Menjaga Nafas Kebudayaan Tradisional di Era Seni Modern

Di tengah perkembangan seni modern yang bergerak semakin dinamis, keberadaan seni tradisi menjadi ruang penting untuk menjaga identitas budaya bangsa. Semangat tersebut menjadi landasan hadirnya Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Reyog Laskar Sawunggaling Universitas Negeri Surabaya (Unesa), sebuah wadah mahasiswa untuk mempelajari, mengembangkan, sekaligus memperkenalkan seni Reyog Ponorogo di lingkungan kampus.

UKM Reyog Laskar Sawunggaling berdiri pada 2025. Meski baru setahun berdiri, antusiasme mahasiswa untuk bergabung di UKM ini cukup tinggi dari berbagai latar belakang. Dosen Pembina UKM Reyog Laskar Sawunggaling Unesa, Dr. Setyo Yanuartuti, M.Si., menyampaikan bahwa kehadiran UKM ini memiliki peran strategis dalam menjaga keberlanjutan budaya Indonesia, khususnya Reyog Ponorogo yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda UNESCO.

“UKM Reyog Laskar Sawunggaling merupakan wadah pengembangan minat dan bakat mahasiswa dalam bidang seni tradisi Reyog Ponorogo sekaligus menjadi media pelestarian budaya Indonesia di lingkungan perguruan tinggi,” ujarnya.

Menurutnya, ciri khas utama UKM ini terletak pada kemampuannya memadukan nilai autentik Reyog Ponorogo dengan kreativitas mahasiswa. Reyog yang memiliki karakter pertunjukan kerakyatan, kolosal, terbuka, hingga pertunjukan panggung mampu dikembangkan menjadi karya seni yang tetap berakar pada tradisi, tetapi memiliki pendekatan baru sesuai perkembangan zaman.

Bagi mahasiswa yang tergabung di dalamnya, Reyog bukan sekadar aktivitas latihan tari atau pertunjukan. Proses berkesenian menjadi sarana pembentukan karakter, mulai dari kedisiplinan, tanggung jawab, kerja sama, keberanian, hingga rasa percaya diri. Selain dinikmati sebagai seni pertunjukan, Reyog juga mengandung filosofi tentang keberanian, kepemimpinan, pengorbanan, dan semangat gotong royong. “Nilai-nilai tersebut sangat relevan untuk membentuk karakter mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa,” ungkapnya.

Sebagai dosen pembina, ia berperan mendampingi perkembangan organisasi, mulai dari penyusunan program kerja, penguatan kelembagaan, koordinasi dengan berbagai pihak, hingga persiapan mahasiswa dalam mengikuti festival maupun pertunjukan. Pendampingan tersebut turut dilakukan melalui penguatan jejaring dengan seniman, alumni, komunitas Reyog, serta pemerintah daerah.

Ukir Prestasi Nasional

UKM Reyog Laskar Sawunggaling telah menghasilkan sejumlah pencapaian membanggakan. Salah satu anggotanya berhasil meraih Juara I Lomba Tari dalam IFORTE Nasional Dance Competition Inspirasi Diri 2026 pada 25 April 2026. Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa mahasiswa Unesa mampu bersaing dalam kompetisi tingkat nasional meskipun UKM ini masih berusia relatif muda. Karya yang ditampilkan mengangkat interpretasi karakter dalam pertunjukan Reyog, yaitu Singobarong dan tokoh abdi Raja Klana Sewandono bernama Potro, yang dikemas melalui koreografi pendek dengan sentuhan kreativitas mahasiswa.

Pencapaian tersebut, tegas Setyo, memiliki makna lebih luas daripada sekadar memperoleh penghargaan. Kompetisi tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kreativitas, memahami karakter dalam seni Reyog, serta menghadirkan inovasi pertunjukan yang tetap memiliki keterikatan dengan akar budaya.

Prestasi lainnya adalah keberhasilan UKM Reyog Laskar Sawunggaling tampil dalam Festival Nasional Reyog Ponorogo XXXI Tahun 2026 dan meraih peringkat enam nasional. Festival yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Ponorogo tersebut merupakan salah satu ajang paling bergengsi dalam dunia Reyog. Dalam festival tersebut, UKM Reyog Laskar Sawunggaling menampilkan pertunjukan dengan komposisi pemain yang terdiri atas satu penari Klono Sewandono, tiga penari Bujangganong, delapan penari Dhadhak Merak, 23 penari Jathil, dan 22 penari Warok.

“Yang paling membanggakan bukan hanya penghargaan yang diperoleh, tetapi proses pembelajaran mahasiswa. Mereka belajar menghargai budaya, bekerja dalam tim, mengelola tekanan, dan menunjukkan bahwa seni tradisi dapat menjadi ruang prestasi yang membanggakan bagi universitas,” tandasnya.

Sasar Kalangan Generasi Muda

Untuk menjaga minat mahasiswa terhadap seni tradisi, UKM Reyog Laskar Sawunggaling menerapkan strategi pembinaan yang adaptif. Latihan dilakukan secara terstruktur dengan suasana yang tetap menyenangkan. Mahasiswa diberikan ruang untuk tampil dalam berbagai kegiatan kampus, festival nasional, hingga kegiatan budaya.

Selain itu, pengembangan inovasi pertunjukan terus dilakukan dengan tetap mempertahankan pakem utama Reyog Ponorogo. Pemanfaatan media sosial sebagai sarana publikasi dan edukasi budaya juga menjadi bagian dari upaya memperkenalkan Reyog kepada masyarakat yang lebih luas.

Kehadiran pelatih profesional, alumni, dan praktisi Reyog turut memperkuat proses pembinaan. Festival dijadikan sebagai target pengembangan agar mahasiswa memiliki motivasi untuk terus meningkatkan kemampuan.

Di lingkungan kampus, UKM Reyog Laskar Sawunggaling menjadi representasi budaya lokal sekaligus memperkuat identitas kampus sebagai perguruan tinggi yang memiliki perhatian terhadap seni dan budaya. Melalui berbagai pertunjukan, kegiatan masyarakat, serta kompetisi nasional, UKM ini menjadi media diplomasi budaya yang memperkenalkan Reyog Ponorogo kepada berbagai kalangan.

Meski telah mencatat sejumlah prestasi, perjalanan UKM ini masih menghadapi tantangan. Salah satu kendala utama adalah pemenuhan sarana dan prasarana, khususnya kebutuhan Dadak Merak sebagai perlengkapan utama pertunjukan. Saat ini, UKM masih harus menyewa perlengkapan tersebut untuk latihan maupun mengikuti festival.

Selain fasilitas, tantangan lain yang perlu diperhatikan adalah menjaga regenerasi anggota, mengatur keseimbangan antara latihan dan aktivitas akademik mahasiswa, serta mempertahankan kualitas pembinaan agar prestasi dapat terus berkembang. “Kami berharap UKM Reyog Laskar Sawunggaling menjadi salah satu UKM seni unggulan Unesa dan menjadi rujukan pembinaan Reyog di lingkungan perguruan tinggi Indonesia,” harapnya.

Selain itu, ia juga berharap UKM ini memiliki fasilitas yang semakin lengkap, termasuk kepemilikan Dadak Merak sebagai inventaris permanen agar proses latihan dan pembinaan berjalan lebih optimal. @TimHumasUnesa

id_IDID