Internasionalisasi perguruan tinggi menjadi upaya strategis bagi institusi untuk mengintegrasikan dimensi global ke dalam kurikulum, penelitian, dan pengabdian masyarakat mencakup program pertukaran pelajar/dosen, kelas internasional (IUP), riset kolaborasi global, serta akreditasi internasional. Tujuan utamanya adalah menghasilkan lulusan berdaya saing global. Itulah hakikat internasionalisasi perguruan tinggi berdampak.

Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni Unesa, Prof Dr Martadi MSn menegaskan bahwa internasionalisasi bukan sekadar mengejar label atau prestise institusi. Lebih dari itu, yang paling penting adalah memastikan lulusan Unesa memiliki kompetensi yang diakui secara global. Artinya, ketika lulusan Unesa hendak melamar pekerjaan di Australia, Belanda, Singapura, atau negara lain, ijazah dan kompetensinya dapat diterima tanpa harus melalui proses penyetaraan atau sertifikasi ulang.
“Pengakuan internasional bukan hanya soal institusinya yang memiliki akreditasi atau peringkat tinggi, tetapi apakah kualitas lulusannya benar-benar diakui di berbagai negara,” tandas Martadi.
Menurut Martadi, perkembangan teknologi dan arus globalisasi membuat batas antarnegara semakin terbuka. Sehingga dunia kerja tidak lagi terbatas pada wilayah domestik. Karena itu, lulusan perguruan tinggi dituntut mampu bersaing di tingkat global. Sehingga, mau tidak mau perguruan tinggi harus mempersiapkan mahasiswa dengan standar kompetensi yang juga bersifat global.
Lebih lanjut, Guru Besar bidang Teknologi Pendidikan Seni Budaya Unesa itu menilai internasionalisasi harus dibangun secara menyeluruh. Ia mengatakan, akreditasi internasional, kemitraan dengan universitas luar negeri, program pertukaran mahasiswa, kehadiran dosen asing, hingga publikasi internasional memang penting. Namun, seluruh komponen tersebut seharusnya bermuara pada satu tujuan utama, yakni menghasilkan lulusan yang mampu berkompetisi di pasar kerja internasional.
Karena itu, kata Martadi, pengembangan kurikulum menjadi salah satu aspek yang tidak dapat diabaikan. Kurikulum perlu terus dibandingkan dengan berbagai perguruan tinggi terbaik di dunia agar mampu memenuhi kebutuhan kompetensi global. “Jika ada kemampuan tertentu yang menjadi standar di luar negeri tetapi belum diajarkan di Unesa, maka kurikulum perlu terus disempurnakan,” ungkapnya.
Menurut Martadi, mahasiswa tidak mungkin memiliki kompetensi bertaraf internasional apabila proses pembelajaran, kurikulum, maupun sistem akademiknya masih menggunakan standar yang terbatas pada kebutuhan lokal. Oleh sebab itu, internasionalisasi harus menjadi bagian dari seluruh proses pendidikan, bukan hanya program tambahan.
Tantangan terbesar internasionalisasi, lanjut Martadi, bukan terletak pada fasilitas maupun program, tapi pada perubahan pola pikir (mindset). Perubahan pola pikir tersebut, menurutnya, masih menjadi tantangan karena belum semua dosen di Unesa memiliki pengalaman akademik maupun profesional di tingkat internasional. “Ini menjadi pekerjaan rumah bagi kami,” imbuhnya.
Untuk mendukung perubahan mindset tersebut, kata Ketua Dewan Pendidikan Surabaya itu, Unesa terus mendorong berbagai bentuk kolaborasi internasional, mulai dari riset bersama, mobilitas dosen dan mahasiswa, hingga penguatan International Undergraduate Program (IUP). Program-program tersebut diharapkan mampu memperluas wawasan internasional sekaligus meningkatkan kualitas pembelajaran.
Selain itu, Martadi juga menekankan pentingnya kesiapan sarana dan prasarana. Laboratorium, teknologi pembelajaran, hingga sistem layanan akademik harus terus diperbarui agar mampu mendukung proses pendidikan yang relevan dengan perkembangan global. Namun, secanggih apapun fasilitas yang dimiliki tidak akan memberikan dampak apabila tidak dimanfaatkan secara optimal.
