Buah dari Dedikasi dan Kerja Keras Puluhan Tahun

Fajar Eka Samudra, Atlet dan Pelatih Berprestasi

Di kalangan sivitas akademika Unesa dan dunia olahraga, nama Fajar Eka Samudra, S.Or., M.Kes bukanlah nama yang asing. Dosen muda berbakat ini dikenal selain memiliki kompetensi di bidang akademik juga karena kiprahnya sebagai pelatih sekaligus atlet ski air dan renang yang telah menorehkan berbagai prestasi.

Fajar, demikian panggilan akrabnya, lahir di Gresik pada 2 Juni 1993 itu. Selama kiprahnya di cabor ski air dan renang, ia telah menorehkan berbagai prestasi gemilang. Ia memiliki spesialisasi di strength and conditioning. Atas berbagai prestasi dan dedikasinya itu, tak salah jika mahasiswa dan sivitas akademikan menjadikan ia salah satu figur inspiratif.

Fajar memulai karier akademiknya di bidang olahraga dengan menyelesaikan pendidikan S1 Prodi Ilmu Keolahragaan Unesa pada 2015. Ia lantas melanjutkan pendidikan S2 Prodi Ilmu Kesehatan Olahraga di Universitas Airlangga, lulus pada 2017. Dengan latar belakang pendidikan itu, Fajar sudah pasti memiliki pemahaman mendalam tentang olahraga. “Saya mencintai olahraga sejak 2002. Setelah masuk perkuliahan, passion untuk melatih dan mengajar serta berdiskusi tentang topik-topik olahraga semakin tinggi,” ucapnya.

Di dunia olahraga, Fajar telah menyumbangkan berbagai prestasi baik sebagai pelatih maupun atlet. Beberapa pencapaian paling membanggakan adalah keberhasilannya membawa Jawa Timur meraih tujuh medali emas di Pekan Olahraga Nasional (PON) Aceh-Sumut 2024. “Itu prestasi yang paling berkesan karena kami mampu melampaui perolehan medali pada PON Jawa Barat 2016,” ujarnya.

            Sebagai pelatih, ia juga sukses mengantarkan tim Jawa Timur meraih lima emas, dua perak, dan dua perunggu pada Kejuaraan Nasional (Kerjurnas) Ski Air dan Babak Kualifikasi PON pada 2023. Sebelumnya, pada 2022, ia juga berhasil membawa empat medali emas dan tiga perak pada Kejurnas Ski Air.

Sebagai atlet, prestasi Fajar juga mentereng. Ia pernah mempersembahkan medali perunggu untuk Indonesia di SEA Games 2011 dan meraih perunggu di PON 2012. Semua pencapaian itu, kata Fajar, adalah buah dari dedikasi dan kerja keras selama bertahun-tahun bergelut di dunia olahraga. Keberhasilan itu juga memperkuat posisinya sebagai pelatih dan dosen yang memiliki pengalaman langsung di lapangan, yang sangat berguna dalam membina dan menginspirasi mahasiswa di Unesa.

Semua prestasi itu, tidak dapatkan Fajar dengan mudah. Berbagai tantangan baik dalam kehidupan pribadi maupun profesionalnya harus dilalui. Salah satu momen terberat adalah ketika ibunya meninggal dunia, padahal saat itu ia sedang berada di Malaysia untuk pemusatan latihan sebelum PON Aceh-Sumut 2024. “Kepergian ibu menjadi pukulan besar, tapi saya menjadikan pengalaman itu sebagai motivasi untuk terus maju dan mencapai prestasi tertinggi sesuai harapan almarhumah,” kenang Fajar.

Selain itu, tantangan lainnya adalah bagaimana tetap bisa meraih prestasi terbaik di olahraga dan juga mampu menyelesaikan studi dengan hasil terbaik. Apalagi, kedua orang tuanya sejak ia kelas 4 SD selalu berpesan agar menomorsatukan prestasi dan mengutamakan sekolah. “Jadi, ya harus bisa menjaga antara prestasi olahraga dan akademik,” kata Fajar mengenang pesan orang tuanya.

Menjadi Dosen, Motivasi sang Ibu

Meski banyak menorehkan prestasi olahraga baik ketika menjadi atlet maupun pelatih, namun Fajar tetap memilih profesi dosen sebagai jalan kariernya. Pilihan itu, bukan tanpa alasan. Fajar mengungkapkan bahwa dorongan untuk berkarier di dunia pendidikan datang dari ibu tercintanya. “Ibu sangat mengingkan saya menjadi dosen. Itu yang menjadi sumber motivasi kuat saya,” ucapnya

Kecintaannya terhadap olahraga dan keinginan yang kuat untuk berdiskusi dunia olahraga semakin memperkuat pilihan Fajar untuk berkarier menjadi dosen. Menurutnya, menjadi dosen bukan sekadar profesi, melainkan panggilan jiwa untuk berkontribusi dalam dunia pendidikan dan melatih generasi muda agar memiliki keterampilan dan pengetahuan yang baik di bidang olahraga.

Sebagai dosen, selain mengajar, ia juga berkontribusi dalam pengabdian melalui berbagai pelatihan yang bermanfaat bagi masyarakat. Salah satu momen yang berkesan bagi Fajar adalah ketika memberikan pelatihan tentang penyusunan program latihan dan evaluasi kinerja. Ia merasa bangga dapat mendampingi masyarakat hingga mereka mampu memanfaatkan dan mengembangkan program latihan secara mandiri.

“Kegiatan ini merupakan bagian penting dari pengabdian saya sebagai dosen. Saya tidak hanya menjalankan tugas mengajar di dalam kelas tetapi juga langsung berkontribusi di lapangan,” ungkapnya.

Tekad kuat dan kecintaan Fajar di dunia olahraga akan terus dikembangkan dengan mempersembahkan medali emas untuk Indonesia serta mengharumkan nama Unesa. Selain itu, ia juga berkomitmen untuk terus mengembangkan cabang olahraga yang ditekuni dengan berbagai inovasi yang melibatkan multidisiplin ilmu. “Saya tentu punya keinginan agar olahraga di Indonesia terus maju dan mampu menyumbang prestasi terbaik di tingkat nasional maupun internasional,” tegasnya.

Kepada lembaga Unesa tempatnya berdedikasi, Fajar berharap agar Unesa terus mendukung mahasiswanya dalam mengembangkan prestasi olahraga. Hal itu, tentu sejalan dengan visi Unesa sebagai rumah para juara, dimana salah satu keunggulannya adalah di bidang olahraga.

Sebagai dosen yang telah menorehkan berbagai berprestasi, Fajar memiliki pesan khusus bagi para mahasiswa yang ingin mengikuti jejaknya meraih prestasi. Menurut Fajar, tidak ada prestasi yang dicapai dengan bermalas-malasan. Mereka yang ingin meraih hal besar dan berprestasi, tidak ada kunci lain selain kerja keras dan berusaha dengan maksimal. “Tekad kuat dan berani melakukan hal-hal yang mungkin tidak semua orang mau melakukannya,” pungkasnya memberikan pesan. @TimHumasUnesa

id_IDID