apresiasi terhadap konsistensi akademik siswa. Jalur berbasis tes mengukur kesiapan akademik melalui instrumen yang terstandar. Sementara itu, jalur mandiri menjadi bagian dari skema yang tetap objektif dan terukur, bukan sekadar alternatif terakhir. “Semua jalur tetap berada dalam koridor mutu yang sama,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa tidak ada perbedaan standar kualitas mahasiswa berdasarkan jalur masuk. Yang membedakan hanyalah mekanisme seleksinya, bukan kualitas lulusan yang diharapkan.
Dalam praktiknya, Sukarmin juga memastikan bahwa informasi teknis terkait daya tampung, mekanisme unggah dokumen, hingga tahapan seleksi tersampaikan dengan jelas kepada sekolah dan siswa. Sosialisasi, expo kampus, hingga pemanfaatan platform digital seperti website dan media sosial menjadi instrumen penting untuk mengurangi miskomunikasi dan kesalahan administratif.
Ia menyadari bahwa kompleksitas sistem seleksi nasional kerap menimbulkan kebingungan di tingkat sekolah. Karena itu, pendekatan yang dilakukan tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga edukatif. Sekolah diajak memahami strategi memilih program studi secara realistis dan berbasis data, termasuk memperhatikan rekam jejak kompetisi pada tahun-tahun sebelumnya.
Selama masa menunggu pengumuman hasil akhir pada 31 Maret 2026 mendatang, Sukarmin mengimbau peserta tetap menjaga ritme belajar, sebagai persiapan menghadapi UTBK guna mengantisipasi segala kemungkinan. @Shofi/Ja’far
Daftar 10 Prodi S1 dengan Peminat Terbanyak:
1. S-1 Manajemen: 1.804 pendaftar
2. S-1 Psikologi: 1.762 pendaftar
3. S-1 Keperawatan: 1.673 pendaftar
4. S-1 Akuntansi: 1.426 pendaftar
5. S-1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD): 1.372 pendaftar
6. S-1 Ilmu Komunikasi: 1.296 pendaftar
7. S-1 Bisnis Digital: 1.216 pendaftar
8. S-1 Ilmu Hukum: 1.179 pendaftar
9. S-1 Gizi: 1.042 pendaftar
10. S-1 Fisioterapi: 1.003 pendaftar
Daftar 10 Prodi dengan Keketatan Tertinggi:
1. S-1 Keperawatan
2. S-1 Fisioterapi
3. S-1 Kedokteran
4. S-1 Kebidanan
5. S-1 Kedokteran Gigi
6. S-1 Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian
7. S-1 Gizi
8. S-1 Manajemen
9. S-1 Pariwisata
10. S-1 Akuntansi. (Tim Humas Unesa)
Daftar 10 Prodi D4 dengan Peminat Terbanyak:
1. D4 Tata Boga: 571 pendaftar
2. D4 Administrasi Negara: 566 pendaftar
3. D4 Teknik Sipil: 383 pendaftar
4. D4 Teknik Mesin: 328 pendaftar
5. D4 Manajemen Informatika: 299 pendaftar
6. D4 Produksi Media: 239 pendaftar
7. D4 Tata Busana: 237 pendaftar
8. D4 Teknik Listrik: 223 pendaftar
9. D4 Desain Grafis: 155 pendaftar
10. D4 Teknologi Rekayasa Otomotif: 141 pendaftar