Martadi mencontohkan keberadaan smart classroom di Unesa yang telah dilengkapi berbagai teknologi pembelajaran modern. Fasilitas tersebut akan memberikan manfaat maksimal apabila didukung oleh dosen yang memiliki kemauan untuk terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi. “Karena itu, perubahan sumber daya manusia tetap menjadi kunci utama keberhasilan internasionalisasi,” tandasnya.
Ke depan, Martadi berharap internasionalisasi juga membentuk budaya akademik baru di lingkungan Unesa. Budaya tersebut ditandai dengan semakin kuatnya kolaborasi riset lintas program studi, lintas fakultas, bahkan lintas negara. Penelitian dosen dan mahasiswa tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling terintegrasi sehingga menghasilkan inovasi yang lebih berdampak.
Di sisi lain, layanan akademik juga diharapkan semakin modern, transparan, dan mudah diakses. Sistem administrasi, mobilitas mahasiswa, hingga layanan bagi mahasiswa internasional perlu terintegrasi dalam sistem informasi yang memudahkan seluruh sivitas akademika. “Seluruh upaya internasionalisasi harus memberikan manfaat nyata bagi mahasiswa dan mampu membuka peluang karier lebih luas bagi lulusan,” tegasnya.
Bagi Martadi, ukuran keberhasilan perguruan tinggi, termasuk Unesa tidak berhenti pada banyaknya penghargaan atau pengakuan yang diterima institusi. Keberhasilan sesungguhnya terlihat dari lulusan yang mampu melanjutkan studi di berbagai universitas dunia, membangun karier di perusahaan internasional, menjadi wirausahawan yang sukses, maupun memberikan kontribusi di berbagai bidang.
“Muara dari seluruh layanan perguruan tinggi adalah mahasiswa dan lulusannya. Ketika lulusan memiliki kesempatan yang lebih luas untuk berkembang dan berkarier di tingkat global, di situlah internasionalisasi benar-benar memberikan dampak,” pungkas Martadi.

Unesa Perkuat Langkah Menuju Kampus Bereputasi Global
Universitas Negeri Surabaya (Unesa) terus memperkuat posisinya di tingkat internasional melalui berbagai strategi yang berfokus pada peningkatan kualitas pendidikan, penelitian, dan kontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan. Salah satu upaya yang dilakukan adalah memperluas kerja sama dan jejaring dengan berbagai perguruan tinggi luar negeri sebagai bagian dari program internasionalisasi kampus.
Langkah tersebut sejalan dengan capaian pemeringkatan global Unesa yang menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir. Berbagai pencapaian di tingkat internasional menjadi indikator meningkatnya kualitas tata kelola, pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang dijalankan kampus.
Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, Pemeringkatan, Publikasi, dan Science Center, Dr Bambang Sigit Widodo MPd mengatakan bahwa pemeringkatan internasional bukan sekadar soal prestise, tetapi juga menjadi alat ukur untuk mengevaluasi kualitas institusi secara objektif. Melalui pemeringkatan, perguruan tinggi dapat melihat posisi saat ini, mengetahui kekurangan yang perlu diperbaiki, dan mengidentifikasi keunggulan yang dapat terus dikembangkan.
Bambang menjelaskan, dalam pemeringkatan Quacquarelli Symonds (QS), sejumlah indikator utama menjadi perhatian, seperti reputasi akademik (academic reputation), reputasi lulusan di dunia kerja (employer reputation), jumlah publikasi ilmiah, tingkat sitasi, serta keterlibatan global yang mencakup mahasiswa internasional dan program mobilitas mahasiswa.
Ia menambahkan, tantangan terbesar yang masih dihadapi Unesa terletak pada peningkatan reputasi akademik, reputasi lulusan, dan penguatan rekognisi terhadap publikasi dosen melalui sitasi ilmiah. Aspek-aspek tersebut memerlukan upaya berkelanjutan karena berkaitan dengan kualitas akademik dan perluasan jejaring internasional.
“Academic reputation, employer reputation, dan rekognisi terhadap publikasi yang disitasi menjadi tantangan yang harus terus kami tingkatkan. Karena itu, berbagai upaya penguatan kualitas akademik terus dilakukan secara bertahap,” tambahnya.
Selain Quacquarelli Symonds (QS), lanjut Bambang, Unesa juga mencatat capaian membanggakan pada pemeringkatan Times Higher Education (THE). Unesa berhasil meningkatkan posisinya dari kelompok peringkat 600 dunia ke kelompok 401 dunia. Pencapaian tersebut didukung oleh kontribusi Unesa dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.
“Implementasi SDGs dilakukan melalui berbagai aktivitas akademik dan nonakademik, mulai dari penelitian, publikasi ilmiah, pengabdian kepada masyarakat, hingga program kemahasiswaan. Seluruh kegiatan tersebut diarahkan agar memberikan kontribusi nyata terhadap pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan,” jelasnya.
Namun, tantangan yang dihadapi tidak hanya terletak pada pelaksanaan program, melainkan juga pada proses dokumentasi dan pelaporan yang sesuai dengan standar lembaga pemeringkatan internasional. Menurut Bambang, banyak kegiatan yang sebenarnya sudah dilakukan, namun tantangannya adalah bagaimana aktivitas tersebut dapat terdokumentasikan dengan baik dan diakui sebagai evidence base yang sesuai dengan indikator penilaian.
Untuk mendukung kebutuhan tersebut, tegas Bambang, Unesa telah mengembangkan Dashboard SDG yang berfungsi merekam berbagai aktivitas sivitas akademika secara terintegrasi. Sistem ini memungkinkan dokumentasi penelitian, pengabdian masyarakat, publikasi, dan pemberitaan terkait SDGs tersimpan dengan lebih sistematis sehingga dapat digunakan sebagai data pendukung dalam proses pemeringkatan.
Di tingkat nasional, performa Unesa juga menunjukkan hasil yang konsisten melalui capaian Indikator Kinerja Utama (IKU) yang ditetapkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Berbagai aspek yang dinilai meliputi kualitas pembelajaran, masa studi mahasiswa, sumber daya manusia, kerja sama institusi, hingga produktivitas publikasi ilmiah.
Menariknya, sejumlah indikator dalam IKU kini semakin selaras dengan standar pemeringkatan global. Publikasi pada jurnal bereputasi, jumlah sitasi, kolaborasi internasional, dan capaian pemeringkatan dunia menjadi bagian yang turut diperhitungkan dalam evaluasi kinerja perguruan tinggi.
“Pemeringkatan internasional, termasuk capaian pada THE, saat ini juga menjadi bagian dari indikator yang diperhatikan dalam IKU. Artinya, penguatan reputasi global akan berdampak positif terhadap kinerja institusi di tingkat nasional,” tandasnya.
Ke depan, Unesa menargetkan pencapaian yang lebih tinggi dengan menembus kelompok 300 besar dunia pada pemeringkatan THE berikutnya. Target tersebut menjadi bagian dari komitmen kampus untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat.
Bagi Unesa, peningkatan peringkat dunia bukan sekadar pencapaian angka. Lebih dari itu, capaian tersebut mencerminkan upaya berkelanjutan dalam membangun perguruan tinggi yang unggul, inovatif, dan mampu bersaing di tingkat global tanpa meninggalkan kontribusinya bagi masyarakat.

Internasionalisasi Berdampak melalui Penguatan Jejaring Global
Internasionalisasi bukan lagi dimaknai sebatas penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan perguruan tinggi luar negeri. Bagi Universitas Negeri Surabaya internasionalisasi merupakan strategi besar untuk menghadirkan pendidikan tinggi yang semakin berkualitas, bereputasi global, sekaligus memberi dampak nyata bagi sivitas akademika maupun masyarakat.
Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Pengembangan, Kerja Sama, dan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), Prof Dr Dwi Cahyo Kartiko, SPd M.Kes mengatakan bahwa internasionalisasi merupakan instrumen penting dalam meningkatkan kualitas tridarma perguruan tinggi sekaligus memperkuat reputasi institusi di tingkat global. Melalui berbagai kolaborasi internasional, Unesa terus membangun ekosistem akademik yang membuka ruang bagi pertukaran gagasan, penguatan kapasitas sumber daya manusia, hingga lahirnya inovasi berdampak.
Bagi Cahyo, internasionalisasi tidak hanya berhenti pada penandatanganan nota kesepahaman atau kerja sama formal semata. Tapi, setiap kemitraan harus diwujudkan dalam program-program konkret yang dapat dirasakan manfaatnya oleh sivitas akademika, seperti pertukaran mahasiswa dan dosen, penelitian kolaboratif, kuliah tamu internasional, visiting professor, program double degree, pengembangan kurikulum bersama, hingga berbagai aktivitas akademik lintas negara.
Sebagai perguruan tinggi negeri badan hukum (PTN-BH), Unesa terus memperluas jejaring global dengan berbagai universitas, lembaga pendidikan, maupun institusi di sejumlah negara. Kerja sama tersebut tidak hanya memperkuat posisi Unesa dalam jejaring pendidikan tinggi internasional, tetapi juga membuka lebih banyak peluang bagi mahasiswa dan dosen untuk memperoleh pengalaman belajar, mengajar, serta melakukan penelitian dalam lingkungan akademik global.
“Internasionalisasi merupakan investasi jangka panjang bagi pengembangan institusi. Melalui kolaborasi internasional, kualitas pembelajaran dapat terus ditingkatkan, kapasitas dosen berkembang melalui riset bersama, sementara mahasiswa memperoleh pengalaman lintas budaya yang memperkaya kompetensi akademik maupun keterampilan global,” jelasnya.
Upaya tersebut diwujudkan melalui perluasan kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi di kawasan Asia, Australia, hingga Eropa. Berbagai program mobilitas internasional, penerimaan mahasiswa asing, konferensi internasional, pengabdian kepada masyarakat berskala global, serta kolaborasi penelitian menjadi bagian dari implementasi strategi internasionalisasi yang terus dikembangkan Unesa.
Lebih lanjut, Guru Besar Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan itu menegaskan bahwa internasionalisasi harus dipandang sebagai upaya membangun budaya akademik yang terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dunia tanpa meninggalkan jati diri sebagai perguruan tinggi yang berkarakter.
Unesa menyandarkan pada semangat ‘Growing with Character’ sebagai landasan dalam setiap kerja sama yang dibangun, sehingga seluruh aktivitas internasional tidak hanya berorientasi pada capaian indikator global, tetapi juga menghasilkan dampak nyata bagi peningkatan kualitas pendidikan, kesejahteraan masyarakat, serta daya saing bangsa.
“Internasionalisasi merupakan jalan untuk memperkuat mutu pendidikan, memperluas kolaborasi global, meningkatkan reputasi institusi, serta menghadirkan tridarma perguruan tinggi yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat Indonesia maupun komunitas global,” tegasnya.

Empat Target Utama Internasionalisasi Berdampak Unesa menuju Reputasi Dunia
Internasionalisasi di Universitas Negeri Surabaya terus menunjukkan akselerasi yang signifikan. Tidak lagi dipahami sebatas perluasan kerja sama dengan perguruan tinggi luar negeri, internasionalisasi kini menjadi strategi besar untuk meningkatkan kualitas akademik, memperkuat reputasi institusi, sekaligus menghadirkan dampak nyata bagi sivitas akademika dan masyarakat.
Direktur Unesa Global Engagement (UGE), Muchamad Arif Al Ardha, S.Pd., M.Ed., Ph.D., menjelaskan bahwa sepanjang 2026, Unesa memfokuskan pengembangan kerja sama internasional pada empat target utama, yakni memperkuat reputasi global melalui pemeringkatan dunia, mengembangkan program joint degree dan dual degree, membangun jejaring akademik internasional (international hub) dan meningkatkan mobilitas mahasiswa internasional. “Keempat target tersebut saling berkaitan dalam mendukung visi Unesa menjadi perguruan tinggi bereputasi dunia,” ujar Ardha.
Target pertama adalah memperkuat reputasi global melalui peningkatan posisi Unesa pada berbagai pemeringkatan internasional, seperti Times Higher Education (THE) dan QS World University Rankings. Menurut Ardha, capaian pemeringkatan bukan sekadar angka, melainkan cerminan kualitas perguruan tinggi dari berbagai aspek, mulai dari publikasi ilmiah, jejaring kemitraan internasional, hingga dampak akademik yang dihasilkan. “Alhamdulillah, tahun ini Unesa naik kelas. Jika tahun lalu berada di kelompok 600 besar dunia versi Times Higher Education, sekarang sudah masuk kelompok 400 besar dunia,” terangnya.
Dalam mendukung pencapaian tersebut, UGE berperan sebagai penghubung antara sivitas akademika Unesa dengan berbagai perguruan tinggi mitra di luar negeri hingga konsorsium luar negeri. Melalui jejaring tersebut, dosen didorong untuk membangun kolaborasi riset, publikasi internasional, mendapatkan grants internasional, hingga pengembangan program akademik bersama yang memberikan manfaat bagi kedua belah pihak.
Selain memperkuat reputasi global, terang Ardha, Unesa juga mengembangkan program Credit Earning, Joint Degree dan Dual Degree sebagai salah satu strategi peningkatan kualitas pembelajaran. Program tersebut membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman belajar lintas negara sekaligus mendapatkan pengakuan akademik dari dua institusi.
“Saat ini program Joint Degree dan Dual Degree sudah berjalan dan sedang dikembangkan bersama mitra di Taiwan, Uzbekistan, dan Australia. Ke depan tentu akan terus kami perluas agar lulusan Unesa semakin kompetitif di tingkat internasional,” tambahnya.
Strategi berikutnya adalah membangun jejaring akademik global melalui international hub. Melalui pendekatan tersebut, terang Ardha, setiap dosen diharapkan memiliki mitra akademik dari luar negeri sebagai ruang kolaborasi dalam penelitian, publikasi, dalam mendapatkan grants internasional, pengetahuan, maupun pengembangan kapasitas profesional.
“Kami ingin seluruh sivitas akademika, khususnya dosen, memiliki academic peer dari luar negeri. Dengan begitu, mereka dapat bertukar pengalaman, meningkatkan kompetensi, sekaligus memperoleh perspektif baru mengenai perkembangan pendidikan tinggi di berbagai negara,” ungkap Ardha.
Di sisi lain, peningkatan mobilitas mahasiswa internasional juga menjadi fokus utama pengembangan internasionalisasi Unesa. Tahun 2026, Unesa menargetkan penerimaan 800 mahasiswa internasional sebagai bagian dari kontrak kinerja pimpinan universitas dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Target tersebut diwujudkan melalui berbagai program mobilitas internasional, terutama skema inbound yang memberikan kesempatan bagi mahasiswa mancanegara. “Unesa menyiapkan beasiswa UGS (Unesa Global Scholarship),” imbuhnya.
Ardha menambahkan bahwa pemilihan mitra strategis tidak hanya mempertimbangkan asal negara, tetapi juga kualitas institusi berdasarkan rekam jejak akademik dan reputasi internasional. Perguruan tinggi yang berada dalam jajaran 100 besar dunia menjadi prioritas untuk mendukung peningkatan indikator kinerja institusi. Di sisi lain, negara-negara seperti Filipina, Malaysia, Timor-Leste, dan Uzbekistan tetap menjadi mitra penting karena memiliki mobilitas mahasiswa yang tinggi menuju Unesa.
Jika berdasarkan QS maupun Times Higher Education, tentu perguruan tinggi yang masuk top 100 dunia menjadi prioritas. Namun, untuk mobilitas mahasiswa, Unesa juga melihat potensi kerja sama dengan negara-negara yang selama ini aktif mengirimkan mahasiswa ke Unesa seperti Filipina, Malaysia, Timor-Leste, dan Uzbekistan.

Unesa Rintis Program PPL Internasional PPG Pertama di Indonesia, Begini Kata Mahasiswa Sepulang dari Malaysia
Universitas Negeri Surabaya (Unesa) melalui Badan Pendidikan Profesi Guru (BPPG) terus memperkuat internasionalisasi pendidikan. Langkah ini diwujudkan dengan merintis program Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) Internasional bagi mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) di Malaysia.
Program yang menjadi proyek percontohan (pilot project) pertama di Indonesia tersebut berlangsung pada 14–28 Juni 2026 di Sekolah Menengah Kebangsaan (SMK) Pulai Jaya, Johor, Malaysia.
Kepala Divisi Kemitraan dan Kerja Sama BPPG Unesa, Dr. Muhammad Reza, S.Psi., M.Si., menjelaskan bahwa program ini bertujuan memperluas wawasan mahasiswa PPG agar tidak hanya memahami kurikulum nasional, tetapi juga mampu mengomparasikan praktik pendidikan di luar negeri.
Menurut Reza, program ini menjadi langkah awal internasionalisasi PPG Unesa sekaligus terobosan bagi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) di Indonesia.
Selain melaksanakan PPL, mahasiswa juga berkolaborasi dengan mitra sekolah di Malaysia untuk menghasilkan artikel ilmiah bereputasi internasional. Melalui inovasi dari BPPG Unesa ini, program tersebut diharapkan berdampak nyata bagi penguatan kompetensi calon guru dan mutu pendidikan.
Kerja sama internasional ini dipastikan tidak berhenti di Malaysia. BPPG Unesa saat ini tengah menyiapkan kolaborasi lanjutan dengan sejumlah institusi pendidikan di Australia sebagai bagian dari perluasan jejaring global.
Manfaat program ini dirasakan langsung oleh salah satu peserta dari Prodi PJOK, Rahmad Zulham Assidiqqy Handryanto. Ia mengungkapkan bahwa program tersebut memberikan banyak pengalaman baru, terutama saat mengamati proses pembelajaran di SMK Pulai Jaya.
Selain melakukan observasi dan asistensi mengajar mata pelajaran PJOK, ia juga berkesempatan mempelajari budaya sekolah, fasilitas olahraga, hingga sistem kurikulum yang diterapkan di Malaysia.
Bagi Rahmad, salah satu hal yang paling berkesan adalah budaya disiplin sekolah yang konsisten, seperti kehadiran guru yang lebih awal daripada siswa serta kegiatan perhimpunan harian sebagai sarana evaluasi akademik dan pembentukan karakter.
Selain itu, siswa di sana tidak hanya rutin berolahraga, tetapi juga mempelajari konsep ilmiah seperti pengukuran denyut nadi. Sekolah tersebut bahkan telah menerapkan mata pelajaran Sport Science untuk memperkenalkan ilmu pengetahuan dalam olahraga sejak jenjang sekolah menengah.
Hal senada disampaikan oleh Faradina Anggraeni Ma’roef, peserta dari Prodi Informatika. Selama di Malaysia, Faradina tidak hanya mengamati proses pembelajaran di sekolah mitra, tetapi juga dipercaya menjadi narasumber dalam podcast yang diselenggarakan oleh Universiti Teknologi Malaysia (UTM), salah satu mitra Unesa dalam program ini.
Menurutnya, keterbukaan warga sekolah menjadi pengalaman yang paling membekas, di mana para siswa antusias mengenalkan budaya lokal dan guru-guru aktif berbagi strategi pembelajaran.
Dalam program PPL internasional perdana ini, BPPG Unesa memberangkatkan enam mahasiswa pilihan. Mereka adalah Rahmad Zulham Assidiqqy Handryant (PJOK), Faradina Anggraeni Ma’roef (Informatika), Fauly Awina Rofida (IPS), Annis Annafik Majid (PGSD), Anesia Anggun Kinanti (IPA), dan Lilik Lailatus Sholihah (IPA).

